Saturday, January 24, 2009

MENGURAI PEMBELAJARAN ECOEDUCATION


Salah satu problem mendasar yang dialami manusia di zaman modern ini yaitu krisis ekologis atau permasalahan lingkungan. Sebab manusia modern telah medeklarasikan alam. Alam telah dipandang sebagai sesuatu yang harus digunakan dan dinikmati semaksimal mungkin. Dominasi terhadap alamlah yang menyebabkan masalah bencana, kepadatan penduduk, kurangnya ruang bernafas, kemacetan kehidupan kota, pengurasan jenis sumber alam, hancurnya keindahan alam.

Arti dominasi atas alam dan konsepsi materialistik tentang alam yang dianut manusia modern ini telah didukung dengan nafsu dan ketamakan yang semakin banyak menuntut lingkungan.

Semua ini dalam pandangan filosofis akibat dari cara pandang yang dualistik-mekanistik dan materialistik. Cara pandang ini menyebabkan terjadinya dikotomik atau diversitas (pembedaan) seperti; subyek-obyek, manusia-alam, manusia-Tuhan, suci-sekuler, timur-barat. Cara pandang dikotomik ini menyebabkan tidak harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam yang telah dihancurkan. Semua ini terkait dengan ketidakseimbangan yang disebabkan oleh hancurnya harmoni antara Tuhan dan manusia.

Sekarang ini Indonesia masih memiliki 10% hutan tropis yang masih tersisa. Setiap tahunnya keadaan luas hutan terus menyusut dengan sangat cepatnya dan sangat menghawatirkan kondisi spesies hutan maupun pesisir. Hutan di Indonesia masih memiliki 12% jumlah spesies binatang menyusui atau mamalia, 16% spesies binatang reptil dan ampibi, 1.519 spesies burung dan 25% dari spesies ikan. Jumlah spesies tersebut bahkan terus berkurang atau lenyap seiring dengan kondisi luas hutan yang terus menyusut.

Aktivitas manusia melakukan penebangan hutan yang terlalu cepat dan eksploitasi hutan untuk industri serta pengalihan lahan hutan menjadi pemukiman dan pertanian. Dari aspek ini, hutan menjadi gundul dan mengakibatkan semburan miliaran ton partikel, gas karbondioksida serta klorofluorokarbon. Emisi karbon ini ditimbulkan dari pembakaran bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaruhi, seperti batu bara, gas, dan minyak bumi. Kerusakan hutan khususnya di Indonesia sebagai paru-paru dunia memiliki andil besar sebagai pemicu perubahan iklim dan pemanasan global akibat dari menipisnya lapisan ozon.

Kondisi lingkungan dengan dirusaknya hutan, pembakaran, illegal logging, lahan petanian di sulap menjadi area industri dan perumahan. Telah membawa dampak negatif seperti kekeringan dan pada musim penghujan akan menyebabkan bencana banjir serta tanah longsor. Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat merasakan dampak kerusakan sistem cuaca. Perubahan iklim dan terjadinya bencana yang bertubi-tubi akan mengancam ketersediaan sumber daya alam. Kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan membawa akibat terhadap alam lingkungannya. Pencemaran udara, tanah, dan air, yang terkadang membawa akibat seperti tidak suburnya lahan pertanian, banjir dan tanah longsor.

Bukan penuan alam

Sudah jelas diketahui bahwa kerusakan alam dan lingkungan hidup yang dasyat bukan di sebabkan oleh penuaan alam itu sendiri tetapi justru diakibatkan oleh tangan-tangan yang selalu berdalih memanfaatkannya, yang sesungguhnya sering kali mengeksploitasi tanpa memperdulikan kerusakan lingkungan.

Dalam hal ini sesuai dengan pandangan dunia baru perlu rekonstruksi non dikotomik yang menempatkan kesadaran (mind) dan materi (matter) serta tidak terjadi pembedaan antara subyek obyek, manusia, alam dan Tuhan. Maka diperlukan langkah-langkah partisipatif untuk mencegah problem kondisi lingkungan dan sumber daya alam.

Dengan demikian pembelajaran ekoeducation sangat di butuhkan, walaupun kenyataanya ecoeducation merupakan pendidikan berwawasan lingkungan yang terintegrasikan dengan semangat pentingnya pendidikan nilai berbasis agama. Hal ini sebagai upaya mewujudkan tujuan pembagunan millenium (MGD) yang merupakan salah satu dari tujuan tersebut yaitu memastikan keberlanjutan lingkungan hidup. Dengan mensosialisasikan kepada masyarakat sadar dan peduli lingkungan serta pelarangan penambangan, penebangan dan pembangunan pemukiman kawasan lindung. Melakukan pemberantasan illegal logging dan juga melakukan rehabilitasi hutan. Serta pemerintah harus mulai serius untuk tidak mengeluarkan izin yang terkait dengan pengelolaan hutan terhadap pihak asing.

Ecoeducation merupakan pebelajaran yang berorientasi kepada revitalisasi pendidikan yang selama ini gagal menanamkan nilai-nilai lingkungan. Maka melalui ecoeducation diharapkan terjadi penyadaran lingkungan dan semangat konservasi alam dan lingkungan. Hal ini bisa dilakukan dengan mengalang penanaman pohon untuk setiap warga masyarakat Indonesia. Serta melalui penataan daerah berbasis lingkungan, sebab selama ini daerah-daerah rawan bencana terjadi akibat adanya pengalihan fungsi dari lahan pertanian ke perindustrian dan hutan ke perumahan dan pertanian. Membangun kembali daerah-daerah hutan tropis sebagai kawasan yang dilindungi dan memberikan yang terbaik terhadap spesies penghuni hutan atau lingkungan.

Selama ini memang bidang pendidikan menghadapi tantangan zaman global sebagai akibat dari dampak krisis ekologi, dalam hal ini perlu adanya konstruksi paradigma baru pada arah epistemologi. Format pendidikan yang sesuai kondisi di atas, perlu menyajkan salah satu strategi dengan pembelajaran ekoeducation yang berbasis agama sebagai sumber penanaman jiwa anak didik. Pembelajaran ekoeducation yaitu upaya kegiatan belajar mengajar dengan mengintroduksi keanekaragaman hayati pada setiap mata pelajaran dan penanaman nilai spiritualitas supaya tumbuh kesadaran hubungan harmoni antara manusia, Tuhan dan alam.

Keeratan hubungan antara manusia dengan alam dan lingkunganya itu tercermin juga di dalam cara hidup mereka dalam mata pencaharian hidup. Cara pencaharian hidup masyarakat sederhananya biasanya memang amat ditentukan oleh alam dan lingkungannya. Misalnya; suatu kelompok masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan, mereka otomatis sangat bergantung dari alam pegunungan dengan cara bertani, berternak, berkebun, dan berladang. Kelompok masyarakat yang tinggal di daerah pesisir, meraka sangat bergantung dari kondisi pesisir dengan cara melaut, pertambakan, dan sangat bergantung dari hasil laut

Pembelajaran ekoeducation juga perlu diberikan kepada setiap masyarakat, sebab masyarakat merupakan sistem sosial yang memiliki interaksi dan komunikasi langsung dengan lingkungan hidupnya. Masyarakat memiliki andil besar dalam melestarikan dan menjaga keseimbangan (equilibrium) lingkungan, karena masyarakat sebagai penghuni lingkungan hidup. Menjunjung tinggi kesadaran lingkungan adalah sebuah alternatif individu, dan akhirnya menuntut kesadaran kolektif

Peran masyarakat dalam penyadaran lingkungan perlu di wujudkan melalui program yang terencana baik secara organisatoris maupun personal, yaitu melalui pembelajaran ekoeducation yang perlu di berikan kepada khalayak umum masyarakat di RT dan RW setempat. Dengan memberikan pembelajaran ekoeducation kepada setiap penghuni rumah tangga, mereka akan mendapatkan pengetahuan dan juga sikap yang sadar akan lingkungan hidup. Melalui penyadaran itulah baik pemerintah ataupun masyarakat itu sendiri akan tertanan nilai-nilai untuk menghargai lingkungan hidupnya. Membangun suri tauladan, itulah yang dapat memberikan perhatian dengan memperlakukan lingkungan hidup dengan penuh tanggung jawab.

Sunday, November 23, 2008

Kepemimpinan Kritis dan Islam Modern

Kepemimpinan Kritis dan Islam Modern


SIAPA AKU…!
“Aku Adalah Pemimpin”


Kepemimpinan atau dalam bahasa Inggris disebut dengan “leadership”. Kata leader muncul pada tahun 1300-an. Sedangkan leadership muncul belakangan sekitar tahun 1700-an. Membincang kepemimpinan tidak akan pernah usang, sebab wacana seperti ini akan terus berkembang.

