Thursday, March 19, 2009

Jerit Pikiran (Part 6)


Lalu lalang kendaraan tak henti-hentinya berhenti, begitulah irama jalan. Apalagi jalan yang dipadati dengan truk-truk besar pengankut barang. Begitulah nampak jalan besar penghubung antara Demak dan Semarang. Pabrik-pabrik menambah suasana hangat keramaian jalan pantura. Toko-toko kecil dan warung-warung makan berjajar diantar pinggiran jalan. Banyak jalan berlubang yang baru tiga hari perencanaan jalan untuk diperbaiki. Sungguh padat sore ini.
Ditambah pula pembawa sepeda yang baru pulang dari bekerja di pabrik. Tampak wajah mereka sangat sumeringah. Walaupun sebenarnya mereka telihat sangat capek. Tapi semangat untuk pulang, telihat jelas. Mungkin hari sabtu ini mereka mendapatkan gaji. Sungguh bahagianya mereka, walaupun sebenarnya mereka hanyalah masyarakat yang termajinalkan dari bangunan-bangunan megah pabrik. Acapkali mereka hanya bisa menjadi buruh pabrik. Kebanyakan mereka hidup diantara bangunan tersebut. Di daerah sekitar yang terkadang terkenak dampak berupa limbah pabrik.
Aku pacu kendaraan dengan santai. Bersama adikku hendak menikmati sore ini dengan penuh kedamaian. Meski jarak menuju kota Semarang sangat jauh dari rumah kami. Namun kami sangat menikmatinya. Ibu kami tingal disendiri di toko bersama kedua karyawannya. Meski keseharianku pergi ke jantung Jawa Tengah, namun untuk adikku Luna sangat berbeda. Dia masih menjadi putri daerah sedangkan kampusku masih dikota ini. Melihat kota ini terkadang menyimpan cerita bagi adikku, dia sering tersenyum sendiri jika melihat-lihat aneka produk di mall-mall yang berdiri megah ditengah kota.
Di balik rimbun robot mesin, kendaraan berjejer terpakir diarea bawah bangunan mall Ciputra. Kita sudah sampai ditempat tujuan. Aku pandangi adikku tampak senang sekali. Mata ini hanya bisa melirik kiri dan kanan, banyak orang yang mulai berdatangan. Tempat orang untuk melepas lelah dalam keseharian. Ada sebagian orang mengantri di sekitar liff. Aku dan adikku tidak ikut mengantri, kami menaiki tangga. Satu dua langkah kaki-kaki ini melangkah dengan sigap dan cepat. Kita sudah sampai, banyak insan muda mudi melepaskan kepenatan.
“Pasti setiap malam minggu tiba, banyak orang berdatangan ditempat hiburan seperti ini’, ungkap Luna
“Biasa merekakan juga butuh refresing”, sedikit aku keluarkan kata-kata
“Kak, ntar belikan aku boneka ya”, adikku mulai meminta.
“Ya...pasti ta...ya, terserah ntar tinggal pilih yang mana”. Aku hanya bisa memberikan jawaban yang sekiranya menyenagkan hati adikku. Untung saja aku masih memiliki sedikit tabungan. Apa lagi jalan sama adik pasti segala sesuatu sudah dipersiapkan. Khususnya masalah keuangan, jika tidak membawa apa-apa dari refresing ini kan tampak aneh. Apa lagi jarang bersama adik tersayang lho.
Di antara lentik jari yang bergoyang musik-musik mall melantun indah. Kaki-kaki ini melangkah tanpa arah. Di balik manis wajahnya tersembunyi bermacam-macam keinginan.
“Capek, dari tadi jalan terus”, gerutunya. Senyumnya mengembang
“Kalau mau istirahat. Ya berhenti, kita mampir di kafe dulu”.
“Ngak ah, aku ingin lihat-lihat boneka dan sandal-sandal yang terpajang rapi dirak”.
“Sana dipilih kesukaanmu. Paling juga pilihnya boneka kucing”.
“Di kamarkan sudah ada. Cari yang beda ahhh”.
“Kamu ini. Aneh-aneh aja”. Ku pegang tangannya. Halus kulit putihnya terasa. Gadis polos yang paling dimanja ibu. Lalu tangan ini merangkul pundaknya. Serasa seperti berjalan bagai sepasang kekasih. Tingginya hampir menyamaiku, namun lekuk tubuhnya seperti orang yang sudah dewasa. Rambutnya terurai panjang, seindah tatapan matanya.
“Lihat tu kak, bonekanya tampak cantik ya”.
“Mana, sebegitu aja kok cantik. Terlihat seram tahu. Itukan boneka macam, jadi ya serem kalau sekedar boneka ya memang imut sih.
Dibelainya benang-benang halus khas sulaman tangan. Benar juga, ungkap hati kecilku. Tentu ada bedanya, itu hanya sekedar boneka. Aku terdiam beberapa saat dan memandanginya yang tampak serius memilih-milih. Diliriknya jam tangan yang dibelikan ibunya.
“Kak, kayaknya ini udah maghrib deh’, memperlihatkan arah jarum jam yang sudah menunjukan pukul enam lebih.
Memang tidak terasa jika dari tadi ngorol sambil pilih-pilih hal yang di sukai. Rasanya ingin menjawab iya, tapi mulutku terbungkam. Apa lagi memang aku sudah tahu. Dari tadi aku juga sudah memandang jam yang ada di HP.
“Sana kak shalat dulu. Biar aku disini pilih-pilih bonekanya”, perintahnya.
“Ya deh kakak tak shalat. Jika di mall terkadang suara adzan bakalan tidak terdengar. Apalagi bising musik yang selalu berbunyi dan keramaian langkah kaki manusia yang sedang mencari kerinduan atas kedamaian yang telah hilang karena seharian bekerja.
“Kalau gitu, kakak tak pergi dulu. Hati-hati ya”, bilangku kepadanya. Sedikit langkah kakiku berbelok mencari arah. Masjid Baiturahman yang berada si simpang lima, terletak disebrang jalan.
“Hai, Lik”, terdengar ada sedikit suara memangil namaku. Telinga ini mendegar jelas kalau ada orang yang memangil. Aku menoleh ke kiri dan ke belakang. Belum nampak orang yang memangilku. Siapa yang memangil namaku ya, atau prasangkaku aja. Ungkap batinku.
“Hai, friend”. Mendadak tubuhku dikagetkan dengan sentuhan tanganya. Aku terkaget.
“Dasar! Kaget tahu”. Wajahku agak sedikit kesal. Gimana coba kalau aku jantungan bisa berabe dong.
“Soory. Ngapain kesini. hayooo pasti lagi. Ehemmmeehhemm”, ledeknya.
Rizal menatap tajam. Arah matanya bertanya-tanya penasaran. Di dektanya ada seorang gadis yang sudah aku kenal. Teman satu kampus tapi hanya beda fakultas. Tanganya mententeng belanjaan.
