JIKA HARI Jumat adalah hari yang paling utama, oleh sebab 1. Allah menciptakan Nabi Adam As, 2. Hari wafatnya Nabi Adam As, 3. Hari dimana Nabi Adam As dimasukan ke dalam surga, Hari ketika Nabi Adam As diturunkan ke Bumi, dan 5. Hari dimana akan terjadi kiamat.
Sebagaimana nama Adam sebagai seorang Nabi yang memiliki arti tanah atau bumi. Maka aku adalah air yang ingin masuk ke bumimu. Bersikap seperti air yang mencoba ingin andap ansor anarogo atau ingin bersikap rendah hati dalam kehidupan sehari-hari. Sebab tanah adalah kerendahan yang memiliki sikap lemah lembut dan luas hati serta mampu menerima keluhan serta mampu menampung beban keluh kesah dunia.
Tanah atau lemah (Jawa), memiliki karakternya sendiri; Lemah Garing (kering) memiliki arti, gusti Allah kang Maha Paring (maringi/memberikan). Lemah teles (basah) memiliki arti, gusti Allah kang Maha Mbales (membalas) dan lemah lembab, gusti Allah kang ngazab.
Wahai engkau yang tersirat, pada hari ini adalah hari kemananganmu maka bersihkanlah dirimu. Bukan sekadar mandi dan sikat gigi, tapi seperti air yang disebut diatas ia ingin andap ansor anarogo.
Lalu berdoalah semoga Allah memberikan sesuatu yang paling baik untukmu (lemah garing) atas segala usahamu. Berbuatlah kebaikan semoga Allah memberikan balasan (lemah teles) setimpal atas apa yang telah kau kerjakan dan mampu membasahi seluruh dosa-dosa yang pernah engkau perbutan, ditutupnya lalu diganti amal-amal kebajikan.
Dan terakhir semoga Allah tidak memberikan azab (lemah lembab), atas apa yang di bumi (Adam).
SELAMAT BERAKTIFITAS DAN BERIKANKAN RUANG KERENDAHAN SEBAGAIMANA BUMI.
Foto - Arieyoko: Membaca Biji Kehidupan di Rumah Budaya Kalimasada Blitar
Foto - Endang Kalimasada: Wajahku Gosong
DIANTAR ISTRI pagi-pagi menuju Stasiun Tawang, alhamdulillah dapat tiket ke Bojonegoro. Pergi kali ini untuk menghadiri kegiatan, "Pesta Puisi Musim Rambutan di Rumah Budaya Kalimasada Blitar" dan Road Show Puisi Menolak Korupsi (PMK) yang bertajuk "Nabi Tidak Korupsi" di Museum NU Surabaya Jawa Timur.

Dari Bojonegoro, di Stasiun dijemput Kang Arieyoko lalu naik bus menuju kota Blitar. Berselancar ke luar kota selama tiga hari Jum'at 16 Januari - Minggu, 18 Januari 2015.

Kegiatan pertama di Rumah Budaya Kalimasada Blitar yang diasuh dan pemilik oleh Kang Bagus Putu Parto dan Mbak Endang Kalimasada. Seorang pengusaha Kalimasada Cookies yang membuat produk kue kering. Kedua orang suami istri tersebut sangat aspiratif sekali didunia kebudayaan, kesenian dan kesusastraan. Orangnya baik sekali, apa lagi seorang Pengusaha yang turut andil pada wilayah kebudayaan, tentu sangat jarang-jarang kita temui. Lain dari yang lain kedua orang ini, mengundang berbagai penyair, yang tentunya menghabiskan waktu, pikiran, tenaga dan tentunya materi yang tidak sedikit. Semoga apa yang dikeluarkan, apa yang menjadi amanah kebudayaan pada dirinya menjadi teladan bagi kita.
Foto - Agus R Subagyo: Road Show PMK "Sema'an Puisi - Nabi Tidak Korupsi"

Aku membacakan satu puisi dari buku antologiku yang berjudul Biji Kehidupan. Ada hal yang menarik ini untuk pertama kalinya wajahku mengalami luka bakar oleh api dari tissu itu. Ya...Rumah Budaya Kalimasada, menjadi saksi awal wajahku mengalami luka bakar. Padahal sebelumnya belum pernah mengalami hal ini. Padahal aku mulai memainkan tissu, api dan puisi sejak masih kuliah tepatnya sekitar akhir masa kuliah tahun 2008.
Foto - Agus R Subagyo: Museum NU Surabaya


Perjalanan ini berlanjut atas kebaikan pemilik Rumah Budaya Kalimasada Kang Bagus Putu Parto dan Mbak Endang Kalimasada. Kami rombongan penyari diatar menuju Museum NU Surabaya untuk melaksanakan Road Show PMK. Dalam perjalanan sempat mampir dirumahnya Akademisi dan Penyair Kang Tengsoe Tjahjono (Saat ini menjadi Dosen di Korea Selatan). Eh...ya juga mampir makan Bakso di Malang, Bakso Kota Cak Man. Semua ini berkat kebaikan pemilik Rumah Budaya Kalimasada Blitar.

Meski hujan menguyur penyari berbagai kota memeriahkan gelar Road Show PMK di Museum NU Surabaya. Aku bacakan puisi yang berjudul Cahaya Bermata Pedang. Masih memaikan api dan katanya pecikan api sempat membakar karpet panggung, untung penyair dan Dosen Auttar Abdillah singgap mengambil percikan tissu berapi tersebut.

Sampai disini dulu aja, jika diceritakan panjang banget. Salam

KH. Budi Harjono, Ammar Abdillah dan Lukni Maulana (Penyair Api)

PENYAIR API itulah sebuatan untuk diriku yang memiliki nama lengkap Lukni Maulana, aku tidak tahu siapa pertama kali menyematkan julukan, "Penyair Api" terhadap diriku.

Pastinya aku mendapat julukan terkait paut dengan api yakni pada 6 Januari 2009 pada masa kuliah di IAIN Walisongo Semarang yang kini berganti nama menjadi Universitas Islam Neeri (UIN) Walisongo, mendapatkan julukan, "Manusia Api", tentu ada peristiwa yang meyelimutinya yakni ketika  teaterical bakar diri yang aku lakukan.

Penyair Api tampil membacakan puisinya diacara selapanan pengajian budaya yang diadakan oleh Caping Gunung Tuban. Bertempat diarea Terminal Lama Kota Tuban. Pengajian budaya Caping Gunung ini diasuh oleh KH. Budi Harjono.




BACA PUISI diacara pengajian dalam rangka Hual ke-3 Ibu Lastri di Ds. Teluk Mranggen Kab. Demak, mauidhoh hasanah oleh KH. Budi Harjono.
Foto Dok: Kiai Budi II

Salam cinta Mas Ammar Abdillah.

Ketelingsut Gundul-Gundul Pacul versi Kang Agus R. Subagyo.
Ealah dadi ileng gunung Kendeng Rembang Kelana Siwi Kristyaningtyas,Kang Putu dkk)
 
Alas-alas gundul ndul gembelengan
Gunung-gunung gundul gembelengan
Banyu kali sabane tekan ratan
Banyu udan dadine ngebaki dalan

29/12/2014

Santri PP. AL-Itqan membaca

Menyerap Cinta

Para pembenci cepat berpisah dari kasih
begitu juga rasa sayangnya
Ia tidak memperkenalkan siapa dia

Para pecinta memiliki keyakinan
bahwa ia akan menyerapnya
Tanah pasir menampung air didalam hati
Ia menghadirkan dirinya
Demikian nyata

Sciena Madani, 09/12/2014 (05.00 Wib)