Terpenting jangan sampai terjebak pada pendefinisian sempit ”pemimpin” yaitu orang yang mempunyai kedudukan tinggi ataupun jabatan yang terhormat. Sesungguhnya kepemimpinan bukanlah ditentukan oleh pangkat atau jabatan, namun kepemimpinan adalah dorongan dalam diri untuk mengambil keputusan supaya menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, keluarganya, lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya.

Pendapat tentang kepemimpinan:
G. L. Freeman atau E. K. Taylor (1950)
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk menciptakan kegiatan kelompok mencapai tujuan organisasi sehingga efektifitas maksimum dan kerjasama dari tiap-tiap individu

Harold Koontz dan Cyrill O. Ddonnell (1976)
Kepemimpinan adalah seni membujuk bawahan untuk menyelesaikan pekerjaan- pekerjaan mereka dengan semangat keyakinan

Franklyn S. Haiman
Kepemimpinan adalah suatu usaha untuk mengarahkan prilaku orang lain guna mencapai tujuan khusus.

Kepemimpinan dapat dipahami dalam dua pengertian yaitu sebagai kekuatan untuk mempengaruhi dan menggerakan orang. Kepemimpinan hanyalah sebuah alat, sarana, seni atau proses untuk membujuk orang agar bersedia melakukan sesuatu secara sukarela.


Siapa aku! “manusia dan amanah”
Kita semua adalah mahluk yang paling unik dan sempurna sebagai hasil karya Allah terbesar. Agama adalah suatu keyakinan yang dibawa dirinya, sedangkan “Islam” mempunyai makna penyerahan diri secara totalitas dari seorang abdun (penyembah) kepada Tuhannya.

Manusia sebagai hamba memiliki tugas atau sebuah amanah yang harus ia kerjakan. Allah berfirman surat al Baqarah ayat 30 dan adz Dzariyaat 56:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.


“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Manusia memiliki dua peran yaitu sebagai khalifah di bumi dan beribadah kepada Sang Pencipta. Sebagai pemikul amanah barang tentu memiliki konsekwensi yang sangat berat sebagai hamba yang diciptakan Allah untuk memikul tugas di bumi setelah para malaikat, hewan dan tumbuhan tidak mampu memikul amanah tersebut.

Dalam memikul amanah tersebut diperlukan tahapan atau persiapan bagi manusia sebelum dan sesudah proses penciptaan. Tahapan-tahapan itu diantaranya:
Tahapan penciptaan awal manusia diciptakan dalam bentuk roh. Kepada roh ini ada suatu ikrar atau perjanjian yang pertama, yang diucapkan manusia sebelum berbentuk jasad. Allah berfirman surat al- A’raaf ayat 172:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”.

Tahapan kedua dalam bentuk jasad disertai dengan fasilitas yang menghidupinya dan dilengkapi beberapa alat-alat yang paling komplek. Allah berfirman surat al Alaq ayat 2 dan at Tiin ayat 4

“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Tahapan selanjutnya Allah memberikan ilmu. Allah berfirman surat al Lukman ayat 20

“Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah Telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan”.
Dari tiga tahap diatas manusia sudah memiliki bekal untuk menjadi pemimpin di bumi, dalam tahapan ini manusia sangat berbeda dengan malaikat maupun mahluk lainnya. Di dalam diri manusia terdapat sifat Allah melalui roh yang memang sudah memiliki sifat-sifat Allah yang harus digali dengan menggunakan kemampuan, kesempurnaan jasad, indera, otak dan jiwa.
Roh merupakan saripati kesucian. Di dalam roh ini ada kandungan keimanan berupa kalimat “Laailaaha Illallah” dan “Asmaaul Husna”, sebab setiap roh itu suci yang semestinya selalu berdzikir dan melakukan hal-hal yang baik.


Kepemimpinan (Sunni dan Syiah)Kepemimpinan di dalam Islam merupakan wacana yang asyik bila di dikusikan. Wacana kepemimpinan Islam muncul ke permukaan semenjak wafatnya Rasulullah. Rasul sendiri tidak memberikan siapa yang selanjutnya menjadi pemimpin di kalangan umat Islam. Sebab dalam hal ini al-Qur’an telah menjelaskan bahwa Rasul sebagai pembawa risalah terakhir dan penyempurna agama-agama sebelumnya:

”Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.”. (al An ’am Ayat 115)
Sejarah telah mencatat setelah wafanya Rasulullah kemudian kepemimpinan di pegang oleh Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah dan Bani Abbas. Setelah Dinasti Abbasyiyah kepemimpinan Islam terpecah ke dalam kesultanan-kesultanan kecil.
Kemudian berlanjut, Islam menjadi terpecah-pecah belah dalam kelompok-kelompok atau fiqrah-fiqrah. Fiqrah yang terbesar yaitu fiqrah Sunni dan Syiah. Kedua fiqrah besar ini memiliki konsep pemahaman kepemimpinan yang sangat jauh berbeda. Keduannya memiliki dalil dan argumentasi yang sama kuat dengan sumbernya al-Qur’an dan as Sunnah.
Kondisi ini sangatlah mengecewakan, sebab mereka saling berseteru dan bahkan saling mengkafirkan. Maka di perlukan pendefinisian kepemimpinan Islam yang sesuai jalur dan memiliki andil besar demi tercapinya kebenaran. Kepemimpinan ada yang menyebutkan sebagai ”imamah” dan ”khilafah”.

Syekh abu zahra dari kelompok Sunni menyamakan arti imamah dengan khilafah. Sebab orang yang menjadi khilafah adalah penguasa tertinggi bagi umat Islam yang mengantikan Rasul. Khalifah itu disebut dengan imam (pemimpin) yang wajib ditaati. Manusia berjalan di belakangnya, sebagaimana manusia shalat dibelakang iman.

Kelompok Syiah dalam hal kepemimpinan membedakan pengertian antara khilafah dan Imamah. Hal ini dapat dilihat berdasarkan fakta sejarah kepemimpinan dalam Islam setelah Rasulullah wafat. Kelompok Syiah sepakat bahwa pengertian Imam dan Khilafah itu sama ketika Ali Bin Abi Thalib diangkat menjadi pemimpin. Namun sebelum Ali menjadi pemimpin mereka membedakan pengertian Imam dan Khilafah. Abu Bakar, Umar Bin Khattab, dan Utsman adalah Khalifah, namun mereka bukanlah Imam.

Bagi kelompok Syiah sikap seorang Imam haruslah mulia sehingga menjadi panutan para pengikutnya. Imamah di definisikan sebagai kepemimpinan masyarakat umum, yakni seseorang yang mengurusi persoalan agama dan dunia sebagai wakil dari Rasulullah, Khalifah Rasulullah yang memelihara agama dan menjaga kemuliaan umat dan wajib di patuhi serta diikuti. Imam mengandung makna lebih sakral dari pada khalifah.

Secara implisit kaum Syiah meyakini bahwa khalifah hanya melingkupi ranah jabatan politik saja, tidak melingkupi ranah spiritual keagamaan. Sedangkan Imamah melingkupi seluruh ranah kehidupan manusia baik itu agama dan politik.

Dari fiqrah Sunni dan Syiah, keduannya memiliki pandangan yang berbeda. Fiqrah Sunni menyatakan bahwa kepemimpinan harus dipilih secara musyawarah. Seperti firman Allah:

”Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka”. (Asy Syura Ayat 38)

”Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu”. (Ali Imaran Ayat 159)
Kalangan Syiah berpendapat bahwa setela Rasul wafat yang mengantikan Beliau yaitu Ali bin Abi Thalib beserta keturunannya dari Fathimah az Zahra. Di dasarkan pula dengan firman Allah:

”Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (Al Ahzab Ayat 33)
Hadits Tsalaqain : Nabi saw bersabda, “Aku tinggalkan kepada kalian dua amanat, yaitu Kitab Allah dan keturunanku.” (Shahih Muslim, Jilid VII, hal. 122).

Hadits Ghadir Khum : Nabi saw bersabda, “Bukankah aku lebih berwenang atas diri kalian dibanding kalian sendiri?” Semua yang hadir mengatakan, “Betul, Ya Rasulullah.” Kemudian Nabi saw membuat deklarasi, “Ali ini adalah pemimpin (penguasa) orang yang menjadikan aku sebagai pemimpin (penguasa)-nya.”