“Wahh...kayaknya lagi dapat kirimana uang nih, kok banyak belanjanya”, sedikit sindiran arahkan kepada rizal.
“Jangan aneh-aneh ya. Kita disini dari tadi, tentu banyak pilihan hanya sekedar pakaian dan makanan ringan. Lha kamu sendiri ditanya kok ngak jawab”, Ririn pacarnya tampak tersipu malu. Dipegangnya tangan Ririn.
“Biasa to ya...namanya anak muda. Kamu aja bisa berduaan kok, ha..haaa,. sorry Rin. Ini rizal sukanya bercanda.
“Mana nih pasanganya”, Rizal semakin ada-ada saja.
Tiba-tiba luna datang sambil memegang tanganku. Tampak tangannya ini menandakan kalau dia ingin segera mengajakku atas pilihan bonekanya. Dia nampak tersipu malu apa lagi dihadapannya dia meliahat temanku si Rizal bawa pasangan.
“Kak, dari tadi aku tunggu. Shalatnya kok lama banget sih. Tak tahunya enak-enakan ngobrol ama temanya temanya. Aku tidak mampu menjawabnya, dari tadi ngobrol sama Rizal.
“Pasti teman kak Rizal dikampus ya”, mendadak Luna bertanya kepada Rizal.
“Iya...teman satu kampus. Adek sendiri namanya siapa dan kuliah dimana. Kok rasanya kalau dikampus belum pernah aku melihat adek, boleh tahu dong”, tangan Rizal sambil menyubit diriku. Bahkan pacarnya Ririn ikut-ikutan nyubit namun bukan ke arahku.
“Dia namanya Luna. Adikku”, mendadak mulutku yang menjawabnya
“Masyak sih, aku ini bertanya kepadanya. Bukan kepadamu”, bilang Rizal yang nampaknya penasaran.
“Iya...benar. Aku adiknya kak Malik”, jawan Luna atas penasarannya.
“Adek apa adek”.
Rizal mulai aneh-aneh pertanyaanya. Aku tidak mampu menjelaskan. Apalagi dia belum pernah ketemu adikku jika aku ajak kerumah. Pasti jika ke rumah, Luna bertepatan waktu sekolah. Kalau tidak pasti kebetulan dia membatu ibu di toko.
“Iya benar dia adikku. Ku belai rambut Luna”.
“Oh...adiknya ta. Wah kebetulan bisa ketemu. Iya...Malik pernah cerita kalau dia mempunyai adik yang paling disayanginya”, ririn ikut-ikutan angkat bicara. Luna hanya tersipu malu. Sedangkan rizal hanya terdiam keriput.
“Kok ngak pernah cerita kepadaku sih”
“maaf deh”.
“ya...dah aku percaya saja”, Rizal hanya pasrah menerima jawaba. Apa lagi yang baru angkat bicara pacarnya sendiri. Tidak berkutik rasanya si Rizal itu.
“Kalau gitu, sampai jumpa. Selamat menikmati malam minggu ini dangan indah”, Ririn mengandeng tangan Rizal. Tampak tergesa-gesa tingkah laku mereka berdua. Sungguh pasangan yang cocok. Mereka pergi entah kemana, apa lagi episode malam baru dimulai.
“Ngak pakai lama”, Luna menarik tanganku. Barang kali ia takut kalau pilihannya diambil orang duluan.
“Ini pilihannya. Sudah yakin kalau pilih, ngak yang itu”, tanganku menunjuk salah satu boneka yang nampak imut. Berusaha meyakinkan. Aku keluarkan uang seratus ribu, ku kasihkan kepadanya. Dibandrol harga boneka itu terlihat jelas harganya yang hanya tiga puluh lima ribu.
Luna pergi ke kasir. Aku hanya menungku. Dia ikut ngantri, hari ini banyak yang belanja. Di kasihnya boneka pilihanya kepada seorang pekerja perempuan yang nampaknya masih muda. Senyumnya manis sekali. Ihhh...ada-ada saja pikiranku.
Aku hanya bisa tersenyum, tiap kali mengajak Luna pasti banyak pilihan. Tentu hanya banyak pilihan, belinya tetap satu. Suara malam, mulai riang terdengar. Ac mall sudah nampak dingin aku rasakan. Sesaat baru aku sadari betapa bulu kudukku mulai berdiri. Ini karena dinginya ac atau pikiranku yang aneh-aneh memikirkan Rizal dan Ririn, tapikan mereka ideal.
Setelah beberapa menit menunggu, Luna datang dengan membawa bungkusan plastik yang berisi boneka. Dengan rasa senang Luna mengandeng tangan kakaknya yang tercinta. Agaknya kegembiraan sangat terlihat dari paras-paras lugu itu. Begitu senyumnya kelihatan, Luna terlihat bertanya.
“Kak, kita langsung pulang ya. Pasti ibu mencari kita”.
Aku hanya bisa mengangguk setuju. Kulihat Luna ingin memperlihatkan boneka tersebut kepada ibu. Aku ingin tersenyum seperti dia, menyadari bahwa senyuman akan memberikan sedikit kedamaian. Luna semakin erat memegangku. Maka kusimpan rasa bersalahku, sebab tadi aku tidak sempat menjalankan shalat maghrib.
Dengan perasaan bahagia bercampur senang, kami melangkah keluar menuju tempat parkir kendaraan. Lalu ku starter menuju keluar arena parkir. Kami memutar lewati lapangan simpang lima. Sungguh ramai di sana banyak pedagang kaki lima menjajakan dagangannya ditrotoar pejalan kaki. Jalan sedikit macet, dikarenakan banyak orang yang menyebrang menuju lapangan pedagang. Kami tidak sempat mampir ke situ, mungkin karena Luna sudah mendaptkan apa yang ia inginkan.
Kami melaju agak kencang. Luna tidak memakai jaket, tapi jaket yang aku bawa aku berikan kepadanya. Untuk menutupi tubuhnya biar tidak kenak angin malam. Aku takut kalu ntar kenapa-kenapa. Bagiku angin malam hanyalah sahabat malam, walau tubuhku kecil namun aku sangat tahan dengan angin malam. Sampai dirumah paling-paling hanya dua puluh menit, apa lagi rumah kita masih perbatasan dengan kota Semarang.
* * *
Kami sudah sampai rumah waktu menunjukan hampir mendekati setengah sembilan. Dengan perasaan was-was kami berjalan agak takut sebab kamu pergi tanpa sepengetahuan ibu.
“Pasti ibu lagi nonton tv”, bisik luna
“Bisa jadi”.
