Thursday, November 30, 2017

Merawat Kebinekaan: Antologi Puisi Balai Bahasa Jawa Tengah


KARYA puisi saya ada satu yang berjudul "Tentang Batu dan Daun"

Judul: Antologi Puisi Merawat Kebinekaan
Cetakan: 2017
Penyunting: Suryo Handono
Tata Letak: Kahar Dp
Desain sampul: Arif Budi Mawardi
Penerbit: Balai Bahasa Jawa Tengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Monday, November 17, 2014

Memo untuk Presiden - Sekumpulan Penyair Indonesia

Memo untuk Presiden
PUISI LUKNI Maulana dalam buku antologi puisi yang berjudul, "Memo untuk Presiden."
Kurator: Sosiawan Leak
Penyunting: Sosiawan Leak, Rini Tri Puspohardini
Desain Cover: Rakhmat Giyardi
Desain isi: Rony Azza
Tahun Cetak: Oktober 2014
Penerbit: Forum Sastra Surakarta
ISBN: 978-602-777-802-3


Istanaku

Jika kiranya ada waktu
Satu hari saja
Singgahlah di istanaku
Istana beratap utang
Berlantai barang impor
Berhias para koruptor

Semarang, 22/08/2014


Negeriku Kembali Terlahir

Adakah ruang kosong di rahimmu
Tolong
Biarkan aku terlahir kembali
Ya rahman Ya rahim
Masyarakat nyaman
Hidup tentram
Aman
Indonesia puncak kejayaan

Semarang, 28/08/2014

Duka Gaza Duka Kita - Antologi Puisi 99 Penyair Indonesia Empati untuk Palestina

Duka Gaza Duka Kita
PUISI LUKNI Maulana dalam buku antologi puisi yang berjudul, "Duka Gaza Duka Kita (Antologi Puisi 99 Penyair Indonesia Empati untuk Palestina)."
Penyunting: Bambang Eka Prasetya, Daladi Ahmad, Esti Ismawati
Desain Cover: Nartoanjala
Layout Isi: Djanoerkoening
Penerbit: Nittramaya Magelang
ISBN: 978-602-1859-31-5



Kemana Kami Hendak Berlabuh

Suara tangis itu seperti gemericik lonceng wahyu turun ke bumi
Tubuhku bergetar
Jiwaku terguncang
Berdiri bulu kudukku
Lemas ragaku
Kematian itu

Teriakan disetiap suhuf kebenaran
Menjadi tanda kebiadaban tindak moral
Oleh rakus kekuasaan
Kematian
Jalan lain menuju perang
Kedamaian
Menjadi perintah yang terabaikan

Kerikil kecil tengelam ke laut menjadi intan
Doa berlayar menuju kemenangan
Mereka tak berdosa akan menjadi pertanda
Tanda
Ketenangan yang terdalam
Sedalam doa terkabulkan
Kebenaran wahyu Tuhan

Seperti bunyi lonceng
Lalu suara itu terputus
Hilang
Diriku berdiri menantang
Inikah pengorbanan

Semarang, 14/07/2014

Antologi Puisi Sastrawan Indonesia

Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia
PUISI LUKNI Maulana dalam buku yang berjudul, "Antologi Puisi Sastrawan Indonesia."
Jilid ke: 2
Tahun Terbit: 2014
Desain Sampul: Ibro Art
Editor: Abdurrachman Mappuji
Penerbit: Himpunan Masyarakat Gemar Membaca Indonesia




Padasan Retak di Kotaku

Dimana air sumber ilmu itu
Ku temui ia meluber lalu melukai keindahan
Akan aku cengkram andai tangan ini mampu
Akan kuletakan di kotaku
Menghias wajah suram yang luka
Agar ia bangkit
Terapung diatas sana

Namun sumber ilmu tetap terpasung
Sebab kecoak memberi kabar
Bahwa air padasan telah retak di kotaku
Anak muda penuh panorama desa
Memajang rasa malu ditelinga
Keluar tanpa beban derita

Inilah kebodohan yang belum kusadari
Aku hanya bermimpi atau sekedar harapan palsu
Lalu mati
Aku hanya bertutur kepadanya
sahabat, air hujan memberi keberkahan
tapi hanya sedikit yang kita nikmati

