SELAMAT DATANG DI WEBLOG NEGERI KEGILAAN (Menebar Cinta Menerangi Semesta)

Selasa, 01 Desember 2009

Bait-Bait Kesucian


(Part 7)
Nurul hanyalah seorang mahasiswi yang ingin belajar tentang hidup. Perasaan suka sama seorang pemuda dapat ia pendam. Akan tetapi, hati siapa yang kiranya sanggup menerima cinta yang dipenuhi rasa bahagia. Sinar sang rembulan mulai memasuki ruang-ruang yang dipenuhi dengan kesegaran ragawi. Terlihat Nurul hari ini tampak bahagia, matanya selalu menempakan sinar yang penuh dengan kelembutan. Raut wajahnya menandakan seribu satu tanda tanya. Kemana hendak dilabuhkan, hanya di dermaga yang terindah tentunya.
Nampak teman Nurul juga berada diruang kontrakan Anisa, Intan dan Lutfi. Wajah-wajah mereka sangat ceria, Intan dan Lutfi terlihat sedang menyeduh teh hangat dan menikmati tontonan sinetron. Sedangkan Anisa masih sibuk dengan Nurul dengan buku-bukunya. Sehabis asyik dengan buku, Anisa mendekati Intan dan lutifi mengosip Nurul.
“Tau ngak sahabat karip kita sekarang lagi dekat dengan cowok lho. Lumayan cakep sih cuman agak kumuh gitu”, kata Anisa
“Ehemmmmm bener nih, Lutfi menyahut sekaligus sedikit melirik ke arah Nurul. Apa ngak salah denger nih.
“Emang bener katamu Nis”, Intan ikut berpartisipasi yang juga ingin meramaikan gosip terbaru.
“Ya..iayalah, masyak aku bohong. Aku aja barusan ketemu sama pemuda itu. Sepertinya cocok banget deh untuk Nurul. Apa lagi pemuda itu sangat pandai, tutur katanya yang lembut serasa bila kau-kau ini mendengarnya akan bertekuk lutut dihadapannya”.
“Ehemmm..ehemmm, syukuran-syukuran. Kan ada yang mau dapat pasangan nih”, kata ketiga pemudi tersebut.
Ketiga gadis tersebut seakan semakin melayang-layang mengosip dengan pembahasan cinta Nurul di bangku kuliah. Malam ini terasa malam yang berbeda seperti bisasanya, sebab kontrakannya ini biasa dipakai buat kajian rutin baik diskusi, muhasabah maupun ceramah. Mereka semakin penasaran dengan menungu respon Nurul, makanya ketika berbicara semakin nadanya mengeras. Ya...supaya suara itu terdengar oleh Nurul.
Karena merasa mendapatkan perilaku yang membuat kupingnya agak ngak enak. Tiba-tiba Nurul menghampiri ketiga temannya. Dengan membawa bantal guling, Nurul langsung terlentang, tertidur mendengarkan gosip mereka tentang dirinya.
“Ayo...ngegosip lagi, ntar tak dengerin dangan seksama dan sesingkat-singkatnya he he”, bilang Nurul kepada mereka.
Mereka hanya sedikit terdiam yang secara tiba-tiba melihat Nurul enak-enakan tidur dihadapan mereka. Nurul hanya bisa mengeleng-geleng saja dan tersenyum sendiri melihat tingkah mereka.
“Jujur ajalah Rul, gimana perasaanmu dengan Malik”, tanya Anisa
“Oh...namanya Malik”, sahut Lutifi dan Intan.
“Kan udah aku bilang bahwa Malik itu teman satu kelas dan dia berteman baik dengan aku”, jawan Nurul.
“Ada apa ! Kenapa sih kamu. Andai saja itu memang membuatmu bahagia kenapa engkau merahasiakan itu pada sahabatmu ini”, tutur kata Intan semakin membuat suasana terasa hangat.
“Ngak..ngak’, Nurul menjawab.
“Percaya ngak kalau cinta dapat datang dengan tiba-tiba, pepatah jawa mengatakan “tresno jalaran songko kulino”, seperti itu lho ha ha”, Lutfi sedikit ikut merasakan alur perbincangan.
“Ya...Rul, kalau kamu bahagia kita pun sebagai sahabatmu ikut merasakan bahagia”, kata Anisa.
“Udah aku bilang, berapa kali aku harus menjawab pertanyaan kalian. Kalau aku sama dia itu hanya teman kampus titik...!”, rasa jengkel sepertinya mulai muncul pada diri Nurul.
“Ya...udah kalau begitu”, jawab Lutfi
“Awas jangan marah lho he he”, ledek Intan
“Jika kamu disuruh milih antara Malik dengan Kak Andrian, gimana Rul”, Anisa mulai menyodorkan pertanyaan lagi.
Nurul hanya bisa diam dan menatap ketiga temanya. Kak Andrian merupakan idola bagi kaum hawa di Lembaga Dakwah Kampus. Orangnya baik, kulitnya yang putih, tubuhnya yang sangat ideal bagi seorang cowok. Tutur katanya yang lembut dan kepandaianya dalam masalah agama. Sedangkan Malik hanya teman bangku kuliah yang hanya dapat dilihat secara sepintas.
Berbeda dengan Kak Andiran yang sesama di tempat organisasi, jadi sering bertemu mungkin hampir tiap hari. Bahkan banyak kaum hawa akan senang jika diajak bicara dengannya, apa lagi jika diajak bercerita tentang ketarbiyahan. Pasti pandangan mereka akan terpana pada liuk tutur katanya.
“He..he jangan aneh-aneh gitu dong. Kalian bertiga pasti juga suka kan sama Kak Ardian”.
“Iya...sih, andai dia mau sama aku. Kan dia cowok cakep”, pekik Intan
“Betul kamu, aku setuju. Andai dia suka sama aku juga”, lanjut Lutfi
“Dasar kalian ini, kalau lihat cowok cakep pasti pikiranya sudah tidak rasional”, timpal Anisa agak mengerutkan dahinya.
“Benar kan kataku, kalau aku sih biasa aja. Santai aja Nis, kalau mau saingan ada dua sahabatmu dan kaum hawa yang lain”, tawa Nurul mulai nampak. Anisa hanya bisa diam dan sesekali menyubiti ketiga sahabatnya.
Bersama dengan hawa dingin yang merasukki kulit-kulit mereka, para kaum hawa tersebut itu berlalu. Nurul mulai menuju kamarnya, begitu juga sahabatnya yang lain. Selamat malam, semoga malam-malammu semakin indah dan ada rung rindu dai hatimu.
Nurul tidak mampu untuk memejamkan matanya. Bahkan memaksa matanya untuk terlelap akan tetapi mata itu tidak jua mengantuk. Karena tidak bisa tidur, Nurul kemudian menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Dalam hatinya berharap dengan dua rakat shalat malam ia dapat menikmati mimpi-mimpi indah.
Sebab setiap manusia tentu sangat menyukai dan merindukan keindahan. Banyak manusia terjebak pada keindahan yang menganggap keindahan adalah yang memiliki nilai dan berharga seperti layaknya karya seni. Tapi berbeda dengan Nurul yang mengharapkan keindahan dalan mengarungi kehidupan ini.