Jadi kedua pokok pemikiran yang cukup tajam perbedaaannya dari firqah Sunni dan Syiah. Kelompok Sunni percaya bahwa setelah Rasulullah wafat maka kepemimpinan itu diserahkan kepada ummat Islam melalui musyawarah. Kelompok Sunni secara otomatis juga meyakini bahwa tidak ada pemimpin yang ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam hal memimpin ummat manusia di muka bumi ini, cukuplah al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai pegangannya. Seorang Ulama Sunni, Dr. Ali As-Salus dalam bukunya Imamah dan Khilafah dalam Tinjauan Syar’i menyatakan bahwa kepemimpinan (Imamah) itu bukanlah ditetapkan dengan dengan nash atau penunjukan.

Sedangkan kelompok Syiah percaya bahwa kepemimpinan setelah Rasul merupakan hak Allah. Tidak ada peran manusia dalam menentukan pemimpin setelah Rasulullah wafat. Kelompok Syiah percaya bahwa Allah menentukan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin ummat Islam setelah Rasulullah. Fiqrah Syiah menyatakan kebutuhan manusia akan Imam (Pemimpin), sama dengan dalil bahwa manusia membutuhkan seorang Nabi, ketika manusia memasuki zaman ketiadaan nabi, maka manusia memerlukan imam (pemimpin).

Dalam pandangan Ali Syari’ati, secara sosiologis masyarakat dan kepemimpinan merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Syari’ati berkeyakinan bahwa ketiadaan kepemimpinan menjadi sumber munculnya problem-problem masyarakat, bahkan masalah kemanusiaan secara umum. Menurut Syari’ati pemimpin adalah pahlawan, idola, dan insan kamil, tanpa pemimpin umat manusia akan mengalami disorientasi dan alienasi.

Ketika suatu masyarakat membutuhkan seorang pemimpin, maka seorang yang paham akan realitas masyarakatlah yang pantas mengemban amanah kepemimpinan tersebut. Pemimpin tersebut harus dapat membawa masyarakat menuju kesempurnaan yang sesungguhnya. Watak manusia yang bermasyarakat ini merupakan kelanjutan dari karakter individu yang menginginkan perkembangan dirinya menuju pada kesempurnaan yang lebih.


Siapa Aku “Aku Adalah Pemimpin”
Ada satu pertanyaan kepemimpinan dalam berorganisasi maupun masyarakat “mengapa di perlukan pemimpin?”. Ada bebarapa alasan diantaranya (1). Sesorang memerlukan figur pemimpin, (2). Dalam situasi seseorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya, (3) Sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelompok, (4). Sebagai tempat meletakan kekuasaan, (5). Untuk mengkoordinir kepentingan dan mencapai tujuan.

Karakter seorang pemimpin:

Siapakah yang sekiranya pantas menjadi seorang pemimpin. Dalam konteks diri kita adalah pemimpin namun dalam skala luas kemasyarakatan tidak semua diri memiliki karakter dan peran sebagai pemimpin. Dalam konteks ini setidaknya memiliki karakter:
Kecerdasan (intellegence) (IQ, EQ dan SQ)
Bermutu (quality) memiliki visi yang jelas
Sense of belonging
Sense of responbility
Motivator
John Maxwell mengatakan: ”The only way that I can keep leading is to keep growing. The day I stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is the way it always it”.
“Satu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa bertumbuh. Ketika saya berhenti bertumbuh, orang lain akan mengambil alih kepemimpinan tersebut”.


Siapa Aku “Sebuah Kata Seikat Makna

Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah pernah berkata, “Man ahsanal istima', ta'ajjalal intifa”. Siapa yang paling baik mendengarkan, dia akan cepat mendapatkan manfaat.
Beliau juga pernah mengingatkan kita untuk menyimak isi pembicaraan dan bukan siapa yang berbicara. "Perhatikanlah apa yang dikatakan, dan bukan siapa yang berkata!”.

* * *

Tatkala aku masih muda serta bebas berimanjinasi mengembara tanpa batas, aku berciata-cinta untuk mengubah dunia.

Tatkala aku semakin tua dan bijaksana aku menyadari bahwa dunia tak akan berubah, dan aku agak memendekkan sasaranku serta memutuskan untuk mengubah negriku saja. Namun itu tampaknya tak dapat diubah.

Tatkala aku kian jauh mengarungi masa tuaku, dalam suatu upaya yang nekat, aku berniat keras untuk mengubah keluargaku saja, mereka memiliki hubungan terdekat denganku, namun aduh mereka tak berbeda. Dan kini tatkala aku terbaring di ranjang kematianku, aku tiba-tiba menyadari.

Andaikata dulu aku pertama kali mengubah diriku sendiri saja
Melalui teladan barang kali aku berhasil mengubah keluargaku. Dari inspirasi dan dorongan mereka aku seharusnya mampu memperbaiki negeriku dan siapa tahu, aku mungkin bahkan mampu mengubah dunia. (Anonim)

Saatnya Mulai Detik Ini Dalam Diri Kita Tanamkan Sikap Positif Dan Katakan Aku Adalah Pemimpin

Good Luck

* * *


Sumber Bacaan
  1. Elsa Sakina, Berpkir Benar, Berpikir Positif, http://inspirasi-motivasi.blogspot.com
  2. John W. Gardner, on leadership, New York, The Free Press, 1990, hlm 141
  3. Stephen P. Robbinson, Perilaku Organisasi; Konsep, Kontroversi, Dan Aplikasi, Terjemahan Hadyana Pujaatmaka, Jakarta: Prenhallindo, Edisi ke-2, 1996, hlm. 370
  4. Abdul Mujieb As, Tujuan Hidup; Dalam Pandangan Islam, Surabaya, Karya Utama, tt, hlm. 11
  5. Nurkholis, Manajemen Berbasisi Sekolah; Teori, Model, Dan Aplikasi, Jakarta PT. Gramedia Widiasarana, 2003, hlm152
  6. Dr Ali As-Salus, Imamh dan Khilafah dalam Tinjauan Syar’i, Gema Insani Press, Jakarta,1997
  7. Ibrahim Amini, Para Pemimpin Teladan, Al-huda, Jakarta 2005
  8. Haidar Bagir dalam Ali Syari’ati, Ummah dan Imamah, Suatu Tinjauan Sosiologis, Bandung, Pustaka Hidayah, 1989

Wednesday, August 27, 2008

pendidikan ekstrakurikuler




Optimalisasi Potensi Skill Siswa


Pada era sekarang ini atau zaman globalisasi dunia pendidikan di tuntut untuk mengembangkan kompetensi atau basic skill. Orientasi pendidikan tidak hanya pemebelajaran formal dengan berbagai macam mata pelajaran, akan tetapi terkait dan terikat dengan tuntutan zaman. Dengan bekal skill anak didik akan paham dunianya sebab sekolah terkadang hanya menuntut orientasi kelulusan dan lupa akan potensi, skill, dan bakat anak.


Di akui atau tidak sekolah adalah tempat mencetak manusia-manusia unggul, namun tidak dipungkiri pula bahwa sekolah terkadang melakukan dehumanisasi dalam artian potensi anak didik tidak dikembangkan. Memang benar sekolah adalah kewajiban, namun kesusksesan belajar tidak hanya lewat jalur sekolah. Lihat saja seorang ilmuwan Issac Newton menemukan berbagai macam penelitian tanpa harus sekolah, William Bill Gates orang terkaya di dunia selama 13 tahun saja keluar dari sekolah yang kemudian mendirikan microshoft bersama temannya dan melakukan eksperimen hasilnyapun dapat kita nikmati sekarang ini.


Menyadari tantangan yang dihadapi dan kompleksitas permasalahan global, dimana technologiy competation yang ujungnya pada industrialistik materalistik, sekolah atau dunia pendidikan harus melakukan orintasi baru melalui pembelajaran kompetensi untuk peserta didik.


Tidak heran jika pendidikan sekarang mengarah pada pengembangan kurikulum berbasisi kompetensi. Selain sebagai bekal potensi dapat pula sekolah sebagai sarana penegembangan sekolah berbasis keilmuan yang mengajarkan berbagai mata pelajaran.


Maka dalam menyosong era industri dan teknologi ini sekolah atau madrasah diharuskan melakukan orientasi baru dibidang pembelajaran salah satu caranya yaitu dengan mengoptimalkan kegiatan ekstrakurikuler.


Ekstrakurikuler Sekolah

Ekstrakurikuler merupakan bentuk pembelajaran di luar jam sekolah. Kegiatan ini dilakukan pihak sekolah untuk membekali anak didiknya dengan berbagai pertimbangan di antaranya untuk mengoptimalkan potensi, melatih kedisiplinan dan menciptakan kreasi dan kreatifitas anak didik. Kegiatan ekstrakurikuler ada yang secara sepihak diwaibkan dan ada yang tidak diwajibakan ini terkait dengan kemauan dan bakat siswa.