Kami sangat tegang dan agak takut biasanya Luna kalau pergi selalu izin, sedangkan aku tidak bisa seperti dia. Sudah menjadi kebiasaan jelek ha ha. Aku membuka pintu, “assalamualaikum”, aku mengucap salam. Terdengar jawaban dari ibu. Ibu sudah mengira kalau yang datang kami, maka dia tidak beranjak keluar. Apa lagi suara khasku yang mudah dihapal. Luna langsung menghampiri ibu, sedangkan aku hanya bisa melongok sebentar dan langsung duduk bersama ibu. Luna memperlihatkan boneka yang baru ia beli. Ibu hanya bisa tersenyum kecil.
Kulihat Luna dan aku amati wajah ibu. Kami saling bertatapan mencari suatu kesepakatan supaya ibu tidak marah. Kami berdua hanya bisa mengucapkan satu dua kalimat.
“Anak manis beli boneka lagi, coba sekarang katakan, kenapa Luna tidak izin ibu. Pasti kakakmu yang mengajak. Jadinya kamu seperti ini”, tandasnya dengan sedikit sindiran.
“Ya...bu”, Luna menatapku
“Sana kalian makan dulu, pasti belum makan malam kan. Ibu sudah persiapkan untuk kalian”, perintah ibu.
Kami langsung menuju ruang makan. Luna tampak tertawa-tawa kecil memandangku. Dasar kamu ini, enak-enakkan. Aku deh yang kenak semprot ibu.
“Kakak sih ngak izin”
“Lha nyatanya kamu juga mau”.
“Tentu dong, apa lagi kakak jarang-jarang mengajakku pergi”.
“Tu dihabisin makannya. Ntar biar tambah gemuk”, nasi yang agak penuh dipiring aku kasihkan kepadanya.
“Apa-apaan nih. Ntar kalau aku gemuk beneran gimana, kan ngak cantik lagi. Kakak tuh yang harusnya banyak makan, badan seperti tulang semua”, agak tidak terima dan sedikit centil
“Ya deh”, aku kasihkan lauk kepiringnya. Lunapun begitu. Kita saling mengambilkan satu sama lain.
Kamipun merasakan kenikmatan. Bersama-sama dengan lahap menghabiskan yang terhidang di meja makan. Luna membuatkan minuman dan menaruhnya disampingku. Aku meminumnya. Rasanya nikmat. Tak terasa perut-perut kami merasakan kenyang. “alhamdulillah”, ucap Luna. Aku hanya bisa mendengarkan ucapan puja-puji tersebut.
Aku ambil bungkusan rokok dan korek yang berada di kantong celana. Satu batang rokok sudah berada ditanganku. Kulanjutkan korek aku nyalakan, tanpa sepengetahuanku Luna mengambil korek itu dari tanganku.
“Bawa kemari koreknya”, pintaku
“Pasti deh. Habis makan langsung ngerokok. Ngak baik untuk kesehatan, tubuh kakak kan sudah kurus”, ceramah mulutnya mulai lagi
“Sini cepat. Ntar kakak marah lho”.
“Coba. Aku mau melihat kakak marah”, ledeknya
Di nyalakan korek itu kearahku. Rokok ini kuhadapkan ke arah api. Aku percaya kalau Luna hanya iseng, pasti dia ingin menyalakan apinya untukku. Kamipun beranjak pergi dari ruang makan dan menuju ke ruang keluarga bersama ibu menonton sinetron kesukaannya. Luna duduk tepat disamping ibu. Sedangkan aku agak menjauh dari mereka. Asbak sudah ada dihadapanku. Kami bertiga menikmati tontonan televisi malam. Tampak makanan ringan selalu ada di meja kelaurga. Ibu menikmatinya dan serius mengamati jalan ceritanya.
“Lik, jangan lupa shalat isyak”, ibu mengingatkan
“Ya, bu”.
Ibu dan Luna menuju kamar masing-masing. Aku masih menikmati camilan dan menonton gala sinema. Kisah cinta diatas sepotong roti, begitulah kiranya judul yang pantas. Sebab ada sesosok lelaki yang berharap cintanya semanis kue tar. Berharap gadis cantik seindah balutan coklat roti. Tapi pemuda itu hanya merasakan manis dibibir kemudian dicampakan. Sungguh kasian tapi ia tetap berjuang untuk mendapatkan cintanya. Ya....bersama roti ulang tahun kemudian ia mendapatkan cintanya kembali. Happy birthday...sayang.
Kisah cinta itu akhirnya berakhir dan akupun kembali kekamar. Masih ingat benar pesan ibuku. Tapi aku tak beranjak ke kamar mandi aku hanya mampu melangkahkan kaki ini ke kamar. Seperti ucapan Luna. Sudah beberapa kali aku membohongi diri. Sering aku tidak shalat. Jika shalat, ketika harus jamaah bersama ibu dan Luna. Aku yang menjadi imamnya. Itupun aku lakukan dengan keterpaksaan.
Ada rahasia apa di balik shalat itu, batin ini tergoda untuk mencari jawaban. Apa lagi aku sudah empat semester duduk dibangku kuliah, jarang sekali aku shalat. Tapi aku ingin terus mencarinya. Akalku semakin tidak percaya pada kelakuanku sendiri.
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al 'Ankabuut ayat 45)
Aku sangat paham bahwa shalat dapat mencegah perbuatan jelek. Namun aku merasa tidak pernah melakukan perbuatan keji dan mungkar. Jadi bisa dibilang, kalau aku tidak shalatpun ngap apa-apa. Apakah hanya dengan shalat untuk mengingat Allah. Aneh benar ini aturan agama. Banyak orang Eropa, tidak melakukan shalat mereka juga menghargai hak asasi manusia. Mereka tidak melakukan ibadahpun tetap rajin untuk menyumbangkan sedikit hartanya, melebihi dua setengah persen zakat umat Islam.
Ya...Allah, Engkau tahu apa yang aku kerjakan, tentu Engkau juga tahu kalau aku juga bertanya kepada diriku tentang wahyu-Mu. Bukannya aku ingin menjadi seorang filosof, tapi akal pikir yang Engkau berikan berjalan sempurna untuk membimbingku. Apakah Engkau marah jika aku bicara demikian, aku percaya Engkaupun bisa marah dengan simbol-simbol keagungan. Tapi aku juga tidak mau di salahkan.
Aku hisap rokok, ku nyalakan komputer. Mendegarkan lantunan lagu-lagu pop asli made in dalam negeri. Suaranya begitu indah, menyejukan malam. Aku buka al-Qur’an digital yang terletak di file D dalam hardisk komputer. Aku menemukan ayat Qur’an yang berhubungan dengan shalat. Aku membacanya agak lumayan keras, biar ibu mendengar kalau aku sedang ngaji. Padahal hanya ingin mencari nilai diri dihadapan ibu.
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Al Baqarah ayat 153).
Otak ini semakin kerja maksimal, sabar dan shalat sebagi penolong. Engkau akan menolong hambamu ini jika dalam kesusahan, aku tidak perlu di tolong. Masih banyak umat Islam yang masih membutuhkan bukan aku. Banyak umat Islam miskin dinegeri yang kaya. Banyak penderitaan yang mereka alami. Mereka juga mengerjakan shalat di masjid-masjid, meramaikan rumah-Mu dengan takbir dan zikir. Namun nasib mereka juga tidak berubah-ubah, tetap dijajah orang-orang barat.