Dua rakaat sudah ia jalani ditambah dengan tiga rakaat shalat witir. Bahkan ia membaca satu juz ayat-ayat al-Qur’an dan berdoa semoga diberi kemudahan dalam menjali lika-liku kuliahnya. Sebab godaan tertingi di kampus yaitu hubungan antar jenis, apa lagi mahasiswa-mahasiswi sudah dewasa dalam berfikir.
Diri Nurul yang tertutup dengan kain lebar dan panjang layaknya gamis telah tertanam di dalam keluarganya. LDK adalah tempat para kaum hawa yang ingin belajar tentang Islam, tapi semakin lama lembaga ini seperti orang salafy. Inilah fitrah agama, sebab banyak orang memburu keindahan dan membelanjakan uangnya demi jasmani dan kemewahan.
Akan tetapi, itulah budaya pragmatis dan hedonis mahasiswa sekarang. Tidak jarang kita menyaksikan penampilan pakaian yang minim dan indah, bukanya mendapatkan pujian melainkan hinaan. Itulah kehidupan kampus yang terselimuti arus modernitas.
Nurul mulai berbaring diatas kasur, matanya sudah mulai ada tanda-tanda kantuk. Tapi hatinya masih teringat dengan kata-kata sahabatnya. Jika disuruh memilih cowok mana antara Kak Andrian dan Malik. Apa lagi keduanya bagi Nurul adalah anugerah, dijadikan teman untuknya. Memang benar, Kak Andrian merupakan idola bagi kaum hawa di Lembaga Dakwah Kampus.
Perasaan gusar melanda Nurul, tapi matanya sudah tidak tahan rasa kantuk. Semoga malam itu adalah malam yang indah, malam dengan satu mimpi yang mampu mengetarkan seisi batinya.
Tiba-tiba Anisa mendatangi kamar Nurul dan mengkagetkannya.
“Hayooo..lagi mikir apa, pasti lagi mikirin mereka berdua”, ledek Anisa
“Lom tidur ta Nis”, tanya Nurul
“Aku tidak bisa tidur temenin aku sebentar ya. Tadi aku juga lihat kamu dari balik pintu mengambil wudhu. Begitu juga aku ikut-ikutan kamu”.
“Tapi aku sudah nagantuk”
“Please, temenin aku ya”, pinta Anisa
“Ya...deh, cuman sebentar aja ya cos kita besok kan harus berangkat kuliah”.
Kedua insan tersebut pada akhirnya bercerita banyak tentang keluh-kesah dunia. Bahkan sampai membincangkan Malik dan Kak Andrian. Padahal hati Anisapun sebenarnya jatuh rindu kepada Kak Andrian. Tapi bagaimana mungkin kecantikan dan kepandaiannya tidak sehebat sahabatnya ini.
Nurul menyadari akan keluh Anisa, tapi sebagai sahabat sejati harus ada saling menerima. Tapi jangan bersaing soal cowok, biarlah angin yang menjawabnya. Terpenting bagi diri kita yaitu menjadi insan yang terbaik, jika jodoh tidak akan kemana.
Merekapun tersadar dan telelap satu kasur dikamar Nurul.
* * *
Kampus dengan rutinitas mahasiswa yang ingin belajar tentang ilmu pengetahuan sudah menjadi menu di mata Nurul. Banyak mahasiswa memakai mobil, montor, sepeda ontel dan banyak juga yang berjalan kaki dari kos-kosan, seperti Nurul yang kebetulan dekat dengan kampus. Hari ini banyak yang harus dilakukannya seperti ntar siang yang ada rapat redaksi, kebetulan juga dia kuliahnya hanya pagi aja. Jadi bisa memanfaatkan waktunya untuk berkunjung ke perpustakaan.
Perpustakaan yang sudah dibangun dengan megahnya dan dipenuhi rak-rak dengan isi buku-buku baru membuat hati Nurul ingin segera memegang dan kemudian membacanya. Ia berjalan dari rak ke rak lainnya banyak ditemuinya buku-buku yang masih tampak rapi, dalam hatinya berkat apa mahasiswa sekarang sudah males membaca buku ya. Buktinya buku-buku ini masih tampak bersih sekali, apa lagi kursi-kursi yang makin sepi. Hanya ada beberapa orang yang duduk dikursi sambil menikmati sentuhan rangkaina kata buku kesukaan.
Nurul terus mencari buku yang ingin ia baca. Ia temukan buku dengan judul “Kimia Kebahagiaan” karangan Imam Al-Ghazali. Tangganya merengkuhnya dan sesekali membolak-balikan lembar demi lembar sambil ia berjalan menuju persingahan kenyamanan. Ia duduk dan meletakan buku dan tangganya diatas meja. Nurul membacanya dengan rasa serius, apa itu kebahagian ya..bisik hatinya.
Setiap orang menginginkan hidup kebahagiaan, pa lagi dalam beragama ada satu doa yang pasti selalu terucap yaitu kata-kata “Berikan aku kebahagiaan dunia dan akhirat”. Apakah kebahagiaan itu ketika orang dengan harta melimpah, jabatan yang tinggi, istri yang cantik. Semua hanya realitas semu yang dilihat hanya aspek materialaistik atau hanya dengan kasat mata.
Sudah hampir setengah jam ia membaca. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Kini sudah banyak mahsiswa memnuhi ruang perpustakaan. Mungkin mereka banyak tugas jadinya ke perpus hanya untuk mengerjakan makalah atau pepernya. Biasanya tugasnya hanya copy paste dari internet maupun pergi ke rental mencari tugas yang sama, karena Dosen sudah banyak tahu jadinya tugasnya disuruh ke perpus dengan refrensi buku asli. Ah...napa aku jadi ngusursi mereka, mendingan lanjutin membacanya.
Kini ia mencapai pada pembahasan tentang keindahan. Keindahan dalam bahasa Al-Qur’an disebut dengan ”jamal” dan ”husn”, menurut Ibnu Al-Atsir keindahan terdapat pada rupa dan makna. Sedangkan peringkat keindahan menurut Al-Ghazali dibagi menjadi lima: (1) keindahan sensual dan duniawi’ (2) keindahan alam’ (3) keindahan akliyah, yaitu keindahan yang ditampilkan karya seni atau sastra yang dapat merangsang pikiran dan renungan; (4) keindahan rohaniah, berkaitan dengan akhlak dan adanya pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dari seseorang atau karya sastra’ (5) keindahan ilahi.