Jadi melaui program ekstrakurikuler ini siswa diharapkan mendapatkan skill individu untuk dapat dipraktekan dan dikemabangkan. Semisal siswa memiliki potensi pada dunia masak atau makanan maka ekstra tata boga harus mengajarkan sesuai dengan keinginan. Dari sini siswa akan bisa berlatih dan bahkan mendapatkan keuntungan ekonomi melalui program pemberdayaan market.


Sungguh sangat berarti sekali jika dunia sekolah dapat menyentuh sisi-sisi keinginan anak didik. Jika ekstrakurikuler sekolah dapat berjalan dengan baik maka akan mendidik untuk disiplin dan nilai kepuasan pada diri siswa. Bahkan kepuasan orang tua siswa yang menyekolahkan anaknya dan pandangan masyarakat bahwa sekolah tidak hanya orientasi ijasah. Sebab melalui ekstrakurikuler ini anak didik memiliki bekal individu untuk bisa di kembangkan di kemudin hari.


Jika anak didik memiliki potensi tentu saja akan mendidik mental mereka untuk bisa mandiri. Dengan rasa kemandirian ini siswa akan memiliki mental-mental kuat dan tidak bergantung untuk menjadi pegawai atau bahkan sampai hanya menjadi buruh.


Inilah pola pembelajaran yang menyenangkan karena potensi skill mereka dapat diasah di sekolah tanpa harus mengeluarkan uang banyak untuk mengkuti kursus di luar program sekolah.


Dengan demikian kesimpulan pembelajaran ekstrkurikuler sekolah ini, bahwa sekolah atau madrasah yang tidak pada program kejuaruan dapat megembangkannya pada program ekstarakurikuler.


Inilah sekolah yang sangat menghargai potensi dan kreasi manusia. Termasuk potensi yang di bawa sejak lahir serta kreasi untuk mengembangkan, menghasilkan, menciptakan inovasi baru dalam berkreatifitas dan kemandirian.

Thursday, August 14, 2008

MENANYAKAN NASIONALISME



MENANYAKAN NASIONALISME


Setiap tanggal 17 Agustus bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan dan pada hari ini bangsa Indonesia genap berusia 63 tahun. Di jelaskan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 45 bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Kekuatan ibadah kepada Allah inilah yang mendorong pendiri republik ini dan seluruh rakyat menyatakan kemerdekaannya dari penjajahan. Segala karunia ini tidak terlepas dari perjuangan dan sikap nasionalisme yang rela mengorbankan nyawa, harta dan keluarga.
Kemerdekaan yaitu not subject to control by other (tidak bergantung kepada kontrol orang lain), dalam artian self governing (memerintah sendiri). Pengertian ini sesuai dengan teks proklamasi kemerdekaan yang berbunyi "bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan tempo sesingkatnya.
Proklamasi kemerdekaan merupakan sikap pernyataan untuk mewujudkan tujuan bangsa Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur. Akan tetapi di usia yang sudah lebih dari setengah abad rakyat Indonesia apakah sudah dapat menikmati kemakmuran dan keadilan.
Nasionalisme rakyat Indonesia
Di era reformasi ini ruang publik sangat begitu terbuka untuk rakyat. Era kebebasan sudah mulai masuk ke Indonesia. Tuntutan perbaikan sistem pemerintahan yang berlandaskan good governance dan clean governance sangat dinanti oleh seluruh masyarakat Indonesia. Namun itu semua manjadi harapan yang cukup panjang jika atas nama kebebasan dan kemerdekaan berbicara serta berpendapat tidak lagi menghargai kemerdekaan orang lain. Perilaku memecah belah persatuan dan kesatuan masih saja terjadi di negeri yang ini. Begitu juga keadilan dan kemakmuran belum dapat di rasakan semenjak kenaikan harga BBM, kondisi ekonomi bangsa Indonesia masih dalam kesulitan.
Sungguh sangat ironis sekali bangsa Indonesia yang sudah terbebas dari belengu penjajahan, kini masih saja dijajah dengan gaya baru atas ketergantungannya terhadap lembaga-lembaga Bretton Wood seperti Bank Dunia (world bank), World Trade Organization (WTO) dan IMF. Dunia telah dikuasai struktur kapital yang mendorong secara radikal tatanan pemerintahan negara dari aspek budaya, ekonomi dan politik serta perilaku manusia yang semakin menjauh dari nilai-nilai budaya bangsa.
Nasionalisme merupakan faktor penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebab secara teoritis merupakan unsur pertama dalam menyangga keberlangsungan kehidupan berbangsa. Akan tetapi nasionalisme yang bagaimana jika masih banyak permasalah belum juga terselesaikan semisal korupsi yang sudah membudaya, pendidikan semakin mahal dan perebutan kekuasaan.oleh para elit politik.
Nasionalisme menjadi sebuah akhir episode karena rakyat semakin tidak percaya pada pemerintahan yang hanya menawarkan janji-janji keadilan dan kemakmuran. Sikap nasionalisme akan luntur dan rakyat tidak akan lagi mempercayai sikap elit politik pemerintahan yang mengatasnamakan kemakmuran rakyat malahan menjajah rakyatnya sendiri.
Maka patutkah di hari kemerdekaan ini hanya mengibarkan bendera dan melakukan ritual tahunan upacara bendera. Tentu saja tidak, marilah bersama-sama seluruh rakyat Indonesia mengintropeksi diri atas semua permasalahan yang menimpa bangsa Indonesia tercinta.

Pendidikan Nilai Ekologi Untuk Anak Didik



Pendidikan Nilai Ekologi Untuk Anak Didik

Sistem pendidikan Indonesia lebih banyak dibangun atas dekrit-kebijakan ideologi penguasa, bukan lahir dari kesadaran masyarakat dan ahli pendidikan. Jadi Pendidikan sekarang telah mengalami penyakit yang begitu serius dan perlu penanganan yang sistematis, karena pendidikan sebagai proses pembelajaran dan bukan kenikmatan yang hanya di nikmati oleh penguasa dan lapisan sosial tertentu.
Penanaman nilai-nilai kepada anak didik sangat di perlukan sebagai upaya membangun kesadaran untuk mengetahui siapa dirinya dan lingkungan hidupnya. Pendidikan nilai merupakan pendidikan yang menekankan keseluruhan aspek sebagai pengajaran dan bimbingan kepada peserta didik agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Sebab pendidikan nilai sangat di perlukan untuk kemajuan di dunia pendidikan, karena sekarang pendidikan hanya di fokuskan sebatas moral kognitif bukan moral learning.
Maka jiwa pendidikan perlu di kembalikan yaitu sebagai pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai, termasuk penanaman nilai lingkungan kepada anak didik. Pendidikan lingkungan sebagai jalan untuk memberikan pengenalan dan kesadaran terhadap lingkungan. Aspek etika, moral tidak semata-mata diberikan hanya untuk berinteraksi antar sesama, akan tetapi juga penanaman nilai terhadap lingkungan hidupnya.
Pendidikan Nilai Lingkungan
Problem pencemaran lingkungan banyak mendapat sorotan, karena telah menimpa penghuni dunia masa kini dan generasi yang akan datang. Kalau ditelusuri, faktor utama terjadinya perusakan lingkungan akibat penggunaan secara besar-besaran produk-produk teknologi modern. Aktivitas manusia di bidang industri yang membakar produk hutan ini telah menghasilkan semburan miliaran ton partikel, gas karbondioksida serta klorofluorokarbon. Emisi karbon ini ditimbulkan dari pembakaran bahan bakar fosil yang tak dapat diperbaruhi, seperti batu bara, gas, dan minyak bumi. Kerusakan hutan khususnya di Indonesia sebagai paru-paru dunia memiliki andil cukup besar sebagai pemicu perubahan iklim dan pemanasan global akibat dari menipisnya lapisan ozon.
Kondisi lingkungan dengan dirusaknya hutan, pembakaran, illegal logging, lahan petanian di sulap menjadi area industri dan perumahan. Telah membawa dampak negatif seperti kekeringan. Indonesia merupakan salah satu Negara yang sangat merasakan dampak kerusakan sistem cuaca. Kerusakan sistem cuaca tersebut telah menimbulkan anomaly iklim berupa kenaikan suhu 1-1,5 derajat celcius di Afrika, sehingga masa udara kering yang berhembus dari Australia bergerak ke hutan Afrika. Fenomena ini mengakibatkan kekeringan di kawasan ekuator, termasuk di dalamnya Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sumatra.
Perubahan iklim akan mempersulit Negara berkembang sepeti Indonesia untuk mencapai sasaran pembangunan berkelanjutan dan tujuan pembangunan milenium atau millennium development goals / MDG’s. Perubahan iklim akan mengancam ketersediaan sumber daya alam, menambah parah persoalan yang dihadapi, menciptakan persoalan baru, dan membawa upaya pencarian solusi makin sulit dan mahal.
Sudah jelas diketahui bahwa kerusakan alam dan lingkungan hidup yang dasyat bukan di sebabkan oleh penuaan alam itu sendiri tetapi justru diakibatkan oleh tangan-tangan yang selalu berdalih memanfaatkannya, yang sesungguhnya sering kali mengeksploitasi tanpa mempedulikan kerusakan lingkungan. Krisis lingkungan hidup dan kemanusiaan harus menjadi pusat perhatian bagi pemerintah, masyarakat, ahli pendidikan dan setiap komunitas keagamaan baik LSM maupun organisasi keagamaan.
Fenomena tersebut membuktikan bahwa perlu adanya rekonstruksi baru di bidang pendidikan untuk menghadapi tantangan zaman global. Di era postmodern segala sistem dari berbagai ideologi perlu adanya konstruksi baru pada arah epistemologi pada kususnya di bidang pendidikan. Format pendidikan yang sesuai kondisi di atas, perlu menyajkan salah satu strategi dengan mengimplementasikan pendidikan nilai ekologi yang berbasis agama sebagai sumber penanaman jiwa anak didik untuk bisa mengenali arti kehidupan sebenarnya.
Karena pendidikan merupakan jenjang awal sesorang mengenal dirinya, dengan mengetahui siapa dirinya ia akan memahami tujuan hidupnya, sebab pendidikan merupakan upaya mengintegrasikan fungsi di dunia. Pendidikan nilai lingkungan merupakan proses belajar mengajar yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku dan sikap untuk menghargai lingkungan hidup dari mikrokosmos hingga makrokosmos. Maka hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa mata pelajaran, melainkan menanamkan sikap dan nilai siswa yang sedang belajar untuk mengenali siapa dirinya serta di mana ia tinggal. Di harapakan dengan penanaman pendidikan nilai lingkungan hidup siswa mampu memperaktekan, melestarikan dan memanfaatkan lingkungan sesuai kebutuhan. Siswa mampu mengetahui peran dan tanggung jawabnya yaitu hubungan tiga dimensi antara Tuhan, alam dan manusia. Ketiga hubungan itu yaitu pertama, hubungan teosentris atau hubungan dengan Tuhannya yang berarti bahwa setiap manusia adalah mahluk yang tercipta untuk beribadah dan menghambakan dirinya. Kedua, hubungan antroposentris yaitu hubungan dengan manusia yang memiliki arti setiap kehidupan manusia tidak terlepas dengan peran dan kedudukan manusia lainya melalui interaksi sosial, komunikasi dan sosialisasi. Ketiga, hubungan ekosentris yaitu hubungan dengan lingkungan yang berarti bahwa manusia memiliki peran dan fungsi untuk menjaga dan merawat alam lingkungan hidupnya.