Mereka juga berkunjung ke rumah-Mu di Makkah. Kalau pulang mereka bisa di sebut Pak Haji atau Bu Hajah. Kenapa mereka yang menjalankan ibadah malahan tidak bertigkah laku seperti layaknya muslim sejati. Atakukah hanya ingin pergi ke luar negeri saja atau ingin rekreasi. Kekayaan negeri ini di kuras habis, bahkan lucunya mengapa Departemn Agama yang seharusnya menangani masalah keumatan malahan menterinya melakukan tindakan korupsi. Sungguh aneh umat Islam sekarang ini, ataukah aku yang memang aneh.
Tangan ini menekan tombol keyboard. Beberapa pertanyaan aku tulis sebagai diaryku. Mengapa uamt Islam harus shalat, jika tingkah laku mereka masih seperti masyarakat jahiliyah. Apa ada yang salah dalam shalat itu. Mungkin itulah pertanyaan ringan yang aku tulis.
Melanjutkan tugas mata kuliah untuk besok presentasi makalah. Aku sudah mempersiapkannya dari kemaren dan tinggal mengulangi lagi. Aku baca tiap paragrafnya, aku hampir hapal pokok-pokok kalimat penting. Pembahasanya hanya seputar “Tinjauan Psikologis Tentang Hereditas dan Lingkungan”. Setiap manusia lahir kedunia dengan membawa hereditas tertentu, hal ini berarti karakteristik manusia yang terlahir memebawa pewarisan dari pihak orang tuanya. Warisan itu bisa berbentuk wajah, raut muka, warna kulit, intelektual, bakat dan sifat-sifat tertentu, seperti suka jajan, lugu dan pembohong.
Belajar sudah aku lalui. Satu pertanyaan yang aku rangkai dikomputer aku pindah ke buku diary. Kemudian aku masukan kedalam tas. Makalah itu aku print, sambil menungu hasilnya aku hisab sebatang rokok dan kopi yang baru aku buat. Nikmatnya malam ini, ternyata sudah jadi. Hampir sepuluh lembar dengan kofernya. Sambil tidur-tiduran aku membacanya ulang, barang kali ada yang salah.
Sudah saatnya malam ini aku tidur, apalagi besok aku harus berangkat pagi. Aku masukan peper makalah kedalam tas dan kumatikan komputer. Lampu kamar mati, namun lampu belajar tetap hidup. Aku rebahkan tubuhku dan aku masih bertanya-tanya sudah lama aku berfikir seperti ini.
Sebenarnya yang harus kita nikmati dalam menjalani kehidupan adalah sebuah proses. Sebab proses memiliki nilai lebih dari para hasil tersebut. Dengan proses kita akan tahu seberapa besar usaha kita dalam mewujudkan tujuan. Hal itulah mengapa aku ingin selalu berproses mencari kehidupan yang lebih berarti dan bermakna. Maka jangalah untuk putus asa. Jerit pikirku, berpandangan semacam itu.
* * *
Assalamualaikum’. Met pagi, pa kabr hr ni. Skedar mengingatkan ntr presentasi. Eh...ya, skedar kasih informasi. Ntr q da kgitn, u ikut ya?. Sorry jika menganggu.
Hari-hari yang sangat melelahkan mulai lagi menggibarkan benderanya diatas puncak Jaya Wijaya. Malik hanya bisa menikmati tidurnya yang pulas. Dia tidak mendengar alarm HP yang sudah ia stell, bahkan suara sms dan miscall. Ia terkaget bagun, tampak sorot matahari mengenai wajahnya. Matanya mulai silau dilihatnya jam dinding, waktu sudah menunjukan pukul delapan lebih. Astaga....!
Tanpa pikir panjang ia menuju kamar mandi, sambil diingatnya waktu malam itu. Dalam benaknya ia tidak tidur sebegitu larut, kok aku bangunnya tidak sesuai dengan prediksi. Ah...dasar anak pemalas. Sikap seperti itu seharusnya jangan dibiarkan tumbuh terus, ntar bisa menjadi bakteri yang kemudian mengerogoti dirimu sampai engkau lupa dirimu sebenarnya.
Bergegas waktu aku pakai celana jeans dan pakain panjang. Juga tak lupa kaos, ikut menempel ditubuhku. Apa lagi aku sudah tidak lagi terbiasa memakai pakain panjang. Kalau pergi kekampus hanya memakai kaos berkerah. Ku amati seluruh ruangan rumah, ternyata sudah tidak apa-apa, pasti ibu sudah berangkat ke toko. Langkah ini menuju ruang makan, sudah tersedia rapi disitu, tinggal aku melahapnya.
Sehabis makan, rokok ini juga dinikmati. Kuraih HP yang tergeletak di kasur. Tak tahunya ada sms dan beberapakali miscall. Ternyata dari Nurul. Akupun hanya sedikit membalasnya, “kalau ada waktu, tak sempatkan”.
Membincang kekurangan dan kelebihan seseorang, adalah kebiasaan setiap insan. Namun kita mesti harus mengakui bahwa yang paling banyak kita bicarakan adalah kekurangannya. Sebegitu jauh aku membayangkan Nurul, seorang gadis polos dan imut wajahnya.
Seharusnya kebiasaan seperti itu harus segera dihilangkan. Seseorang lebih bisa mengoreksi kelebihan dan kekurangan orang lain, namun tidak sanggup mengoreksi dirinya. Bahkan aku hanya seseorang insan yang rendah. Tapi aku juga tidak kalah dengan dirinya, setiap insan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Yakinlah semakin kita memperbaiki diri dan terus bersemangat untuk mengoreksi diri, pasti di situ ada jalan terbaik.
Sesegera mungkin aku laju kendaraan ini dengan cepat, sebab perasaan ini sudah tidak enak. Dalam kamus kehidupan harus ada suatu rencana kehidupan termasuk hal sekecil kuliah ini. Meskipun kesemua hal tersebut bisa aku rencanakan, yang terpenting masih ada rencana-rencan besar ditanganku. Bahkan aku percaya kalau orang lain memiliki rencana yang lebih besar dari pada diriku. Apalagi seorang yang bergerak di bidang bisnis, tentu memiliki target profit yang besar. Begitu pula mata kuliah psikologi manusia, aku juga memiliki target yang besar dalam meraih nilai.