Sadar ia rasakah, manusia akan mencapai kebahagiaan ketika ia mampu memhamai keindahan ini. Pada diri seorang perempuan diberikan keindahan, makanya harus menjaga keindahan itu. Pesona seorang wanuita bisa membuat seorang laki-laki tidak berdaya dan bertekuk lutut kepadanya. Makanya kata-kata, “surga ada di kaki ibu”, sesungguhnya seorang wanita diberikan sis-sisi kemulyaan, walaupun banyak kelemahan dari aspek ibadah. Tak heran sekaragn banyak gerakan feminisme, gender ataupun emansipasi yang memperjuangkan martabat, derajat dan harkat seorang wanita. Kini perempuan tidak lagi harus diremehkan.
“Assalamualikum”
“Waalaikum salam, silahkan duduk Lik”, pinta Nurul
“Maaf, menggangu kenyamanan membacamu”. Dari tadi Malik sudah memperhatikan Nurul melihat keseriusannya dalam membaca tanpa sedikitpun melirik atau bahkan memandang, sesekali matanya hanya melihat sekejab.
“Ah, nagak kok malahan seneng cos ada yang menemanin hehe”. Kok nagak baca buku...?
“Lagi males, ingin aja duduk-duduk diperpus kan lumayan ber-Ac, dari pada diluar hawanya panas. Pa lagi tadi aku ma Rizal habis dari kantin jadi instirahat di sini boleh dong”. Lagi baca buku apa..?
“Dasar kamu ini, emangnya rumahmu dibuat istirahat. Ni cuman membaca buku karangan Al-Ghazali”.
“Oh...ya dah dilanjutin bacanya. Aku tak sambil leyeh-leyeh. Ntar kalo dah seesai aku dibangunin and diceritain kesimpulan isi bukunya he he”.
Nurul melanjutkan membaca bukunya. Waktu sudah hampir siang, terdengar suara adzan. Tapi dia belum sempat menyelesaikan membaca bukunya. Dia menuju ke Rak untuk meliaht-lihat buku, barang kali ada buku yang cocok untuk di pinjam kan nangung jika hanya meminjam satu buku. Ia terus mencari dan pada akhirnya menemukan buku karangan Syeh Muhammad Abduh dengan judul Risalah Tauhid.
Ia terburu-buru meminjam buku dan langsung menuju ke Majid kampus. Apa lagi ntar habis Dzuhur ada rapat redaksi. Suasana air kehidupan memberikan segar dan keharuman pada dirinya.
Tampak sekretariat LDK sudah ada sebagian orang. Di situ juga ada Anisa dan Kak Andrian yang sepertinya lagi asyik ngobrol.
“Asslamualaikum”
“Waalaikum salam, Gimana Rul persiapan rapat redaksinya”, kata Kak Rizal
“Alhamdulillah, sudah aku persiapakan”
“Tadi habis dari perpustakaan ya..?”, tanya Anisa
“Iya benar katamu Nis, Subhanallah. Tak tinggal dulu sebentar ada yang lupa nih”.
“Emang da pa”, kata Kak Andrian.
Tapi Nurul keburu lari terbirit-birit. Rupanya dia baru sadar kalo dapat amanah bahwa dirinya harus membangunkan Malik yang masih tertinggal istirahat di ruang perpustakaan. Ia menuju ruang perpus dengan terburu-buru. Tiba-tiba Nurul terpleset hendak menuju lantai dua gedung perpus, kakinya mmengucurkan darah merah.
Tanpa disengaja pula Malik sudah bangun dan melihat Nurul terjatuh. Kemudian ia bergegas menghampirinya. Nurul tidak bisa berdiri kakinya terus saja mengeluarkan darah.
“Maaf Lik, aku tadi lupa membangunkanmu. Sembari merasakan sakit Nurul mengucapkan kata-kata maaf.
“Ngak pa..pa.., gimana apa harus aku bantu. Maaf ya...!”.
Langsung saja Malik membangunkan dan mengandengnya menuju ruang polik klinik untuk perawatan kakinya. Tapi tubuh Nurul terus saja bergeliyat dan ingin saja melepas gandengan tangan Malik. Karena saking kuat tanganya Malik, Nurul tak mampu melepasnya. Getar jiwa Nurul mulai membara, walau sebenarnya hatinya berkata lain, “saya bukan muhrimnya”.
Nurul mendapatkan perawatan dari salah satu dokter. Kakinya mulai dibungkus perban. Malik menunggu diruangan itu dan melihat rasa sakitnya. Di pandaginya terus wajah Nurul yang tampak merah pucat. Sesekali Nurul memandang wajah Malik. Sebenarnya engkau tampan dan baik Malik, kata perih sakitnya.
Oh...aku harus segera ke sekretariat, aku masih banyak tugas disana”
“Kamu harus istirahat dulu sebentar”, kata dokter tersebut sembari mengambilkan multi vitamin.
“Ya..istirahat dulu aja atau aku tak ke sekretariat LDK dan memberitahukan ke temen-temen bahwa kamu tidak bisa mengikuti”, pinta Malik
“Tidak bisa, aku harus kesana”. Dokter itupun keluar sesudah memberikan multi vitamin dan ia berkata, “Di jaga temennya ya, aku tak keluar dulu”.
“Ya..Bu, ma kasih”, jawab Malik kepada Bu dokter yang kelihatan masih muda dan cantik.
“Aku harus pergi dari sini”.
Tanpa sepengetahuan Malik. Nurul langsung saja nyelonong pergi dan terlihat masih terseok-seok dalam berjalan. Malik rupanya tahu dan langsung saja ia menggandenganya.
“Lepaskan aku”
“Ngak, kamu harus istirahat kalau kamu mau ke sekret ya saya antar. Kamu terluka kan juga gara-gara aku”.
Tanpa merasa kaku Malik terus mengandengnya. Hampir kurang beberapa meter Nurul sudah hampir sampai. Detak jantungnya terus mendayu-dayu, getar apa ini gerangan. Maafkan aku ya Allah, aku tidak mampu menahan rasa ini.
Malik kemudian melepasnya dan berkata kepadanya untuk hati-hati. Ia tahu kalau di lihat teman-temanya pasti Nurul akan dimarahi karena ia bukan muhrimnya. Lirikan mata Nurul ada seribu tanda tanya. Ucapan terima kasih menghempas gelombang terik mentari. Malik hanya bisa memandangnya sampai Nurul sampai ke tempat tujuan.
Terlihat sudah banyak orang memenuhi sekretariat LDK. Nurul tak mampu berkata, ia merasa bersalah yang seharusnya datang duluan malahan datang belakangan alias terlambat. Dengan menahan rasa sakit, ia tetap tegap dan tegar seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Assalamualaikum, maafkan aku temen-temen datang terlambat”, wajah nurul semakin pucat dan menahan rasa sakit.
“Apa-apaan kamu ni Rul, datang kok telambat. Apa kamu sudah tidak menghargai rapat redaksi. Jika kamu sudah tidak sanggup untuk bertanggung jawab, bubarkan saja rapat kali ini”. Salah satu temen laki-laki mengomeli Nurul
“Maaf, tadi ada sedikit keperluan”.
“Alah, alesan saja”.
“Sudah-sudah”, kata Kak Andrian.