Saturday, June 28, 2008

Kebangkitan Nalar Spiritualitas Di Era Posreligius

Kebangkitan Nalar Spiritualitas Di Era Posreligius


Islam merupakan agama kesempurnaan, tidak ada penderitaan, kesusahan dan kesulitan dalam menjalankan kehidupan ini, kecuali seseorang yang telah menganiyaya dirinya sendiri untuk hidup menderita. Setiap umat Islam di perintahkan untuk selalu mendekatkan dirinya dengan Tuhanya sebagai bentuk kehambaan dan tidak memiliki daya dan upaya tanpa kebesaran-Nya. Inilah spiritualitas ajaran suatu agama bahwa di dalam realitasnya manusia tidak hanya memiliki kekuatan material namun juga kekuatan batin. Manusia digambarkan sebagai binatang yang berfikir (hayawanu an natiq) secara subtansial sebagai mahluk materi, pada satu sisi manusia juga sebagai mahluk spiritual yang di karuniai Qalb. Tetapi mengapa manusia mengalami dehumanisasi dan thingking destruction serta kehilangan makna hidup!

Sebuah Realitas Postmodern
Pada realitas hidupnya sekarang ini manusia telah mengalami dilema pada dirinya, diversitas kekuatan diri lenyap karena sekarang ini cenderung berjalan pada wilayah material. Inilah Era postkapitalis yang telah mendukung penyebaran nilai-nilai barat, perubahan sosial dan perilaku keagamaan yang terjadi akibat westernisasi tanpa meyaring nilai-nilai budaya lokal dan ajaran Islam, dimana gaya hidup manusia dengan praktek budaya dan agama sudah mulai tergerus dengan nilai-nilai barat yang begitu sekuler. Pada dekade berikutnya akankah eksistensi manusia bertahan seimbang, dimana globalisasi pasar dengan penyebaran informasi telah menyebarkan faham-faham liberal dengan pendikotomian antara agama dan dunia.

Sistem yang sekarang ini dibangun di setiap negara adalah sistem ekonomi yang hanya berorientasi pada pasar, sehingga setiap kebijakan yang di ambil bertujuan pada kebijakan pasar dunia sehingga tatanan sistem ekonomi dunia lebih condong pada wilayah kapital. Kalaupun perlu di setiap negara yang baru berkembang di tawari program ekonomi, recovery economy, liberalisasi perdaganagan (commerce liberalization), structural adjustment, program yang sebenarnya tidak dapat memulihkan sistem ekonomi suatu negara. Keterlibatan lembaga-lembaga Bretton Wood seperti Bank Dunia (world bank), World Trade Organization (WTO) dan IMF dan kelompok G-7 dalam kehancuran ekonomi negara-negara berkembang dan negara miskin cukup besar. Lembaga yang seharusnya membantu memulihkan kondisi ekonomi suatu negara dengan saluran dana keuangannya, akan tetapi malahan sebaliknya menjadi tangan panjang dari kepentingan-kepentingan ekonomi negara-negara maju terutama Amerika Serikat.

Neoliberalisme dengan struktur kapital telah mendorong secara radikal tatanan pemerintahan negara dari aspek budaya, ekonomi dan politik serta perilaku manusia yang semakin menjauh dari nilai-nilai Islam. Malalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi disebarkan gagasan neoliberalisme yang berakar pada pandangan tentang manusia ideal yaitu manusia rasional liberal dengan tujuan akhir pada individualisme. Pandangan ini didasari atas kepercayaan terhadap kemampuan akal manusia yang dapat mengubah seluruh tatanan alam maupun norma masyarakat.

Suatu hal yang tidak dapat dihilangkan bahwa manusia adalah mahluk dinamis (human balance) sebagai mahluk material dan immaterial. Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri dunia terasa semakin sempit dan fenomena manusia yang telah mengalami dekadensi moral. Perilaku sosial yang terjadi di kemasyarakatan semakin menjadi wabah penyakit yang siap menghancurkan generasi Islam.

Perilaku kehidupan pada era informasi ini juga telah merambah kehidupan domestik di setiap negara yang mayoritas Islam. Maraknya kasus-kasus perceraian, pengunaan obat-obat terlarang, depresi, psikopat, skizofrenia dan bunuh diri yang di sebut oleh Frijof Capra sebagai “penyakit-penyakit peradaban”. Ternyata perkembangan sains dan teknologi yang spektakuler pada abad ke 20 ternyata tidak selalu berkorelasi positif dengan kesejahteraan umat manusia, ini di sebabkan pandangan pemikiran posmodern yang cenderung positivistik.

Pendidikan Spiritual Di Era Posreligus
Postreligus adalah wilayah di manusia telah mengalami kebosanan akibat sistem yang cenderung kapital orientasi duniawi lebih di unggulkan tanpa tahu hakikat kehidupan yang sebenarnya, kebangkitan keagamaan dan rindu akan nilai-nilai spiritualitas. Ungkapan Friedrich Wilhelm Nietzsche “god is dead”, Sigmund Freud “agama adalah candu”, inilah tafsir ulang yang perlu dikaji bahwa agama telah membawa dampak pengkikutnya yang mengalami kelemahan spirit. Akibat benturan peradaban positivistik akibat bangunan epistemologi Decretesian dan Newtonian inilah posmodern telah membawa berbagai dampak untuk melemahkan fungsi dan tujuan manusia hidup. Peradaban kapital yang menempatkan manusia berdasarkan rasionalitasnya dalam berfikir yang membawa efek pada pemikiran yang cenderung pragmatis.

Penyakit-penyakit peradaban akibat epistemologi positivistik yang menimpa manusia pada akhirnya lari dan kembali kepada ajaran agamanya dengan dalih bahwa agama akan menjadikan ketenagan batin akibat dari peradaban kapitalis. Dari sinilah pijakan yang menjadi dasar mengapa manusia mengalami keterasingan dan split personality dan ingin kembali kepada kearifan timur (learning wisdom east).. Maka untuk mewujudkan manusia yang ideal perlu rekonstruksi filosofis dalam menerapakan pendidikan spirutual sebab biar tidak terjadi pendekotomian pendidikan.