Kendaraan ini semakin kencang melaju, menuju sasaran panah yang telah terbidik lurus. Tanpa pikir panjang sepeda motor telah memakir dirinya diantara kendaraan yang lain. Langkah ini semakin cepat, terlihat waktu sudah hampir menunjukan waktunya presentasi. Puji syukur, aku sudah sampai di depan pintu ruangan kuliah, ternyata aku lihat sudah ada dua orang yang presentasi. Aku takut untuk masuk, ternyata aku telat. Terlihat Nurul memandangiku dia duduknya tepat dihadapan meja Bu Ira. Serasa aku tidak mau masuk, beberapa kali dalam kuliah aku sering terlambat. Apakah ini kebiasaan waktu persahabatan dengan mereka dulu, “ah...tidak”, semua ada jalan masing-masing.
Untuk sementara aku tidak berani untuk masuk, aku berfikir sejenak. Apa lagi Bu Ira itu tidak suka dengan anak pemalas, apa lagi telat dalam mengikuti mata kuliahnya. Aku semakin kebingunggan, tapi tetap yakin dengan trik yang aku pakai. Aku beranikan masuk. Dengan wajah tampang melas dan keringat disekujur tubuhku yang tampak kelihatan di pakaian.
“Maaf Bu, saya terlambat”.
“Kemana saja kamu, kalau kamu tidak suka dengan mata kuliah ini bisa langsung keluar”, wjah Bu Ira semakin seram menatapku.
Sejenak dua temanku yang presentasi berhenti. Aku merasa ketakutan. Tapi aku tetap harus memiliki alasan yang kiranya dapat menusuk perasaan Ibu Ira.
“Tadi saya barusan mengantarkan teman yang sakit. Jadi sampai disini, tak sadar sudah dimulai.
Bu Ira mengamatiku. Wajah yang melas ini aku tampakan dengan ketidak jujuran. Bahkan keringat-keringat ini ikut bicara. Tampaknya Bu Ira sudah mulai percaya. Akupun dipersilahkan duduk. Puji syukur, aku ucapkan. Aduh capek deh, ungkapku. Nurul menatapku tajam. Aku membalasnya dengan tatapan tajam pula. Dua orang temaku Andri dan Rohmah, sudah melaksanakan presentasinya. Sehausnya kami maju ke depan bersama, tapi behubung aku telat aku tidak jadi maju presentasi.
“Sekarang kamu Malik, presentasikan makalahnya”, Bu Ira menyuruhku ke depan. Puji syukur aku ucapkan ketiga kalinya. Aku mengira bakalan tidak terjadi sedemikian rupa, ternyata rupanya Bu Ira masih toleran. Batinku berkata, aku harus tunjukan yang terbaik. Perkiranku mengatakan, kalau aku tidak tunjukan yang terbaik pasti Bu Ira akan mengecapku sebagai mahasiswa pemalas. Aku kasihkan peper makalah yang asli kepada Bu Ira. Akupun presentasi.
Ku lantunkan mulutku seperti tadi malam, mengenai masalah hereditas. Kemudian aku sedikit menerangkan analogistik hereditas manusia.
“Teman-teman, sesungguhnya kita bisa mempraktekannya. Akupun menuju papan tulis. Yang sudah nampak gambar-gambar simbol daun, yang memancar dari sorot cahaya LCD.
Semisal ada bunga berwarna merah dikawinkan dengan bunga berwarna putih, maka hasilnya adalah bunga yang berwarna merah jambu. Apabila keturunan bunga tersebut merah jambu dikawinkan pula dengan sesamanya, maka hasilnya: 50 % berwarna merah jambu, 25 % berwarna merah, dan sisanya tinggal 25 % berwarna putih. Hukum ini dapat diyakini berlaku juga untuk manusia. Angka prosentase tersebut mengandung arti, bahwa hereditas yang diterima anak tidak selamanya berasal dari kedua orang tuanya, akan tetapi bisa juga dari nenek atau kakeknya.
“Teman-teman sekalian, itu tadi sedikit penjelasanku mengenai pembahasan hereditas. Selanjutnya bagi teman-teman, bisa langsung bertanya sebab sudah saatnya sesi tanya jawab. Tampaknya teman-teman sudah bosan ya, apalagi tadi sudah ada dari Ardi dan Rohmah yang presentasi. Antusias teman-teman kayaknya mulai redup pada sesi tanya jawab.
“Langsung saja bagi siapa yang belum paham bisa langsung bertanya”, Bu Ira angkat bicara. Tentang kondisi forum yang agak males.
“Saya hanya mau sedikit bertanya. Bagaimana pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap perkembangan manusia ?. Nurul mulai mengajukan pertanyaan, sorot matanya sungguh indah. Seperti bulan purnama di tengah kegelapan malam, sungguh terang matanya. Aku tersentak kaget, kok jadi bayangin dia ya.
“Terima kasih atas pertanyaannya. Bisa langsung saya jawab”.
Sesungguhnya hereditas dan lingkungan sangat berpengaruh dalam berbagai perkembangan psikologis anak. Hal ini sesuai dasar psikologis, sumbangan hereditas dan lingkungan bisa terjadi pada anak. Khususnya terhadap perkembangan mental anak, contah: ketika anak belajar musik di tempat khursus musik, maka potensi dirinya akan keluar, walaupun sebenarnya orang tuanya tidak bisa bermain alat musik.
Pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap perkembangan anak sangat beragam dari kesehatan mental, emosi dan keperibadian, melalui sistem syaraf yang diwariskan dan suasana keluarga yang menyenangkan atau sebaliknya. Jadi pada intinya, secara hereditas kita adalah bagian dari sistem tersebut akan tetapi lingkungan dapat membentuk kita. Begitu pula secara fisik dan jasmani, hampir seluruhnya terjadi karena hereditas.
Begitulah sedikit jawaban dari saya, mungkin ada yang menyanggah atau ingin balik bertanya. Tampak Rohmah, unjuk jari dari beberapa mahasiswa dirungan ini yang nampak diam.
“Bisa dibilang bahwa, lingkungan juga berperan dalam merubah diri kita. Begitu juga sebaliknya tentang hereditas. Bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk memperbaiki diri kita”, sekian dari saya.
Terima kasih atas pertanyaannya, tepuk tangan untuk Rohmah. Sekedar mencairkan suasana ruangan biar tidak terjadi keteganggan. Suara tepuk tangan begitu nyaring diatara empat penyangga ruangan ini, Bu Ira hanya bisa tersenyum kecut. Begitulah kiranya.
Untuk memperbaiki diri, tentunya dengan belajar. Hal ini bisa belajar dari mengambil pengalaman dan perbanyak membaca buku-buku. Karena lingkungan sangat berperan aktif dalam membentuk kita. Melalui membaca buku kita akan semakin memiliki wawasan yang luas. Sebab belajar memiliki arti penting bagi perkembangan kognitif, spirit, rasa dan psikomotorik. Alhasil, kualitas perkembangan psikologis manusia banyak ditentukan oleh bagaimana ia belajar.
Mata kuliah hari ini sudah sampai disitu saja. Bu Ira keluar dan sedikit senyumannya mengarah kepadaku. Pandanganku mengiringi Bu Ira keluar dari ruang kuliah. Malik juga demikian. Ditingalkannya ruang kelas yang kiranya sudah membuat hatinya deg-deg ser, sebab keterlambatannya.
