Wednesday, December 13, 2017

Sepotong Besi Berkarat


SEPOTONG BESI BERKARAT

Adakalanya mengangkat sepotong besi bernyali. Tersiar langkahkan kaki memusat ke ruang sunyi. Pada sumur itu lakaran denyut nadi semakin dalam semakin nyeri.

Lalu ia berdiri dan apabila bayangan itu bergeser ia berkata, pergilah. Jika ia tidak ingin pergi, sungguh ia akan menjadi rupa kalah. Suara jiwa menyimpang melalui lidah.

Setiap angin berhembus, bintang gemintang dan mayapada tertunduk luruh menjadi saksi bahwa ia adalah hamba. Jangan palingkan muka apalagi meneteskan airmata. Ikrar sebagai kawula menempa kembali dadanya.

Apakah karena persolekan pada tubuh itu. Jauh untuk mengharapkan penghambaan kepadamu. Terlukis dalam hati pengemis yang kokoh berdiri di pelataran rumahmu.

Ia hanyalah sepotong besi berkarat. Pada sumur tua itu ia tersesat. Melihat bayang malaikat.

08/10/2017

Sunday, August 13, 2017

Merawat Kemerdekaan

Saat menjadi pembicara acara Sedekah Budaya yang diselenggarakan oleh Bengkel Sastra Taman Maluku
dan Dewan Kesenian Semarang, jumat, 11/08/2017 (Foto: Sulis Bambang) 
MERAWAT KEMERDEKAAN

Seperti aku menanam bunga. Aku berikan pupuk terpenuhi nutrisinya. Siraman air kasih bersirkulasi segar menawan.

Bungaku tidak gemar berfoto selfi. Bungaku berfotosintesis. Supaya tumbuh dan berkembang. Agar berkembangbiak dan mampu menghasilkan cadangan makanan. Kabohidrat supaya) ia kuat. Lalu ia lepaskan oksigen ke udara bebas. Berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Bungaku digangu sang hama aku menjaganya. Supaya ia tumbuh perkasa. Bungaku terserang penyakit akupun mengobatinya. Ada gulma di sekitar bungaku aku berusaha membersihkannya. Semoga ia tidak kerdil dan mampu menghasilkan generasi luar biasa.

Sabtu, 12/08/2017
#MerawatKemerdekaan

Sunday, July 9, 2017

Merah Jalan Terus


Bersama Suluk Pondokbanjar saat ngisi acara Halal bi Halal warga Jl. Kanfer Banyumanik. 08/07/2017

MERAH JALAN TERUS


toleh kanan
melongok ke kiri
memandang ke depan tajam

hijau
kuning
merah
jalan terus

tidak ada Tuhan di traffic light


Magelang, 29/09/2015

Friday, July 7, 2017

Hijab Sunyi


Opening Poem Sedekah Budaya di Hotel Candi Semarang 2017

Cinta itu ketaatan. Aku rindu dengannya, iapun akan rindu padaku. Barangsiapa ingin jumpa dengannya, ia akan berikan kesunyian untukmu.

Keagungannya tidak kuat aku pikirkan. Aku hanya mencoba menahan diri dari keinginan. Sesungguhnya kesunyianlah tempat tinggalku.

Pada kesunyian aku bersabar. Mengusir jejak luka menyeru namanya. Di pagi dan petang hari mengharap ridhonya.

Aku ingin membuka hijab kesunyian. Dengan penghancur kenikmatan yakni kematian. Dengan namamu aku hidup, kesunyian dengan namamu.

22/06/2017

Friday, May 12, 2017

Tentang Batu dan Daun

Membaca puisi buku Memo untuk Presiden di Rumah Budaya Kalimasada Blitar
TENTANG BATU DAN DAUN




Saat ini melukis batu dan daun adalah menyongsong keelokan baru. Tentang kecemasan dan kemerdekaan bagian tak berbentuk. Tumpahnya darah dan air mata mengulang episode tersisih dari kedaulatan.

