Thursday, November 30, 2017
Wednesday, October 14, 2015
Monday, November 17, 2014
Memo untuk Presiden - Sekumpulan Penyair Indonesia
![]() |
| Memo untuk Presiden |
Kurator: Sosiawan Leak
Penyunting: Sosiawan Leak, Rini Tri Puspohardini
Desain Cover: Rakhmat Giyardi
Desain isi: Rony Azza
Tahun Cetak: Oktober 2014
Penerbit: Forum Sastra Surakarta
ISBN: 978-602-777-802-3
Istanaku
Jika kiranya ada waktu
Satu hari saja
Singgahlah di istanaku
Istana beratap utang
Berlantai barang impor
Berhias para koruptor
Semarang, 22/08/2014
Negeriku Kembali Terlahir
Adakah ruang kosong di rahimmu
Tolong
Biarkan aku terlahir kembali
Ya rahman Ya rahim
Masyarakat nyaman
Hidup tentram
Aman
Indonesia puncak kejayaan
Semarang, 28/08/2014
Duka Gaza Duka Kita - Antologi Puisi 99 Penyair Indonesia Empati untuk Palestina
![]() |
| Duka Gaza Duka Kita |
Penyunting: Bambang Eka Prasetya, Daladi Ahmad, Esti Ismawati
Desain Cover: Nartoanjala
Layout Isi: Djanoerkoening
Penerbit: Nittramaya Magelang
ISBN: 978-602-1859-31-5
Kemana Kami Hendak Berlabuh
Suara tangis
itu seperti gemericik lonceng wahyu turun ke bumi
Tubuhku
bergetar
Jiwaku
terguncang
Berdiri bulu
kudukku
Lemas ragaku
Kematian itu
Teriakan
disetiap suhuf kebenaran
Menjadi
tanda kebiadaban tindak moral
Oleh rakus
kekuasaan
Kematian
Jalan lain
menuju perang
Kedamaian
Menjadi
perintah yang terabaikan
Kerikil
kecil tengelam ke laut menjadi intan
Doa berlayar
menuju kemenangan
Mereka tak
berdosa akan menjadi pertanda
Tanda
Ketenangan
yang terdalam
Sedalam doa
terkabulkan
Kebenaran
wahyu Tuhan
Seperti
bunyi lonceng
Lalu suara
itu terputus
Hilang
Diriku berdiri
menantang
Inikah
pengorbanan
Semarang,
14/07/2014
Antologi Puisi Sastrawan Indonesia
![]() |
| Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia |
Jilid ke: 2
Tahun Terbit: 2014
Desain Sampul: Ibro Art
Editor: Abdurrachman Mappuji
Penerbit: Himpunan Masyarakat Gemar Membaca Indonesia
Padasan Retak di Kotaku
Dimana air
sumber ilmu itu
Ku temui ia
meluber lalu melukai keindahan
Akan aku
cengkram andai tangan ini mampu
Akan
kuletakan di kotaku
Menghias
wajah suram yang luka
Agar ia
bangkit
Terapung
diatas sana
Namun sumber
ilmu tetap terpasung
Sebab kecoak
memberi kabar
Bahwa air
padasan telah retak di kotaku
Anak muda
penuh panorama desa
Memajang
rasa malu ditelinga
Keluar tanpa
beban derita
Inilah
kebodohan yang belum kusadari
Aku hanya
bermimpi atau sekedar harapan palsu
Lalu mati
Aku hanya
bertutur kepadanya
sahabat, air
hujan memberi keberkahan
tapi hanya
sedikit yang kita nikmati
Semarang,
31/07/2014
Operasi Kemewahan
Gedung megah
bertingkat menjadikan saudarku begitu mewah
Di pabrik
bergelimang buruh outsourcing
Aku ingin
jadi karyawan tetap, katanya
dan
kemerdekaan ingin ia miliki
akan tetapi
kedaulatan tidak juga didapati
lalu untuk
apa tanaman berdiri menantang
pohon
pisang, kelapa, buah mangga, padi melambai
barangkali
supaya gedung pabrik tetap berdiri
begitu elok
embun pagi
mentari
menyapa
ia tidak ada
masih ada
esok hari
Semarang,