Sekarang kita lanjutkan rapat redaksinya. Saya persilahkan Nurul untuk memberikan wejangan dan memimpin rapat pada kali ini. Wajah seakan memebrikan isyarat ketidak mampuan memimpin rapat. Seisi ruangan dan tulisan-tulisan kaligrafi yang terpajang sekan-akan menandakan kemarahan kepadanya.
Kata demi kata ia tuturkan dengan kelembutan. Tinggal ada beberapa kekurangan tulisan diantaranya rubrik puisi dan artikel ilmiah. Ada yang ingin memberikan komenternya. Sebab tinggal dua hari buletin ini harus segera naik ke percetakan dan untuk segera diterbitkan.
“Ya, saya..! kata laki-laki yang emosi kepada Nurul. Kamu harus bertanggung jawab atas kekurangan rubrik tersebut.
“Kan sudah ada penanggung jawabnya sendiri”, komentar Anisa tiba-tiba.
“Ini sebagai hukuman atas keterlambatnya. Apa lagi yang bertanggung jawab untuk rubrik tersebut orangnya lagi sakit. Jadi saya sarankan untuk sesegera mungkin menyelesaikannya.
“Kamu ini, kita sebagai teman juga harus bantu-membantu dong”, Anisa semakin panas ja.
“Ya...ya...tenang-tenang. Kita semua bertanggung jawab atas semua ini. Maka dari itu tetap semangat dalam menjalankan tanggung jawab ini. Sekarang sudah saatnya kita susahi rapat kali ini. Apa lagi sebentar lagi adzan sore. Kak Andrian mulai memberikan comenya.
“Ya..saya akan bertanggung jawab di sini apa lagi saya diamanahi sebagai pimpinan redaksi. Karena waktu sudah sore marilah kita akhiri rapat kali ini dengan bacaan Hamdalah bersama-sama. Wassalamualaikum Wr. Wb, Nurul menutup rapat redaksi kali walau rasa sakit ia sembunyikan.
Semua temen-temen Nurul berlalu pergi ada yang menuju ruang kuliah, ada yang ke kantin dan ada pula yang langsung pulang ke kosnya. Ada bebrapa temenya masih berada di ruangan temasuk Anisa, Intan, Lutfi dan Kak Andrian. Nurul tampak kebingunggan ada dua rubrik yang harus ia selesaikan. Harus minta kepada siapa, aku harus tenang, pekiknya.
Kak Andrian merasakan ada yang aneh pada diri Nurul. Namun ia tidak berani mengatakn perkataan itu. Ia tidak ingin melihat Nurul tambah berat atas tanggung jawabnya. Tapi haruskan aku hanya diam diri, sedangkan aku tahu sendiri apa yang talah dikerjakan Nurul di perpus. Rasa suudzon menghampiri Kak Andrian, begitu juga Anisa dan sahabat dekatnya.
“Rul, aku hanya ingin memperingatkan. Kalau bisa dijaga dirimu itu. Aku tahu apa yang kamu lakukan di perpus hingga sampai terlambat datang rapat redaksi. Ingat aku tetap percaya pada dirimu, tapi...!
“Tapi kenapa Kak, maaf bukannya begitu. Tadi aku terpleset jadi kakiku berdarah dan harus dirawat di polik klinik”, Nurul seperti di sudutkan dengan kenyataan
“Ya...itu, ingat semua hal itu mungkin dan segera selesaikan tanggung jawabmu”. Kak Andrian berlalu pergi begitu aja.
“Ya...Kak”, tiba-tiba Nurul meneteskan air mata dan sesegera ia mengusapnya dengan sapu tangan. Takut kalau para sahabatnya tahu. Ia beranjak berdiri dari kursi. Bruuuuukkk....tubuh Nurul jatuh kelantai. Rupanya ia tidak mampu untuk berdiri. Sontak suara itu mengkagetkan seisi ruangan. Sahabatnya langsung menghampirinya.
“Da pa Rul, kok sepertinya ada bekas tetesan air mata juga diwajahmu”, Lutfi sembari menggangakat tubuh Nurul dan Intan mendekatkan kursi untuk bisa dibuat duduk.
Nurul memperlihatkan luka di kakinya. Ia berani membukanya yang kebetulan juga tidak ada para laki-laki. Para sahabatnya kaget. Langsung saja membawanya pulang ke kos, biar Nurul istirahat dulu. Tapi ia tidak ingin pulang dulu sebab masih ada yang harus ia kerjakan. Tapi Lutfi begitu aja menggandeng sebelah kiri dan sebelah kananya Intan. Nampak sebuah kendaran sudah ditumpangi Anisa buat mengantarnya, yang kebetulan juga ia keluar pinjam kendaran temenya.
Anisa dan Nurul meluncur pergi. Matanya menagkap suatu tatapan yang indah. Ya...ternyata Malik sedang duduk-duduk ditaman dengan menikmati hot spot. Mata Malik juga memandang Nurul dalam hatinya berkata, “hati-hati”. Isyarat itu terdengar di ruang hati Nurul. Ma kasih Malik, katanya. Malik hanya bisa menatap dari kejauhan dan tak mampu untuk memangil namanya, laju kendaraan yang cepat hanya bisa menagkap isyarat angin pesan salam darinya.
* * *
Pascal pernah mengutarakan kata-kata bijak, “pikiran positif dari kepercayaan, pikiran negatif datang dari keraguan-raguan; rasa takut yang benar adalah rasa takut yang digabungkan dengan harapan, karena lahir dari kepercayaan, serta berharap pada Tuhan yang kita yakini; sementara rasa takut yang salah digabungkan dengan keputusasaan, karena takut pada Tuhan; beberapa orang takut kehilangan-Nya, sementara yang lain takut mencari-Nya.
Nurul hanya bisa terbaring lemas diatas kasur kamarnya. Lukisan bergambar pegunugan dengan pemandangan air terjun seakan menyejukan suasana di kedamaian kamarnya. Ia yakin atas kemampuannya dan tidak perlu ragu-ragu, aku harus percaya dengan kemampuanku, katanya.
Harga dirinya seharusnya menjadikannya semakin kuat. Dengan datangnya masalah, aku akan menjadi lebih dewasa. Sebab aku harus berfikir untuk menyelesaikannya. Sebuah anugerah terindah jika Allah selalu memberikan masalah kepadanya.
Orang yang takut dengan masalah aakan banyak di pengaruhi pikiran-pikiran negatif dan akan menghalangi untuk sebuah kesuksesa besar. Maka aku harus berfikir bagaimana caranya aku bisa sukses, tanpa harus berfikir tentang kegagalan. Nurul seakan memberatkan otaknya untuk berfikir tentang tanggung jawabnya. Belum lagi soal perkataan Kak Andrian yang belum ia mengerti. Di tambah dengan hatinya yang selalu bergetar memikirkan Malik, dia selalu hadir dalam berfikirnya kali ini.
“Apa yang harus aku perbuat, waktu tingal dua hari sedangkan aku hanya bisa terkapar. Belum lagi soal Kak Andrian dan Malik”, suara itu muncul dari balik sanubarinya yang terus bergejolak. Tanggung jawab yang harus aku selesaikan dulu...!
Ia raih Hpnya yang tergeletak dimeja dan ia seduh teh hangat yang dibuatkan Anisa. Mulutnya mulai basah dengan kehangatan. Jari-jemarinya mulai menekan huruf demi huruf. Satu rangkain kalimat telah selesai ia tulisakan. Kemudian ia kirim rangkaina tulisan itu kepada teman-temannya termasuk rizal. Tapi Malik tidak ia kirimi
Tulisan itu hanya permohonan bantuan untuk melengkapi kekuarangan buletinya. Balasan sms dari temen-temenya ia tunggu dengan harap-harap cemas. Satu demi satu denting suara hp terus berbunyi. Kebanyakan isinya selalu bertulisakn, “Insayallah”.
Albert Einstein pernah mengatakan, “Jika saya memberi anda satu sen, maka nada akan menjadi lebih kaya dan saya akan lebih miskin satu sen. Tapi jika saya memberikan anda satu ide, anda akan mempunyai ide baru, tapi juga saya masih memilikinya. Itulah kata-kata yang membangkitkan rasa penasaranya. Tidak ada pilihan lain selain memberikan ide kepada orang lain dengan imbalan. Tapi apakah mungkin sedangkan aku saja masih terkapar. Bunyi dering Hp seakan mengkagetkannya. Ternyata call dari Rizal.
“Assalamualikum’, kata Rizal
”Waalaikum salam”, jawab Nurul
“Maaf Rul, saya tidak bisa membantu untuk hal tersebut. Tapi aku sudah memberitahukan kepada Malik. Kenapa kamu ngak sms Malik..?”.
“Terima kasih sudah merepotkanmu. Aku ngak enak aja ma Malik”.
“He he hayooo...! Santai aja Rul sepertinya tadi pas aku call dia uudah respon kok. Aku percaya pasti besok Malik bakalan memberimu kejutan”.
“Ah..kamu ni Zal, malahan aku yang tambah ngak enak dong.
“Sanati aja Rul, sekarang istirahat dulu. Met malam and semoga mimpi indah. Udah dulu ya..salamualaikum”, Rizal mengakhiri perbincanganya.
“Waalaikum salam Wr Wb”.
Kini gundah pikirannya semakin menjadi-jadi. Bayang-bayang wajah Malik kian selalu hadir seketika kedipan mata. Rambut panjang seakan menjadi indah bermahkotakan senyum Malik. Merah pipinya seperti dibelai halus lembut tangannya. Kupingnya selalu mendengar kata-kata yang serba aneh dari mulut temannya yang paling nyeleneh. Maafkan dan ampuni aku ya...Allah,. kenapa ia tiba-tiba hadir dalam pikiranku. Sunggu aku inginkan nilai diriku mulia di hadapan-Mu.
Kelemahan hatiku ini akankah menjadi hambatan bagiku untuk mencapai prestasi dan cita-citaku, sampai kepada tujuan yang semestinya aku perjungakan dengan segala kemampuanku. Sungguh bahagia orang-orang diberikan “cinta” yang dapat membuat jiwanya tangguh sebab cinta adalah anugerah dan berkah. Ataukan akan jadi malapetaka..! Sungguh naif hatiku ini..Malik..oh Malik..kenapa kamu membayangiku terus. Aku telah merasakan detak jantungmu dan belaian indah tanganmu.
“Ya...Allah dengan segala kemahaan, aku tidak berdaya lagi, aku hanya bisa memohon semoga ini bukan cinta”.
Ada perasaan yang amat sangat aneh pada dirinya, perasaan yang dianggap hanya datang sesaat. Perasaan itu pasti akan luntur seiring perjalanan wakti. Perasaan itu akan lenyap seiring datangnya mentari dipagi hari. Tapi, jiwa itu apakah sejalan dengan harapannya. Sulit rasanya menghindar dari perasaan cinta. Cinta datang secara tiba-tiba dengan perasaan yang berbeda-beda.
Nurul hanya benar-benar merasa telah hanyut dalam lamunan yang semestinya tidak perlu dihadirkan. Melihat paras Malik yang tidak begitu menarik bila dibandingkan dengan Kak Andrian. Berkali-kali sahabat Nurul selalu supaya dia dapat dekat dengan Kak Andrian, tapi banyak juga wanita-wanita laen menyukainya bahkan sahabatnya sendiri si Anisa.
Baru kali ini Nurul merasakan hal ini, yang sepantasnya ngak perlu di umbar tapi jika melihat umur sepatutnya juga ia memikirkan dirinya. Ini namanya melawan budaya dan agama, aku bukanlah sorang gadis kota yang seenaknya saja mengatakan cinta atau bergaul bebas dengan seorang laki-laki. Tapi aku baru kali ini merasa dekat dengan seorang pria bahkan baru kali ini diriku tersentuh tangan seorang pria yang dapat mengetarkan jiwanya.
Ah...itu hanya perasaan sekejab...titik....!
Derinng dan getar hp sekan mendayu-dayu diraihnya dan dibukanya. Ternyata sms dari Kak Rizal
Ass. Rul, maafkan aku ya telah lancang brkt yg tak pants aq ucapkn td siang. Cos q lg ngak terkndli, q mrasa brsalah maafkan aq ya. Q tahu kamu dkt ma Malik, tapi....?
Itu kalimat sms yang ia terima dibacanya dengan teliti, rupanya dia melihat semua tentang kedekatanya dengan Malik. Bahkan ada sedikit kejangalan dalam sms itu sebuah tanda tanya. Nurul bingung mau berkata apa. Sejenak ia berpikir, mencarai alternatif untuk menjawab smsnya. Ada apa sebenarnya. Iapun akhirnya menuliskan pesan balasan
Wss. Ya..sama2. Q jg minta maaf krna Malik tmen satu kelas yg akrap dgnq. Maksd sms Kak Andrian apa kok masih ada tanda tanyanya.
Sejenak Nurul harap-harap cemas menungu jawaban sms. Pkirannya semakin menjadi-jadi. Bakan dirinya merasa takut. Memang sih kita tidak pantas terlalu dekat dengan seorang cowok yang bukan muhrimnya. Apa lagi kita juga aktivis LDK yang harus meatuhi rambu-rambu agama dan peraturan organisasi. Sms yang ditunggu datang, langsung ia baca.
Ternyata isinya juga seperti apa yang dipikirkan. Nurul diberi peringatan, kalau dia sampai ketahuan lagi dekat bahkan sampai jatuh cinta muhrimnya ia akan di pecat dari organisasi LDK.
Apa ada yang salah jika aku jatuh cinta. Cinta itukan fitrah. Mengapa harus diatur-atur segala. Apakah aku harus jadi cewek yang pendiam dan hanya terpaku kepada teks-teks yang ujungnya dijodohin atau dilamar. Tanpa harus tahu gimana laki-laki terebut.
Ah.....dasaaaar..cinta itu aneh. Biarkan saja mengalir...!
* * *
Read More..