Semarang, 31/07/2014


Operasi Kemewahan

Gedung megah bertingkat menjadikan saudarku begitu mewah
Di pabrik bergelimang buruh outsourcing
Aku ingin jadi karyawan tetap, katanya
dan kemerdekaan ingin ia miliki
akan tetapi kedaulatan tidak juga didapati

lalu untuk apa tanaman berdiri menantang
pohon pisang, kelapa, buah mangga, padi melambai
barangkali supaya gedung pabrik tetap berdiri

begitu elok embun pagi
mentari menyapa
ia tidak ada
masih ada esok hari

Semarang, 31/07/2014

Puisi Menolak Korupsi - Penyair Indonesia

Puisi Menolak Korupsi
PUISI LUKNI Maulana dalam buku antologi puisi yang berjudul; "Puisi Menolak Korupsi (Penyair Indonesia).
Tim Penyunting: Sosiawan Leak, Rony Azza, Rini Tri Puspohardini
Desain Isi dan Cover: Rony Azza dan Sosiawan Leak
Tahun Cetak: Mei, 2013
Penerbit: Forum Sastra Surakarta
ISBN: 978-602-183-026-0


Medan Perang

Genderang bertabur suara
Lengking menyelinap telinga
Liukan suara panjang sangkakala
Aauummkan sebuah pertanda
Ini bukan perang
Siap menghunuskan sebilah pedang
Atau busur panah siap menerjang
Sudah aku bilang ini bukan medan pertempuran
Dering lalu-lalang bunyian
Hanya sebuah pertanda
Datangnya waktu bulan kemenangan
Tapi…
Ini juga medan perang
Karena aku berjihad melawan
Segala ketamakan dan kemurkaan
 
 
Lingkar Majlis Lalat

Para lalat berkumpul di meja majlis
Membincang program rakyat miskin
Silahkan makan, katanya
Merekapun makan bersama
Dalam lahab suka cita
Nikmat rasanya

Jangan lupa bungkusannya
Taruh di meja saja
Kalau boleh lebih juga tidak mengapa
Nanti kita bagi sama rata
Di luar sana

Lalat-lalat selesai rapat paripurna
Membawa bungkusan berisi beragam kinerja
Selanjutnya terserah anda
Buat camilan atau penghias ruang kerja

Semarang, 7/04/13 (23.11)

Puisi Buat Gus Dur, Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel

Puisi Buat Gus Dur
PUISI KARYA Lukni Maulana dalam Buku Antologi Puisi yang berjudul; Puisi Buat Gus Dur, Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel
Desain isi dan cover: Rony Azza dan Sosiawan Leak
Tahun Cetak: September 2013
Penerbit: Dewan Kesenian Kudus
ISBN: 979-602-777-749-0




Salam Cinta Sang Bapak

Aku taburkan bunga ke langit-langit cinta
Bukan karena ajal menjemputmu seketika
Tapi karena pemikiranmu bapak bangsa
Menyerebak penuhi angkasa
Sehingga ketika memikirkannya maka ia akan merindu
Jatuh hati untuk bangsa yang di ridhoi

Salam kasih untukmu
Salan sayang untukmu

Ketiadaan bukan akhir
Karya terus membumbung tinggi
Jelajahi desa-desa hingga kota-kota
Dari orang gila sampai pembuat batu bata

Buatkan dinding-dinding cinta
Menguatkan gerak laju sang bapak
Salam rindu untukmu
Salam cinta untukmu

Semarang, 2013


Tidak Begitu Repot

Gitu aja kok repot
Kau asyik nyekar ke makam para wali
Mereka tak ada kepentingan
Hanya dirimu yang memilki kepentingan
Jadi presiden hingga jalan kaum awan

Gitu aja kok repot
Dewan taman kanak-kanak berteriak
Mengeluh repotnya bangsa ini
Namun mudah bagimu
Bangsa ini bangsa yang tidak di repotkan

Gitu aja kok repot
Mudahnya suara itu mengecap
Bukan ucapan omong konsong
Tapi sebuah kepastian
Hingga mudahnya dirimu lengser

Semarang, 2013


Munajat Cinta Gus Dur

Banyak orang ngaji hanya sebatas bibir tanpa menyelinap ke hati
Banyak orang sok alim sehingga mudahnya mengkafirkan, tanpa memikirkan kekakfiran dirinya
Banyak orang pandai bekata haram untuk daging babi, tapi mudahnya lakukan zina korupsi
Banyak orang pergi haji, tidak tahu beda antara tai dengan daging sapi

Engkau bershalawat demi cinta
Sebarkan benih-benih cinta
Dari pesantren menuju istana negara

Semoga kelak bangsa ini menyadarinya
Bahwa tidak ada guna kita memikirkan dunia
Tapi untuk kesejahteraan dan kebahagiaan bersama

Semarang, 2013