31/07/2014
Puisi Menolak Korupsi - Penyair Indonesia
![]() |
| Puisi Menolak Korupsi |
Tim Penyunting: Sosiawan Leak, Rony Azza, Rini Tri Puspohardini
Desain Isi dan Cover: Rony Azza dan Sosiawan Leak
Tahun Cetak: Mei, 2013
Penerbit: Forum Sastra Surakarta
ISBN: 978-602-183-026-0
Medan Perang
Genderang bertabur suara
Lengking menyelinap telinga
Liukan suara panjang sangkakala
Aauummkan sebuah pertanda
Ini bukan perang
Siap menghunuskan sebilah pedang
Atau busur panah siap menerjang
Sudah aku bilang ini bukan medan pertempuran
Dering lalu-lalang bunyian
Hanya sebuah pertanda
Datangnya waktu bulan kemenangan
Tapi…
Ini juga medan perang
Karena aku berjihad melawan
Segala ketamakan dan kemurkaan
Lingkar Majlis Lalat
Para lalat berkumpul di meja majlis
Membincang program rakyat miskin
Silahkan makan, katanya
Merekapun makan bersama
Dalam lahab suka cita
Nikmat rasanya
Jangan lupa bungkusannya
Taruh di meja saja
Kalau boleh lebih juga tidak mengapa
Nanti kita bagi sama rata
Di luar sana
Lalat-lalat selesai rapat paripurna
Membawa bungkusan berisi beragam kinerja
Selanjutnya terserah anda
Buat camilan atau penghias ruang kerja
Semarang, 7/04/13 (23.11)
Puisi Buat Gus Dur, Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel
![]() |
| Puisi Buat Gus Dur |
Desain isi dan cover: Rony Azza dan Sosiawan Leak
Tahun Cetak: September 2013
Penerbit: Dewan Kesenian Kudus
ISBN: 979-602-777-749-0
Salam Cinta Sang Bapak
Aku taburkan bunga ke langit-langit cinta
Bukan karena ajal menjemputmu seketika
Tapi karena pemikiranmu bapak bangsa
Menyerebak penuhi angkasa
Sehingga ketika memikirkannya maka ia akan merindu
Jatuh hati untuk bangsa yang di ridhoi
Salam kasih untukmu
Salan sayang untukmu
Ketiadaan bukan akhir
Karya terus membumbung tinggi
Jelajahi desa-desa hingga kota-kota
Dari orang gila sampai pembuat batu bata
Buatkan dinding-dinding cinta
Menguatkan gerak laju sang bapak
Salam rindu untukmu
Salam cinta untukmu
Semarang, 2013
Tidak Begitu Repot
Gitu aja kok repot
Kau asyik nyekar ke makam para wali
Mereka tak ada kepentingan
Hanya dirimu yang memilki kepentingan
Jadi presiden hingga jalan kaum awan
Gitu aja kok repot
Dewan taman kanak-kanak berteriak
Mengeluh repotnya bangsa ini
Namun mudah bagimu
Bangsa ini bangsa yang tidak di repotkan
Gitu aja kok repot
Mudahnya suara itu mengecap
Bukan ucapan omong konsong
Tapi sebuah kepastian
Hingga mudahnya dirimu lengser
Semarang, 2013
Munajat Cinta Gus Dur
Banyak orang ngaji hanya sebatas bibir tanpa menyelinap ke hati
Banyak orang sok alim sehingga mudahnya mengkafirkan, tanpa memikirkan
kekakfiran dirinya
Banyak orang pandai bekata haram untuk daging babi, tapi mudahnya
lakukan zina korupsi
Banyak orang pergi haji, tidak tahu beda antara tai dengan daging sapi
Engkau bershalawat demi cinta
Sebarkan benih-benih cinta
Dari pesantren menuju istana negara
Semoga kelak bangsa ini menyadarinya
Bahwa tidak ada guna kita memikirkan dunia
Tapi untuk kesejahteraan dan kebahagiaan bersama
Semarang, 2013