Senin, 09 November 2009

hari pahlawan, nasionalisme perjuangan


Selamat Berjuang

Memperkenalkan seribu satu aliran dan satu kenegaraan. Tersaji dalam terjemahan seribu kurang satu teks kunci diantaranya kerakusan, kebohongan dan kezaliman atau bahkan penindasan, pelecehan dan penjajahan.

Sangat mudah memperkenalkan atau sekedar memberi pertanyaan bahkan lebih mudah lagi memberikan jawaban. Isinya bukan tentang tuhan, agama, ekonomi, budaya maupun politik melainkan mengenai diri ini, ’siapa gerangan dirinya’?.

Ini bukan kisah perjalanan para nabi. Bukan pula mengajak seseorang untuk membaca panorama sejarah orang-orang kalah. Pertanyaan itu akan selalu muncul, ’benarkah’?. Ya..ya..ya manusia t’lah dibuat keheranan atas laku kerakusan, semua jadi rebutan.

Anak-anak belajar memperkaya wawasan dan cakrawala pandang tentang nasionalisme. Sekaligus mengasah daya kritis untuk menyikapi reduksi persatuan dan kesatuan. Tapi..orang tua memperkaya diri dan cakrawala menindas satu sama lain mempertajam menjual budaya bangsa.

Oh..bidadari yang cantik dan rupawan menikmati bunga-bunga taman yang sangup merangkai gugusan bintang menerbangkan seraut wajah muram yaitu siapa diri kita.

Beraneka kesaksian t’lah dihadirkan di meja bundar hanya untuk menikmati acara makan siang. Pagi dan malam tidur-tiduran bersama selingkuhan sumber manusia dan alamnya.

Selama datang di kerajaan dengan visi mengembangkan kehidupan yang lebih biadab. Dengan misi menghancurkan kejayaan kerajaan.

Selamat datang pejuang
Tolong aku lagi kelaparan
Tolong aku lagi kehausan
Di kerajaan aman dan tentram


Lukni maulana (IlCi Ar-Rasyid) 9/11/09
Read More..

Sabtu, 26 September 2009

Menuntut Hak Kepada Fitri


Manusia telah sampai kepada suatu kesempatan yang begitu menatang yakni perjalanan satu bulan menjalankan ibadah puasa. Ibadah puasa merupakan rangkaian kewajiban seorang hamba kepada Tuhanya yang bayak mengajarkan kearifan, pada bulan tersebut manusia disuruh berbuat tentang kebaikan, keindahan dan kebenaran. Seperti tatanan nilai bahwa manusia merupakan mahluk ideal, namun derajat keimanan yang selalu naik turun.
Sangat ironi sekali jika di bulan yang penuh berkah seorang manusia lupa pada pendidikan yang begitu agung, setidaknya ada tiga hal yakni pertama, menahan lapar, dahaga dan nafsu dimana manusia supaya sadar tentang eksistensi diri dalam artian bahwa manusia memiliki idealitas fisik yang perlu diberi stimulus supaya memiliki kekuatan lebih. Kedua, tarawih dan tadarus artinya bahwa manusia memiliki sifat keilahiyahan yang menunjukan kedekatan dengan Sang Khalik dan dapat untuk memahami dan membawa bekal atau pedoman hidup berupa kalam suci. Ketiga, amal shaleh bahwa manusia diikat hubungan timbal bailk antara manusia dan alam lingkunganya untuk selalu bersikap ramah dengan mahluk lainnya.
Sedangkan rangkain pendidikan tersebut akan berjalan seimbang jika dapat menjalankan dengan penuh keihlasan, kesabaran dan rasa syukur. Sebab setelah menjalani puasa ramadhan manusia dihadapkan bentuk ekspresi hari raya idul fitri, pertama, mudik lebaran jadi bukan sekdar ritual tahunan namun bentuk ekspresi yang mengisyarakan hubungan silatuhrahmi atau hubungan kekeluargaan. Kedua, zakat dan shalat ‘id bahwa hal tersebut merupakan kewajiban seorang hamba untuk lebih santun dan kibaran bendera kemenangan.
Jadi disini pada intinya manusia dihadapkan pada suatu tantangan untuk membangun pribadi dan peradaban. Setiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah, pada bulan yang mulia ini seseorang yang benar-benar menjalankannya dengan penuh keyakinan maka ia akan terlahir kembali sesuai dengan fitrahnya yakni cahaya kesucian pada jiwa dan tubuhnya. Karena pada hari itu Allah memberikan ampunan, rahmat, kasih dan sayangnya.
Maka dapat ditarik pemahaman tantangan tersebut yaitu membangun pribadi bahwa manusia adalah memiliki peran yang tidak dimiliki peran mahluk lainya. Pada pembelajaran itu manusia di didik dengan berbagai hal seharusnya pribadi itu menjadi pribadi yang khafah. Pribadi seorang yakni menjalankan kewajiban bagi seorang hamba untuk selalu tunduk dan mengkoreksi diri menjadi insan yang berzikikir dan berfikir. Kualitas menjalankan kewajiban akan memberntuk mentalitas seoranng pemimpin yang memiliki jiwa pemberani, memahami kitab suci dan menghargai mahluk lainnya. Maka pribadi tersebut dapat menuntut hak berupa perayaan kemenangan.
Akan tetapi menjadi sirna jika pendidikan tersebut dilupakan, mereka hanya menjalankan ritual tanpa memahami makna sebenarnya. Sungguh malang nasib pribadi semacam itu, ia tidak akan mendapatkan apa-apa hanya ritual yang menjadikan dirinya menjadi manusia yang penurut, pemalas dan kurang percaya diri. Namun jika manusia bernar-bnenar menjalankan kewajiban tersebut sunguh mulyanya dia.
Hal ini terkait dengan hukum timbal balik kehidupan yang telah digariskan yakni “menjalankan kewajiban dan menuntut hak”. Jika ada seorang pekerja ia menjalani kewajibanya sebagai karyawan maka ia akan mendapatkan haknya berupa gaji. Namun jika dia menjalankan tugasnya dengan baik dan professional maka biasa saja ia mendapatkan hak yang lebih dari kenaikan gaji dan bahkan pangkat. Di sinilah ukuran kualitas seorang hamba, bagaimana ia telah menjalankan kewajiban ibadahnya, dia melakukanya dengan professional atau hanya sekedar bekerja.
Pribadi ideal bukan hanya meminta hak, terkadang di masyarakat kita banyak menemui berbagai macam tuntutan kehidupan dari pemukiman, jalan, gaji, pendidikan, kesehatan dan berbagai persoalah kehidupan. Pertanyaan yang muncul seberapa jauh kita menjalankan kewajiban sebagai masyarakat yang memiliki tuntutan tersebut, sebab kewajiban disini adalah rasa perjuangan. Seberapa besar peran dan usaha yang kita lakukan untuk mewujudkan peradaban yang di ridhoi Allah. Sedangkan masih banyak dari diri kita menjadi pribadi yang pemalas, peminta dan penakut. Sungguh malang negeri ini jika mentalitas kewajiaban belum tertanam di benak hati yang berfikitr, namun hanya tertanam kewajiban untuk saling menindas maka akan sirna peradaban yang di harapkan.
Maka dari itu marilah mengkoreksi kewajiban kita sebagai seorang abdillah dan khalifah. Setelah kita tahu seberapa besar ukuran kualitas dalam menjalankan kewajiban itu, barulah kita menuntut hak sebagai seorang hamba untuk menjadikan dunia yang lebih beradab dengan nilai-nilai Islam.
Read More..

Nyadran Tradisi Menyambut Ramadhan

Ramadhan merupakan bulan kesembilan setiap tahun Qamariah. Pada bulan ini umat muslim baik laki-laki maupun perempuan di wajibkan untuk berpuasa yaitu menekan kehendak perut dan kehendak syahwat. Sebab bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan berkah, rahmat dan magfiroh (ampunan). Pada sisi realitasnya masyarakat menyambut bulan suci tersebut dengan berbagai kegiatan seperti dugderan, songkabala, barikan dan nyadran.
Tradisi monotheistik meyakini bahwa Tuhan tidak diketahui oleh mahluk secara eksistensi, karena tidak ada yang hakiki selain Dzat Maha Hakiki. Oleh sebab itu realitas alam semesta hanya hakiki secara relatif sehingga Realitas-Nya berada jauh di luar pemahaman realitas mahluk.
Maka dalam hal ini tradisi keagamaan merupakan realitas mahluk untuk mengetahui eksistensi Tuhannya. Dalam konteks keagamaan tradisi merupakan warisan turun-menurun yang terus berjalan seiring zaman. Keniscayaan ini perlu sebuah pemahaman, karena tradisi merupakan realitas pemaknaan, sungguh sangat ironi pada keberagamaan yang lebih menekankan kesalihan ritual dari pada kesalehan individu dan kesalihan sosial.
Implikasi dari tradisi keberagamaan seperti itu adalah realitas sosial dan individu yang dihiasi dengan budaya ritualistik, kaya kultur yang bernuansa agama, tetapi miskin dalam nilai-nilai spiritual yang berpihak pada kemanusiaan. Sikap pada era postmodernisme yang bersifat positivistik dan materialistik menyebabkan manusia bersikap tidak wajar sesuai dengan ajaran agama. Hal ini berakibat pada sikap dan perilaku manusia yang bersifat menyimpang seperti; individualistik, konsumerisme, hedonis dan pragmatis. Perilaku tersebut merupakan penjajahan baru yang berakibat pada dekadensi moral, tak heran jika Indonesia mejadi negeri yang kehilangan kemanusiaan sikap korupsi dan menindas yang lemah menjadi tradisi keberagamaan.
Karena itu, tradisi keberagaman bukan hanya bersifat ritualistik akan tetapi menyakup beberapa kesalehan dalam bermasyarakat. Dalam konteks ini maka tradisi nyadran bukan sekedar ritualistic, akan tetapi merupakan ekspresi kesalehan individual dan sosial keberagamaan.
Tradisi nyadran
Bagi masyarakat Jawa dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, Syaban atau Ruwah merefleksikannya dengan tradisi nyadran. Istilah nyadran memiliki makna yang begitu dalam yang mengisyaratkan kegiatan manusia untuk lebih dekat dengan Tuhannya. Secara tekstual nyadran atau sadranan berasal dari kata Sraddha yang memiliki makna mengunjungi makam leluhur untuk membersihkan makam, menabur bunga dan mendoakan serta mengabari akan datangnya bulan suci.
Nyadran merupakan ekspresi kultural keagamaan berbentuk ziarah kubur yang memiliki kesamaan didalam ritual dan obyeknya. Tradisi keberagamaan merupakan warisan turun menurun, dalam sejarahnya nyadran telah dilakukan sejak zaman Majapahit. Menurut Zoetmulder dalam bukunya yang berjudul Kalangwan tradisi nyadran pernah dilaksanakan untuk mengenang wafatnya Tribhuwana Tungga Dewi pada tahun 1352. Semenjak kedatangan agama Islan di tanah Jawa, tradsi nyadran tetap menjadi suatu tradisi yang turun menurun, namun oleh Sunan Kalijaga dikemas dalam nuansa Islami dan suasana silatuhrahmi.
Tradisi nyadaran pada masyarakat memiliki keberagaman yang dilakasanakan dengan berbagai cara yang berbeda. Dalam konteks kemasyarakatan nyadaran merupakan simbol refleksi atas rasa syukur menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Keberagaman penyambutan tersebut hanya bersifat komunal dalam artian masyarakat bisa menentukan kapan akan pergi berziarah ke makam leluhur. Namun refleksi tersebut juga dapat diselengarakan secara bersamaan di masyarakat dengan membuat tumpeng yang kemudian dibawa ke masjid dan kemudian mengadakan tahlilan beserta doa keselamatan menyambut kedatangan bulan suci tersebut.
Tradisi nyadaran merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama dan Dzat yang maha kuasa. Tradisi ini telah menjadi ajaran keberagamaan yang di yakini yaitu mempersatukan warisan budaya lokal dengan ajaran Islam, sehingga terjalin hubungan dua eksistensi lokalitas dan ajaran agama Islam.
Kalau ditelusuri ritual tersebut memiliki berbagai macam kegiatan diantaranya doa keselamatan, pembacaan shalawat nabi, tahlilan ziarah kubur dan tumpengan. Nyadran bisa dikatakan hubungan antara manusia dengan Tuhannya yang dilaksanakan sesuai dengan tradisi manyarakat. Hal ini mengisyaratkan adanya kekuatan lokalitas yang kental dalam tradisi masyarakat Indonesia, maka tradisi tersebut perlu dilestarikan sebab terkadang masyarakat modern telah banyak lupa akan nilai-nilai tradisi nyadaran.
Oleh karena itu, dalam tradisi nyadaran memiliki hubungan dialektika horizontal dan dialektika vertikal yang menandakan kesalehan ritul, individu dan sosial. Dalam tradisi nyadaran masyarakat akan semakin tahu makna ritualistik yang kaya akan nilai-nilai pendidikan.
Pendidikan kesalehan
Dalam kehidupan kemasyarakatan tradisi nyadaran dalam menyambut awal bulan Ramadhan telah mengariskan prinsip-prinsip tradisi lokal dan ajaran Islam. Prinsip-prinsip tersebut antara lain rasa ukhuwah, kasih sayang, tolong menolong, amar ma’ruf nahi munkar dan kesamaan bahwa setiap manusia pasti akan kembali kepada sang Khalik. Makna dari prinsip tradisi nyadaran bagi masyarakat Jawa adanya pendidikan kesalehan ritual, individu dan sosial.
Nyadaran dalam menyambut Ramadhan menjadi ajaran kemasyarakatan mengenai solidaritas sosial dan pemaknaan prinsip-prinsip ajaran tentang perilaku kehidupan yang tidak hanya bersifat materialistik, namun kaya akan nilai-nilai spiritualitas. Prinsip nyadaran sebagai bentuk tradisi keberagamaan yang mengajarkan kebaikan kepada sesame, baik yang sudah meningal maupun dengan sesama dan tentunya kepada sang Khalik. Ziarah kubur dan tumpengan mengisyaratkan hubungan Tuhan dengan dunia, dalam pandangan Frithjof Schuon merupakan simbol kesatuan wujud yang menegaskan bahwa karena Tuhan merupakan satu-satunya realitas maka yang ada hanyalah Dia, dan dunia ini pada dasarnya adalah Ilahiyah. Jadi tradisi nyadaran dengan berziarah ke makam leluhur dan tumpengan menegaskan adanya kebenaran esoterik yang hanya dapat dipahami dalam konteks spiritualitas.
Hidup dan mati adalah dialog tanpa akhir dengan Tuhan. Akal, nafsu dan hati merupakan perangkat yang harus digunakan oleh manusia secara selaras dan seimbang. Maka tindakan perilaku hedonis, korupsi dan individualitik dapat lenyap jika manusia memaknai betul nilai-nilai ajaran sebuah tradisi lokal tersebut.
Sebagai sebuah tradisi yang selalu diadakan guna menyambut datangnya bulan Ramadhan sebagai penghias untuk merefleksikan perilaku satu tahun yang lalu, bahwa manusia penuh dosa dan noda yang perlu dibersihkan sebelum ajal menjemput. Tradisi nyadran adalah tindakan kebajikan masyarakat yang bertujuan mewujudkan kemaslahatan satu sama lain yang diniati ikhlas untuk menyambut bulan suci ramadhan.
Maka dari itu tradisi keberagamaan tersebut dalam konteks sosial dijadikan sebagai medium perekat sosial dan membangun jati diri bangsa. Sebagai sebuah tradisi keberagamaan nyadaran merupakan rekreasi spiritual untuk bersiap-siap dalam mendidik akal, nafsu dan hati. Untuk selanjutnya manusia akan menyadari hubungan dirinya dengan Tuhan. Tradisi keagamaan yang dilakukan masyarakat merupakan cermin awal sebagai sebuah bentuk kesadaran sekaligus pengakuan pasrah kepada Tuhan agar mendapatkan keselamatan dan mengapai kesejahteraan serta kebahagiaan hidup.
Read More..