Merasa asing satu sama lain bersembunyi di balik batu dan daun. Melucuti bahwa ini kesalahan bersama. Kini batu dan daun telah berubah warna tak mampu memelihara bacaan alam. Dari pada beradu mulut dan bersolek politik kerakyatan.

Merasa telah diperlakukan tidak adil atau memang kalah adanya. Adakah cara lain mengubah tanah tandus menjadi taman bunga dengan keindahan batu dan daun. Hal ini memanusiakan alam menyampaikan pesan kehidupan.

Kesertaan batin menepati kata-kata cerita perbudakan, hubungan sosial adalah kontrak tertanda rakyat dan sang penghianat. Jangan kau merubuhkan batu jangan kau menjahanamkan daun. Jujurlah kepada batu kepada daun.

Batu dan daun adalah dekorasi semesta tercipta untumu mudah kau rusak tetapi sulit kau kembalikan apa adanya. Jika kiranya otakmu adalah batu jika siapa tahu tubuhmu adalah daun. Ataukah kita tercerai-berai berserakan di mimbar tak mengenal tuan bahkan tuhanpun terlalai.

Bukan bagian dari sampah pengarang cerita tentang baik dan buruknya. Adalah penulis kisah cinta kasih alam raya menyandang sang khalifah. Batu kecerdasan daun berpengetahuan
penggagas ide pembebasan.

Karena batu dan daun adalah kita. Kita bersama kita berbudaya. Kita satu jiwa dan raga.

Semarang, 08/8/2015

Wednesday, May 3, 2017

Pak Jak



Puisi ini dibacakan pada acara peringatan hari buruh 2016 di Kudus

PAK JAK



pajak
dibajak
para pembajak

menginjak
nomor pajak wajib pajak

dari pajak air mandi
hingga air mani

2016

Sunday, April 16, 2017

Doa Sang Perkasa

GeRMO Action di Suaru Kami Banyumanik Semarang/Senin, 27/02/2017
DOA SANG PERKASA




sang perkasa bangkit dari khayalan
perseteruan melawan pengusik
nafsu
hasrat birahi
sekarang bergulat sifat buruk
menjelma ribuan syetan
berdasi
berpeci

selamat datang sang perkasa
engkau pembawa gelombang takhta
melalui air mata cucurkan permata
melalui energi mewujud materi
melalui doa hadir kepalan tangan
tindakan demi perubahan

sejak awal adanya perubahan
membakar ingatan pengorbanan
sang perkasa menyelimuti diri
dari sakit
caci maki
bersama kekasih menyibak api
melebur pesakitan
ini bukan misteri
inilah makna mimpi

seseorang bertanya kepada sang perkasa
“bagaimana aku menjadi perkasa?”
sang perkasa berkata
“ketika sampah terabaikan.
lalu ia memuji sawah, ladang, hutan, dan lautan”

23/03/2017

Sunday, April 9, 2017

Ia di Gubuk Tenda



Haul Gus Dur di Gedung Rasa Dharma Semarang, 30 Desember 2016

IA DI GUBUK TENDA



pada jendela tua
ia mengiba
sang ibu memeluknya
tubuhnya kurus
tak terurus

di gubuk tenda
wajahnya muram
sang ayah membelainya
ada luka
nestapa

di rumah kata
yang ada hanya titik dan koma
dirinya terpasung kalimat duka
ayah dan ibu meneguhkan langkahnya

gedung-gedung itu
jalan-jalan melebar memanjang itu
pipa-pipa saling berhantaman itu
kabel yang saling mencakar itu
dan semua yang ada di tanah dan udara

semua menjadi saksi
bahwa ia
ia pembawa cahaya
dididik ayah dan ibunya
anak bumi pertiwi
menebar air mata dan cinta
ia adalah kita

air mata membasuh wajahnya
terhimpit bangunan cakrawala
terpasung barisan sampah ibu kota
terkungkung lingkar kuasa
ia membawa cahaya

dengan cahaya
ia membawa pesona cinta
ia bagi sama rata
ia tebar dari selatan ke utara
menuju timur barat daya
ke seluruh penjuru nusantara
ia bercahaya
ia adalah kita

Semarang, 22 Oktober 2016