Wednesday, December 2, 2009

Bait-Bait Kesucian


(Part 7)
Nurul hanyalah seorang mahasiswi yang ingin belajar tentang hidup. Perasaan suka sama seorang pemuda dapat ia pendam. Akan tetapi, hati siapa yang kiranya sanggup menerima cinta yang dipenuhi rasa bahagia. Sinar sang rembulan mulai memasuki ruang-ruang yang dipenuhi dengan kesegaran ragawi. Terlihat Nurul hari ini tampak bahagia, matanya selalu menempakan sinar yang penuh dengan kelembutan. Raut wajahnya menandakan seribu satu tanda tanya. Kemana hendak dilabuhkan, hanya di dermaga yang terindah tentunya.
Nampak teman Nurul juga berada diruang kontrakan Anisa, Intan dan Lutfi. Wajah-wajah mereka sangat ceria, Intan dan Lutfi terlihat sedang menyeduh teh hangat dan menikmati tontonan sinetron. Sedangkan Anisa masih sibuk dengan Nurul dengan buku-bukunya. Sehabis asyik dengan buku, Anisa mendekati Intan dan lutifi mengosip Nurul.
“Tau ngak sahabat karip kita sekarang lagi dekat dengan cowok lho. Lumayan cakep sih cuman agak kumuh gitu”, kata Anisa
“Ehemmmmm bener nih, Lutfi menyahut sekaligus sedikit melirik ke arah Nurul. Apa ngak salah denger nih.
“Emang bener katamu Nis”, Intan ikut berpartisipasi yang juga ingin meramaikan gosip terbaru.
“Ya..iayalah, masyak aku bohong. Aku aja barusan ketemu sama pemuda itu. Sepertinya cocok banget deh untuk Nurul. Apa lagi pemuda itu sangat pandai, tutur katanya yang lembut serasa bila kau-kau ini mendengarnya akan bertekuk lutut dihadapannya”.
“Ehemmm..ehemmm, syukuran-syukuran. Kan ada yang mau dapat pasangan nih”, kata ketiga pemudi tersebut.
Ketiga gadis tersebut seakan semakin melayang-layang mengosip dengan pembahasan cinta Nurul di bangku kuliah. Malam ini terasa malam yang berbeda seperti bisasanya, sebab kontrakannya ini biasa dipakai buat kajian rutin baik diskusi, muhasabah maupun ceramah. Mereka semakin penasaran dengan menungu respon Nurul, makanya ketika berbicara semakin nadanya mengeras. Ya...supaya suara itu terdengar oleh Nurul.
Karena merasa mendapatkan perilaku yang membuat kupingnya agak ngak enak. Tiba-tiba Nurul menghampiri ketiga temannya. Dengan membawa bantal guling, Nurul langsung terlentang, tertidur mendengarkan gosip mereka tentang dirinya.
“Ayo...ngegosip lagi, ntar tak dengerin dangan seksama dan sesingkat-singkatnya he he”, bilang Nurul kepada mereka.
Mereka hanya sedikit terdiam yang secara tiba-tiba melihat Nurul enak-enakan tidur dihadapan mereka. Nurul hanya bisa mengeleng-geleng saja dan tersenyum sendiri melihat tingkah mereka.
“Jujur ajalah Rul, gimana perasaanmu dengan Malik”, tanya Anisa
“Oh...namanya Malik”, sahut Lutifi dan Intan.
“Kan udah aku bilang bahwa Malik itu teman satu kelas dan dia berteman baik dengan aku”, jawan Nurul.
“Ada apa ! Kenapa sih kamu. Andai saja itu memang membuatmu bahagia kenapa engkau merahasiakan itu pada sahabatmu ini”, tutur kata Intan semakin membuat suasana terasa hangat.
“Ngak..ngak’, Nurul menjawab.
“Percaya ngak kalau cinta dapat datang dengan tiba-tiba, pepatah jawa mengatakan “tresno jalaran songko kulino”, seperti itu lho ha ha”, Lutfi sedikit ikut merasakan alur perbincangan.
“Ya...Rul, kalau kamu bahagia kita pun sebagai sahabatmu ikut merasakan bahagia”, kata Anisa.
“Udah aku bilang, berapa kali aku harus menjawab pertanyaan kalian. Kalau aku sama dia itu hanya teman kampus titik...!”, rasa jengkel sepertinya mulai muncul pada diri Nurul.
“Ya...udah kalau begitu”, jawab Lutfi
“Awas jangan marah lho he he”, ledek Intan
“Jika kamu disuruh milih antara Malik dengan Kak Andrian, gimana Rul”, Anisa mulai menyodorkan pertanyaan lagi.
Nurul hanya bisa diam dan menatap ketiga temanya. Kak Andrian merupakan idola bagi kaum hawa di Lembaga Dakwah Kampus. Orangnya baik, kulitnya yang putih, tubuhnya yang sangat ideal bagi seorang cowok. Tutur katanya yang lembut dan kepandaianya dalam masalah agama. Sedangkan Malik hanya teman bangku kuliah yang hanya dapat dilihat secara sepintas.
Berbeda dengan Kak Andiran yang sesama di tempat organisasi, jadi sering bertemu mungkin hampir tiap hari. Bahkan banyak kaum hawa akan senang jika diajak bicara dengannya, apa lagi jika diajak bercerita tentang ketarbiyahan. Pasti pandangan mereka akan terpana pada liuk tutur katanya.
“He..he jangan aneh-aneh gitu dong. Kalian bertiga pasti juga suka kan sama Kak Ardian”.
“Iya...sih, andai dia mau sama aku. Kan dia cowok cakep”, pekik Intan
“Betul kamu, aku setuju. Andai dia suka sama aku juga”, lanjut Lutfi
“Dasar kalian ini, kalau lihat cowok cakep pasti pikiranya sudah tidak rasional”, timpal Anisa agak mengerutkan dahinya.
“Benar kan kataku, kalau aku sih biasa aja. Santai aja Nis, kalau mau saingan ada dua sahabatmu dan kaum hawa yang lain”, tawa Nurul mulai nampak. Anisa hanya bisa diam dan sesekali menyubiti ketiga sahabatnya.
Bersama dengan hawa dingin yang merasukki kulit-kulit mereka, para kaum hawa tersebut itu berlalu. Nurul mulai menuju kamarnya, begitu juga sahabatnya yang lain. Selamat malam, semoga malam-malammu semakin indah dan ada rung rindu dai hatimu.
Nurul tidak mampu untuk memejamkan matanya. Bahkan memaksa matanya untuk terlelap akan tetapi mata itu tidak jua mengantuk. Karena tidak bisa tidur, Nurul kemudian menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Dalam hatinya berharap dengan dua rakat shalat malam ia dapat menikmati mimpi-mimpi indah.
Sebab setiap manusia tentu sangat menyukai dan merindukan keindahan. Banyak manusia terjebak pada keindahan yang menganggap keindahan adalah yang memiliki nilai dan berharga seperti layaknya karya seni. Tapi berbeda dengan Nurul yang mengharapkan keindahan dalan mengarungi kehidupan ini.
Dua rakaat sudah ia jalani ditambah dengan tiga rakaat shalat witir. Bahkan ia membaca satu juz ayat-ayat al-Qur’an dan berdoa semoga diberi kemudahan dalam menjali lika-liku kuliahnya. Sebab godaan tertingi di kampus yaitu hubungan antar jenis, apa lagi mahasiswa-mahasiswi sudah dewasa dalam berfikir.
Diri Nurul yang tertutup dengan kain lebar dan panjang layaknya gamis telah tertanam di dalam keluarganya. LDK adalah tempat para kaum hawa yang ingin belajar tentang Islam, tapi semakin lama lembaga ini seperti orang salafy. Inilah fitrah agama, sebab banyak orang memburu keindahan dan membelanjakan uangnya demi jasmani dan kemewahan.
Akan tetapi, itulah budaya pragmatis dan hedonis mahasiswa sekarang. Tidak jarang kita menyaksikan penampilan pakaian yang minim dan indah, bukanya mendapatkan pujian melainkan hinaan. Itulah kehidupan kampus yang terselimuti arus modernitas.
Nurul mulai berbaring diatas kasur, matanya sudah mulai ada tanda-tanda kantuk. Tapi hatinya masih teringat dengan kata-kata sahabatnya. Jika disuruh memilih cowok mana antara Kak Andrian dan Malik. Apa lagi keduanya bagi Nurul adalah anugerah, dijadikan teman untuknya. Memang benar, Kak Andrian merupakan idola bagi kaum hawa di Lembaga Dakwah Kampus.
Perasaan gusar melanda Nurul, tapi matanya sudah tidak tahan rasa kantuk. Semoga malam itu adalah malam yang indah, malam dengan satu mimpi yang mampu mengetarkan seisi batinya.
Tiba-tiba Anisa mendatangi kamar Nurul dan mengkagetkannya.
“Hayooo..lagi mikir apa, pasti lagi mikirin mereka berdua”, ledek Anisa
“Lom tidur ta Nis”, tanya Nurul
“Aku tidak bisa tidur temenin aku sebentar ya. Tadi aku juga lihat kamu dari balik pintu mengambil wudhu. Begitu juga aku ikut-ikutan kamu”.
“Tapi aku sudah nagantuk”
“Please, temenin aku ya”, pinta Anisa
“Ya...deh, cuman sebentar aja ya cos kita besok kan harus berangkat kuliah”.
Kedua insan tersebut pada akhirnya bercerita banyak tentang keluh-kesah dunia. Bahkan sampai membincangkan Malik dan Kak Andrian. Padahal hati Anisapun sebenarnya jatuh rindu kepada Kak Andrian. Tapi bagaimana mungkin kecantikan dan kepandaiannya tidak sehebat sahabatnya ini.
Nurul menyadari akan keluh Anisa, tapi sebagai sahabat sejati harus ada saling menerima. Tapi jangan bersaing soal cowok, biarlah angin yang menjawabnya. Terpenting bagi diri kita yaitu menjadi insan yang terbaik, jika jodoh tidak akan kemana.
Merekapun tersadar dan telelap satu kasur dikamar Nurul.
* * *
Kampus dengan rutinitas mahasiswa yang ingin belajar tentang ilmu pengetahuan sudah menjadi menu di mata Nurul. Banyak mahasiswa memakai mobil, montor, sepeda ontel dan banyak juga yang berjalan kaki dari kos-kosan, seperti Nurul yang kebetulan dekat dengan kampus. Hari ini banyak yang harus dilakukannya seperti ntar siang yang ada rapat redaksi, kebetulan juga dia kuliahnya hanya pagi aja. Jadi bisa memanfaatkan waktunya untuk berkunjung ke perpustakaan.
Perpustakaan yang sudah dibangun dengan megahnya dan dipenuhi rak-rak dengan isi buku-buku baru membuat hati Nurul ingin segera memegang dan kemudian membacanya. Ia berjalan dari rak ke rak lainnya banyak ditemuinya buku-buku yang masih tampak rapi, dalam hatinya berkat apa mahasiswa sekarang sudah males membaca buku ya. Buktinya buku-buku ini masih tampak bersih sekali, apa lagi kursi-kursi yang makin sepi. Hanya ada beberapa orang yang duduk dikursi sambil menikmati sentuhan rangkaina kata buku kesukaan.
Nurul terus mencari buku yang ingin ia baca. Ia temukan buku dengan judul “Kimia Kebahagiaan” karangan Imam Al-Ghazali. Tangganya merengkuhnya dan sesekali membolak-balikan lembar demi lembar sambil ia berjalan menuju persingahan kenyamanan. Ia duduk dan meletakan buku dan tangganya diatas meja. Nurul membacanya dengan rasa serius, apa itu kebahagian ya..bisik hatinya.
Setiap orang menginginkan hidup kebahagiaan, pa lagi dalam beragama ada satu doa yang pasti selalu terucap yaitu kata-kata “Berikan aku kebahagiaan dunia dan akhirat”. Apakah kebahagiaan itu ketika orang dengan harta melimpah, jabatan yang tinggi, istri yang cantik. Semua hanya realitas semu yang dilihat hanya aspek materialaistik atau hanya dengan kasat mata.
Sudah hampir setengah jam ia membaca. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Kini sudah banyak mahsiswa memnuhi ruang perpustakaan. Mungkin mereka banyak tugas jadinya ke perpus hanya untuk mengerjakan makalah atau pepernya. Biasanya tugasnya hanya copy paste dari internet maupun pergi ke rental mencari tugas yang sama, karena Dosen sudah banyak tahu jadinya tugasnya disuruh ke perpus dengan refrensi buku asli. Ah...napa aku jadi ngusursi mereka, mendingan lanjutin membacanya.
Kini ia mencapai pada pembahasan tentang keindahan. Keindahan dalam bahasa Al-Qur’an disebut dengan ”jamal” dan ”husn”, menurut Ibnu Al-Atsir keindahan terdapat pada rupa dan makna. Sedangkan peringkat keindahan menurut Al-Ghazali dibagi menjadi lima: (1) keindahan sensual dan duniawi’ (2) keindahan alam’ (3) keindahan akliyah, yaitu keindahan yang ditampilkan karya seni atau sastra yang dapat merangsang pikiran dan renungan; (4) keindahan rohaniah, berkaitan dengan akhlak dan adanya pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dari seseorang atau karya sastra’ (5) keindahan ilahi.
Sadar ia rasakah, manusia akan mencapai kebahagiaan ketika ia mampu memhamai keindahan ini. Pada diri seorang perempuan diberikan keindahan, makanya harus menjaga keindahan itu. Pesona seorang wanuita bisa membuat seorang laki-laki tidak berdaya dan bertekuk lutut kepadanya. Makanya kata-kata, “surga ada di kaki ibu”, sesungguhnya seorang wanita diberikan sis-sisi kemulyaan, walaupun banyak kelemahan dari aspek ibadah. Tak heran sekaragn banyak gerakan feminisme, gender ataupun emansipasi yang memperjuangkan martabat, derajat dan harkat seorang wanita. Kini perempuan tidak lagi harus diremehkan.
“Assalamualikum”
“Waalaikum salam, silahkan duduk Lik”, pinta Nurul
“Maaf, menggangu kenyamanan membacamu”. Dari tadi Malik sudah memperhatikan Nurul melihat keseriusannya dalam membaca tanpa sedikitpun melirik atau bahkan memandang, sesekali matanya hanya melihat sekejab.
“Ah, nagak kok malahan seneng cos ada yang menemanin hehe”. Kok nagak baca buku...?
“Lagi males, ingin aja duduk-duduk diperpus kan lumayan ber-Ac, dari pada diluar hawanya panas. Pa lagi tadi aku ma Rizal habis dari kantin jadi instirahat di sini boleh dong”. Lagi baca buku apa..?
“Dasar kamu ini, emangnya rumahmu dibuat istirahat. Ni cuman membaca buku karangan Al-Ghazali”.
“Oh...ya dah dilanjutin bacanya. Aku tak sambil leyeh-leyeh. Ntar kalo dah seesai aku dibangunin and diceritain kesimpulan isi bukunya he he”.
Nurul melanjutkan membaca bukunya. Waktu sudah hampir siang, terdengar suara adzan. Tapi dia belum sempat menyelesaikan membaca bukunya. Dia menuju ke Rak untuk meliaht-lihat buku, barang kali ada buku yang cocok untuk di pinjam kan nangung jika hanya meminjam satu buku. Ia terus mencari dan pada akhirnya menemukan buku karangan Syeh Muhammad Abduh dengan judul Risalah Tauhid.
Ia terburu-buru meminjam buku dan langsung menuju ke Majid kampus. Apa lagi ntar habis Dzuhur ada rapat redaksi. Suasana air kehidupan memberikan segar dan keharuman pada dirinya.
Tampak sekretariat LDK sudah ada sebagian orang. Di situ juga ada Anisa dan Kak Andrian yang sepertinya lagi asyik ngobrol.
“Asslamualaikum”
“Waalaikum salam, Gimana Rul persiapan rapat redaksinya”, kata Kak Rizal
“Alhamdulillah, sudah aku persiapakan”
“Tadi habis dari perpustakaan ya..?”, tanya Anisa
“Iya benar katamu Nis, Subhanallah. Tak tinggal dulu sebentar ada yang lupa nih”.
“Emang da pa”, kata Kak Andrian.
Tapi Nurul keburu lari terbirit-birit. Rupanya dia baru sadar kalo dapat amanah bahwa dirinya harus membangunkan Malik yang masih tertinggal istirahat di ruang perpustakaan. Ia menuju ruang perpus dengan terburu-buru. Tiba-tiba Nurul terpleset hendak menuju lantai dua gedung perpus, kakinya mmengucurkan darah merah.
Tanpa disengaja pula Malik sudah bangun dan melihat Nurul terjatuh. Kemudian ia bergegas menghampirinya. Nurul tidak bisa berdiri kakinya terus saja mengeluarkan darah.
“Maaf Lik, aku tadi lupa membangunkanmu. Sembari merasakan sakit Nurul mengucapkan kata-kata maaf.
“Ngak pa..pa.., gimana apa harus aku bantu. Maaf ya...!”.
Langsung saja Malik membangunkan dan mengandengnya menuju ruang polik klinik untuk perawatan kakinya. Tapi tubuh Nurul terus saja bergeliyat dan ingin saja melepas gandengan tangan Malik. Karena saking kuat tanganya Malik, Nurul tak mampu melepasnya. Getar jiwa Nurul mulai membara, walau sebenarnya hatinya berkata lain, “saya bukan muhrimnya”.
Nurul mendapatkan perawatan dari salah satu dokter. Kakinya mulai dibungkus perban. Malik menunggu diruangan itu dan melihat rasa sakitnya. Di pandaginya terus wajah Nurul yang tampak merah pucat. Sesekali Nurul memandang wajah Malik. Sebenarnya engkau tampan dan baik Malik, kata perih sakitnya.
Oh...aku harus segera ke sekretariat, aku masih banyak tugas disana”
“Kamu harus istirahat dulu sebentar”, kata dokter tersebut sembari mengambilkan multi vitamin.
“Ya..istirahat dulu aja atau aku tak ke sekretariat LDK dan memberitahukan ke temen-temen bahwa kamu tidak bisa mengikuti”, pinta Malik
“Tidak bisa, aku harus kesana”. Dokter itupun keluar sesudah memberikan multi vitamin dan ia berkata, “Di jaga temennya ya, aku tak keluar dulu”.
“Ya..Bu, ma kasih”, jawab Malik kepada Bu dokter yang kelihatan masih muda dan cantik.
“Aku harus pergi dari sini”.
Tanpa sepengetahuan Malik. Nurul langsung saja nyelonong pergi dan terlihat masih terseok-seok dalam berjalan. Malik rupanya tahu dan langsung saja ia menggandenganya.
“Lepaskan aku”
“Ngak, kamu harus istirahat kalau kamu mau ke sekret ya saya antar. Kamu terluka kan juga gara-gara aku”.
Tanpa merasa kaku Malik terus mengandengnya. Hampir kurang beberapa meter Nurul sudah hampir sampai. Detak jantungnya terus mendayu-dayu, getar apa ini gerangan. Maafkan aku ya Allah, aku tidak mampu menahan rasa ini.
Malik kemudian melepasnya dan berkata kepadanya untuk hati-hati. Ia tahu kalau di lihat teman-temanya pasti Nurul akan dimarahi karena ia bukan muhrimnya. Lirikan mata Nurul ada seribu tanda tanya. Ucapan terima kasih menghempas gelombang terik mentari. Malik hanya bisa memandangnya sampai Nurul sampai ke tempat tujuan.
Terlihat sudah banyak orang memenuhi sekretariat LDK. Nurul tak mampu berkata, ia merasa bersalah yang seharusnya datang duluan malahan datang belakangan alias terlambat. Dengan menahan rasa sakit, ia tetap tegap dan tegar seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Assalamualaikum, maafkan aku temen-temen datang terlambat”, wajah nurul semakin pucat dan menahan rasa sakit.
“Apa-apaan kamu ni Rul, datang kok telambat. Apa kamu sudah tidak menghargai rapat redaksi. Jika kamu sudah tidak sanggup untuk bertanggung jawab, bubarkan saja rapat kali ini”. Salah satu temen laki-laki mengomeli Nurul
“Maaf, tadi ada sedikit keperluan”.
“Alah, alesan saja”.
“Sudah-sudah”, kata Kak Andrian.
Sekarang kita lanjutkan rapat redaksinya. Saya persilahkan Nurul untuk memberikan wejangan dan memimpin rapat pada kali ini. Wajah seakan memebrikan isyarat ketidak mampuan memimpin rapat. Seisi ruangan dan tulisan-tulisan kaligrafi yang terpajang sekan-akan menandakan kemarahan kepadanya.
Kata demi kata ia tuturkan dengan kelembutan. Tinggal ada beberapa kekurangan tulisan diantaranya rubrik puisi dan artikel ilmiah. Ada yang ingin memberikan komenternya. Sebab tinggal dua hari buletin ini harus segera naik ke percetakan dan untuk segera diterbitkan.
“Ya, saya..! kata laki-laki yang emosi kepada Nurul. Kamu harus bertanggung jawab atas kekurangan rubrik tersebut.
“Kan sudah ada penanggung jawabnya sendiri”, komentar Anisa tiba-tiba.
“Ini sebagai hukuman atas keterlambatnya. Apa lagi yang bertanggung jawab untuk rubrik tersebut orangnya lagi sakit. Jadi saya sarankan untuk sesegera mungkin menyelesaikannya.
“Kamu ini, kita sebagai teman juga harus bantu-membantu dong”, Anisa semakin panas ja.
“Ya...ya...tenang-tenang. Kita semua bertanggung jawab atas semua ini. Maka dari itu tetap semangat dalam menjalankan tanggung jawab ini. Sekarang sudah saatnya kita susahi rapat kali ini. Apa lagi sebentar lagi adzan sore. Kak Andrian mulai memberikan comenya.
“Ya..saya akan bertanggung jawab di sini apa lagi saya diamanahi sebagai pimpinan redaksi. Karena waktu sudah sore marilah kita akhiri rapat kali ini dengan bacaan Hamdalah bersama-sama. Wassalamualaikum Wr. Wb, Nurul menutup rapat redaksi kali walau rasa sakit ia sembunyikan.
Semua temen-temen Nurul berlalu pergi ada yang menuju ruang kuliah, ada yang ke kantin dan ada pula yang langsung pulang ke kosnya. Ada bebrapa temenya masih berada di ruangan temasuk Anisa, Intan, Lutfi dan Kak Andrian. Nurul tampak kebingunggan ada dua rubrik yang harus ia selesaikan. Harus minta kepada siapa, aku harus tenang, pekiknya.
Kak Andrian merasakan ada yang aneh pada diri Nurul. Namun ia tidak berani mengatakn perkataan itu. Ia tidak ingin melihat Nurul tambah berat atas tanggung jawabnya. Tapi haruskan aku hanya diam diri, sedangkan aku tahu sendiri apa yang talah dikerjakan Nurul di perpus. Rasa suudzon menghampiri Kak Andrian, begitu juga Anisa dan sahabat dekatnya.
“Rul, aku hanya ingin memperingatkan. Kalau bisa dijaga dirimu itu. Aku tahu apa yang kamu lakukan di perpus hingga sampai terlambat datang rapat redaksi. Ingat aku tetap percaya pada dirimu, tapi...!
“Tapi kenapa Kak, maaf bukannya begitu. Tadi aku terpleset jadi kakiku berdarah dan harus dirawat di polik klinik”, Nurul seperti di sudutkan dengan kenyataan
“Ya...itu, ingat semua hal itu mungkin dan segera selesaikan tanggung jawabmu”. Kak Andrian berlalu pergi begitu aja.
“Ya...Kak”, tiba-tiba Nurul meneteskan air mata dan sesegera ia mengusapnya dengan sapu tangan. Takut kalau para sahabatnya tahu. Ia beranjak berdiri dari kursi. Bruuuuukkk....tubuh Nurul jatuh kelantai. Rupanya ia tidak mampu untuk berdiri. Sontak suara itu mengkagetkan seisi ruangan. Sahabatnya langsung menghampirinya.
“Da pa Rul, kok sepertinya ada bekas tetesan air mata juga diwajahmu”, Lutfi sembari menggangakat tubuh Nurul dan Intan mendekatkan kursi untuk bisa dibuat duduk.
Nurul memperlihatkan luka di kakinya. Ia berani membukanya yang kebetulan juga tidak ada para laki-laki. Para sahabatnya kaget. Langsung saja membawanya pulang ke kos, biar Nurul istirahat dulu. Tapi ia tidak ingin pulang dulu sebab masih ada yang harus ia kerjakan. Tapi Lutfi begitu aja menggandeng sebelah kiri dan sebelah kananya Intan. Nampak sebuah kendaran sudah ditumpangi Anisa buat mengantarnya, yang kebetulan juga ia keluar pinjam kendaran temenya.
Anisa dan Nurul meluncur pergi. Matanya menagkap suatu tatapan yang indah. Ya...ternyata Malik sedang duduk-duduk ditaman dengan menikmati hot spot. Mata Malik juga memandang Nurul dalam hatinya berkata, “hati-hati”. Isyarat itu terdengar di ruang hati Nurul. Ma kasih Malik, katanya. Malik hanya bisa menatap dari kejauhan dan tak mampu untuk memangil namanya, laju kendaraan yang cepat hanya bisa menagkap isyarat angin pesan salam darinya.
* * *
Pascal pernah mengutarakan kata-kata bijak, “pikiran positif dari kepercayaan, pikiran negatif datang dari keraguan-raguan; rasa takut yang benar adalah rasa takut yang digabungkan dengan harapan, karena lahir dari kepercayaan, serta berharap pada Tuhan yang kita yakini; sementara rasa takut yang salah digabungkan dengan keputusasaan, karena takut pada Tuhan; beberapa orang takut kehilangan-Nya, sementara yang lain takut mencari-Nya.
Nurul hanya bisa terbaring lemas diatas kasur kamarnya. Lukisan bergambar pegunugan dengan pemandangan air terjun seakan menyejukan suasana di kedamaian kamarnya. Ia yakin atas kemampuannya dan tidak perlu ragu-ragu, aku harus percaya dengan kemampuanku, katanya.
Harga dirinya seharusnya menjadikannya semakin kuat. Dengan datangnya masalah, aku akan menjadi lebih dewasa. Sebab aku harus berfikir untuk menyelesaikannya. Sebuah anugerah terindah jika Allah selalu memberikan masalah kepadanya.
Orang yang takut dengan masalah aakan banyak di pengaruhi pikiran-pikiran negatif dan akan menghalangi untuk sebuah kesuksesa besar. Maka aku harus berfikir bagaimana caranya aku bisa sukses, tanpa harus berfikir tentang kegagalan. Nurul seakan memberatkan otaknya untuk berfikir tentang tanggung jawabnya. Belum lagi soal perkataan Kak Andrian yang belum ia mengerti. Di tambah dengan hatinya yang selalu bergetar memikirkan Malik, dia selalu hadir dalam berfikirnya kali ini.
“Apa yang harus aku perbuat, waktu tingal dua hari sedangkan aku hanya bisa terkapar. Belum lagi soal Kak Andrian dan Malik”, suara itu muncul dari balik sanubarinya yang terus bergejolak. Tanggung jawab yang harus aku selesaikan dulu...!
Ia raih Hpnya yang tergeletak dimeja dan ia seduh teh hangat yang dibuatkan Anisa. Mulutnya mulai basah dengan kehangatan. Jari-jemarinya mulai menekan huruf demi huruf. Satu rangkain kalimat telah selesai ia tulisakan. Kemudian ia kirim rangkaina tulisan itu kepada teman-temannya termasuk rizal. Tapi Malik tidak ia kirimi
Tulisan itu hanya permohonan bantuan untuk melengkapi kekuarangan buletinya. Balasan sms dari temen-temenya ia tunggu dengan harap-harap cemas. Satu demi satu denting suara hp terus berbunyi. Kebanyakan isinya selalu bertulisakn, “Insayallah”.
Albert Einstein pernah mengatakan, “Jika saya memberi anda satu sen, maka nada akan menjadi lebih kaya dan saya akan lebih miskin satu sen. Tapi jika saya memberikan anda satu ide, anda akan mempunyai ide baru, tapi juga saya masih memilikinya. Itulah kata-kata yang membangkitkan rasa penasaranya. Tidak ada pilihan lain selain memberikan ide kepada orang lain dengan imbalan. Tapi apakah mungkin sedangkan aku saja masih terkapar. Bunyi dering Hp seakan mengkagetkannya. Ternyata call dari Rizal.
“Assalamualikum’, kata Rizal
”Waalaikum salam”, jawab Nurul
“Maaf Rul, saya tidak bisa membantu untuk hal tersebut. Tapi aku sudah memberitahukan kepada Malik. Kenapa kamu ngak sms Malik..?”.
“Terima kasih sudah merepotkanmu. Aku ngak enak aja ma Malik”.
“He he hayooo...! Santai aja Rul sepertinya tadi pas aku call dia uudah respon kok. Aku percaya pasti besok Malik bakalan memberimu kejutan”.
“Ah..kamu ni Zal, malahan aku yang tambah ngak enak dong.
“Sanati aja Rul, sekarang istirahat dulu. Met malam and semoga mimpi indah. Udah dulu ya..salamualaikum”, Rizal mengakhiri perbincanganya.
“Waalaikum salam Wr Wb”.
Kini gundah pikirannya semakin menjadi-jadi. Bayang-bayang wajah Malik kian selalu hadir seketika kedipan mata. Rambut panjang seakan menjadi indah bermahkotakan senyum Malik. Merah pipinya seperti dibelai halus lembut tangannya. Kupingnya selalu mendengar kata-kata yang serba aneh dari mulut temannya yang paling nyeleneh. Maafkan dan ampuni aku ya...Allah,. kenapa ia tiba-tiba hadir dalam pikiranku. Sunggu aku inginkan nilai diriku mulia di hadapan-Mu.
Kelemahan hatiku ini akankah menjadi hambatan bagiku untuk mencapai prestasi dan cita-citaku, sampai kepada tujuan yang semestinya aku perjungakan dengan segala kemampuanku. Sungguh bahagia orang-orang diberikan “cinta” yang dapat membuat jiwanya tangguh sebab cinta adalah anugerah dan berkah. Ataukan akan jadi malapetaka..! Sungguh naif hatiku ini..Malik..oh Malik..kenapa kamu membayangiku terus. Aku telah merasakan detak jantungmu dan belaian indah tanganmu.
“Ya...Allah dengan segala kemahaan, aku tidak berdaya lagi, aku hanya bisa memohon semoga ini bukan cinta”.
Ada perasaan yang amat sangat aneh pada dirinya, perasaan yang dianggap hanya datang sesaat. Perasaan itu pasti akan luntur seiring perjalanan wakti. Perasaan itu akan lenyap seiring datangnya mentari dipagi hari. Tapi, jiwa itu apakah sejalan dengan harapannya. Sulit rasanya menghindar dari perasaan cinta. Cinta datang secara tiba-tiba dengan perasaan yang berbeda-beda.
Nurul hanya benar-benar merasa telah hanyut dalam lamunan yang semestinya tidak perlu dihadirkan. Melihat paras Malik yang tidak begitu menarik bila dibandingkan dengan Kak Andrian. Berkali-kali sahabat Nurul selalu supaya dia dapat dekat dengan Kak Andrian, tapi banyak juga wanita-wanita laen menyukainya bahkan sahabatnya sendiri si Anisa.
Baru kali ini Nurul merasakan hal ini, yang sepantasnya ngak perlu di umbar tapi jika melihat umur sepatutnya juga ia memikirkan dirinya. Ini namanya melawan budaya dan agama, aku bukanlah sorang gadis kota yang seenaknya saja mengatakan cinta atau bergaul bebas dengan seorang laki-laki. Tapi aku baru kali ini merasa dekat dengan seorang pria bahkan baru kali ini diriku tersentuh tangan seorang pria yang dapat mengetarkan jiwanya.
Ah...itu hanya perasaan sekejab...titik....!
Derinng dan getar hp sekan mendayu-dayu diraihnya dan dibukanya. Ternyata sms dari Kak Rizal
Ass. Rul, maafkan aku ya telah lancang brkt yg tak pants aq ucapkn td siang. Cos q lg ngak terkndli, q mrasa brsalah maafkan aq ya. Q tahu kamu dkt ma Malik, tapi....?
Itu kalimat sms yang ia terima dibacanya dengan teliti, rupanya dia melihat semua tentang kedekatanya dengan Malik. Bahkan ada sedikit kejangalan dalam sms itu sebuah tanda tanya. Nurul bingung mau berkata apa. Sejenak ia berpikir, mencarai alternatif untuk menjawab smsnya. Ada apa sebenarnya. Iapun akhirnya menuliskan pesan balasan
Wss. Ya..sama2. Q jg minta maaf krna Malik tmen satu kelas yg akrap dgnq. Maksd sms Kak Andrian apa kok masih ada tanda tanyanya.
Sejenak Nurul harap-harap cemas menungu jawaban sms. Pkirannya semakin menjadi-jadi. Bakan dirinya merasa takut. Memang sih kita tidak pantas terlalu dekat dengan seorang cowok yang bukan muhrimnya. Apa lagi kita juga aktivis LDK yang harus meatuhi rambu-rambu agama dan peraturan organisasi. Sms yang ditunggu datang, langsung ia baca.
Ternyata isinya juga seperti apa yang dipikirkan. Nurul diberi peringatan, kalau dia sampai ketahuan lagi dekat bahkan sampai jatuh cinta muhrimnya ia akan di pecat dari organisasi LDK.
Apa ada yang salah jika aku jatuh cinta. Cinta itukan fitrah. Mengapa harus diatur-atur segala. Apakah aku harus jadi cewek yang pendiam dan hanya terpaku kepada teks-teks yang ujungnya dijodohin atau dilamar. Tanpa harus tahu gimana laki-laki terebut.
Ah.....dasaaaar..cinta itu aneh. Biarkan saja mengalir...!
* * *

Friday, September 18, 2009

Satu Pintu Terbuka Di Sebuah Masjid


Aku ingin mensucikan seluruh jiwaku dengan air yang membasuh seluruh tubuhku dan air wudhu yang membasuh mukaku agar ia bicara tentang cahaya, akan tetapi aku terkenak basuhan itu diriku terbujur kaku dan lemas tak berdaya.
Ini adalah awal pintu yang terbuka…!
Awalnya aku tidak menyadari siapa sebenarnya dirimu hanya dunia maya. Dunia yang tidak tidak mengenal ruang dan waktu, tapi semua akan terjawab pada satu sisi jembatan yang mengantarkan kita mengenal suatu hal. Dari jembatan itu sambung menyambung menjadi ikatan yang berkelanjutan hinga sampai sekarang ini. Walaupun sekedar perkenalan dan tidak tahu sejauh mana kita sampai tujuan yang sebenarnya. Hanya tujuan curhat dan keisengan semata antara kau dan aku.
Aku hanya bisa nyanyikan melodi bagaimana bisa mengerti apa maksud dan tujuanmu, ternyata hubungan dua insan yang berbeda. Itu memang sudah tidak menjadi rahasia umum antara suka dan benci, menang dan kalah, luka dan sayang. Ternyata kata-kata menjadi bisikan bisu dalam jari-jari ini, kata-kata di dunia maya itu telah menembus batas diluar batas nalar.
Pada saat itu, seorang manusia bertanya kepadaku tentang kehangatan cinta, dan kamu merasa senang dan puas terhadap apa yang telah engkau katakan padaku. Kau adalah seorang peri kecil yang berusaha suka kepada insan yang memadu kasih. Padahal semua jawaban ada pada dirimu, bagaimana engkau wahai peri kecil berusaha dan melantunkan lagu-lagu asmara ke dadanya. Akan tetapi, selanjutnya aku tidak tahu pasti, apakah rasa cinta itu menyelimuti jiwamu dengan kerudung biru di mahkotamu.
Kau membincang kata cinta dan bahkan ingin mendefinisikannya seperti ingin menemukan intan di samudra. Engkau ingin menemukan intan tersebut tapi tiram itu bersembunyi dibalik batu-batu terjal hingga menutupi penglihatanmu. Berharap merangkai intan menjadi hiasan dunia dengan gemerlap kilau sinar putih yang dapat menerangi batinmu.
Coba saja kau definisikan cinta tersebut jika di dalam diri cinta ada benci, rindu, sayang, bahagia, luka, kasih, asmaran, sedih, lelah, bosan, sakit, kematian dan lain sebagainya. Apakah engkau ingin menyulam rangkaian kata-kata cinta pada dinding-dinding yang tebal hingga engkau mampu merobohkannya dan dirimu merasa bangga bahwa telah menghancurkan kesucian cinta tersebut. Cinta hanyalah sebuah pengambaran pada diri kita, semua dapat digoreskan dimanapun berada tanpa melukainya. Hanya definisi cinta-Nyalah yang dapat membuka tirai pada jiwa yang menyebut dzat-Nya.
Itulah kiranya sedikit coretan yang mengaris didalam pikiran dan perasaanmu dan semoga bukan kemuskilan yang engkau dapatkan akan tetapi sebuah pelajaran yang berharga bahwa masih banyak rahasia yang belum terungkap di dunia ini. Maka bersenandunglah dalam imanjinasimnu, seolah-olah engkau menari-nari diatas permadai yang menerbangkanmu kealam impian.
Andai dunia tidak ada percikan cinta maka akan terasa hampa, oleh karena itulah kita sebagai seorang manusia yang lemah hanya sediki mampu menafsirkanya dalam tingkah dan perilaku di dunia menjadi insan yang lebih dekat dengan-Nya. Rasa suka dengan sesama jenis adalah anugerah, janganlah engkau menghancurkannya atau berusaha membinasahkannya itu adalah kalam suci yang telah tersirat. Maka nikmatilah rasa suka itu mengitari semesta nan jauh dan carilah apa yang telah dianugerahkan kepada manusia
Mulailah dengan suatu harapan semoga setiap manusia memiliki cukup waktu mendalami kasih dan sayang diantara sayap-sayap yang siap menerbangkan kita menuju alam bawah sadar dan menemukan kehidupan yang lebih baik dan mendapatkan secercah kebahagiaan dan engkau seolah-olah berdiri dipadang ilalang yang luas di tengah pagi yang cerah. Engkau sendiri, tiada siapapun disana hanya dia dalam kalbumu, lihat mentari pagi rasakan desiran udara dan ebun pagi yang membasahi kulitmu. Maka rasakan semuanya sebab cinta dapat tumbuh dimanapun.
Walaupun terkadan di dalam diri kita ada rindu untuknya. Akan tetapi harga diri tidak tunduk pada kadar cinta. Itulah sepatutunya pelajaran bagi manusia bahwa didalam cinta tidak ada segalanya, yang ada hanya diri untuk tidak tunduk pada cinta. Karena cinta hakiki hanya untuk-Nya dan ketundukan patut hanya untuk-Nya.
Sang rembulan mengemasi selimutnya dan dengan nyantainya ia bergerak pergi karena sang mentari ingin juga berdiri di pagi hari. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan saat itu. Berbeda dengan diriku yang memikirkan bagaimana mengenal arti cinta kasih dan asmara (pyaar, isqh our mohabbat) yang sesuai dengan imanjinasi dan aku bisa diajakya jalan-jalan di taman yang di penuhi teriakan romantika.

Thursday, March 19, 2009

Jerit Pikiran (Part 6)


Lalu lalang kendaraan tak henti-hentinya berhenti, begitulah irama jalan. Apalagi jalan yang dipadati dengan truk-truk besar pengankut barang. Begitulah nampak jalan besar penghubung antara Demak dan Semarang. Pabrik-pabrik menambah suasana hangat keramaian jalan pantura. Toko-toko kecil dan warung-warung makan berjajar diantar pinggiran jalan. Banyak jalan berlubang yang baru tiga hari perencanaan jalan untuk diperbaiki. Sungguh padat sore ini.
Ditambah pula pembawa sepeda yang baru pulang dari bekerja di pabrik. Tampak wajah mereka sangat sumeringah. Walaupun sebenarnya mereka telihat sangat capek. Tapi semangat untuk pulang, telihat jelas. Mungkin hari sabtu ini mereka mendapatkan gaji. Sungguh bahagianya mereka, walaupun sebenarnya mereka hanyalah masyarakat yang termajinalkan dari bangunan-bangunan megah pabrik. Acapkali mereka hanya bisa menjadi buruh pabrik. Kebanyakan mereka hidup diantara bangunan tersebut. Di daerah sekitar yang terkadang terkenak dampak berupa limbah pabrik.
Aku pacu kendaraan dengan santai. Bersama adikku hendak menikmati sore ini dengan penuh kedamaian. Meski jarak menuju kota Semarang sangat jauh dari rumah kami. Namun kami sangat menikmatinya. Ibu kami tingal disendiri di toko bersama kedua karyawannya. Meski keseharianku pergi ke jantung Jawa Tengah, namun untuk adikku Luna sangat berbeda. Dia masih menjadi putri daerah sedangkan kampusku masih dikota ini. Melihat kota ini terkadang menyimpan cerita bagi adikku, dia sering tersenyum sendiri jika melihat-lihat aneka produk di mall-mall yang berdiri megah ditengah kota.
Di balik rimbun robot mesin, kendaraan berjejer terpakir diarea bawah bangunan mall Ciputra. Kita sudah sampai ditempat tujuan. Aku pandangi adikku tampak senang sekali. Mata ini hanya bisa melirik kiri dan kanan, banyak orang yang mulai berdatangan. Tempat orang untuk melepas lelah dalam keseharian. Ada sebagian orang mengantri di sekitar liff. Aku dan adikku tidak ikut mengantri, kami menaiki tangga. Satu dua langkah kaki-kaki ini melangkah dengan sigap dan cepat. Kita sudah sampai, banyak insan muda mudi melepaskan kepenatan.
“Pasti setiap malam minggu tiba, banyak orang berdatangan ditempat hiburan seperti ini’, ungkap Luna
“Biasa merekakan juga butuh refresing”, sedikit aku keluarkan kata-kata
“Kak, ntar belikan aku boneka ya”, adikku mulai meminta.
“Ya...pasti ta...ya, terserah ntar tinggal pilih yang mana”. Aku hanya bisa memberikan jawaban yang sekiranya menyenagkan hati adikku. Untung saja aku masih memiliki sedikit tabungan. Apa lagi jalan sama adik pasti segala sesuatu sudah dipersiapkan. Khususnya masalah keuangan, jika tidak membawa apa-apa dari refresing ini kan tampak aneh. Apa lagi jarang bersama adik tersayang lho.
Di antara lentik jari yang bergoyang musik-musik mall melantun indah. Kaki-kaki ini melangkah tanpa arah. Di balik manis wajahnya tersembunyi bermacam-macam keinginan.
“Capek, dari tadi jalan terus”, gerutunya. Senyumnya mengembang
“Kalau mau istirahat. Ya berhenti, kita mampir di kafe dulu”.
“Ngak ah, aku ingin lihat-lihat boneka dan sandal-sandal yang terpajang rapi dirak”.
“Sana dipilih kesukaanmu. Paling juga pilihnya boneka kucing”.
“Di kamarkan sudah ada. Cari yang beda ahhh”.
“Kamu ini. Aneh-aneh aja”. Ku pegang tangannya. Halus kulit putihnya terasa. Gadis polos yang paling dimanja ibu. Lalu tangan ini merangkul pundaknya. Serasa seperti berjalan bagai sepasang kekasih. Tingginya hampir menyamaiku, namun lekuk tubuhnya seperti orang yang sudah dewasa. Rambutnya terurai panjang, seindah tatapan matanya.
“Lihat tu kak, bonekanya tampak cantik ya”.
“Mana, sebegitu aja kok cantik. Terlihat seram tahu. Itukan boneka macam, jadi ya serem kalau sekedar boneka ya memang imut sih.
Dibelainya benang-benang halus khas sulaman tangan. Benar juga, ungkap hati kecilku. Tentu ada bedanya, itu hanya sekedar boneka. Aku terdiam beberapa saat dan memandanginya yang tampak serius memilih-milih. Diliriknya jam tangan yang dibelikan ibunya.
“Kak, kayaknya ini udah maghrib deh’, memperlihatkan arah jarum jam yang sudah menunjukan pukul enam lebih.
Memang tidak terasa jika dari tadi ngorol sambil pilih-pilih hal yang di sukai. Rasanya ingin menjawab iya, tapi mulutku terbungkam. Apa lagi memang aku sudah tahu. Dari tadi aku juga sudah memandang jam yang ada di HP.
“Sana kak shalat dulu. Biar aku disini pilih-pilih bonekanya”, perintahnya.
“Ya deh kakak tak shalat. Jika di mall terkadang suara adzan bakalan tidak terdengar. Apalagi bising musik yang selalu berbunyi dan keramaian langkah kaki manusia yang sedang mencari kerinduan atas kedamaian yang telah hilang karena seharian bekerja.
“Kalau gitu, kakak tak pergi dulu. Hati-hati ya”, bilangku kepadanya. Sedikit langkah kakiku berbelok mencari arah. Masjid Baiturahman yang berada si simpang lima, terletak disebrang jalan.
“Hai, Lik”, terdengar ada sedikit suara memangil namaku. Telinga ini mendegar jelas kalau ada orang yang memangil. Aku menoleh ke kiri dan ke belakang. Belum nampak orang yang memangilku. Siapa yang memangil namaku ya, atau prasangkaku aja. Ungkap batinku.
“Hai, friend”. Mendadak tubuhku dikagetkan dengan sentuhan tanganya. Aku terkaget.
“Dasar! Kaget tahu”. Wajahku agak sedikit kesal. Gimana coba kalau aku jantungan bisa berabe dong.
“Soory. Ngapain kesini. hayooo pasti lagi. Ehemmmeehhemm”, ledeknya.
Rizal menatap tajam. Arah matanya bertanya-tanya penasaran. Di dektanya ada seorang gadis yang sudah aku kenal. Teman satu kampus tapi hanya beda fakultas. Tanganya mententeng belanjaan.
“Wahh...kayaknya lagi dapat kirimana uang nih, kok banyak belanjanya”, sedikit sindiran arahkan kepada rizal.
“Jangan aneh-aneh ya. Kita disini dari tadi, tentu banyak pilihan hanya sekedar pakaian dan makanan ringan. Lha kamu sendiri ditanya kok ngak jawab”, Ririn pacarnya tampak tersipu malu. Dipegangnya tangan Ririn.
“Biasa to ya...namanya anak muda. Kamu aja bisa berduaan kok, ha..haaa,. sorry Rin. Ini rizal sukanya bercanda.
“Mana nih pasanganya”, Rizal semakin ada-ada saja.
Tiba-tiba luna datang sambil memegang tanganku. Tampak tangannya ini menandakan kalau dia ingin segera mengajakku atas pilihan bonekanya. Dia nampak tersipu malu apa lagi dihadapannya dia meliahat temanku si Rizal bawa pasangan.
“Kak, dari tadi aku tunggu. Shalatnya kok lama banget sih. Tak tahunya enak-enakan ngobrol ama temanya temanya. Aku tidak mampu menjawabnya, dari tadi ngobrol sama Rizal.
“Pasti teman kak Rizal dikampus ya”, mendadak Luna bertanya kepada Rizal.
“Iya...teman satu kampus. Adek sendiri namanya siapa dan kuliah dimana. Kok rasanya kalau dikampus belum pernah aku melihat adek, boleh tahu dong”, tangan Rizal sambil menyubit diriku. Bahkan pacarnya Ririn ikut-ikutan nyubit namun bukan ke arahku.
“Dia namanya Luna. Adikku”, mendadak mulutku yang menjawabnya
“Masyak sih, aku ini bertanya kepadanya. Bukan kepadamu”, bilang Rizal yang nampaknya penasaran.
“Iya...benar. Aku adiknya kak Malik”, jawan Luna atas penasarannya.
“Adek apa adek”.
Rizal mulai aneh-aneh pertanyaanya. Aku tidak mampu menjelaskan. Apalagi dia belum pernah ketemu adikku jika aku ajak kerumah. Pasti jika ke rumah, Luna bertepatan waktu sekolah. Kalau tidak pasti kebetulan dia membatu ibu di toko.
“Iya benar dia adikku. Ku belai rambut Luna”.
“Oh...adiknya ta. Wah kebetulan bisa ketemu. Iya...Malik pernah cerita kalau dia mempunyai adik yang paling disayanginya”, ririn ikut-ikutan angkat bicara. Luna hanya tersipu malu. Sedangkan rizal hanya terdiam keriput.
“Kok ngak pernah cerita kepadaku sih”
“maaf deh”.
“ya...dah aku percaya saja”, Rizal hanya pasrah menerima jawaba. Apa lagi yang baru angkat bicara pacarnya sendiri. Tidak berkutik rasanya si Rizal itu.
“Kalau gitu, sampai jumpa. Selamat menikmati malam minggu ini dangan indah”, Ririn mengandeng tangan Rizal. Tampak tergesa-gesa tingkah laku mereka berdua. Sungguh pasangan yang cocok. Mereka pergi entah kemana, apa lagi episode malam baru dimulai.
“Ngak pakai lama”, Luna menarik tanganku. Barang kali ia takut kalau pilihannya diambil orang duluan.
“Ini pilihannya. Sudah yakin kalau pilih, ngak yang itu”, tanganku menunjuk salah satu boneka yang nampak imut. Berusaha meyakinkan. Aku keluarkan uang seratus ribu, ku kasihkan kepadanya. Dibandrol harga boneka itu terlihat jelas harganya yang hanya tiga puluh lima ribu.
Luna pergi ke kasir. Aku hanya menungku. Dia ikut ngantri, hari ini banyak yang belanja. Di kasihnya boneka pilihanya kepada seorang pekerja perempuan yang nampaknya masih muda. Senyumnya manis sekali. Ihhh...ada-ada saja pikiranku.
Aku hanya bisa tersenyum, tiap kali mengajak Luna pasti banyak pilihan. Tentu hanya banyak pilihan, belinya tetap satu. Suara malam, mulai riang terdengar. Ac mall sudah nampak dingin aku rasakan. Sesaat baru aku sadari betapa bulu kudukku mulai berdiri. Ini karena dinginya ac atau pikiranku yang aneh-aneh memikirkan Rizal dan Ririn, tapikan mereka ideal.
Setelah beberapa menit menunggu, Luna datang dengan membawa bungkusan plastik yang berisi boneka. Dengan rasa senang Luna mengandeng tangan kakaknya yang tercinta. Agaknya kegembiraan sangat terlihat dari paras-paras lugu itu. Begitu senyumnya kelihatan, Luna terlihat bertanya.
“Kak, kita langsung pulang ya. Pasti ibu mencari kita”.
Aku hanya bisa mengangguk setuju. Kulihat Luna ingin memperlihatkan boneka tersebut kepada ibu. Aku ingin tersenyum seperti dia, menyadari bahwa senyuman akan memberikan sedikit kedamaian. Luna semakin erat memegangku. Maka kusimpan rasa bersalahku, sebab tadi aku tidak sempat menjalankan shalat maghrib.
Dengan perasaan bahagia bercampur senang, kami melangkah keluar menuju tempat parkir kendaraan. Lalu ku starter menuju keluar arena parkir. Kami memutar lewati lapangan simpang lima. Sungguh ramai di sana banyak pedagang kaki lima menjajakan dagangannya ditrotoar pejalan kaki. Jalan sedikit macet, dikarenakan banyak orang yang menyebrang menuju lapangan pedagang. Kami tidak sempat mampir ke situ, mungkin karena Luna sudah mendaptkan apa yang ia inginkan.
Kami melaju agak kencang. Luna tidak memakai jaket, tapi jaket yang aku bawa aku berikan kepadanya. Untuk menutupi tubuhnya biar tidak kenak angin malam. Aku takut kalu ntar kenapa-kenapa. Bagiku angin malam hanyalah sahabat malam, walau tubuhku kecil namun aku sangat tahan dengan angin malam. Sampai dirumah paling-paling hanya dua puluh menit, apa lagi rumah kita masih perbatasan dengan kota Semarang.
* * *
Kami sudah sampai rumah waktu menunjukan hampir mendekati setengah sembilan. Dengan perasaan was-was kami berjalan agak takut sebab kamu pergi tanpa sepengetahuan ibu.
“Pasti ibu lagi nonton tv”, bisik luna
“Bisa jadi”.
Kami sangat tegang dan agak takut biasanya Luna kalau pergi selalu izin, sedangkan aku tidak bisa seperti dia. Sudah menjadi kebiasaan jelek ha ha. Aku membuka pintu, “assalamualaikum”, aku mengucap salam. Terdengar jawaban dari ibu. Ibu sudah mengira kalau yang datang kami, maka dia tidak beranjak keluar. Apa lagi suara khasku yang mudah dihapal. Luna langsung menghampiri ibu, sedangkan aku hanya bisa melongok sebentar dan langsung duduk bersama ibu. Luna memperlihatkan boneka yang baru ia beli. Ibu hanya bisa tersenyum kecil.
Kulihat Luna dan aku amati wajah ibu. Kami saling bertatapan mencari suatu kesepakatan supaya ibu tidak marah. Kami berdua hanya bisa mengucapkan satu dua kalimat.
“Anak manis beli boneka lagi, coba sekarang katakan, kenapa Luna tidak izin ibu. Pasti kakakmu yang mengajak. Jadinya kamu seperti ini”, tandasnya dengan sedikit sindiran.
“Ya...bu”, Luna menatapku
“Sana kalian makan dulu, pasti belum makan malam kan. Ibu sudah persiapkan untuk kalian”, perintah ibu.
Kami langsung menuju ruang makan. Luna tampak tertawa-tawa kecil memandangku. Dasar kamu ini, enak-enakkan. Aku deh yang kenak semprot ibu.
“Kakak sih ngak izin”
“Lha nyatanya kamu juga mau”.
“Tentu dong, apa lagi kakak jarang-jarang mengajakku pergi”.
“Tu dihabisin makannya. Ntar biar tambah gemuk”, nasi yang agak penuh dipiring aku kasihkan kepadanya.
“Apa-apaan nih. Ntar kalau aku gemuk beneran gimana, kan ngak cantik lagi. Kakak tuh yang harusnya banyak makan, badan seperti tulang semua”, agak tidak terima dan sedikit centil
“Ya deh”, aku kasihkan lauk kepiringnya. Lunapun begitu. Kita saling mengambilkan satu sama lain.
Kamipun merasakan kenikmatan. Bersama-sama dengan lahap menghabiskan yang terhidang di meja makan. Luna membuatkan minuman dan menaruhnya disampingku. Aku meminumnya. Rasanya nikmat. Tak terasa perut-perut kami merasakan kenyang. “alhamdulillah”, ucap Luna. Aku hanya bisa mendengarkan ucapan puja-puji tersebut.
Aku ambil bungkusan rokok dan korek yang berada di kantong celana. Satu batang rokok sudah berada ditanganku. Kulanjutkan korek aku nyalakan, tanpa sepengetahuanku Luna mengambil korek itu dari tanganku.
“Bawa kemari koreknya”, pintaku
“Pasti deh. Habis makan langsung ngerokok. Ngak baik untuk kesehatan, tubuh kakak kan sudah kurus”, ceramah mulutnya mulai lagi
“Sini cepat. Ntar kakak marah lho”.
“Coba. Aku mau melihat kakak marah”, ledeknya
Di nyalakan korek itu kearahku. Rokok ini kuhadapkan ke arah api. Aku percaya kalau Luna hanya iseng, pasti dia ingin menyalakan apinya untukku. Kamipun beranjak pergi dari ruang makan dan menuju ke ruang keluarga bersama ibu menonton sinetron kesukaannya. Luna duduk tepat disamping ibu. Sedangkan aku agak menjauh dari mereka. Asbak sudah ada dihadapanku. Kami bertiga menikmati tontonan televisi malam. Tampak makanan ringan selalu ada di meja kelaurga. Ibu menikmatinya dan serius mengamati jalan ceritanya.
“Lik, jangan lupa shalat isyak”, ibu mengingatkan
“Ya, bu”.
Ibu dan Luna menuju kamar masing-masing. Aku masih menikmati camilan dan menonton gala sinema. Kisah cinta diatas sepotong roti, begitulah kiranya judul yang pantas. Sebab ada sesosok lelaki yang berharap cintanya semanis kue tar. Berharap gadis cantik seindah balutan coklat roti. Tapi pemuda itu hanya merasakan manis dibibir kemudian dicampakan. Sungguh kasian tapi ia tetap berjuang untuk mendapatkan cintanya. Ya....bersama roti ulang tahun kemudian ia mendapatkan cintanya kembali. Happy birthday...sayang.
Kisah cinta itu akhirnya berakhir dan akupun kembali kekamar. Masih ingat benar pesan ibuku. Tapi aku tak beranjak ke kamar mandi aku hanya mampu melangkahkan kaki ini ke kamar. Seperti ucapan Luna. Sudah beberapa kali aku membohongi diri. Sering aku tidak shalat. Jika shalat, ketika harus jamaah bersama ibu dan Luna. Aku yang menjadi imamnya. Itupun aku lakukan dengan keterpaksaan.
Ada rahasia apa di balik shalat itu, batin ini tergoda untuk mencari jawaban. Apa lagi aku sudah empat semester duduk dibangku kuliah, jarang sekali aku shalat. Tapi aku ingin terus mencarinya. Akalku semakin tidak percaya pada kelakuanku sendiri.
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al 'Ankabuut ayat 45)
Aku sangat paham bahwa shalat dapat mencegah perbuatan jelek. Namun aku merasa tidak pernah melakukan perbuatan keji dan mungkar. Jadi bisa dibilang, kalau aku tidak shalatpun ngap apa-apa. Apakah hanya dengan shalat untuk mengingat Allah. Aneh benar ini aturan agama. Banyak orang Eropa, tidak melakukan shalat mereka juga menghargai hak asasi manusia. Mereka tidak melakukan ibadahpun tetap rajin untuk menyumbangkan sedikit hartanya, melebihi dua setengah persen zakat umat Islam.
Ya...Allah, Engkau tahu apa yang aku kerjakan, tentu Engkau juga tahu kalau aku juga bertanya kepada diriku tentang wahyu-Mu. Bukannya aku ingin menjadi seorang filosof, tapi akal pikir yang Engkau berikan berjalan sempurna untuk membimbingku. Apakah Engkau marah jika aku bicara demikian, aku percaya Engkaupun bisa marah dengan simbol-simbol keagungan. Tapi aku juga tidak mau di salahkan.
Aku hisap rokok, ku nyalakan komputer. Mendegarkan lantunan lagu-lagu pop asli made in dalam negeri. Suaranya begitu indah, menyejukan malam. Aku buka al-Qur’an digital yang terletak di file D dalam hardisk komputer. Aku menemukan ayat Qur’an yang berhubungan dengan shalat. Aku membacanya agak lumayan keras, biar ibu mendengar kalau aku sedang ngaji. Padahal hanya ingin mencari nilai diri dihadapan ibu.
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Al Baqarah ayat 153).
Otak ini semakin kerja maksimal, sabar dan shalat sebagi penolong. Engkau akan menolong hambamu ini jika dalam kesusahan, aku tidak perlu di tolong. Masih banyak umat Islam yang masih membutuhkan bukan aku. Banyak umat Islam miskin dinegeri yang kaya. Banyak penderitaan yang mereka alami. Mereka juga mengerjakan shalat di masjid-masjid, meramaikan rumah-Mu dengan takbir dan zikir. Namun nasib mereka juga tidak berubah-ubah, tetap dijajah orang-orang barat.
Mereka juga berkunjung ke rumah-Mu di Makkah. Kalau pulang mereka bisa di sebut Pak Haji atau Bu Hajah. Kenapa mereka yang menjalankan ibadah malahan tidak bertigkah laku seperti layaknya muslim sejati. Atakukah hanya ingin pergi ke luar negeri saja atau ingin rekreasi. Kekayaan negeri ini di kuras habis, bahkan lucunya mengapa Departemn Agama yang seharusnya menangani masalah keumatan malahan menterinya melakukan tindakan korupsi. Sungguh aneh umat Islam sekarang ini, ataukah aku yang memang aneh.
Tangan ini menekan tombol keyboard. Beberapa pertanyaan aku tulis sebagai diaryku. Mengapa uamt Islam harus shalat, jika tingkah laku mereka masih seperti masyarakat jahiliyah. Apa ada yang salah dalam shalat itu. Mungkin itulah pertanyaan ringan yang aku tulis.
Melanjutkan tugas mata kuliah untuk besok presentasi makalah. Aku sudah mempersiapkannya dari kemaren dan tinggal mengulangi lagi. Aku baca tiap paragrafnya, aku hampir hapal pokok-pokok kalimat penting. Pembahasanya hanya seputar “Tinjauan Psikologis Tentang Hereditas dan Lingkungan”. Setiap manusia lahir kedunia dengan membawa hereditas tertentu, hal ini berarti karakteristik manusia yang terlahir memebawa pewarisan dari pihak orang tuanya. Warisan itu bisa berbentuk wajah, raut muka, warna kulit, intelektual, bakat dan sifat-sifat tertentu, seperti suka jajan, lugu dan pembohong.
Belajar sudah aku lalui. Satu pertanyaan yang aku rangkai dikomputer aku pindah ke buku diary. Kemudian aku masukan kedalam tas. Makalah itu aku print, sambil menungu hasilnya aku hisab sebatang rokok dan kopi yang baru aku buat. Nikmatnya malam ini, ternyata sudah jadi. Hampir sepuluh lembar dengan kofernya. Sambil tidur-tiduran aku membacanya ulang, barang kali ada yang salah.
Sudah saatnya malam ini aku tidur, apalagi besok aku harus berangkat pagi. Aku masukan peper makalah kedalam tas dan kumatikan komputer. Lampu kamar mati, namun lampu belajar tetap hidup. Aku rebahkan tubuhku dan aku masih bertanya-tanya sudah lama aku berfikir seperti ini.
Sebenarnya yang harus kita nikmati dalam menjalani kehidupan adalah sebuah proses. Sebab proses memiliki nilai lebih dari para hasil tersebut. Dengan proses kita akan tahu seberapa besar usaha kita dalam mewujudkan tujuan. Hal itulah mengapa aku ingin selalu berproses mencari kehidupan yang lebih berarti dan bermakna. Maka jangalah untuk putus asa. Jerit pikirku, berpandangan semacam itu.
* * *
Assalamualaikum’. Met pagi, pa kabr hr ni. Skedar mengingatkan ntr presentasi. Eh...ya, skedar kasih informasi. Ntr q da kgitn, u ikut ya?. Sorry jika menganggu.
Hari-hari yang sangat melelahkan mulai lagi menggibarkan benderanya diatas puncak Jaya Wijaya. Malik hanya bisa menikmati tidurnya yang pulas. Dia tidak mendengar alarm HP yang sudah ia stell, bahkan suara sms dan miscall. Ia terkaget bagun, tampak sorot matahari mengenai wajahnya. Matanya mulai silau dilihatnya jam dinding, waktu sudah menunjukan pukul delapan lebih. Astaga....!
Tanpa pikir panjang ia menuju kamar mandi, sambil diingatnya waktu malam itu. Dalam benaknya ia tidak tidur sebegitu larut, kok aku bangunnya tidak sesuai dengan prediksi. Ah...dasar anak pemalas. Sikap seperti itu seharusnya jangan dibiarkan tumbuh terus, ntar bisa menjadi bakteri yang kemudian mengerogoti dirimu sampai engkau lupa dirimu sebenarnya.
Bergegas waktu aku pakai celana jeans dan pakain panjang. Juga tak lupa kaos, ikut menempel ditubuhku. Apa lagi aku sudah tidak lagi terbiasa memakai pakain panjang. Kalau pergi kekampus hanya memakai kaos berkerah. Ku amati seluruh ruangan rumah, ternyata sudah tidak apa-apa, pasti ibu sudah berangkat ke toko. Langkah ini menuju ruang makan, sudah tersedia rapi disitu, tinggal aku melahapnya.
Sehabis makan, rokok ini juga dinikmati. Kuraih HP yang tergeletak di kasur. Tak tahunya ada sms dan beberapakali miscall. Ternyata dari Nurul. Akupun hanya sedikit membalasnya, “kalau ada waktu, tak sempatkan”.
Membincang kekurangan dan kelebihan seseorang, adalah kebiasaan setiap insan. Namun kita mesti harus mengakui bahwa yang paling banyak kita bicarakan adalah kekurangannya. Sebegitu jauh aku membayangkan Nurul, seorang gadis polos dan imut wajahnya.
Seharusnya kebiasaan seperti itu harus segera dihilangkan. Seseorang lebih bisa mengoreksi kelebihan dan kekurangan orang lain, namun tidak sanggup mengoreksi dirinya. Bahkan aku hanya seseorang insan yang rendah. Tapi aku juga tidak kalah dengan dirinya, setiap insan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Yakinlah semakin kita memperbaiki diri dan terus bersemangat untuk mengoreksi diri, pasti di situ ada jalan terbaik.
Sesegera mungkin aku laju kendaraan ini dengan cepat, sebab perasaan ini sudah tidak enak. Dalam kamus kehidupan harus ada suatu rencana kehidupan termasuk hal sekecil kuliah ini. Meskipun kesemua hal tersebut bisa aku rencanakan, yang terpenting masih ada rencana-rencan besar ditanganku. Bahkan aku percaya kalau orang lain memiliki rencana yang lebih besar dari pada diriku. Apalagi seorang yang bergerak di bidang bisnis, tentu memiliki target profit yang besar. Begitu pula mata kuliah psikologi manusia, aku juga memiliki target yang besar dalam meraih nilai.
Kendaraan ini semakin kencang melaju, menuju sasaran panah yang telah terbidik lurus. Tanpa pikir panjang sepeda motor telah memakir dirinya diantara kendaraan yang lain. Langkah ini semakin cepat, terlihat waktu sudah hampir menunjukan waktunya presentasi. Puji syukur, aku sudah sampai di depan pintu ruangan kuliah, ternyata aku lihat sudah ada dua orang yang presentasi. Aku takut untuk masuk, ternyata aku telat. Terlihat Nurul memandangiku dia duduknya tepat dihadapan meja Bu Ira. Serasa aku tidak mau masuk, beberapa kali dalam kuliah aku sering terlambat. Apakah ini kebiasaan waktu persahabatan dengan mereka dulu, “ah...tidak”, semua ada jalan masing-masing.
Untuk sementara aku tidak berani untuk masuk, aku berfikir sejenak. Apa lagi Bu Ira itu tidak suka dengan anak pemalas, apa lagi telat dalam mengikuti mata kuliahnya. Aku semakin kebingunggan, tapi tetap yakin dengan trik yang aku pakai. Aku beranikan masuk. Dengan wajah tampang melas dan keringat disekujur tubuhku yang tampak kelihatan di pakaian.
“Maaf Bu, saya terlambat”.
“Kemana saja kamu, kalau kamu tidak suka dengan mata kuliah ini bisa langsung keluar”, wjah Bu Ira semakin seram menatapku.
Sejenak dua temanku yang presentasi berhenti. Aku merasa ketakutan. Tapi aku tetap harus memiliki alasan yang kiranya dapat menusuk perasaan Ibu Ira.
“Tadi saya barusan mengantarkan teman yang sakit. Jadi sampai disini, tak sadar sudah dimulai.
Bu Ira mengamatiku. Wajah yang melas ini aku tampakan dengan ketidak jujuran. Bahkan keringat-keringat ini ikut bicara. Tampaknya Bu Ira sudah mulai percaya. Akupun dipersilahkan duduk. Puji syukur, aku ucapkan. Aduh capek deh, ungkapku. Nurul menatapku tajam. Aku membalasnya dengan tatapan tajam pula. Dua orang temaku Andri dan Rohmah, sudah melaksanakan presentasinya. Sehausnya kami maju ke depan bersama, tapi behubung aku telat aku tidak jadi maju presentasi.
“Sekarang kamu Malik, presentasikan makalahnya”, Bu Ira menyuruhku ke depan. Puji syukur aku ucapkan ketiga kalinya. Aku mengira bakalan tidak terjadi sedemikian rupa, ternyata rupanya Bu Ira masih toleran. Batinku berkata, aku harus tunjukan yang terbaik. Perkiranku mengatakan, kalau aku tidak tunjukan yang terbaik pasti Bu Ira akan mengecapku sebagai mahasiswa pemalas. Aku kasihkan peper makalah yang asli kepada Bu Ira. Akupun presentasi.
Ku lantunkan mulutku seperti tadi malam, mengenai masalah hereditas. Kemudian aku sedikit menerangkan analogistik hereditas manusia.
“Teman-teman, sesungguhnya kita bisa mempraktekannya. Akupun menuju papan tulis. Yang sudah nampak gambar-gambar simbol daun, yang memancar dari sorot cahaya LCD.
Semisal ada bunga berwarna merah dikawinkan dengan bunga berwarna putih, maka hasilnya adalah bunga yang berwarna merah jambu. Apabila keturunan bunga tersebut merah jambu dikawinkan pula dengan sesamanya, maka hasilnya: 50 % berwarna merah jambu, 25 % berwarna merah, dan sisanya tinggal 25 % berwarna putih. Hukum ini dapat diyakini berlaku juga untuk manusia. Angka prosentase tersebut mengandung arti, bahwa hereditas yang diterima anak tidak selamanya berasal dari kedua orang tuanya, akan tetapi bisa juga dari nenek atau kakeknya.
“Teman-teman sekalian, itu tadi sedikit penjelasanku mengenai pembahasan hereditas. Selanjutnya bagi teman-teman, bisa langsung bertanya sebab sudah saatnya sesi tanya jawab. Tampaknya teman-teman sudah bosan ya, apalagi tadi sudah ada dari Ardi dan Rohmah yang presentasi. Antusias teman-teman kayaknya mulai redup pada sesi tanya jawab.
“Langsung saja bagi siapa yang belum paham bisa langsung bertanya”, Bu Ira angkat bicara. Tentang kondisi forum yang agak males.
“Saya hanya mau sedikit bertanya. Bagaimana pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap perkembangan manusia ?. Nurul mulai mengajukan pertanyaan, sorot matanya sungguh indah. Seperti bulan purnama di tengah kegelapan malam, sungguh terang matanya. Aku tersentak kaget, kok jadi bayangin dia ya.
“Terima kasih atas pertanyaannya. Bisa langsung saya jawab”.
Sesungguhnya hereditas dan lingkungan sangat berpengaruh dalam berbagai perkembangan psikologis anak. Hal ini sesuai dasar psikologis, sumbangan hereditas dan lingkungan bisa terjadi pada anak. Khususnya terhadap perkembangan mental anak, contah: ketika anak belajar musik di tempat khursus musik, maka potensi dirinya akan keluar, walaupun sebenarnya orang tuanya tidak bisa bermain alat musik.
Pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap perkembangan anak sangat beragam dari kesehatan mental, emosi dan keperibadian, melalui sistem syaraf yang diwariskan dan suasana keluarga yang menyenangkan atau sebaliknya. Jadi pada intinya, secara hereditas kita adalah bagian dari sistem tersebut akan tetapi lingkungan dapat membentuk kita. Begitu pula secara fisik dan jasmani, hampir seluruhnya terjadi karena hereditas.
Begitulah sedikit jawaban dari saya, mungkin ada yang menyanggah atau ingin balik bertanya. Tampak Rohmah, unjuk jari dari beberapa mahasiswa dirungan ini yang nampak diam.
“Bisa dibilang bahwa, lingkungan juga berperan dalam merubah diri kita. Begitu juga sebaliknya tentang hereditas. Bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk memperbaiki diri kita”, sekian dari saya.