Jumat, 18 September 2009

Met Lebaran


Dengan Kerendahan Hati saya mengucapkan minal aidzin wal faizin: Read More..

Satu Pintu Terbuka Di Sebuah Masjid


Aku ingin mensucikan seluruh jiwaku dengan air yang membasuh seluruh tubuhku dan air wudhu yang membasuh mukaku agar ia bicara tentang cahaya, akan tetapi aku terkenak basuhan itu diriku terbujur kaku dan lemas tak berdaya.
Ini adalah awal pintu yang terbuka…!
Awalnya aku tidak menyadari siapa sebenarnya dirimu hanya dunia maya. Dunia yang tidak tidak mengenal ruang dan waktu, tapi semua akan terjawab pada satu sisi jembatan yang mengantarkan kita mengenal suatu hal. Dari jembatan itu sambung menyambung menjadi ikatan yang berkelanjutan hinga sampai sekarang ini. Walaupun sekedar perkenalan dan tidak tahu sejauh mana kita sampai tujuan yang sebenarnya. Hanya tujuan curhat dan keisengan semata antara kau dan aku.
Aku hanya bisa nyanyikan melodi bagaimana bisa mengerti apa maksud dan tujuanmu, ternyata hubungan dua insan yang berbeda. Itu memang sudah tidak menjadi rahasia umum antara suka dan benci, menang dan kalah, luka dan sayang. Ternyata kata-kata menjadi bisikan bisu dalam jari-jari ini, kata-kata di dunia maya itu telah menembus batas diluar batas nalar.
Pada saat itu, seorang manusia bertanya kepadaku tentang kehangatan cinta, dan kamu merasa senang dan puas terhadap apa yang telah engkau katakan padaku. Kau adalah seorang peri kecil yang berusaha suka kepada insan yang memadu kasih. Padahal semua jawaban ada pada dirimu, bagaimana engkau wahai peri kecil berusaha dan melantunkan lagu-lagu asmara ke dadanya. Akan tetapi, selanjutnya aku tidak tahu pasti, apakah rasa cinta itu menyelimuti jiwamu dengan kerudung biru di mahkotamu.
Kau membincang kata cinta dan bahkan ingin mendefinisikannya seperti ingin menemukan intan di samudra. Engkau ingin menemukan intan tersebut tapi tiram itu bersembunyi dibalik batu-batu terjal hingga menutupi penglihatanmu. Berharap merangkai intan menjadi hiasan dunia dengan gemerlap kilau sinar putih yang dapat menerangi batinmu.
Coba saja kau definisikan cinta tersebut jika di dalam diri cinta ada benci, rindu, sayang, bahagia, luka, kasih, asmaran, sedih, lelah, bosan, sakit, kematian dan lain sebagainya. Apakah engkau ingin menyulam rangkaian kata-kata cinta pada dinding-dinding yang tebal hingga engkau mampu merobohkannya dan dirimu merasa bangga bahwa telah menghancurkan kesucian cinta tersebut. Cinta hanyalah sebuah pengambaran pada diri kita, semua dapat digoreskan dimanapun berada tanpa melukainya. Hanya definisi cinta-Nyalah yang dapat membuka tirai pada jiwa yang menyebut dzat-Nya.
Itulah kiranya sedikit coretan yang mengaris didalam pikiran dan perasaanmu dan semoga bukan kemuskilan yang engkau dapatkan akan tetapi sebuah pelajaran yang berharga bahwa masih banyak rahasia yang belum terungkap di dunia ini. Maka bersenandunglah dalam imanjinasimnu, seolah-olah engkau menari-nari diatas permadai yang menerbangkanmu kealam impian.
Andai dunia tidak ada percikan cinta maka akan terasa hampa, oleh karena itulah kita sebagai seorang manusia yang lemah hanya sediki mampu menafsirkanya dalam tingkah dan perilaku di dunia menjadi insan yang lebih dekat dengan-Nya. Rasa suka dengan sesama jenis adalah anugerah, janganlah engkau menghancurkannya atau berusaha membinasahkannya itu adalah kalam suci yang telah tersirat. Maka nikmatilah rasa suka itu mengitari semesta nan jauh dan carilah apa yang telah dianugerahkan kepada manusia
Mulailah dengan suatu harapan semoga setiap manusia memiliki cukup waktu mendalami kasih dan sayang diantara sayap-sayap yang siap menerbangkan kita menuju alam bawah sadar dan menemukan kehidupan yang lebih baik dan mendapatkan secercah kebahagiaan dan engkau seolah-olah berdiri dipadang ilalang yang luas di tengah pagi yang cerah. Engkau sendiri, tiada siapapun disana hanya dia dalam kalbumu, lihat mentari pagi rasakan desiran udara dan ebun pagi yang membasahi kulitmu. Maka rasakan semuanya sebab cinta dapat tumbuh dimanapun.
Walaupun terkadan di dalam diri kita ada rindu untuknya. Akan tetapi harga diri tidak tunduk pada kadar cinta. Itulah sepatutunya pelajaran bagi manusia bahwa didalam cinta tidak ada segalanya, yang ada hanya diri untuk tidak tunduk pada cinta. Karena cinta hakiki hanya untuk-Nya dan ketundukan patut hanya untuk-Nya.
Sang rembulan mengemasi selimutnya dan dengan nyantainya ia bergerak pergi karena sang mentari ingin juga berdiri di pagi hari. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan saat itu. Berbeda dengan diriku yang memikirkan bagaimana mengenal arti cinta kasih dan asmara (pyaar, isqh our mohabbat) yang sesuai dengan imanjinasi dan aku bisa diajakya jalan-jalan di taman yang di penuhi teriakan romantika.
Read More..

Senin, 17 Agustus 2009

Alas kaki


Tanpa alas kaki
Merah jadi biru oleh debu
Terkikir sesuap logam biru
Atau selembar uang seribu

Kau beri alas kaki
Putih jadi suci oleh janji
Terdampar ke pulai asing
Atau terlempat di negeri sendiri

Alas kaki aku lepas
Bau kelur menyengrak hidung
Meneriaki kulit indah
Namun baunya mematikan

Aku cuci alas kaki
Biar rasa itu berubah
Tapi…air siapa
Kini semua telah sirna(08/08/09) Read More..
 

blogger templates | Make Money Online