Begitu Malik sudah keluar dan menuju taman, Nurul langsung menghampirinya. Malik terlihat risih bercampur malu. Ia hanya bisa terdiam.
“Hebat ya, jika kamu presentasi. Bahasamu sangat meluap-luap. Bagaimana tentang ajakanku”.
“Bagaimana ya! Acara apaan sih, pasti seperti yang dulu kan. Aku hanya pernah sekali mengabulkan permintaanya.
“Please, ikut ya”.
“I..ya deh. Sekali ini aja”.
Nurul dan temannya mendadak pergi. Acaranya mulai ntar sore. Malik di suruh datang sendiri, kalau bisa mengajak temannya. Malik hanya bisa menerima pasrah, apalagi sering kali dia menolak ajakannya.
Suasana siang yang indah, rimbun pohon yang menyejukan. Hari yang sungguh melelahkan. Itulah yang kiranya di rasakan Malik menjalani aktivitas hari ini. Ia pandangi para mahasiswa yang sibuk beraktivitas dan berteduh disekitar taman. Kebanyakan mereka membuka lap top, sebab area ini memang di pasang hot spot. Jadi bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk berselancar di dunia maya. Malik tidak mengeluarkan lap topnya. Ia hanya bisa memandang keindahan sejuknya taman.
Terdengar dering shalawat diiringi deklamasi puisi di HP malik. Kantong celananya bergetar. Diambilnya HP tersebut, ternyata mendapat sms dari Nurul. Cuman isinya hanya pesan singkat mengingatkan janjinya mengadiri acaranya. Rizal datang menghampiri Malik namun tidak bersama Ririn.
“Kemaren tu benar adekmu”
“Memang, naksir ya. Gampang saja”, Malik hanya kasih jawaban singkat
Tanpa sepengetahuan Rizal, mata Malik memandang Ririn yang sudah ada dibelakang. Malikpun pasang ancang-ancang mengoda Rizal. Besok sore ke rumahku, pasti adekku dirumah. Ntar biar bisa kenalan lebih jauh, Malik mulai menyodorkan guyonannya, sebab Rizal tidak tahu kalau Ririn sudah ada di sini.
“Gampang. Pasti tak usahakan datang, ya ini semua demi ha...haaa”, Rizal tertawa. Ririn sedikit ikut tertawa, tetapi iapun tak sadar juga kalau sudah ada malaikat dibelakangnya.
“Jadi gini tingkahmu. Dasar laki-laki”, tangan Ririn menjewer kuping Rizal.
Malik hanya bisa tersenyum kecut dan tertawa. Rizal meminta maaf, namun jeweran Ririn semakin kencang. Dia hanya berpesan kalau jangan mengulangi perbuatanya lagi. Begitu juga Malik di suruh jangan mau untuk memperkenalkan adiknya lebih jauh. Malikpun hanya bisa tertawa lebar.
Mereka bertiga akhirnya asyik bercanda di taman yang dipenuhi tumbuhan bunga yang kembangnya mulai bermekaran. Canda dan tawa ada pada senyum mereka, sungguh mengharukan. Rizal membuka lep topnya, begitu juga dengan Malik. Sedangkan Ririn mengeluarkan makanan ringan dari dalam tasnya. Ketiga pemuda-pemudi tersebut mulai berselanjar didalam dunia maya. Mereka asyik menikmati hiburan tersebut.
“Presentasi kok bisa datang telat. Abis itu kamu melontarkan alasan kepada Bu Ira, kalau kamu mengantarkan temanmu. Memang sih tampangmu meyakinkan, plus ditambah bau keringatmu itu lho yang baunya tak karuan”, pekik Rizal sambil meledek.
“Alahhhh..itu semuakan hanya alasan. Keringatku keluarkan gara-gara tergesa-gesa lari dari perkiran menuju ruang kuliah”, sambutan tawa datang dari mulut Malik.
“Dasar”.
“Lik, dimakan tu makanannya. Aku tak cari minum dulu di koperasi”, Ririn mempersilahkan. Iapun keluar dari berselancar didunia maya.
“Zal, ntar sore mau ngak nemenin aku menghadiri acaranya Nurul di masjid kampus”.
“Bisa sih. Kalau Ririn tidak mengajakku keluar”.
Sebungkus makanan datang lagi di tambah minuman ringan. Sungguh beruntung si Rizal bisa mendapatkan Ririn. Orangnya baik hati, tajir pula. Ririn mendampingi Rizal. Malik hanya bisa sedikit memandang atas kemesraan mereka.
“Sayang, aku diminta Malik untuk menemaninya menghadiri acaranya Nurul sore ini. Apakah aku diberi izin untuk menemaninya”.
“Ya...boleh. Sekalian aku ikut”, tangan Ririn memebersihkan sisa-sisa makanan yang menempel dipipi Rizal.
“Kalau gitu terima kasih atas semuanya”, Malik melontarkan kesenangannya.
Merekapun asyik dengan kegiatannya. Hembusan angin yang begitu mengugah hati untuk merasakan kemulyaan. Kehidupan ditaman kampus menyajikan berbagai cerita dan berbagai fenomena yang sangat menakjubkan. Tak terbayangkan, seorang Rizal yang orangnya semrawut alias suka seeenak hatinya, bisa mendapatkan Ririn yang bertanggung jawab dan baik hati serta anak fakultas kedokteran pula. Semoga dapat melaju kejenjang yang lebih jauh. Malik tetap percaya pada temanya Rizal, kalau dia memiliki komitmen yang tak bakal roboh diterjang badai.
Inilah kehidupan, sekali lagi begitulah irama melodi kehidupan. Dunia ini terasa sepi jika tidak ada pasangan satu sama lain. Sebab Tuhan telah menciptakan mahluknya dengan berpasang-pasangan. Kesemuanya ini pasti memberikan pelajaran yang berharga, bagi orang-orang yang berfikir.
Waktu sudah menunjukan sore hari suara adzan sudah terdengar. Suara bilal teramat merdu hingga membangunkan mereka dari berselancar ke dunia maya. Cuaca sore sangat cerah, mentari tidak sebegitu panas menyengat kulit. Bahkan mentari dan awan biru menampakan senyum sinarnya dan haru biru kedamaian. Cuaca hari ini sangat bersahabat, terbukti banyak hilir mudik para mahasiswa yang melewati taman. Taman asmara sebutannya sebab disini para mahasiswa dapat memadu kasih dengan hobinya.
“Lik, waktu sudah menunjukan sore hari. Untuk sementara kita sudahi dulu”, pinta Rizal.
“ya, Lik. Katanya sore ini kamu ada janji dengan temanmu menghadiri acaranya”, Ririn juga meminta menyudahi.
“Ok..deh. kita langsung menuju ke masjid”, jawab Malik.