Terima kasih atas pertanyaannya, tepuk tangan untuk Rohmah. Sekedar mencairkan suasana ruangan biar tidak terjadi keteganggan. Suara tepuk tangan begitu nyaring diatara empat penyangga ruangan ini, Bu Ira hanya bisa tersenyum kecut. Begitulah kiranya.
Untuk memperbaiki diri, tentunya dengan belajar. Hal ini bisa belajar dari mengambil pengalaman dan perbanyak membaca buku-buku. Karena lingkungan sangat berperan aktif dalam membentuk kita. Melalui membaca buku kita akan semakin memiliki wawasan yang luas. Sebab belajar memiliki arti penting bagi perkembangan kognitif, spirit, rasa dan psikomotorik. Alhasil, kualitas perkembangan psikologis manusia banyak ditentukan oleh bagaimana ia belajar.
Mata kuliah hari ini sudah sampai disitu saja. Bu Ira keluar dan sedikit senyumannya mengarah kepadaku. Pandanganku mengiringi Bu Ira keluar dari ruang kuliah. Malik juga demikian. Ditingalkannya ruang kelas yang kiranya sudah membuat hatinya deg-deg ser, sebab keterlambatannya.
Begitu Malik sudah keluar dan menuju taman, Nurul langsung menghampirinya. Malik terlihat risih bercampur malu. Ia hanya bisa terdiam.
“Hebat ya, jika kamu presentasi. Bahasamu sangat meluap-luap. Bagaimana tentang ajakanku”.
“Bagaimana ya! Acara apaan sih, pasti seperti yang dulu kan. Aku hanya pernah sekali mengabulkan permintaanya.
“Please, ikut ya”.
“I..ya deh. Sekali ini aja”.
Nurul dan temannya mendadak pergi. Acaranya mulai ntar sore. Malik di suruh datang sendiri, kalau bisa mengajak temannya. Malik hanya bisa menerima pasrah, apalagi sering kali dia menolak ajakannya.
Suasana siang yang indah, rimbun pohon yang menyejukan. Hari yang sungguh melelahkan. Itulah yang kiranya di rasakan Malik menjalani aktivitas hari ini. Ia pandangi para mahasiswa yang sibuk beraktivitas dan berteduh disekitar taman. Kebanyakan mereka membuka lap top, sebab area ini memang di pasang hot spot. Jadi bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk berselancar di dunia maya. Malik tidak mengeluarkan lap topnya. Ia hanya bisa memandang keindahan sejuknya taman.
Terdengar dering shalawat diiringi deklamasi puisi di HP malik. Kantong celananya bergetar. Diambilnya HP tersebut, ternyata mendapat sms dari Nurul. Cuman isinya hanya pesan singkat mengingatkan janjinya mengadiri acaranya. Rizal datang menghampiri Malik namun tidak bersama Ririn.
“Kemaren tu benar adekmu”
“Memang, naksir ya. Gampang saja”, Malik hanya kasih jawaban singkat
Tanpa sepengetahuan Rizal, mata Malik memandang Ririn yang sudah ada dibelakang. Malikpun pasang ancang-ancang mengoda Rizal. Besok sore ke rumahku, pasti adekku dirumah. Ntar biar bisa kenalan lebih jauh, Malik mulai menyodorkan guyonannya, sebab Rizal tidak tahu kalau Ririn sudah ada di sini.
“Gampang. Pasti tak usahakan datang, ya ini semua demi ha...haaa”, Rizal tertawa. Ririn sedikit ikut tertawa, tetapi iapun tak sadar juga kalau sudah ada malaikat dibelakangnya.
“Jadi gini tingkahmu. Dasar laki-laki”, tangan Ririn menjewer kuping Rizal.
Malik hanya bisa tersenyum kecut dan tertawa. Rizal meminta maaf, namun jeweran Ririn semakin kencang. Dia hanya berpesan kalau jangan mengulangi perbuatanya lagi. Begitu juga Malik di suruh jangan mau untuk memperkenalkan adiknya lebih jauh. Malikpun hanya bisa tertawa lebar.
Mereka bertiga akhirnya asyik bercanda di taman yang dipenuhi tumbuhan bunga yang kembangnya mulai bermekaran. Canda dan tawa ada pada senyum mereka, sungguh mengharukan. Rizal membuka lep topnya, begitu juga dengan Malik. Sedangkan Ririn mengeluarkan makanan ringan dari dalam tasnya. Ketiga pemuda-pemudi tersebut mulai berselanjar didalam dunia maya. Mereka asyik menikmati hiburan tersebut.
“Presentasi kok bisa datang telat. Abis itu kamu melontarkan alasan kepada Bu Ira, kalau kamu mengantarkan temanmu. Memang sih tampangmu meyakinkan, plus ditambah bau keringatmu itu lho yang baunya tak karuan”, pekik Rizal sambil meledek.
“Alahhhh..itu semuakan hanya alasan. Keringatku keluarkan gara-gara tergesa-gesa lari dari perkiran menuju ruang kuliah”, sambutan tawa datang dari mulut Malik.
“Dasar”.
“Lik, dimakan tu makanannya. Aku tak cari minum dulu di koperasi”, Ririn mempersilahkan. Iapun keluar dari berselancar didunia maya.
“Zal, ntar sore mau ngak nemenin aku menghadiri acaranya Nurul di masjid kampus”.
“Bisa sih. Kalau Ririn tidak mengajakku keluar”.
Sebungkus makanan datang lagi di tambah minuman ringan. Sungguh beruntung si Rizal bisa mendapatkan Ririn. Orangnya baik hati, tajir pula. Ririn mendampingi Rizal. Malik hanya bisa sedikit memandang atas kemesraan mereka.
“Sayang, aku diminta Malik untuk menemaninya menghadiri acaranya Nurul sore ini. Apakah aku diberi izin untuk menemaninya”.
“Ya...boleh. Sekalian aku ikut”, tangan Ririn memebersihkan sisa-sisa makanan yang menempel dipipi Rizal.
“Kalau gitu terima kasih atas semuanya”, Malik melontarkan kesenangannya.
Merekapun asyik dengan kegiatannya. Hembusan angin yang begitu mengugah hati untuk merasakan kemulyaan. Kehidupan ditaman kampus menyajikan berbagai cerita dan berbagai fenomena yang sangat menakjubkan. Tak terbayangkan, seorang Rizal yang orangnya semrawut alias suka seeenak hatinya, bisa mendapatkan Ririn yang bertanggung jawab dan baik hati serta anak fakultas kedokteran pula. Semoga dapat melaju kejenjang yang lebih jauh. Malik tetap percaya pada temanya Rizal, kalau dia memiliki komitmen yang tak bakal roboh diterjang badai.
Inilah kehidupan, sekali lagi begitulah irama melodi kehidupan. Dunia ini terasa sepi jika tidak ada pasangan satu sama lain. Sebab Tuhan telah menciptakan mahluknya dengan berpasang-pasangan. Kesemuanya ini pasti memberikan pelajaran yang berharga, bagi orang-orang yang berfikir.
Waktu sudah menunjukan sore hari suara adzan sudah terdengar. Suara bilal teramat merdu hingga membangunkan mereka dari berselancar ke dunia maya. Cuaca sore sangat cerah, mentari tidak sebegitu panas menyengat kulit. Bahkan mentari dan awan biru menampakan senyum sinarnya dan haru biru kedamaian. Cuaca hari ini sangat bersahabat, terbukti banyak hilir mudik para mahasiswa yang melewati taman. Taman asmara sebutannya sebab disini para mahasiswa dapat memadu kasih dengan hobinya.
“Lik, waktu sudah menunjukan sore hari. Untuk sementara kita sudahi dulu”, pinta Rizal.
“ya, Lik. Katanya sore ini kamu ada janji dengan temanmu menghadiri acaranya”, Ririn juga meminta menyudahi.
“Ok..deh. kita langsung menuju ke masjid”, jawab Malik.
Ketiga mahasiswa itupun beranjak pergi menuju masjid. Rizal mengandeng tangan Ririn, sedangkan Malik hanya mengandeng tas ranselnya yang nampak berat. Para mahasiswa lalu-lalang diantara jalan-jalan kampus. Ada yang memakai kendaraan dan adapula yang memakai mobil. Sepertinya mereka juga menikmati hari ini dengan penuh keriangan. Merekapun sudah sampai dimasjid.
Rizal dan Ririn langsung menuju ke tempat wudhu. Kedua mahasiswa tersebut menikmati air wudhu yang membasahi kulit-kulit mereka. Sangat terasa mendinginkan suasana hati mereka atas kotoran-kotoran dunia. Iqamat sudah dikumandangkan bilal, tanda waktu shalat dimulai. Terlihat Nurul juga ikut shalat, tepat shaff samping Ririn. Namun mereka belum kenal. Lain lagi dengan Malik, ketika Rizal dan Ririn menuju tempat wudhu Malik malahan pergi menuju koperasi mahasiswa tanpa sepengetahuan mereka.
Tentu Rizal sangat heran, dilihatnya kiri dan kanan. Atau mungkin dia sedang dikamar kecil. Rizalpun hanya bilang semacam itu. Malik menikmati seteguk teh botol, terasa membashi kerongkongannya seperti air wudhu yang membasahi kulit jamaah shalat. Sambil menunggu jamaah shalat selesai, diambilnya satu batang rokok yang ada didalam tas ranselnya. Sepertinya sudah selesai shalat jamaahnya, ungkap batinnya. Sesegera mungkin Malik menuju masjid
Di lihatnya sepansang kain terpajang rapi diantara tembok-tembok aula masjid. Bayground yang bertuliskan “kajian rutin dengan tema “indahnya shalat”. Pasti temanya ngak jauh-jauh dari keagmaan. Malik sudah menyadari sebelumnya, kalau Nurul itu memang aktifis kampus di Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan ia sekarang menjabat sebagai seorang sekretaris. Malik seringkali diajak untuk ikut di LDK, tapi ia terus menolak.
“Eh...Lik, tadi aku kok tidak lihat kamu ya. Apakah ini acaranya. Sepertinya inikan organisasi intra kampus. Ini kan anak-anak LDK”, tanya Rizal
“Ya...pastilah. kau terlalu serius mengamati Ririn. Ya benar Zal, Nurul memang aktivis LDK. Aku pernah sesekali menggikuti kegiatannya, maka dari itu aku mengajak kamu”, jawabku
“Bagus deh. Sesekali aku biar mendapatkan siraman rohani”, tampak Rizal tetap nyantai dengan dirinya.
Ririn keluar menemui kami. Terlihat Nurul memangil kami untuk langsung menuju forum yang telah disediakan. Nampak Ririn sangat canggung, apalagi di LDK forumnya antara laki-laki dan perempuan tidak boleh berjejer bareng.
“Maaf Rin. Aku ajak keempat yang kiranya mungkin tidak mengenakan hatimu”, Malik memohon keiklasan hati Ririn.
“Santai aja. Aku sudah beberapa kali mengkuti forum LDK”, jawab Ririn.
Kamipun bertiga menuju forum kegiatan rutin tersebut. Terlihat Nurul tersenyum kepada Malik. Rizal hanya mampu menatap Malik dan sesekali melirik Ririn. Bahkan mata Rizal terbelalak untuk melihat wanita-wanita lain. Ia heran! Ketika melihat pacarnya tidak memakai krudung, padahal yang lainnya memakai. Hati Rizal mendadak bingung sendiri, bahkan ia merasa malu. Kalau Ririn memang orangnya super cuek, tak peduli yang penting mengkuti siraman rohani tersebut. Mereka bertiga serius mendengarkan keterangan ustad yang nampaknya mahasiswa yang lebih tua. Kalau dilihat dari wajahnya kayaknya baru semester delapan.
Ia menerangkan dan menyitir sebuah hadis Rasulullah SAW, “barangsiapa menjaga shalat, niscaya dimuliakan oleh Allah dengan lima kemuliaan”. Pertama, Allah menghilangkan kesempitan hidupnya. Kedua, Allah hilangkan siksa kubur darinya. Ketiga, Allah akan memberikan buku catatan amalnya dengan tangan kanannya. Keempat, Dia akan melewati jembatan (Shirat) bagaikan kilat dan yang terakhir Akan masuk surga tanpa hisab.
Kemudian tampak salah satu jamaah bertanya, “bagaimana jika seorang muslim meninggalkan shalat ?.
Ustad itupun menjawab barangsiapa yang meninggalkan shalat, niscaya Allah akan mengazabnya dengan lima belas siksaan; enam siksa di dunia, tiga siksaan ketika mati, tiga siksaan ketika masuk kubur dan tiga siksaan ketika bertemu dengan Allah diakhirat.
“Apa saja itu kak”, tanya Nurul.
Adapun siksaan didunia yaitu; dicabut keberkahan umurnya, dihapus tanda orang saleh dari wajahnya, setiap amal yang dikerjakan tidak diberi pahala oleh Allah, tidak diterima do'anya, Tidak termasuk bagian dari do'anya orang-orang saleh dan yang terakhir keluar ruhnya (mati) tanpa membawa iman.
Sedangkan siksa ketika ia akan mati yaitu; mati dalam keadaan hina, mati dalam keadaan lapar dan mati dalam keadaan haus, yang seandainya diberikan semua air laut. Lain halnya siksa kuburnya; Allah menyempitkan liang kuburnya sehingga bersilang tulang rusuknya, tubuhnya dipanggang di atas bara api siang dan malam dan kuburnya terdapat ular yang bernama Suja'ul Aqro' yang akan menerkamnya karena menyia-nyiakan shalat. Ular itu akan menyiksanya, yang lamanya sesuai dengan waktu shalat.
Lain lagi dengan siksa yang akan menimpanya waktu bertemu dengan Allah diantaranya yaitu; pertama, apabila langit telah terbuka, maka malaikat datang kepadanya dengan membawa rantai. Panjang rantai tsb. tujuh hasta. Rantai itu digantungkan ke leher orang tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya dan keluar dari duburnya. Lalu malaikat mengumumkan : “Ini adalah balasan orang yang menyepelekan perintah Allah”. Ibnu Abbas R.A berkata, “seandainya lingkaran rantai itu jatuh ke bumi pasti dapat membakar bumi”. Kedua, Allah tidak memandangnya dengan pandangan kasih sayang-Nya. Allah tidak mensucikannya dan baginya siksa yang pedih. Ketiga, menjadi hitam pada hari kiamat wajah orang yang meninggalkan shalat, dan sesungguhnya dalam neraka Jahannam terdapat jurang yang disebut “Lam-lam”. Di dalamnya terdapat banyak ular, setiap ular itu sebesar leher unta, panjangnya sepanjang perjalanan sebulan. Ular itu menyengat orang yang meninggalkan shalat sampai mendidih bisanya dalam tubuh orang itu selama tujuh puluh tahun kemudian membusuk dagingnya.
Sampai disitu penjelasan sang ustad. Sepertinya pintar ustad ini, pekik Malik. Kelihatanya para jamaah merasa ngeri ketika diterangkan dampak bagi mereka yang tidak shalat. Dari wajah Rizalpun demikinan. Lain halnya dengan Nurul yang nampak masih nyantai.
Bagi Malik ini adalah sesuatu hal yang biasa. Dia tidak merasa takut akan siksa tersebut, dia hanya berharap Allah memberikan umur panjang untuk menemukan kemulyaan shalat sesungguhnya. Malik juga mengetahui apa yang baru diterangkan sang ustad itu semua dari risalah As-Sayyid Ahmad Dahlan karangan Hafidz Al-Mundziri terjemahaan kitab At-Targhib wa Tarhiib. Tapi ia tidak menunjukannya, kesungguhanya hanya ingin menepati janji.
“Sesungguhnya keimanan dengan shalat itu lebih tinggi mana, ya ustad”, tiba-tiba Ririn melontarkan pertanyaan.
“Tentu lebih tinggi keimanan. Sebab tanpa keimanan seseorang yang menjalakan shalat tidak akan diterima. Sedangkan shalat merupakan rangkain untuk meningkatkan keimanan”, jawab sang ustad
“Adakah dari hadirin yang mau mengutarakan pendapatnya”, ustad tersebut melontarkanya kepada jamaah. Para jamaah hanya tertunduk. Tampaknya Nurul ingin ikut mengutarakan pendapatnya. Tapi sepertinya Nurul menunggu respon Malik. Akhirnya Malikpun angkap bicara.
“Saya ustad. Sebelumnya maaf. Seperti yang telah aku pelajari dari buku karyanya Jalaluddin Rumi. Pernah sesorang berkata: “apa yang lebih besar daripada shalat ?”. Rumi menjawab pertama adalah jiwa orang yang shalat besar daripada shalat. Jawaban kedua adalah bahwa keimanan lebih besar.
Malik menyadari pertanyaan Ririn yang amat cerdas. Ia tahu kalu Ririnpun sebenarnya hobi membaca buku. Ia pun melanjutkan, shalat adalah bagian dari serangkain perbuatan sehari-hari, sementara keimanan berkelanjutan. Shalat dapat ditingalkan untuk alasan tertentu, sedangkan keimanan tidak boleh kita tinggalkan. Apalagi ketika kita melakukan konversi agama, maka kita akan disebut murtad atau orang yang meninggalkan agama. Maka keimananlah yang menuntun kita, shalat sebagai jalan untuk membimbing keimanan kita.
Ustad tampak tersenyum lega. Ia penasaran dengan Malik. Tampak matanya memandang Malik serius. Ririn mengajungkan jempol kearah Malik, Rizal tersenyum sinis. Begitu juga sebaliknya Nurul, hanya tersenyum lega akhirnya Malik angkat bicara.
Acara kajian rutin inipun berakhir. Para jamaah sudah maulai meninggalkan forum. Mereka kelauar dari area aula masjid. Sebagian dari mereka membersihkan tempat tersebut. Sang ustad menghampiri Nurul. Mereka bertiga juga sebaliknya meningalkan tempat tersebut. Sepertinya ustad tersebut berbicara serius kepada Nurul. Tiba-tiba sang ustad keluar menghampiri Malik.
“Assalamualaikum ya akhi. Perkenalkan namaku Ardi ketua Lembaga Dakwah Kampus. Namamu Malik kan, aku baru mengetahuinya dari Nurul. Salam kenal dari saya, semoga kamu dapat aktif di LDK. Sepertinya kamu memiliki potensi yang terpendam”.
“Salam kenal juga. Terima kasih atas tawarannya, tapi kalau aktif sepertinya tidak bisa. Tapi kalau sekedar membantu sekedarnya, mungkin aku sanggup’, jawab Malik.
Ustad Ardi pergi. Rizal dan Ririn tersenyum kearah Malik. Malik semakin penasaran.
“Apa-apa sih kalian ini”, senyum-senyum sendiri ntar kesambet baru tahu rasa.
“Kamu suka dengan wanita berkrudung ya”, tanya Ririn
“Itu teman kita dikelas”, jawan Rizal
“Masalah cewek itu gampang. Tapi hati belum ada yang pas. Kalau wanita berkerudung bisa jadi aku suka, tapi bukan hanya sekedar kedok. Lebih baik tidak berkerudung tapi hatinya baik. Seperti kamu itu.
“Nyindir atau nyindir nih”, Ririn merasa malu
“Awas lho Lik, kalau merebut Ririn dariku. Langkahi dulu mayatku”, cemburu Rizal mulai kambuh. Ririn hanya membiarkan Rizal atas tingkahnya terhadap Malik.
“Ngaklah, aku percaya pada cinta kalian”, jawab Malik singkat.
Nurul menghampiri Malik dengan mengucapkan banyak terima kasih atas kehadirannya. Bahkan meminta Malik untuk sekalian jamaah shalat maghrib. Apalagi waktu shalat akan segera datang. Tapi Malik tidak menyangupi permintaan Nurul.
“Terima kasih atas tawarannya. Aku tak shalat dijalan saja. Apalagi aku harus segera sampai rumah”.
Nurulpun berlalu pergi. Begitu juga dengan Ririn dan Rizal juga meningalkan Malik sendiri.
Malik menacap montornya dengan santai. Mungkin orang akan melihat dari tampangku yang semarawut. Dari cara berpakaian atapun dari aksesoris yang aku pakai. Pekik Malik. Tapi keindahan wajah Nurul selalu terbayang dipikiran Malik. Sambil mengendarai kendaraan, pikiran Malik tampak serius memikirkan Nurul. Teman sekelasnya yang ia kenal semenjak semester satu. Ia sangat anggun cara berpakaiannya. Semuanya ia jalani sesuai dengan aturan agama dan keluarganya yang mewajibkan anak perempuannya untuk memakai jilbab. Bahkan dulu ia juga aktif di Rois SMA. Sungguh dasyat wanita seperti Nurul itu, jawab pikiran Malik. Ia tetap melaju dengan santai, sampai waktu shalatpun ia lupa.
* * *
Sinar matahari senja mulai tergores oleh mega. Cahaya keemasan menyebar indah keseluruh pelosok bumi. Burung-burung mulai kembali kesarangnya, membawa beberapa butir padi untuk anak-anaknya. Para jamaah shalat sudah mulai keluar dari masjid. Terlihat Nurul dengan temannya sedang asyik dengan bacaan-bacaan ayat suci al-Qur’an. Begitu merdu suaranya, sampai mengema diantara kampus yang masih ramai dipadati oleh mahasiswa yang mengambil kuliah jam malam.
Sesudah Nurul melantunkan kalam suci temannya menghampirinya.
“Nurul, sahabatku yang manis’, sapa Anisa. “pemuda tersebut tampangnya kumuh. Tapi akal pikirnya ok juga ya”.
“Itu malik temanku satu kelas”. Emang ada apa to Nis, jawab Nurul singkat.
“Kayaknya dari tadi aku lihat kamu selalu memandang ke arahnya. Bahkan kulihat temanmu itu tersipu malu”.
“Jangan pikir yang ngak-ngak lho”, bilang Nurul.
“Yang ngak-ngak juga boleh. Asal kamu suka”, Anisa mulai menyindir.
Mereka berdua keluar dari masjid. Menuju ke tempat kos yang memang dekat dari kampus, paling kalau jalan hanya lima menit. Anisa terus saja menyindir Nurul. Tapi sikap Nurul terus saja sinis dan tidak memberi tangapan terhadap tingkah Anisa. Mereka berdua adalah sahabat walau beda fakultas tapi satu organisasi di LDK.
“Kalau ketemu Malik. Ntar aku titip salam ya”, pinta Anisa
Nurul hanya diam dan menganggukan kepalanya.
* * *

Sunday, March 15, 2009

Dimanakah Kau Sahabat (Part 5)

Dimanakah Kau Sahabat (Part 5)

Wahai zat yang maha mencipta atas segala sesuatu
Kau jadikan air untuk menghidupkan
Kau jadikan air untuk memusnahkan
Terimalah keluh kesahku ini
Sebelumnya aku ucapkan terima kasih
Karena Engkau telah menciptakan mereka untukku
Dan menjalin ikatan satu hati sampai sekarang ini
Kami dapat menikmati kebersamaan itu
Aku ucapkan lagi terima kasihku
Kami dapat merasakan keluh kesah
Dalam setiap sujudku doaku teruntuk mereka disana
Di tempat yang jauh walau jarak memisahkan
Sucikan hati mereka Ya Rabb, sehingga dapat berkomunikasi denganmu
Dan Engakau memberikan kabar gembira itu untukku
Jangan Kau padamkan api semangat belajarnya
Gantikan rasa kerinduan dan cinta yang bersemayam ini dengan bersama asma-Mu
Aku ikhlas
Aku sabar menanti mereka
Jika Engkau pertemukan aku dengan mereka
Tolong berikan kemulyaan satu hati menyatu
Ikatkan erat aku untuk tidak melepasnya
Untuk saling mengeti, memahami dan menerima akan segala sesuatu
Berikan aku kesabaran, kesunguhan dan kesanggupan untuk tetap bertahan
Menanti hadirnya
Yakinkan bahwa aku sunggug-sungguh menantinya
Aku hanya ingin menerima hadirnya tidak lebih
Sebagaimana Rasulullah dengan sahabatnya
Layaknya Isa yang memohon sahabat untuk mendakwahkan agama
Ya…Rahman Ya...Rahim, rasakanlah petik nada doaku ini
Lepaskan aku dari bingkai perselisihan
Lepaskan rasa penasaran ini
Aku hanya menanti hadirnya
Ajarkan aku untuk tetap menunggunya
Ya Rabb semoga Engkau mendegar irama kasihku
Kamar kecil berbentuk persegi penuh sesak dengan rak-rak buku. Bahkan kursi dan meja ikut-ikutan juga memadati ruangan sempit itu. Beberapa lembar kertas tampak berceceran diatas kasur. Mungkin jika ada yang melihat maka akan tertuju pada keindahan bingkai-bingkai foto. Banyak kenangan didalamnya, bingkai itu dihiasi dengan desain yang sangat memikat. Pandangan mata tiap bingkai seperti mengungkap suatu rahasia. Sangat memiliki nilai. Aneka hiasan kamar memberikan pesona tersendiri.
Aku hanya bisa memandang bingkai foto kenangan. Sejarah yang telah membuktikan persahabatan kita. Aku tidak lagi mampu bertutur kata, adakah yang mampu menjawabnya. Panjatan puisi doa untuk sahabat hanya bisa aku taruh diatas meja. Pandaganku tetap tertuju pada bingki foto yang aku pegang ditangan kasar ini.
Terlihat kami memegang piala anugerah deklamasi puisi diatas panggung. Sebuah ajang kreatifitas santri yang diadakan oleh pondok pesantren dahulu. Nampak dari kiri wajah Agus yang belepotan dengan make up bedak yang terlihat sekali. Kalau boleh sedikit tertawa, memang wajahnya mirip perempuan. Sampingnya Agus adalah Ardi teman beda komplek anak yang sangat cerdas. Rela membantu aku dalam perebutan anugerah tahunan. Orangnya kecil sangat imut. Hatinya sangat baik sekali. Dari kanan terlihat Fahmi yang kelihatan mulutnya yang melebar. Mungkin sangking girangnya. Sedangkan aku terlihat diantar mengankat piala kehormtan itu.
Sungguh sesuatu hal yang tidak mungkin aku lupakan. Banyak hal yang bikin aku tidak dapat melupakan kenangan di pesantren dulu. Kisah tersebut hanya sedikit kisah yang dapat aku telurkan.
Terkadang kita malas berucap. Jika terjadi ketidak sepahaman atau bahkan pendapat. Anaeh memang! Tapi lebih aneh jika dalam hidup ini, kita merasa tidak mendapatkan kenangan. Semua ada pelajaran yang dapat di petik. Tanpa sadar kadangkala dalam hati ini berguman, canda, tawa, sedih, gembira dan bahkan saling menghujat. Siapa yang kiranya dapat membaca hati kecil ini. Janganlah kau protes dengan Illahi, jika persahabatan terkadang harus terpisahkan.
Aku sangat menyadari akan hal tersebut. Aku bangga kepada mereka. Ada pertemuan adapula perpisahan. Akankah aku harus bersedih dan mengeluarkan air mata seperti saat perpisahan kita dulu di lautan ilmu. Tidak! Aku tidak akan bersedih, justru aku bangga pada mereka.
Lihat saja seorang yang bernama Fahmi dengan wajah yang sedikit seram teryata mendapatkan beasiswa melanjutkan studi di Al-Azhar Mesir. Sebenarnya kalau di hitung-hitung keluarga Fahmi adalah orang yang mampu. Jika memang dia tidak mendapatkan beasiswa. Keluarganya sudah siap untuk membiyayainya studi di luar negeri. Bahkan mungkin di negeri Amerika. Dari pihak keluarga sudah mempersiapkan tabungan masa depan untuk anaknya. Sungguh beruntung Fahmi mendaptatkan studi gratis. Bahkan pihak keluarga memberikan jatah tabunganya untuk naik haji ketika kelak dia lulus. Ini dalah berkat usaha kerasnya sendiri. Bahkan ia tidak ingin merepotkan keluarganya.
Lain lagi dengan Ardi. Selain dari keluarga yang tidak mampu. Acap kali keberuntungan menemaninya. Termasuk bisa bersama-sama studi di Mesir bareng Fahmi. Memang sih Ardi adalah anak yang sangat cerdas, ini semua berkat kekuatan semangatnya untuk membahagiakan keluarganya. Melalui semgat itulah ketekunan dan kegigihanya dalam belajar dapat mendapatkan jerih payah berupa beasiswa. Bahkan tabungan yang ia miliki cukup untuk menghidupinya. Apa lagi setelah ia memenangi perlombaan karya ilmiah remaja sampai tingkat nasional. Hadiah-hadiah yang ia dapatkan ditabungnya. Ia pernah bilang, suatu saat aku ingin belajar yang lebih tinggi. Dan semua terkabulkan.
Berbeda dengan nasibnya si Agus. Orangnya slengean, suka guyon dan canda tawanya sulit di mengerti. Bahkan kalau sudah ngobrol betah sekali. Sampai-sampai yang diajak bicara bisa tertidur. Tapi sungguh manis nasibnya. Aku ingin sedikit bercerita tentang Agus. Namun aku tidak sanggup. Kini ia melanjutkan di pesantren ilmu Qur’an di Malang dan sekaligus menapakan kakinya dibangku kuliah. Apakah kau tahu, sebenarnya di lautan ilmu ada tempat bagi santri yang ingin hafalan Qur’an bahkan sudah ada universitas disana.
Apa boleh buat sejarah membuktikan dirinya. Agus terpaksa menjadi seorang santri lagi di pesantren. Ini semua gara-gara dia terpikat pada salah seorang gadis di pesantren. Orang tua gadis tersebut lebih suka menjodohkan ananknya terhadap anak kolongmerat di desanya. Dari hal inilah cinta Agus melayang terbang bebas. Hatinya teriris, sampai-sampai ia memutuskan untuk mengisi hatinya dengan bahasa Qur’an. Sungguh mulyanya hatimu Gus, semoga diberikan gadis yang lebih dari gadis yang engkau cintai di pesantren dulu.
Aku tertawa sendiri di kamar. Tapi kemana hendak ku labuhkan air mata ini. Jangan engkau keluar, jangan kau basahi pipi-pipiku ini dengan air mata kesedihan. Ku pegang erat bingkai foto tersebut, aku memeluknya erat. Seperti pelukan ketika aku mendaptkan ketiga sahabatku Agus, Fahmi dan Ardi. Semoga jalinan ilmu yang ingin kau sambungkan menjadi bermanfaat dan berguna untuk dirimu, keluarga, masyarakat dan kebaktian negaramu.
Beranjak aku berdiri. Secarik kertas yang telah aku hiasi dengan sebait puisi cinta menatap kearahku. Akupun mengambilnya. Suara jelekku aku lantunkan dibalik jendela. Ingin rasanya mengenang saat-saat membacakan deklamasi dulu di pondok pesantren. Rembulan menyapaku kecut. Ya...rembulan telah bebentuk sabit atau bisa dibilang ini bulan sabit.
Tubuhku ketakutan. Bayang-bayang itu muncul. Bulan sabit serasa tajam ingin memotong leherku. Aku tetap membacakan puisi ini untuk sahabatku. Jangan kau halangi aku untuk membacakannya, bilangku kepada rembulan. Dengan santai dan perlahan suaraku mulai keluar, nyanyian angin malam, jangkrik dan nyamuk-nyamuk nakal menjadi pendengar setiaku.
Hampir kurang sepuluh menit aku duduk diatas jendela kamar. Kaki-kaki ini mendadak minta turun. Tanganyapun ikut-ikutan memegang jendela. Bahkan tangan ini mengambil sesuatau. Ternyata tangan ini ingin memegang gelas yang aku taruh disamping komputer. Bahkan tangan itu menaruhakan gelas ke atas, akupun mengangah lebar. Mulutku menikmati satu sampai sepuluh tegukkan air susu yang dibuat oleh adikku tersayang.
Sehabis minum aku rebahkan tubuh ini kedalam kasur. Sebelumnya aku bersihkan kertas-kertas yang berserakan. Tubuhku terasa kaku, kumemeluk bantal guling. Pikiran ini tetap terbayang pelukan manis persahabatan.
Aku tidak tahu apakah ini merupakan hukum sejarah yang digariskan oleh allah kepada diriku dan tentunya untuk mereka pula. Aku percaya sesuatu yang kita anggap mudah, terkadang menyulitkan. Dan sesuatu yang terkadang sulit tapi itu sungguh sangat mudah.
Sahabat....untukmu sahabat
Virusmu telah menjalar keseluruh tubuhku
Balik jungkir tubuhku dikasur menandakan aku tidak bisa tidur. Aku masih mengingat mereka. Bahkan malam ini terasa ramai akan kehadiran bayangmu.
Sebait puisi untuk sahabat ”dimanakah kau sahabat”. Aku ingin tidur pada mimpi-mimpi kalian. Selamat malam, semoga mimpi indah kita dipersatukan.
* * *
Lemas otot-otot rasanya tulang ini ingin remuk saja. Ringkih tubuh yang baru setengah tahun berpisah mensiratkan slekta rindu penuh makna yang membias dari sanubariku. Jari jemari masih lentik menari lincah diantara tombol-tombol. Tiada yang berubah sejak saat aku berpisah dengan mereka. Hingga sekarang makota hitam panjang sangat cantik menghiasinya. Ya...rambutku sekarang lumayan panjang lebat. Tidak seperti dulu, karena kalau dipesantren dan sekolah apa lagi umur kita yang baru remaja rambut itu tidak boleh panjang.
Mulut fasih menyulam kata dari bentuk pita sampai bunga, membasahinya dengan sekujur doa-doa. Mulut ini juga pandai merajut untaian kalimat, membalurinya dengan zikir-zikir. Tangan pandai mencari sentuhan hangat, membacakan kalam suci Illahi. Tangan-tangan ini sangat cerdik merengkuh belas kasih. Telapak tangan bergariskan kemudahan dalam menuntun kita bersama melalui rintangan masalah. Tangan ini biasanya meneriakan perjuangan. Namun tidak seperti biasa tangan ini hanya terdiam.
Sahabat...
Apakah saat ini engkau juga berubah..?
Sebuah metamorforsa yang dimiliki setiap manusia
Sejak kita dipesantren, betapa kenyamanan ibadah tidak henti-hentinya mengalirkan kasih kebajikan. Hingga kerelaan, ketulusan, keikhlasan dan kesabaran menyusuri setiap helai benang sulaman. Bahkan bisa di bilang kita bertahan dan menyerang berperang di jalan Allah. Subhanallah....sungguh sangat memikat.
Aku hanya bisa terbangun dan mengambil air putih di dapur. Meminumnya dengan rasa puas, tidak seperti dulu kita minum dengan air yang belum di masyak. Semenjak di rumah semuanya berubah. Biasanya habis tidur langsung mengambil air untuk mandi, kini hanya mengambil air untuk membasahi mulut. Baru kemarin wudhu memutihkan terangnya wajah. Semua ada yang lain. Apakah aku hanyut dengan budaya yang sudah tidak ramah.
Kalam suci memoles seluruh ruangan kamar. Bahkan masjid-masjid kewibawaan dan majlis kebajikan. Polesan itu tidak terdengar lagi, hanya gemuruh lalu lalang kendaraan. Setiap kicau burung ada isyarat di pagi hari. Begitu juga embun mengores daun-daun hijau disekitarnya. Namun, goresan itu tidak lagi diselimuti untaian ayat suci Al-Qur’an, zikir dan tasbih
Aku sapu lantai-lantai kotor yang di olesi debu-debu. Hari pagi yang cerah, tapi tidak secerah hatiku. Aku masih mengingat kalian dengan sesuatu perbedaan. Maafkan aku sobat.
”Lik, sarapannya kok belum dimakan. Cepat sini makan dulu, ntar sakit perutmu kambuh lagi”, terdengar suara ibu dari balik kamarku. Mungkin ibuku masih sibuk didapur. Mempersipkan segala sesuatau untuk kedua anak tercintanya.
”Ya bu, bentar lagi. Ini masuh nanggung”. Aku masih merapikan kamar, memang malam itu banyak tugas yang aku kerjakan. Apa lagi tugas kuliah yang semakin menumpuk. Satu-persatu bingkai foto yang aku copot dari dinding, aku kembalikan seperti semula. Album-album foto juga ikut aku masukan kedalam almari. Kertas-kertas yang masih tercecer dan membentuk tumpukan di meja aku rapikan dalam map rak buku. Mendadak kaki ini melangkah keluar.
”Luna, dimana bu kok ngak kelihatan”, dia adalah adiku satu-satunya. Baru menginjak kelas satu madrasah aliyah. Kita hanya berjarak tiga tahun. Jadi dulu waktu aku lulus dari pesantren, adikku juga lulus tsanawiyah. Namun dia tidak di pesantren, hanya menemani ibuku di rumah.
”Pagi-pagi sudah berangkat ke sekolah. Kamu sih dari tadi molor terus dikamar, sampai ngak tahu adikmu berangkat sekolah. Makanya kalau tidur itu jangan malam-malam. Jadi bangunya ngak kesiangan seperti itu”.
”Iya...bu! Banyak tugas kuliah yang harus aku kerjakan”.
”Banyak tugas. Atau emang dasarnya kamu yang malas”. Ibuku semakin menyudutkan aku. Aku tidak bisa ngeles lagi.
Makanan itu aku lahap dengan kepuasan. Hingga sampai lupa tidak memanjatkan doa sebelum makan. Ah....dasar si Malik. Lima menit sudah aku dihadapan meja makan menikmati hidangan masyakan ibu yang sangat lezat. Rasanya perut ini kenyang sekali.
”Bu, ntar aku buatin kopi. Taruh di kamarku ya”. Handuk telah siap dipundak. Menuju kamar mandi. Guyuran air kesegaran melemaskan otot-otot tubuh yang kaku. Olesan sabun yang harum meyelusur ke seluruh kulit-kulit tipis. Aku merasakan kesegaranku kembali lagi.
Beranjak aku sudah selesai mandi. Aku mengambil pakaian didalam almari, celana jeans dan kaos pendek menghiasiku. Tampak kopi dan gorengan ketela telah ada di meja kamar. Ternyata ibuku sudah mempersiapkannya. Sepertinya ibu sudah tidak lagi di dapur. Pasti di toko menunggu pembeli datang. Sebenarnya sudah ada dua karyawan yang membantu menjaga toko, namun ibuku tetap gigih untuk ikut berpartisipasi. Sebab ini adalah warisan mendiang ayaku yang ditingalkan.
Kepulan asap rokok keluar dari balik jendela. Seduhan kopi hangat membasahi mulut, nikmat sekali rasanya. Tidak kalah dengan kopi made in Mak Zuni di pesantren. Satu demi satu gorengan ketela hampir aku makan semua. Otakku berkerja kencang mengingatkan aku di pagi hari dulu. Namun pagi hari ini berbeda. Pagi disana pukul enam sedangkan di sini pukul delapan. Sungguh terpaut jauh. Kebiasaan pagi yang tidak pernah ketingal menikmati seduhan kopi dan hisapan rokok.
Sobat, hari ini aku masih menikmatinya. Dengan jam yang berbeda.
Di atas Panggung Deklamasi (Part 4)

Di atas Panggung Deklamasi (Part 4)

“Assalamualaikum”, lantunan ucapan salam Ardi bergema di setiap sudut ruangan kamar. Tangan Ardi mengengam satu bungkusan plastik berwarna hitam.
“Do'a mereka di dalamnya ialah: "SubhanakAllahumma" dan salam penghormatan mereka ialah: "salam". Dan penutup doa mereka ialah: "Alhamdulilaahi Rabbil 'aalamin”. (Yusuf ayat 10)
Ucapan salam didalam agama Islam sangat dianjurkan atau diwajibkan bagi mereka sesama kaum muslim. Begitu juga ucapan salam terhadap hubungan dengan sesama. Namun dalam menjawab salam ada perbedaan, jika yang mengucapkan salam adalah mereka yang bukan dari orang muslim. Islam hanya menganjurkan untuk menjawab kalimat singkat “waalaika”. Sebab pada kalimat salam terdapat ucapan hubungan timbal balik berupa kalimat doa. Salam adalah doa semoga kita selalu dekat dan diberikan berkah oleh Allah.
“Walaikum salam wr wb”, balasan salam yang diucapkan Agus terasa nyaring bunyinya. Pita suara yang dimiliki Agus memang cocok untuk berlatih tilawatil Qur’an. Apa lagi kalau dia sedang menyanyikan lagu dangdut, woooow suaranya indah banget bahkan ia bisa menyamakan suarnya dengan suara wanita.
“Ni…Gus, aku bawa sesuatu untuk kalian”, Ardi menyodorkan sebungkus plastik berwarna hitam tersebut.
“Apa ya isinya”, Agus membuka bungkusan tersebut. Ternyata di dalamnya terdapat makanan khas Kudus yaitu berupa Jenang. Kita bisa mengenalnya dengan sebutan makanan tradisional khas Kudus. “Kok repot-repot segala sih kamu Ar, bawain kita makanan. Apa temanmu dipondok ntar ngak ngiri pada kita.”,
”Kalau ke sini bawa jajan terus juga ngak pa-pa...ha...ha...”, Malik ikut menimpak pembicaraan mereka. Di ikuti suara tawanya, bahkan Fahmi ikut terbahak-bahak. ”Benar Lik, kan kita malahan dapat sesuatu yang gratis, lha inilah yang namanya rizki yang tidak terduga”, Fahmi melontarkan kata-kata kehadapan Malik.
”Teman-temanku di komplek sudah ada jatahnya sendiri. Ya...kebetulan saja aku bawa Jenang untuk kalian. Ini saja dari saudaraku yang mengunjungiku. Dia adalah kakaku yang ikut-ikutan membiyayai belajarku di pondok pesantren.
”Kalau gitu terima kasih”, ucap Agus lirih
”Gimana, kabar Ibu dirumah,” Malik bertanya kondisi ibu Ardi. Apa lagi Malik dan Ardi itu hampir mirip, sama-sama sudah ditinggal Ayahnya. Namun Ardi tidak sempat melihat wajah orang tuanya seperti apa.
”Alhamdulillah, sehat-sehat saja. Pada sibuk apa nih, kok kayaknya serius banget. Oh...ya aku ingin sedikit cerita tentang permasalahan kemaren”, Ardi memohon untuk bisa bercerita.
”Silahkan saja, yang penting jangan bawa-bawa masalah ke sini”, Agus mulai bercanda dengan ciri khasnya yang memang suka ngobrol dan ngegosip.
Subhanallah, dari kejadian kemaren ternyata memiliki hikmah yang lebih. Dalam hal ini selain saya mendapatkan sahabat yang baik. Ternyata Allah itu maha adil. Aku kemaren hanya kehilangan uang yang tidak sebegitu besar, paling jika dibandingkan dengan makan kalian hanya cukup untuk satu minggu. Kini aku diberikan sedikit limpahan rizki yang berlipat-lipat. Tapi kalo kita banyak bersyukur, ternyata jalan kemudahan itu selalu dibukakan.
”Diberikan sedikit limpahan rizki apa nih”, Agus semakin penasaran ingin mendengarkan jawaban yang lebih pasti. Apa lagi dari tadi Ardi hanya seperti ceramah saja.
”Ya..!. Agus benar. Jangan bertele-tele”, ungkap Malik
”Eh...kalian ini, penasaran aja. Mendingan dengerin tuh penjelasan Ardi biar lebih detail, makanya jangan memotong pembicaraa orang”, ungkap Fahmi.
”Ok...ok, emang dari tadi terlalau monoton ceritanya ya.... Gini, Allah telah memberikan balasan yang lebih menarik untuk diriku berupa sejumlah uang. Ya...kira..kira hampir 3 juta, aku ngak kebayang padahal aku belum pernah memegang uang sebesar itu. Mungkin inilah karunia Allah terhadap hambanya yang mau menjaga keeratan tali persahabatan.
”Uwiiihhhhh besar banget. Emang kamu dapat dari mana atau jangan-jangan dapat undian lotreee ya”, tawa Agus semakin menjadi-jadi. Sedikit aneh memang anak ini, sukanya bercanda aja.
”Ngaklah, Gus. Aku mendapatkan hadiah dari perlombaan penulisan karya ilmiah tingkat remaja Se-Kabupaten Jombang. Lha...yang mengejutkan aku mendaptkan juara pertamnya dan di jadikan calon untuk mewakili Kabupaten Jombang dalam perlombaan semacam antar Kabupaten Se-Jawa Timur. Hebat kan”, pekik Ardi terhadap mereka bertiga.
”Kamu ini memang hebat kok Ar, ternyata mempunyai bakat tulis-menulis. Tentunya juga memiliki daya analisis yang tajam”, pujian itu datang dari Fahmi. Dia memiliki keyakinan kalau di dalam diri Ardi terdapat potensi dan bakat yang tak terduka. Kadang-kadang orang bisa meremehkannya kalau melihat dari bentuk penampilannya saja. Tapi sebenarnya otaknya sangat tokceeerrrr.
”Hebar dong Ar”, sahut Malik
”Kalau begitu ntar malam bisa ditraktir makan dan ngopi nih”, sindiran itu keluar dari mulut Agus
”Terima kasih. Ini semua juga berkat kalian, aku belajar banyak dari kalian kok. Jangan kuatir ntar malam masalah seperti itu aku yang mentrakirnya.
”Ok...deh”, serentak jawaban keluar dari mereka bertiga.
Tentu yang paling mengejutkan adalah Allah telah membukakan pintu rizkinya. Bakan dilebarkan pintunya untuk Ardi supaya melangkah lebih maju dalam perlombaan mewakili Kabupatennya. Ternyata Allah maha bijaksana, pencuri yang mengambil uang Ardipun sudah tertangkap basah. Ternyata pencurinya adalah teman satu kamarnya Ardi sendiri.
Ardi tidak tega melihat temanya diadili oleh teman-temannya yang lain. Ia tetap memberikan keiklasan, namun temanya hanya bisa minta maaf. Rasa penyesalan itulah yang ia harapkan dan untuk tidak mengulangi perbuatan jelek semacam ini. Temannya bahkan berjanji siap menganti uangnya bulan depan. Ardi sangat berbeda, ia sudah mendapatkan kecukupan.
Kepasrahan dan keikhlasan itu tetap muncul, ia meminta kepada temanya untuk tidak mengembalikannya. Ia hanya berpesan kalau bisa belikan sesuatu yang lebih bermanfaat semisal kitab, buku atau majalah. Ardi merasa sifat temanya itu sangat prakmatis, ia lebih suka berlebih-lebihan mungkin memang anak orang kaya.
Tradisi dan aturan tetap harus berjalan. Jika ada santri yang bersalah maka harus mendapatkan hukuman. Temanyapun hanya bisa menerima, walau tampak dari sekujur tubuhnya sudah berbalut darah akibat sifat anarki santri lain. ”Sungguh memalukan kau, kita sangat malu jika bertemu dengan Ustad Sobirin”, guman santri tersebut.
Teman Ardi kini telah mendaptkan balasan aturan pondok. Rambut yang tumbuh subur diatas mahkota kini harus kehilangan keindahannya. Hukuman pertama bagi santri yang melangar peraturan adalah potong gundul. Hukuman kedua setelah potong gundul adalah berjemur ditengah lapang dengan membaca Al-Qur’an. Setelah dijemur santri tersebut harus membersihkan kolam dan kamar mandi pondok pesantren. Selamat menikmati apa yang telah kau perbuat.
* * *
”Ar, di pondok pesantren kita ini sebentar lagi ada perlombaan deklamasi puisi antar komplek. Bahkan pesertanya dari santri putri dan santri putra lho, cuman jadwalnya saja yang berbeda. Maka dalam hal ini aku ditunjuk Ustad Sobirin mewakili komplek El-Hixai. Aku sudah mempersiapkan segalanya. Dari kata-kataku ini aku berharap kamu juga ikut terlibat didalamnya”, Malik memohon.
”Iya...sih aku sudah tahu. Kalau dikomplekku sudah ada yang mewakili. Tapi aku kan bukan santri komplek ini dan apakah aku bisa melakukan deklamasi puisi”.
”Masalah komplek sebenarnya dipermasalahkan. Cuman bagi santri yang ikut di madrasah diniyah komplek lain di izinkan untuk bisa dilibatkan. Walaupun kita sudah lulus, namun kita anggap kamu adalah bagian dari kami. Bahkan Ustad Sobirin sudah memberikan lampu hijau dan mengusahakannya.”.
”Tapi...kita kan sudah lulus madrasah diniyahnya. Kalau aku sih, siap-siap saja kalau kamu memberikan kepercayan kepadaku. Pasti aku berusaha semampuku”.
”Ya...ngap apa-apa sih, yang pentingkan kita pernah satu madrasah diniyah”.
Kata kesepakatan muncul dari mereka berdua. Mempersiapkan deklamasi puisi dalam festifal gelar budaya pondok pesantren. Fahmi dan Malik juga ikut senang dan merasa mendapatkan harapan yang memang sudah dipersipakan jatah untuk Ardi. Kini mereka berempat mempersipakan segalanya. Apa lagi waktu tinggal kurang dua hari. Jatah tampil bagi santri putra berbeda dengan santri putri, namun tetap pada hari yang sama. Hanya santri putri sudah ada panggunya sendiri. Tampak keseriusan keempat pemuda tersebut.
Naskah puisi yang telah dibuat Malik telah jadi. Fahmi pergi untuk memfoto copy. Agus dan Ardi mempersipakan peralatan yang akan mengiringi pementasan. Sedangkan Malik sendiri masih sibuk mendesain kostum yang telah ia persiapkan. Dia memiliki sedikit keahlian dibidang desain yang diajarkan orang tuanya dulu waktu ia masih duduk dibangku sekolah Tsanawiyah.
Segala persiapan sudah beres. Kini keempat pemuda pergi menuju tanah lapang di dekat seberang sungai pondok. Pohon-pohon rindang mengundang jerit sang belalang. Rerumputan melantunkan syair-syair kehidupan. Semuanya, alam tersenyum merdu memanjatkan puja-puji asmara.
Pohon mangga menambah suasana, namun buahnya masih kecil-kecil. Lebat daunya menutupi keharuman bunga-bunga yang kelak akan menjadi mangga yang masyak. Keempat pemuda tersebut berteduh dibawah pohon mangga tersebut. Makanan ringan dan es teh menambah suasana hangat untuk semangat berlatih deklamasi puisi.
Keseriusan untuk belajar tetap menentap pada hati mereka. Kesungguhan dalam menjalani sesi-sesi latihan menambah gairah tersendiri, apa lagi sore hari tampak cerah. Cahaya matahari menyapanya hingga ucapan salam sinarnya mengenai wajah-wajah mereka. Sungguh keharmonisan telah muncul.
”Sudah hampir tiga jam kita latihan. Bagaimana kalau kita istirahat sebentar dan menikmati hidangan ini”.
Terlihat sekali bahwa Malik memang menghargai segala proses yang telah dilalui teman-temannya hingga persipannyapun sudah sembilan puluh persen jadi. Tinggal sesi pelatihan deklamasinya saja. Wajahnya mengisyarakan kegembiraan tersendiri.
Ketiga temanya sangat menyadari akan hal itu. Ini semua untuk sahabatnya.
Dan Malikpun demikian, terima ksih banyak atas bantuannya.
Keempat pemuda tersebut istirahat dan mengakhiri latihan kali ini. Kegirangan muncul, wajah-wajah berseri seperti bulan purnama yang menerangi kegelapan. Keringat-keringat perjuangan membasahi pakaian lusuh mereka. Tak henti-hentinya mereka bermimpi, semoga juara ada di tangan kita. Malik hanya bisa tersenyum Bangga.
* * *
Pementasan segera akan di mulai ntar malam. Malik masih sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Di masukanya kostum dan peralatan lain kedalam tas besar yang memang sudah ia persipakan untuk membawa perlengkapan pentas. Sahabatnya yang lain juga ikut membantunya.
Malik hanya bisa berpesan, ”kita melakukan ini hanya untuk eksistensi komplek kita dan kita harus optimis untuk mendapatkan gelar juara itu. Apa lagi ini merupakan ritual tahunan, sedangkan tahun kemaren komplek kita ini tidak ikut memeriahkannya”.
Ketiga sahabatnya memberikan obor semagat. Kini ketiga pemuda tersebut merangkul Malik. Ia hanya pasrah menerima pelukan hangat itu.
”Kita akan menjadi pemenang, sahabatku”.
”ya...kitalah pemenangnya”.
Malik merasa terharu dan ia tak sanggup untuk mengeluarkan air matanya.
Malam puncak pementasan deklamasi puisi dalam rangka gelar budaya pondok pesantren segera akan dimulai. Gemerlap lampu panggung memberikan kemeriahan sendiri. Tampak para Kiyai sudah memenuhi kursi yang paling depan. Sedangkan para ustad-ustad sudah ada di belakangnya. Hidangan buah-buahan nampak memberikan ilustrasi yang sangat cantik. Tata pangung yang begitu eksotis memberikan isyarat akan kemerihan festifal tersebut.
Acara tahunan ini terselengara berkat kerja sama Yayasan Pondok Pesantren dengan salah satu produsen rokok. Seluruh komplek memberikan wakil-waklinya sendiri. Hampir 20 komplek yang ada di pondok pesantren mengikuti semua, padahal terkadang ada pesantren yang tidak ikut memeriahkan. Mungkin kendala potensi yang ada pada santrinya. Namun tahun ini sangat berbeda sekali.
Jalan-jalan sangat ramai, penuh sesak dengan pejalan kaki. Pedangang-pedagang kecil juga ikut memeriahkan keramaian ini. Pedagang sibuk mengelar dangannya, dari penjual makanan ringan hingga penjual minyak wangi dan pakaian.
Lantunan pembukaan dan sambutan sesepuh Kiyai sudah terdengar. Tertanda acara sudah di buka. Irama-irama tilawatil Qur’an mengarah ke angkasa mencerahkan suasana malam. Gema shalawat mengharu biru diantara pelataran panggung. Sungguh indah suara-suara lumuran mulut yang dipenuhi zikir-zikir Illahi.
