Friday, September 18, 2009

Satu Pintu Terbuka Di Sebuah Masjid


Aku ingin mensucikan seluruh jiwaku dengan air yang membasuh seluruh tubuhku dan air wudhu yang membasuh mukaku agar ia bicara tentang cahaya, akan tetapi aku terkenak basuhan itu diriku terbujur kaku dan lemas tak berdaya.
Ini adalah awal pintu yang terbuka…!
Awalnya aku tidak menyadari siapa sebenarnya dirimu hanya dunia maya. Dunia yang tidak tidak mengenal ruang dan waktu, tapi semua akan terjawab pada satu sisi jembatan yang mengantarkan kita mengenal suatu hal. Dari jembatan itu sambung menyambung menjadi ikatan yang berkelanjutan hinga sampai sekarang ini. Walaupun sekedar perkenalan dan tidak tahu sejauh mana kita sampai tujuan yang sebenarnya. Hanya tujuan curhat dan keisengan semata antara kau dan aku.
Aku hanya bisa nyanyikan melodi bagaimana bisa mengerti apa maksud dan tujuanmu, ternyata hubungan dua insan yang berbeda. Itu memang sudah tidak menjadi rahasia umum antara suka dan benci, menang dan kalah, luka dan sayang. Ternyata kata-kata menjadi bisikan bisu dalam jari-jari ini, kata-kata di dunia maya itu telah menembus batas diluar batas nalar.
Pada saat itu, seorang manusia bertanya kepadaku tentang kehangatan cinta, dan kamu merasa senang dan puas terhadap apa yang telah engkau katakan padaku. Kau adalah seorang peri kecil yang berusaha suka kepada insan yang memadu kasih. Padahal semua jawaban ada pada dirimu, bagaimana engkau wahai peri kecil berusaha dan melantunkan lagu-lagu asmara ke dadanya. Akan tetapi, selanjutnya aku tidak tahu pasti, apakah rasa cinta itu menyelimuti jiwamu dengan kerudung biru di mahkotamu.
Kau membincang kata cinta dan bahkan ingin mendefinisikannya seperti ingin menemukan intan di samudra. Engkau ingin menemukan intan tersebut tapi tiram itu bersembunyi dibalik batu-batu terjal hingga menutupi penglihatanmu. Berharap merangkai intan menjadi hiasan dunia dengan gemerlap kilau sinar putih yang dapat menerangi batinmu.
Coba saja kau definisikan cinta tersebut jika di dalam diri cinta ada benci, rindu, sayang, bahagia, luka, kasih, asmaran, sedih, lelah, bosan, sakit, kematian dan lain sebagainya. Apakah engkau ingin menyulam rangkaian kata-kata cinta pada dinding-dinding yang tebal hingga engkau mampu merobohkannya dan dirimu merasa bangga bahwa telah menghancurkan kesucian cinta tersebut. Cinta hanyalah sebuah pengambaran pada diri kita, semua dapat digoreskan dimanapun berada tanpa melukainya. Hanya definisi cinta-Nyalah yang dapat membuka tirai pada jiwa yang menyebut dzat-Nya.
Itulah kiranya sedikit coretan yang mengaris didalam pikiran dan perasaanmu dan semoga bukan kemuskilan yang engkau dapatkan akan tetapi sebuah pelajaran yang berharga bahwa masih banyak rahasia yang belum terungkap di dunia ini. Maka bersenandunglah dalam imanjinasimnu, seolah-olah engkau menari-nari diatas permadai yang menerbangkanmu kealam impian.
Andai dunia tidak ada percikan cinta maka akan terasa hampa, oleh karena itulah kita sebagai seorang manusia yang lemah hanya sediki mampu menafsirkanya dalam tingkah dan perilaku di dunia menjadi insan yang lebih dekat dengan-Nya. Rasa suka dengan sesama jenis adalah anugerah, janganlah engkau menghancurkannya atau berusaha membinasahkannya itu adalah kalam suci yang telah tersirat. Maka nikmatilah rasa suka itu mengitari semesta nan jauh dan carilah apa yang telah dianugerahkan kepada manusia
Mulailah dengan suatu harapan semoga setiap manusia memiliki cukup waktu mendalami kasih dan sayang diantara sayap-sayap yang siap menerbangkan kita menuju alam bawah sadar dan menemukan kehidupan yang lebih baik dan mendapatkan secercah kebahagiaan dan engkau seolah-olah berdiri dipadang ilalang yang luas di tengah pagi yang cerah. Engkau sendiri, tiada siapapun disana hanya dia dalam kalbumu, lihat mentari pagi rasakan desiran udara dan ebun pagi yang membasahi kulitmu. Maka rasakan semuanya sebab cinta dapat tumbuh dimanapun.
Walaupun terkadan di dalam diri kita ada rindu untuknya. Akan tetapi harga diri tidak tunduk pada kadar cinta. Itulah sepatutunya pelajaran bagi manusia bahwa didalam cinta tidak ada segalanya, yang ada hanya diri untuk tidak tunduk pada cinta. Karena cinta hakiki hanya untuk-Nya dan ketundukan patut hanya untuk-Nya.
Sang rembulan mengemasi selimutnya dan dengan nyantainya ia bergerak pergi karena sang mentari ingin juga berdiri di pagi hari. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan saat itu. Berbeda dengan diriku yang memikirkan bagaimana mengenal arti cinta kasih dan asmara (pyaar, isqh our mohabbat) yang sesuai dengan imanjinasi dan aku bisa diajakya jalan-jalan di taman yang di penuhi teriakan romantika.
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 comments: