Pada acara parade bulan bahasa yang diselenggarakan oleh Fakultas Budaya Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Sabtu, 31/10/2015). Mengingatkanku pada acara baca puisi memperingati tujuh hari pakar hukum progresif yakni Prof. Satjipto Rahajo beberapa tahun silam.

Aku membaca puisi karya sendiri dibantu sedulur dari Jepara Kang Mas Muhadz Ali Jidzar. Puisi bertema tentang hukum di Indonesia. Ada empat lembar naskah puisi. Pada waktu itu dihadiri oleh Prof. Eko Budiharjo dan Pak Mahfud Ali yang pada saat itu mencalon diri maju diajak pemilihan walikota Semarang.

Namun pada kali ini berbeda, aku tidak membaca dengan teks yang tersedia meski sebenarnya aku mempersiapkan teks yang telah aku sediakan di dalam saku jaket yang aku kenakan. Karena tubuhku yang lagi tidak merasakan kenikmatan oleh karena flu dan batuk. Kalimat deklamasi puisi yang aku hafalpun keluar.

Aku bercerita bahwa awal kali kembali dari pondok pesantren di Tambakberas Jombang, untuk mendaftar di kampus pilihan jatuh di kampus Universitas Diponegoro rencana ingin mengambil jurusan sosial politik. Namun ketika sampai di depan gerbang kampus UNDIP, niat untuk mendaftarkan diri menjadi mahasiswa sirna. Disitu aku hanya berkunjung saja, tidak jadi mendaftar untuk ikut bersaing agar dapat diterima menjadi mahasiswa Universitas Diponegoro jurusan sosial politik.

Judul: Cinta, Penderitaan, dan Ketaatan
Penulis: Lukni Maulana
Penerbit: Yabawande
Tahun terbit: September 2015
ISBN: 978-602-73063-0-1

 




Judul: Sang Morvious
Penulis: Lukni Maulana
Penerbit: Lembah Manah
ISBN: 978-602-1171-12-7



10 Oktober 2015 - Perjalanan dari kota Semarang menuju Kota Sragen terasa memikat oleh sebab kemacetan yang membuat diri ini lelah.

Namun rasa itupun tiba-tiba tidak berasa karena kita dapat menjalin tali silaturahmi sastra yang dilaksanakan di Rumah Sastra Hardjono Sragen yang dikelola oleh Mbak Sus Hardjono Setyawati.




SULIT RASA ini memutuskan hendak kemana malam minggu, menghadiri acara Konfrensi di Mranggen Demak atau peluncuran antologi puisi Progo 3 di Temanggung.

Namun sore itu pikiranku langsung menuju Temanggung, tepat pukul 15.30 Wib setelah jamaah shalat ashar akupun melaju dengan Mbak Vega, Sabtu (23 Mei 2015)

Sudah terlihat Kota Temanggung, sebelum sampai kota aku sempatkan menikmati kuliner pinggiran kota. Dan tentunya yang dibutuhkan tubuh adalah kehangatan, jeruk hangat itu merasuki tubuhku.

Aku datang ke Temanggung bukan ingin membacca puisi, tapi membagi cinta dan menjaga tali silaturahmi. Namun pembaca acara menyebut namaku, dan sebagai bentuk cinta akupun membacakan satu puisi di pendopo bupati Temanggung.

Sebelumnya pada siang hari buku antologi puisi progo 3 dibedah oleh Mbak Nia Samsihono dan Kang Gunoto Saparie. Gantian malam harinya ada pidato kebudayaan oleh Bambang Sadono, dan acara tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Temanggung Bapak Bambang Karno. Eh..sama-sama Bambang, kalau di singkat jadi BB hehhe.