Ketiga mahasiswa itupun beranjak pergi menuju masjid. Rizal mengandeng tangan Ririn, sedangkan Malik hanya mengandeng tas ranselnya yang nampak berat. Para mahasiswa lalu-lalang diantara jalan-jalan kampus. Ada yang memakai kendaraan dan adapula yang memakai mobil. Sepertinya mereka juga menikmati hari ini dengan penuh keriangan. Merekapun sudah sampai dimasjid.
Rizal dan Ririn langsung menuju ke tempat wudhu. Kedua mahasiswa tersebut menikmati air wudhu yang membasahi kulit-kulit mereka. Sangat terasa mendinginkan suasana hati mereka atas kotoran-kotoran dunia. Iqamat sudah dikumandangkan bilal, tanda waktu shalat dimulai. Terlihat Nurul juga ikut shalat, tepat shaff samping Ririn. Namun mereka belum kenal. Lain lagi dengan Malik, ketika Rizal dan Ririn menuju tempat wudhu Malik malahan pergi menuju koperasi mahasiswa tanpa sepengetahuan mereka.
Tentu Rizal sangat heran, dilihatnya kiri dan kanan. Atau mungkin dia sedang dikamar kecil. Rizalpun hanya bilang semacam itu. Malik menikmati seteguk teh botol, terasa membashi kerongkongannya seperti air wudhu yang membasahi kulit jamaah shalat. Sambil menunggu jamaah shalat selesai, diambilnya satu batang rokok yang ada didalam tas ranselnya. Sepertinya sudah selesai shalat jamaahnya, ungkap batinnya. Sesegera mungkin Malik menuju masjid
Di lihatnya sepansang kain terpajang rapi diantara tembok-tembok aula masjid. Bayground yang bertuliskan “kajian rutin dengan tema “indahnya shalat”. Pasti temanya ngak jauh-jauh dari keagmaan. Malik sudah menyadari sebelumnya, kalau Nurul itu memang aktifis kampus di Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan ia sekarang menjabat sebagai seorang sekretaris. Malik seringkali diajak untuk ikut di LDK, tapi ia terus menolak.
“Eh...Lik, tadi aku kok tidak lihat kamu ya. Apakah ini acaranya. Sepertinya inikan organisasi intra kampus. Ini kan anak-anak LDK”, tanya Rizal
“Ya...pastilah. kau terlalu serius mengamati Ririn. Ya benar Zal, Nurul memang aktivis LDK. Aku pernah sesekali menggikuti kegiatannya, maka dari itu aku mengajak kamu”, jawabku
“Bagus deh. Sesekali aku biar mendapatkan siraman rohani”, tampak Rizal tetap nyantai dengan dirinya.
Ririn keluar menemui kami. Terlihat Nurul memangil kami untuk langsung menuju forum yang telah disediakan. Nampak Ririn sangat canggung, apalagi di LDK forumnya antara laki-laki dan perempuan tidak boleh berjejer bareng.
“Maaf Rin. Aku ajak keempat yang kiranya mungkin tidak mengenakan hatimu”, Malik memohon keiklasan hati Ririn.
“Santai aja. Aku sudah beberapa kali mengkuti forum LDK”, jawab Ririn.
Kamipun bertiga menuju forum kegiatan rutin tersebut. Terlihat Nurul tersenyum kepada Malik. Rizal hanya mampu menatap Malik dan sesekali melirik Ririn. Bahkan mata Rizal terbelalak untuk melihat wanita-wanita lain. Ia heran! Ketika melihat pacarnya tidak memakai krudung, padahal yang lainnya memakai. Hati Rizal mendadak bingung sendiri, bahkan ia merasa malu. Kalau Ririn memang orangnya super cuek, tak peduli yang penting mengkuti siraman rohani tersebut. Mereka bertiga serius mendengarkan keterangan ustad yang nampaknya mahasiswa yang lebih tua. Kalau dilihat dari wajahnya kayaknya baru semester delapan.
Ia menerangkan dan menyitir sebuah hadis Rasulullah SAW, “barangsiapa menjaga shalat, niscaya dimuliakan oleh Allah dengan lima kemuliaan”. Pertama, Allah menghilangkan kesempitan hidupnya. Kedua, Allah hilangkan siksa kubur darinya. Ketiga, Allah akan memberikan buku catatan amalnya dengan tangan kanannya. Keempat, Dia akan melewati jembatan (Shirat) bagaikan kilat dan yang terakhir Akan masuk surga tanpa hisab.
Kemudian tampak salah satu jamaah bertanya, “bagaimana jika seorang muslim meninggalkan shalat ?.
Ustad itupun menjawab barangsiapa yang meninggalkan shalat, niscaya Allah akan mengazabnya dengan lima belas siksaan; enam siksa di dunia, tiga siksaan ketika mati, tiga siksaan ketika masuk kubur dan tiga siksaan ketika bertemu dengan Allah diakhirat.
“Apa saja itu kak”, tanya Nurul.
Adapun siksaan didunia yaitu; dicabut keberkahan umurnya, dihapus tanda orang saleh dari wajahnya, setiap amal yang dikerjakan tidak diberi pahala oleh Allah, tidak diterima do'anya, Tidak termasuk bagian dari do'anya orang-orang saleh dan yang terakhir keluar ruhnya (mati) tanpa membawa iman.
Sedangkan siksa ketika ia akan mati yaitu; mati dalam keadaan hina, mati dalam keadaan lapar dan mati dalam keadaan haus, yang seandainya diberikan semua air laut. Lain halnya siksa kuburnya; Allah menyempitkan liang kuburnya sehingga bersilang tulang rusuknya, tubuhnya dipanggang di atas bara api siang dan malam dan kuburnya terdapat ular yang bernama Suja'ul Aqro' yang akan menerkamnya karena menyia-nyiakan shalat. Ular itu akan menyiksanya, yang lamanya sesuai dengan waktu shalat.
Lain lagi dengan siksa yang akan menimpanya waktu bertemu dengan Allah diantaranya yaitu; pertama, apabila langit telah terbuka, maka malaikat datang kepadanya dengan membawa rantai. Panjang rantai tsb. tujuh hasta. Rantai itu digantungkan ke leher orang tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya dan keluar dari duburnya. Lalu malaikat mengumumkan : “Ini adalah balasan orang yang menyepelekan perintah Allah”. Ibnu Abbas R.A berkata, “seandainya lingkaran rantai itu jatuh ke bumi pasti dapat membakar bumi”. Kedua, Allah tidak memandangnya dengan pandangan kasih sayang-Nya. Allah tidak mensucikannya dan baginya siksa yang pedih. Ketiga, menjadi hitam pada hari kiamat wajah orang yang meninggalkan shalat, dan sesungguhnya dalam neraka Jahannam terdapat jurang yang disebut “Lam-lam”. Di dalamnya terdapat banyak ular, setiap ular itu sebesar leher unta, panjangnya sepanjang perjalanan sebulan. Ular itu menyengat orang yang meninggalkan shalat sampai mendidih bisanya dalam tubuh orang itu selama tujuh puluh tahun kemudian membusuk dagingnya.