Dari berbagai fenomena sistem ekonomi liberal, manusia liberal rasional dan tujuan hidup berorientasi duniawi. Di perlukan paradigma filosifis untuk mewujudkan pendidikan spiritualitas akibat goncangan penyakit peradaban yang telah di alami manusia dan kearifan timur sebagai pencerah cahaya terang dengan landasan bahwa manusia ideal adalah manusia yang mengoptimalkan fitrah dan potensi yang dimiliki, rekonstruksi filosofinya yaitu:
Pertama, landasan epistemologi, manusia di karunia keistimewaan dari mahluk lain berupa nafsu, akal dan hati yang perlu di didik optimal dalam proses pendidikan dengan konsep tauhid yaitu tahuid ulluhiyah, rububiyah, mulkiyah dan rahmaniyah agar memiliki sikap rasional kritis, kreatif, mandiri, bebas dan terbuka, bersikap rasional empirik, obyektif empirik, obyektif matematis dan profesional dengan tetap pada nilai-nilai kekhalifahan individu dan sosial kemasyarakatan. Hubungan tiga dimensi yang selalu satu padu Tuhan, alam dan manusia, tidak ada keterlepasan satu unsur yang akan mengakibatkan kebuntuan dalam menjalankan tanggung jawab dan amanah.

Kedua, landasan ontologik, bahwa sistem liberalisme yang telah mengerogoti sistem kemasyarakatan dan individu yang mengalami depresi rasionalitas. Masyarakat yaitu sekumpulan individu yang terdiri dari berbagai agama, ras, etnis dan budaya yang kemudian di istilahkan dengan pluralistik. Pada dasarnya secara ontologik sistem kemasyarakatan yang pluralistik ini rentan dengan konflik-konflik sosial, karena di dalam tubuh kemasyakatan terdapat keberagaman (internal diversity). Dari sinilah bangunan pendidikan spiritual dapat memfungsikan peran manusia dalam interaksi sosial kemasyarakatan bukan koniksi yang menjadi dasar akan tetapi lebih pada sikap (value) dan perilaku (psikomotorik). Keberagaman merupakan firah maka moral dan etika hidup perlu dijalankan seimbang dan menjalin sikap keterbukaan. Landasan inilah yang akan mendorong manusia unggul di sikap spiritualitas value dan profesionalisme sesuai kaidah moral.

Ketiga, landasan aksiologik. Aspek keberagaman inilah yang akan membangun pondasi peradaban baru dimana tidak ada kesenjagan sosial antara individu satu dan yang lainya, miskin dan kaya. Dalam konteks kehidupan global sikap saling tolong menolong dan toleransi akan membawa kehidupan yang saling membutuhkan bukan seperti sistem kapitalisme dengan memberikan bantuan namun malahan menjadi beban baru pada kondisi ekonomi. Manusia akan mengetahui hak dan kewajibanya serta menghargai hak asasi manusia dan sikap demokratis.

Situasi dunia yang telah di hegemoni oleh kapitalisme, membuat manusia mengalami gejolak batin, penindasan dan keadaan alam yang marah karena dirinya telah dianiyaya. Melalui landasan filosofis diatas akan dapat mengetahui seberapa besar jiwa manusia untuk Tuhanya, alam dan manusia sekitarnya (muamalat). Prinsip persamaan, bahwa Allah telah menciptakan umat yang satu untuk membangun kejahteraan bersama di perlukanlah kesadaran individu dan sosial. Prinsip keadilan ekonomi, bahwa setiap manusia harus mengetahui di mana ia hidup dan siapa disekitarnya, Asghar Ali Engineer menegaskan kepada seseorang untuk memberikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan apabila ia telah mampu mencukupi kebutuhan pokoknya. Prinsip pembelaan kaum mustad’afinl, manusia berbudi yaitu manusia yang selalu bersahabat dan dekat dengan kaum lemah (dhuafa) atau kaum tertindas (mustad’afin).

Semoga tercapai untuk membangun kembali manusia-manusia ungul (insan kamil) yang memiliki kelebihan kapasitas spiritualitas dan tidak melupakan aspek intelektualitasnya. Mengetahui fungsi hidupnya bahwa tujuan tertinggi manusia adalah menjadi orang yang bertakwa dekat dengan Tuhannya untuk mendapatkan ridho-Nya. Seyogyanyalah pendidikan spiritualitas diterapakan untuk membagun generasi Islam tanpa diversitas epistemik.

Friday, February 22, 2008

PENDIDKAN RABBANI MENUJU KEMANDIRIAN UMAT











PENDIDKAN RABBANI MENUJU KEMANDIRIAN UMAT
Oleh: Lukni Maulana



"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya (syaithan) itu musuh yang nyata bagimu". (QS. al Baqarah: 208)
Umat Islam merupakan umat yang memiliki karakteristik berbeda dari pada agama samawi lainnya. Islam adalah agama yang di ridhoi sebagai agama akhir zaman dan telah di jadikan sempurna al-Qur’an sebagai petunjuk umat manusia. Setiap umat Islam wajib berusaha mencapai kesempurnaan dan kemajuan baik di bidang jasmani maupun ruhani, material dan spiritual, sebab masa depan menurut Allah terletak pada sukses atau tidaknya dalam perjalanan hidup. Manusia mempunyai peran kekhalifahan di bumi ini untuk memakmurkan dan membudidayakan, sekaligus melestarikan serta berusaha menjaga keseimbangan lingkungan. Sedangkan peran sebagai abdillah untuk selalu mendekatkan diri dan beribadah sesuai dengan wahyu yang di terima oleh nabi Muhammad sebagai petunjuk menuju jalan keselamatan.
Di era globalisasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa manusia dalam kemudahan. Ilmu yang telah di gelar oleh Allah lewat ayat-ayat-Nya (qouliyah dan kauniyah) memang dipersiapkan oleh Allah sesuai dengan fitrah manusia artinya memenuhi dorongan asasi manusia yaitu keingintahuan (curiosity) terhadap segala sesuatu (realitas). Namun dalam sejarah perkembanganya menuju era post modern ini, umat Islam kehilangan jati dirinya, hidup dalam kungkungan keresahan, keterbelakangan dan kehinaan. Uamt Islam mengalami krisis ekonomi, politik hingga krisis yang mempengaruhi kehidupan normalnya yaitu krisis ahklak. Hingga menyebabkan krisis multi dimensional di tubuh umat Islam itu sendiri.
Apabila kita berfikir sejenak, kondisi umat saat ini, umumnya umat Islam di seluruh dunia dan pada khususnya di Indonesia, banyak fenomena yang menyelimuti pondasi umat Islam dan membuat hati kita menjadi miris karena keresahan tersebut. Di karuniai kekayaan alam yang berlimpah, tanah yang subur dan makmur namun kondisi perekonomian bangsa masih saja berada pada posisi yang tidak menggembirakan. Krisis BBM, pengalihan minyak ke elpiji namun krisis bahan bakar masih sering terjadi padahal kita adalah negara yang termasuk anggota tua dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Negara yang sebagian besar penduduknya bekerja di bidang pertanian ini, di tengah-tengah stabilnya produksi beras dalam negeri, bergulir impor beras, impor kedelai dan bahkan susu. Padahal Indonesia yang nota bene berkerja pada wilayah agraris atau pertanian dan perternakan. Kini umat Islam semakin sulit untuk bernafas karena terjepit dengan kebutuhan.
Banyak krisis yang di alami dan bahkan bencana yang silih berganti banjir, tanah longsor, tsunami, gunung meletus. Umat Islam kehilangan sebagian tempat inggal, harta benda, dan umat Islam hidup dalam kegelisahan dan ketakutan. Inilah krisis yang ada di tubuh umat Islam, namun yang perlu menjadi perhatian adalah umat Islam masih mengidap penyakit lemah dalm berkeyakinan dan penyakit moral. Jika penyakit tersebut belum juga menjadi pokok untuk memberantasnya maka kita tinggal menunggu kehancuran umat Islam. Tidak dapat di ragukan lagi daerah kekuasaan umta Islam akan di kuasai oleh kolonialisme baru. Oleh karena itu seyogyanya uamt Islam untuk mengintropeksi diri menuju keharibaan Allah. Menuju jalan yang benar yaitu tali agama Allah.
The end of neoliberalism
Pasca perang dunia kedua sekitar tahuan 1970-an, memasuki abad modern mulai ada canaggan untuk menerapkan system pasar bebas, sebuah konsep yang telah di anut oleh negara-negara adi daya seperti Amerika Serikat dan Inggris. Di sebabkan karena sistem sebelumnya membuat depresi sistem ekonomi negara maka munculah kebijakan di bidang ekonomi berupa neo liberalisme. Negeri umat islapun tidak dapat di pungkiri akan kenak damapk dari pasar bebas, kebebasan tiada batas di aspek bidang baik ekonomi maupun teknologi. Liberalismepun akhirnya menyerang ke negara lain termasuk Indonesia dengan adanya kesepakatan "The Bretton Woods" di Amerika. Dari kesepakatan ini maka berdirilah IMF (International Monetery Fund) dan bank dunia (world bank), serta menuntut dunia ketiga yang turut menandatangani untuk mereformasi kebijakan nasionalnya.
Neoliberalisme telah mengubah secara radikal tatanan budaya, ekonomi dan politik serta perilaku manusia yang semakin menjauh dari nilai-nilai Islam. Malalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi disebarkan gagasan neoliberalisme yang berakar pada pandangan tentang manusia ideal yaitu manusia rasional liberal dengan tujuan akhir pada individualisme. Pandangan ini didasari atas kepercayaan terhadap kemampuan akal manusia yang dapat mengubah seluruh tatanan alam maupun norma masyarakat.
Memang banyak faktor yang melatarbelakangi terjadinya fenomena seperti disebutkan di atas, namun ada satu poin penting yang dapat disimpulkan, yakni umat ini masih belum mandiri, umat ini masih senang mencari penyelesaian instan dengan bergantung kepada pihak lain. Lihat saja, ketika kita mencari tahu siapa yang melakukan eksplorasi terhadap kekayaan migas kita, tentu kita akan menemukan nama-nama perusahaan seperti Exxon Mobil, Total, Vico, Schlumberger, atau Inpex mendominasi. Peran BUMN seperti Pertamina nampaknya masih terbatas pada teknologi penyulingan serta pendistribusian produk. Juga dalam menangani krisis moneter yang membawa pada krisis ekonomi bangsa, para pengambil kebijakan di negeri ini masih ragu atau takut untuk keluar dari tekanan IMF. Menyedihkan sekali jika umat Islam masih bergantung pada negara barat.
Secara tegas umat Islam adalah bangsa yang memiliki kearifan dari timur mengapa harus menjadi bagian dari kolonialisme barat. Umat Islam memerlukan tekad untuk berubah sebab umat Islami belum memiliki tekad dan mental kuat untuk mandiri dalam mengurusi bangsanya. Padahal, sesungguhnya kemandirian itu sendiri merupakan salah satu ciri umat Islam. Allah SWT telah mengajarkan kepada kita, kita umat Islam tidak boleh bergantung pada negara adi daya, IMF maupun bank dunia dalam ajaran Islam. Umat Islam hanya boleh di ijinkan bergantung hanya kepada Allah semata.
"Allah adalah tuhan yang bergantung kepada-nya segala sesuatu". (QS. al Ikhlas: 2)
Pendidikan rabbani
Kondisi umat sudah begitu menguatirkan maka terlepas dari itu semua untuk segera memperbaiki diri salah satunya dengan pendidikan rabbani. Sebab umat Islam sendiri belum mampu menemukan jati dirinya, bingung pada keyakinannya dan bimbang pada krisis yang di alami. Maka perlu adanya jiwa kesadaran dalam mengimplementasikan nilai ajaran Islam dalam kehidupan secara kaffah dan berusaha mengamalkan ajaran yang di bawa nabi Muhammad dengan sungguh hati.
Pendidikan rabbani dimaksudkan agar manusia di didik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana digariskan Allah. Tujuan itu adalah beribadah kepada Allah dalam pengertian yang komprehensif, ritual dan sosial. Konsep ibadah itu harus global yang mengisyaratkan dua komitmen yang harus di realisasikan dalam praktek pendidikan rabbani, yaitu dimensi dialektikan horizontal dan dimensi ketundukan vertikal. Pada dimensi dialektika horizontal, pendidikan rabbani hendaknya mampu mengembangkan realitas kehidupan dan dimensi ketundukan vertikal mengisyaratkan bahwa pendidikan rabbani haruslah mengantarkan manusia mencapai hubungan yang abadi dengan khaliqnya.
Tujuan umat Islam merupakan penyerahan diri atau menghamba kepada realitas absolut yang termanifestasikan dalam konsep ibadah, dalam al Qur’an di sebutkan:
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku". (QS. adz Dzariat: 56).
Kesempurnaan menjadi tujuan umum yang tunggal yaitu memainkan dua peran sebagai abdillah dan khalifah. Semua itu dapat di capai dengan usaha yang sempurna pula serta malalui penyerahan diri yang ikhlas dalam memainkan kedua peran tersebut serta ketika ajal menjemput ia masih keadaan Islam.
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri (Islam). (QS. ali Imron: 102)
Umat Islam di perintahkan Allah untuk memeprtahankan keribadian Islam yang melekat pada keyakinan hidupnya. Kesadaran untuk kembali mengIslamisasikan dirinya kembali kembali ke jalan yang di ridhoi Allah dan menyadiri peran kekhalifahan di dunia.
Pendidikan merupakan kebutuhan mutlak yang harus terpenuhi, karena pendidikan bagi kehidupan manusia adalah untuk membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan. Semua dapat diraih dengan usaha dan doa yang semaksimal mungkin, dengan proses panjang secara bertahap dan sistematis berdasarkan perencanaan yang kuat untuk mencapai apa yang di inginkan sesuai tujuan. Sebab pendidikan berupaya mewujudkan generasi yang berakhlakul karimah sesuai dengan tutntunan jaran Islam. Manusia memiliki jiwa yang terkadang cenderung dalam kebaikan dan keburukan, maka jika ia terdidik di dalam arah yang baik barang tentu hidupnya kan mendapakan manfaat dan berkah.