Hari ini sangat berbeda dengan hari biasanya. Perbedaan itu terletak pada jalan-jalan yang dipenuhi santri termasuk santri putra dan putri. Akan tetapi jangan maen-maen dengan santri putri, mendekati ataupun sampai engakau ajak kenalan. Ada keamanan pondok disetiap jalan. Memang ada beberapa keamanan saja, namun bisa saja yang kita anggap tidak keamanan itulah polisi pondok. Mereka bisa menyamar jadi apa saja dan terkadang berada di tempat-tempat yang tidak terduga.
Para peserta sudah memenuhi kursi-kursi yang telah disediakan oleh panitia. Para penontonpun sudah banyak memadati hingga bangku yang dipersipakan kurang. Dalam hal ini memang sudah diatur, bagi mereka yang datang terlambat yang ingin melihat pertunjukan kali ini hanya bisa berdiri. Terlihat teman-teman komplek sudah berada dibelakang kursi Ustad Sobirin. Abah Yai di dampingi oleh Ustad Sobirin, ia bingung menoleh kearah kiri dan kanan.
”Kemana Malik dan kawan-kawan”, Ustad Sobirin harap cemas kepada mereka
”Wah..aku tidak melihatnya Ustad, mungkin masih mempersiapkan diri”, jawab salah satu santri.
Kecemasan sungguh nampak dari wajah Ustad Sobirin, apa lagi tahun kemarin komplek El-Hixa tidak mewakilkan santrinya. Bahkan sampai Abah Yai datang menghadiri festifal tersebut.
Padahal sudah nampak para peserta komplek lain memenuhi kursi yang telah di sediakan khusus. Namun terlihat bangku itu kosong. Bahkan malahan dipenuhi oleh santri lain.
Peserta sudah mulai unjuk gigi. Terlihat deklamsi yang dibacakan sangat bagus-bagus. Sudah hampir lima komplek maju ke depan membacakan hasil karyanya. Ustad Sobirin semakin penasaran pada mereka berempat. Bahkan dalam benak hatinya, jangan-jangan dia lari dari tanggung jawab. Sungguh sangat malunya aku, jika Malik dan kawan-kawan tidak datang. Tapi aku tetap percaya pada mereka, aku sudah sangat percaya pada mereka.
Dasar persahabatan yang aneh kebiasaan lama sulit di hilangkan. Malahan mereka asyik ngopi dan menikmati makanan ringan. Mata-mata itu memandang ke arah jalan yang dipenuhi sesak para santri. Nyeleneh sekali sifat mereka, dari dulu tidak pernah berubah. Konsistensi tetap dipegang.
”Lik, bagaimana ini. Kalau Ustad Sobirin mencari kita”, Fahmi penasaran untuk meminta jawaban Malik.
”Santailah Mi, nikmati aja pemandangan malam ini. Jarang-jarang lho kita dapat memandang santri putri. Apa lagi kita di warung, jadi mata kita bebas melirik. Walaupun ini salah satu maksiatul ’ain atau dosa mata”, gaya khas Agus mulai keluar.
”iya...benar kata Fahmi. Gimana sih Gus, malahan kamu enjoy segala”, Ardi ikut-ikutan.
”Ya...ya..., kita mendapatkan urutan ke 14. jadi masih ada banyak waktu. Kan terdengar suara pengilan peserta dari sound sistem. Gini-gini aku juga berfikir demikian, sebenarnya sangat jelek tingkah kita sih. Lha...maka dari itu kita berikan kejutan yang menarik”, ok...kata Malik.
Malik sangat percaya diri dan sahabatnya hanya bisa pasrah. Mata itu mengembara bebas. Tiba-tiba mengenai sasaranya. Mata Malik tertuju pada salah satu santriwati yang berjalan berempat, seperti bayangan persahabatannya. Malik terpesona pada wajah itu. Siapa gerangan wanita tersebut, pekik dalam hatinya. Lamunan mata itu mengemban rasa simpatik.
Andai saja aku dapat berkenalan dengan dirinya. Sungguh bahagia hatiku. Tapi apakah aku bisa mendekatinya, sedangkan keamanan saja aku tidak bisa menebaknya. Apakah aku harus mengampirinya. Tanpa pikir panjang Malik melangkahkan kakinya keluar dari warung kopi. Teman-temanya terpana kaget. ”Mau kemana kamu Lik”, sahabatnya hanya bisa merelakan dia pergi. Tapi kecemasan semakin melanda perasaan mereka.
Ada-ada saja yang dilakukan Malik. Dengan ulah dan tipu daya yang ia pelajari dari berbagai film, khusunya film India. Ia beranikan diri untuk mendekati wanita tersebut, namun dengan gaya yang berbeda. Layaknya orang yang ingin kenalan mendekat dalam satu perjalanan. Tapi ia berbeda, kan masih ada polisi pondok yang berkeliaran bertugas mengamankan segala hal yang menyangkut acara festifal.
Tanpa disangka Malik telah mengikutinya dari belakang. Ia sungguh nekat, melalui trik jitu ia berusaha mendahului langkah wanita tersebut. Tak disangka sesuatu hal yang ia rencanakan gagal total. Semenjak ingin mendahului, tanpa sepengetahuannya ingin nyalip malahan ia tidak melihat lubang jalan dihadapanya. Ia terjatuh, namun sungguh beruntung jatuhnya tepat di samping santriwati tersebut. Gerombolan santriwati itu terperangah kaget.
”Hati-hati Mas, kalau jalan lihat-lihat dong”, salah satu santri malahan ngomel kehadapan Malik.
”Atau jangan-jangan kamu ngefans pada kami ya”, santriwati lain menimpal.
”Udah...udah kalian ini. Ada orang jatuh kok malahan di omelin”, wanita yang menjadi harapan itu mengutarakan keindahan suaranya.
Bagaimana Mas tidak apa-apakan. Suara itu muncul dari mulut yang cantik, secantik wajahnya yang bersinar ditengah malam. Malik hanya bisa diam seribu bahasa, mulutnya seperti terkunci. Sungguh anggun wanita ini, suaranya, perilakunya. Walaupun aku baru berjumpa dengannya, tapi ini sangat lain sekali. Hati Malik sangat bergejolak. Ia pun bangun dan mengucapkan terima kasih.
”Maaf ya sudah mengkagetkan kalian. Siapa ya namamu..?”, Malik memberanikan diri untuk bertanya.
Di kasihnya satu lembar tulisan. Sepertinya aku mengenalnya, ya...ini adalah bahasa puisi. Pasti ini adalah puisi. Bahkan ada inisial namanya dan bahkan nama kompleknya. Aku mengenal komplek ini. Komplekku sendiri. Tapi kenapa aku baru melihatnya kali ini ya.
”Salam buat sahabat-sahabatmu”, ucapan perpisahan melantun merdu.
Semua berlalu Malikpun kembali. Hatinya berdebar-debar. Untung saja polisi pondok tidak melihat aku. Kalau melihat bisa runyam masalah ini, bahkan mungkin aku bisa dikeluarkan dari pondok. Tapi Malik semakin penasaran, kok tahu ya…kalau aku memiliki sahabat. Ia telah samapai.
“Dari mana saja kamu Lik”, Fahmi gusar.
”Pasti kamu kenalan ama santriwati ya. Kan aku sudah membaca wajah dan ratapan matamu. Aduh sahabat kita merasakan getar-getar cinta”, canda Agus.
“Maaf sobat. Benar apa yang dikatakan Agus. Bahkan aku mendapatkan satu carik kertas bertuliskan puisi yang Sangat bagus”.
Dengan tangan yang cekatan Agus mengambil secarik kertas yang telah diletakan Malik diatas meja. Agus mengamati. Di situ tercantum nama Vinta, tapi siapa nama lengkapnya ya…. Lha inikan inisial komplek kita. Agus semakin penasaran.
“Bagaimana wajahnya, apakah dia cantik”
“Semenjak aku ngobrol dengan kalian disini. Mataku ini terperangah kaget. Untung saja tida ada keamanan. Dan aku dapat menghampirinya. Pokoknya top markotop deh”.
Ini adalah puisi. Atau jangan-jangan Vinta ini mewakili komplek kita. Kan kita tahu kalau santri putri kita tidak pernah absen mengikuti fistifal tahunan ini. Walaupun tidak pernah menyabet juara, pernah satu kali yaitu tiga tahun yang lalu hanya mendapatkan juara tiga. Fahmi semakin menyadari akan hal itu.
”Kalau begitu coba kita pindah tempat lain. Mendengarkan lantunan puisi ini. Kita mencari tempat untuk bisa mendengarkan puisi dari jarak dekat panggung santri putri”, Ardi memberikan idenya.
”Gimana to kamu, Ar. Kok malahan nekat. Ini saja kita sudah meninggalkan acara kita. Malahan cari masalah lain”, Fahmi semakin tidak percaya pada ucapan-ucapan sahabatnya. Memang persahabatan ini sangat nekat.
Merekapun berlalu pergi meningalkan warung kopi. Nekat melakuikan hal yang aneh. Memang mereka sangat aneh. Sampailah kepada tempat yang nyaman. Sambil dilebarkannya secarik puisi tersebut diatas rumput. Kepulan asap rokok memutihkan muka-muka yang sangat penasaran. Hampir sepuluh menit ia menunggu, tapi belum juga mendengar puisi yang dibacakan mirip dengan puisi yang telah dibentangkan. Terdengar pangilan nama Arumia Lavinta Ningrum.
”Pasti ini orangnya. Itukan ada inisial Vinta. Pasti aku ngak salah”, Agus sangat menyadari akan hal itu.
Kuping-kuping itu mendengarkan seksama. Irama deklamasi suara tersebut sangat mengiris hati-hati yang dipenuhi rasa asmara.
Hanya Satu Kata
Ku ingin berhayal tentang dirimu
Namun kuakui aku tak mampu
Melukismu di langit ke tujuh
Lemah hatiku telah padam
Di serang ribuan tombak
Mulut terberai merah darah
Atas luka lidah bisu
Muka hilang berselimut
Sinar mentari telah pakai topeng
Tidak lagi mau berkisah
Pancaran redup tertelan angin
Seruling Daud tak lagi merdu
Ketampanan Yusuf entah kemana
Kecantikan Zulaikah hilang lembut rambutnya
Sulit lagi tuk di bayangkan ya...sampai di situ
Batas nalar dan...
Hanya bisa menjadi gila
Ini adalah petikan puisi yang telah dibacakan. Tapi kok masih panjang, padahal disini cuman sampai pada kata gila. Mungkin ini hanya sedikit serpihannya. Merekapun terpana pada suara Vinta yang begitu merdu. Sekilas mereka terkagum, apa lagi beberapa waktu sudah mendengarkan pembacaan deklamasi dari peserta lain.
Keempat pemuda tersebut berlalu pergi meningalkan arena panggung santri putri. Mereka belum disadarkan sebenarnya waktu sudah mendekati untuk segera tampil ke panggung.
Terlihat Ustad Sobirin semakin gusar bulana. Sebentar lagi Malik akan tampil, kok belum juga datang ya. Abah Yai semakin penasaran melihat tingkah Ustad Sobirin yang terlalu gusar.
”Ada yang dipikirkan”, tanya Abah Yai
”Ya...sih Bah. Malik dan sahabatnya belum datang”.
”Tenangkan dirimu. Kalau engkau sangat mempercayai mereka. Pasti mereka akan bertanggung jawab”, suara lirih merdu keluar dari mulut seorang Kiyai yang sangat bijak.
Sesungguhnya salah satu pintu masuk menuju kemenangan adalah, ketika kita mampu saling mempercayai dan bertanggung jawab atas hal yang telah di amanahkan. Keyakinan akan potensi, bakat, dan kekuatan pada setiap diri insan, akan membuat setiap insan yang berpegang teguh mendapatkan keistimewaan dan kemulyaan.
Janganlah ragu akan amanah wahai sahabat, bila kita sudah berbicara tanggung jawab. Dan terkadang orang lain mengangap remeh, mari kita buktikan perjalanan ini. Maka kita akan menjadi orang yang paling bahagia mendapatkan kesuksesan.
Keempat pemuda telah memakai kostum ditengah perjalanan. Para penguna jalan, terpana melihat kejangalan mereka. Ini bukan pesta kostum, kok mereka berpenampilan aneh. Layaknya malaikat dengan sayap-sayapnya menghempas angin malam.
Penguna jalan hanya bisa terheran-heran. Pemuda tersebut hanya bisa percaya diri dan bersikap cuek. Apa lagi soal mental, sudah kebal kali yeee.
Sudah nampak dekat panggung yang berdiri didepan pelataran kantor Yayasan. Nama Malik terdengar di sound sistem dengan nomor urut 11. Di persilahkan untuk maju kedepan panggung. Sejenak tidak nampak Malik di atas panggung. Ustad Sobirin dan santri lain semakin harap-harap cemas. Kemana gerangan mereka sudah dipangil kok belum datang.
Dentuman suara manusia yang mirip lantunan syair-syair cinta mengempas ke arena panggung dan tempat-tempat di sekelilingnya. Hamparan kertas putih diterbangkan oleh tangan yang berbalut kain putih. Kertas itu terbang seperti bunga Sakura yang jatuh di musim dingin.
Para pengunjung, santri, panitia kegiatan, ustad dan bahkan para kiyai terpana kaget dengan alunan syair tersebut. Mereka hanya bisa menoleh ke belakang, nampak empat pemuda saling sahut-menyahut dan memperagakan aksi teaterical. Ustad Sobirin merasa bersyukur mereka sudah datang, walaupun belum sampai kepanggung mereka sudah melantuklan deklamasi puisi.
Syair-syair deplomasi perjuangan, melanda di pesanteren tercinta. Kemana hendak kau arahkan. Arahan angin sudah bosan menerima hadirmu. Keempat pemuda telah sampai diatas panggung. Lilin-lilin yang meyala diatas piring memberikan terang cahaya. Mereka menari layaknya tari Jaipong dari Jawa Tengah. Rasa takcup keluar dari mulut Ustad Sobirin.
Berbeda dengan Malik, jiwanya semakin melayang. Ia masih teringat dengan paras manis itu. Namun ia masih sadar dalam posisinya. Dia harus membuktikan bahwa dirinyalah pemenangnya. Jika kita percaya pada diri kita. Akan semakin mudah melalui rintangan ini.
Tarian atas panggung dan lantunan puisi kemenangan telah menjalar masuk kerelung hati yang merasakan ketakjuban kata-kata dan suara Malik yang begitu khas. Serta ditambah suara Agus yang memang didesain mirip dengan suara wanita. Lilin-lilin itu mati. Dibukanya kostum, nampak ayat-ayat Al-Qur’an terpampang pada lekuk tubuh mereka:
“Dan di antara orang-orang yang kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan”. ( Al-Araaf ayat 181)
Ucapan salam dengan menundukan kepala mengisyaratkan berakhirnya deklamasi mereka. Tanganyapun melebar menyalami bumi. Selamat malam dan walaikum salam.
Para penonton bertepuk tangan menyambut akhir pementasan mereka. Terlihat dewan juri saling ngerumpi sendiri. Mungkin tidak percaya ada suatu hal yang aneh dalam penampilan deklamasi kali ini. Seringnya mereka hanya satu orang, paling banyak dua orang. Tentu yang paling mengejutkan adalah properti yang digunakan mereka. Dilihat tampak mahal, padahal sungguh sangat sederhana.
Merekapun turun dan menyalami Abah Yai dan Ustad Sobirin. Para teman-temannya hanya bisa memberikan up-plus atas penampilannya. Ustad Sobirin sangat bangga terhadap mereka. Ada-ada saja yang mereka lakukan.
* * *
Acara sudah berakhir tinggal pembacaan skor oleh dewan juri. Empat dewan juri naik keatas panggung membacakan hasil deklamasi puisi.
Pembacaan dimulai dari juara harapan tiga yang didapatklan oleh komplek As-Saidiyah. Juara ketiga didapatkan komplek Al-Muhajirin, ini adalah kompleknya Ardi. Sedangkan untuk kategori juara kedua dimenangkan oleh komplek Al-Muhibbin.
Mereka, santri dan Ustad Sobirin hanya bisa bedoa semoga ini adalah kemenangan untuk kompleknya. Padahal mereka hanya bisa berharap tidak muluk-muluk, cukup bisa naik podium.
Kini mereka hanya bisa pasrah. Dan mengucapkan kemenangan. Dewan juri telah menunjuk bahwa komplek El-Hixa sebagai komplek yang mendapatkan anugerah tahunan itu. Serentak mereka kegirangan dan saling berjabat tangan dan berpelukan. Tidak terkecuali Abah Yai juga memberikan ucapan selamat. Hampir tidak pernah terbayangkan, ini baru pertama kalinya komplek kita ini mendapatkan gelar terbaik.
Dewan juri hanya bisa mengucap, kreatifitas bisa timbul dari hal yang terkadang tidak berguna. Terkadang ada sesuatu hal yang terkadang kita anggap sepele namun hal tersebut memiliki nilai. Seperti penampilan Malik yang jauh dari perkiraan dewan juri.
Malam semakin larut. Panggung-panggung sudah dibenahi oleh panitia. Kebersihan sudah menjadi tanggung jawab para santri. Persahabatan itupun melakukan ritualnya menyambangi warung kopi.
“Terima kasih Ar, kamu sudah ikut berpartisipasi dan membawa gelar juara”, Malik mengulurkan tangannya.
“Sobat mari lanjutkan kemengan kita dengan ngopi dan makan nasi goreng”, Agus nyeletuk pembicaraan mereka.
“Ya...iyalah”, Fahmi kegirangan sambil dipandanginya piala yang ikut mampir diwarung kopi.
Merekapun menikmati malam ini dengan rasa kepuasan. Berbeda dengan Malik, walau sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Pikiran-pikiran diatas pangung masih saja mengingatkannya kepada santriwati bernama Vinta. Suatu saat pasti aku akan bertemu engkau kembali. Kata hati mucul dari balik sanubari Malik.