Aspek pendidikan rabbani yaitu upaya untuk menumbuhkan kecerdasan yang koprehensif atau kecerdasan yang menyeluruh aspek potensi manusia baik dari aspek kognitif, emosional dan spiritual. Pendidikan rabbani di maksudkan untuk memberi bekal kepada manusia melalui kesadaran diri terdahulu. Pertama, kecerdasan mengenali diri yaitu mengetahui potensi jiwa, berupa jiwa selalu menyuruh kepada kebaikan dan keburukan,, menyesal, tenang, berubah-ubah dan lain sebagainya. Dengan kecerdasan spiritual ini seorang muslim dapat mengetahuai antara yang baik dan buruk berdasarkan kehendak hati yang di terangi cahaya keimanan. Kedua, kecerdasan akliyah yaitu umat Islam supaya menyadari akan kebutuhan ilmu pengetahuan untuk bekal di dunia, pemahaman pengetahuan Islam, umum dan modern. Umat Islam membutuhkan pakar-pakar ilmu pengetahuan di berbagai bidang untuk mengejar ketertingalan dalam bidang teknologi maupun informatika. Sistem Islam memang sempurna akan tetapi perlu di dorong supaya sistem itu dapat termanifestasikan maka umat Islam layak mendapatkan ilmu pengetahuan yang universal. Pendidikan rabbani aspek akliyah untuk mewujudkan manusia-manusia mukmin yang mutsaqaf, berpengetahuan di berbagai bidang. Ketiga, kecerdasan emosional, supaya umat Islam mampu berkomunikasi dengan baik dan berinteraksi dengan masyarakat serta mampu mengembangakan menuju ke arah amaliyah untuk selalu berjuang menegakan Islam menuju ke tingkat yang lebih mulya. Berjihad melawan semua penindasan yang terjadi selama ini dan mampu mengaktualisasikan guna mewujudkan masyarakat madani.
Menuju kemandirian umat
Melalui pendidikan rabbani di harapkan uamt Islam memiliki multiple intlegence. Umat Islam yang memiliki kecerdasan utuh akan mampu meiliki jiwa entrepreneurship. Sebab dengan mengoptimalkan kecerdasan tersebut, ia akan lebih berpeluang untuk mencapai kesuksesan. Sosok manusia yang beragama Islam semacam ini yang di perlukan guna membangun masyarakat entrepreneur di seluruh masyarakat Islam. Jiwa entrepreneur yang memiliki kecerdasan optimal akan berfikir kritis dan mengangap semua hal adalah peluang yang dapat menghasilkan kemanfaatan.
Maka seorang yang memiliki jiwa entrepreneur itu juga harus tetap jeli untuk memanfaatkan potensi yang di miliki. Sebaliknya jika umat Islam tidak mampu memanfatkna potensinya ia sulit sekali untuk berhasil. Kepekaan emosi dan spiritual akan mampu mensugesti pikiran dan mengangap semua hal adalah perubahan menuju yang lebih berarti. Setiap potensi manusia di pengaruhi dua hal di dalam jiwanya, jiwa yang memimpin untuk keburukan dan jiwa yang memimpin untuk kebaikan. Sementara akal di pengaruhi oleh lingkungan masyarakat dan individu pribadi muslim serta budaya yang berlaku. Inilah yang patut di pahami bahwa umat Islam harus mampu berinterkasi dari potensinya untuk mendorong kemandiran.
Faktor keberhasilan umat Islam untuk mandiri bukan semata-mata di tentulkan oleh faktor pendidikan formal ataupun hanya melibatkan kecerdasan intelektual saja akan tetapi seluruh aspek kecerdasan. Tidak ada gunanya jika umat Islam hanya diam dan merenung menunggu emas jatuh dari langit, yang di perlukan sekarang adalah berusaha dan berdoa.
Dalam banyak hal, umat Islam hendaknya mempunyai sikap mental mandiri yang harus di miliki dalam menumbuhkan kemandirian. Hal-hal yang perlu di lakukan umat Islam hendaknya. Pertama, menumbuhkan kesadaran kolektif secara individual untuk tercapainya semangat dalam mengoptimalkan peran kecedarasan. Kedua, dengan menghilangkan sikap ketergantungan kepada pihak-pihak lain semacam bantuan utang luar negeri, IMF, world bank. Ketiga, menghilangkan jiwa yang lemah, umat Islam harus memiliki jiwa dan watak yang kuat dan juga sifat malas harus di hilangkan. Karena Islam sangat menghargai orang yang tekun dan ulet dalam berkerja dan tidak mudah untuk bergantung pada pemberian orang lain, lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah. Nabi Muhammad sendiri menyontohkan seperti hadis berikut ini:
"Seseorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk di jual dan uangnya di gunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya, maka itu lebih baik dari seseorang yang meminta-minta kepada orang yang terkadang diberi dan kadang di tolak". (HR. Bukhari dan Muslim)
Manusia setidaknya jangan sekali-kali bergantung pada pemberian orang lain. Mental seperti inilah yang mencundangi umat Islam dalam keterpurukan kemiskinan dunia. bersegeralah menuju pemikiran yang progresif.
Para sahabat rosul yang memiliki kelebihan dan memberikan suri tauladan yang baik pernah mencontohkan atau memberikan pelajaranya mengenai sikap mengilangkan ketergantungan. Ketika kaum muslim hijrah dari Makkah ke Madinah, mereka di hadapakan dengan persoalan air bersih. Sedangkan di sana ada sebuah sumur, namun sumur tersebut di kuasai oleh seseorang Yahudi dan ia memperdagangkanya. Rasulullah saat itu sangat berharap dari golongan kaum muslim ada yang mau membeli air dari sumur tersebut. Rasulullah tidak menghendaki apabila air bersih yang merupakan kebutuhan hidup umat, di monopoli oleh orang Yahudi. Ketika itu pula sahabat Utsman bin Affan, membeli separuh sumur tersebut dengan sehari untuknya dan sehari untuk orang Yahudi tersebut. Sehingga dikisahkan bahwa kaum muslim dapat memanfatkan air sepuas mereka pada giliran Utsman mengambil haknya.
Memang dapat di akui untuk menghilangkan sikap ketergantungan pada orang lain sangat sulit, maka di perlukan sikap yang kuat dalam mendorong semua keinginan dan nafsu bergantung pada orang lain. Para penjajah baru atau kolonial tidak akan membiarkan jajahanya untuk mandiri, mereka akan selalu menginterfensi tanah jajahannya. Tekanan dari luar memang sangat menyakitkan dan terkadang sampai membuat umat Islam tidak dapat berdaya. Inilah resiko yang harus di ambil, sebab ketergantungan adalah hal yang paling hina. Ini pula yang menyebabakan budaya malas merasuki umat Islam pada umumnya.
Untuk melawan pihak asing, maka umat Islam harus memiliki jiwa entrepreneur dengan semangat perubahan dan menghilangkan sifat lemah dan malas. Allah sendiri telah berfirman bahwa uamt Islam di larang memiliki jiwa yang lemah.
"Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (kamu) bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman". (QS. ali Imran: 139)
Untuk mengatasi jiwa yang lemah yang berakibat pada sifat malas, angkuh dan cepat mudah marah Rasulullah telah mengajarkan kepada uamt Islam untuk selalu berdoa kepada Allah untuk mengatasi sifat yang tidak patut di miliki. Untuk mengatasi berbagai masalah yang melanda umat Islam saat ini, sudah saatnya berupaya keras dengan kekuatan sendiri dan tidak terlalu mengandalkan ketergantungan dari pihak asing.
Kemandirian ekonomi umat
Paradigma pemberdayaan ekonomi umat tentunya dengan paradigma yang lebih mendidik dan tidak hanya ketergantungan terhadap bantuan asing. Ketergantungan dari pihak asing akan menghancurkan kearifan dari timur, umat Islam adalah umat yang memiliki kebijaksanaan mandiri. Dalam wacana publik perlu tiga tahap dalam pemberdayaan ekonomi umat, diharapkan akan lebih baik. Tahap pertama, membangun kembali jiwa entrepreneurship dan tidak bergantung kepada asing. Tahap kedua, dilihat dari aspek ekonomi, produksi di Negara-negara Islam sangant baik dan produktif seperti minyak kebanyakan dari negeri arab sebagai eksportir, kekayaan laut yang begitu melimpah, kekayaan darat baik perternakan maupun pertanian sangat potensial. Tahap ini upaya bagaimana memulihkan sistem ekonomi yang ada di Negara Islam melalui melihat secara sistematis potensi yang di miliki. Tahap ketiga, dengan pembangunan jangka pendek dan panjang. Tahap ini di tandai dengan rekonstruksi ekonomi melalui percepatan pertumbuhan produksi. Begitu besar kekayaan yang di miliki umat Islam sebenarnya namun kita uamt Islam hanya bisa melihat dan tidak merasakannya. Sebab penindasan kaum asing yang selalu mengintervensi maka saatnya umat Islam untuk sadar diri.
Hendaknya penguasa di negeri muslim mengambil kebijakan yang serius baik di sektor pangan maupun migas. Batalkan segera untuk mengimpor minyak bumi, beras, kedelai maupun bahan pokok lainya, berasumsilah bahwa kita sudah cukup untuk memenuhi internal Negara. Para ilmuwan, politikus, ekonom maupun masyarakat pada umumnya, jangan pernah lelah untuk berfikir maju marilah selalu berkarya dan menguasai teknologi dalam rangka untuk mengelolah kekayaan alam yang telah di anugerahkan Allah kepada kita. Memakmurkan bumi adalah amanah kita untuk mempertangung jawabkannya besok kepada Allah. Bangun kembali paradigma progresif, mengambil semua peluang, berfikir kritis dan ilmuwan dapat menciptakan penemuan baru baik di bidang teknologi maupun pangan.
Untuk umat Islam di dunia, marilah untuk selalu bahu membahu dalam tolong menolog karena nafas Islam sangat mengahargai sikap saling tolong menolong dan bantu membantu. Tidak lupa kita tunaikan rukun Islam yang ketiga yaitu zakat. Menunaikan zakat berarti termasuk upaya membangun kemandirian ekonomi umat, sebab dengan mengeluarkan zakat kita berarti telah membersihkan hati dan harta benda yang kita miliki. Potensi zakat umat Islam sanga melimpah, karena itu perlu penaganan yang profesional dan terorganisir. Hendaknya zakat jangan berupa barang jadi maupun yang cepat habis jika di gunakan. Tetapi zakat yang baik jika kita mampu memanfaatkannya dengan memberikan bekal ekonomi dalam artian bahwa zakat itu hidup dan dapat menghasilkan. Semisal zakat yang terkumpul di belikan sapi ataupun kambing dan kemudian orang yang lemah ekonominya di berikan untuk mengelolanya dan hasilnya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, setelah menghasilkan beranak pinak, gantian masyarakt lain yang membutuhkannya.
Dengan sikap kemandirian yang sejati, umat Islam mampu untuk tidak lagi bergantung kepada pihak asing.
"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri". (QS. ar Rad: 11)
Pendidikan rabbani adalah upaya membangun pribadi yang kaffah dengan nyanyian Islam dari dalam keyakinanya untuk membangun jiwa entrpreneur guna mewujudkan umat Islam yang mandiri. Maka kolonialisme dengan anak turunnya neoliberalisme akan mengalami pasang surut dan pada akhirnya sistem tersebut tergantikan dengan sistem Islam yang kaffah.