Sampai disitu penjelasan sang ustad. Sepertinya pintar ustad ini, pekik Malik. Kelihatanya para jamaah merasa ngeri ketika diterangkan dampak bagi mereka yang tidak shalat. Dari wajah Rizalpun demikinan. Lain halnya dengan Nurul yang nampak masih nyantai.
Bagi Malik ini adalah sesuatu hal yang biasa. Dia tidak merasa takut akan siksa tersebut, dia hanya berharap Allah memberikan umur panjang untuk menemukan kemulyaan shalat sesungguhnya. Malik juga mengetahui apa yang baru diterangkan sang ustad itu semua dari risalah As-Sayyid Ahmad Dahlan karangan Hafidz Al-Mundziri terjemahaan kitab At-Targhib wa Tarhiib. Tapi ia tidak menunjukannya, kesungguhanya hanya ingin menepati janji.
“Sesungguhnya keimanan dengan shalat itu lebih tinggi mana, ya ustad”, tiba-tiba Ririn melontarkan pertanyaan.
“Tentu lebih tinggi keimanan. Sebab tanpa keimanan seseorang yang menjalakan shalat tidak akan diterima. Sedangkan shalat merupakan rangkain untuk meningkatkan keimanan”, jawab sang ustad
“Adakah dari hadirin yang mau mengutarakan pendapatnya”, ustad tersebut melontarkanya kepada jamaah. Para jamaah hanya tertunduk. Tampaknya Nurul ingin ikut mengutarakan pendapatnya. Tapi sepertinya Nurul menunggu respon Malik. Akhirnya Malikpun angkap bicara.
“Saya ustad. Sebelumnya maaf. Seperti yang telah aku pelajari dari buku karyanya Jalaluddin Rumi. Pernah sesorang berkata: “apa yang lebih besar daripada shalat ?”. Rumi menjawab pertama adalah jiwa orang yang shalat besar daripada shalat. Jawaban kedua adalah bahwa keimanan lebih besar.
Malik menyadari pertanyaan Ririn yang amat cerdas. Ia tahu kalu Ririnpun sebenarnya hobi membaca buku. Ia pun melanjutkan, shalat adalah bagian dari serangkain perbuatan sehari-hari, sementara keimanan berkelanjutan. Shalat dapat ditingalkan untuk alasan tertentu, sedangkan keimanan tidak boleh kita tinggalkan. Apalagi ketika kita melakukan konversi agama, maka kita akan disebut murtad atau orang yang meninggalkan agama. Maka keimananlah yang menuntun kita, shalat sebagai jalan untuk membimbing keimanan kita.
Ustad tampak tersenyum lega. Ia penasaran dengan Malik. Tampak matanya memandang Malik serius. Ririn mengajungkan jempol kearah Malik, Rizal tersenyum sinis. Begitu juga sebaliknya Nurul, hanya tersenyum lega akhirnya Malik angkat bicara.
Acara kajian rutin inipun berakhir. Para jamaah sudah maulai meninggalkan forum. Mereka kelauar dari area aula masjid. Sebagian dari mereka membersihkan tempat tersebut. Sang ustad menghampiri Nurul. Mereka bertiga juga sebaliknya meningalkan tempat tersebut. Sepertinya ustad tersebut berbicara serius kepada Nurul. Tiba-tiba sang ustad keluar menghampiri Malik.
“Assalamualaikum ya akhi. Perkenalkan namaku Ardi ketua Lembaga Dakwah Kampus. Namamu Malik kan, aku baru mengetahuinya dari Nurul. Salam kenal dari saya, semoga kamu dapat aktif di LDK. Sepertinya kamu memiliki potensi yang terpendam”.
“Salam kenal juga. Terima kasih atas tawarannya, tapi kalau aktif sepertinya tidak bisa. Tapi kalau sekedar membantu sekedarnya, mungkin aku sanggup’, jawab Malik.
Ustad Ardi pergi. Rizal dan Ririn tersenyum kearah Malik. Malik semakin penasaran.
“Apa-apa sih kalian ini”, senyum-senyum sendiri ntar kesambet baru tahu rasa.
“Kamu suka dengan wanita berkrudung ya”, tanya Ririn
“Itu teman kita dikelas”, jawan Rizal
“Masalah cewek itu gampang. Tapi hati belum ada yang pas. Kalau wanita berkerudung bisa jadi aku suka, tapi bukan hanya sekedar kedok. Lebih baik tidak berkerudung tapi hatinya baik. Seperti kamu itu.
“Nyindir atau nyindir nih”, Ririn merasa malu
“Awas lho Lik, kalau merebut Ririn dariku. Langkahi dulu mayatku”, cemburu Rizal mulai kambuh. Ririn hanya membiarkan Rizal atas tingkahnya terhadap Malik.
“Ngaklah, aku percaya pada cinta kalian”, jawab Malik singkat.
Nurul menghampiri Malik dengan mengucapkan banyak terima kasih atas kehadirannya. Bahkan meminta Malik untuk sekalian jamaah shalat maghrib. Apalagi waktu shalat akan segera datang. Tapi Malik tidak menyangupi permintaan Nurul.
“Terima kasih atas tawarannya. Aku tak shalat dijalan saja. Apalagi aku harus segera sampai rumah”.
Nurulpun berlalu pergi. Begitu juga dengan Ririn dan Rizal juga meningalkan Malik sendiri.
Malik menacap montornya dengan santai. Mungkin orang akan melihat dari tampangku yang semarawut. Dari cara berpakaian atapun dari aksesoris yang aku pakai. Pekik Malik. Tapi keindahan wajah Nurul selalu terbayang dipikiran Malik. Sambil mengendarai kendaraan, pikiran Malik tampak serius memikirkan Nurul. Teman sekelasnya yang ia kenal semenjak semester satu. Ia sangat anggun cara berpakaiannya. Semuanya ia jalani sesuai dengan aturan agama dan keluarganya yang mewajibkan anak perempuannya untuk memakai jilbab. Bahkan dulu ia juga aktif di Rois SMA. Sungguh dasyat wanita seperti Nurul itu, jawab pikiran Malik. Ia tetap melaju dengan santai, sampai waktu shalatpun ia lupa.
* * *
Sinar matahari senja mulai tergores oleh mega. Cahaya keemasan menyebar indah keseluruh pelosok bumi. Burung-burung mulai kembali kesarangnya, membawa beberapa butir padi untuk anak-anaknya. Para jamaah shalat sudah mulai keluar dari masjid. Terlihat Nurul dengan temannya sedang asyik dengan bacaan-bacaan ayat suci al-Qur’an. Begitu merdu suaranya, sampai mengema diantara kampus yang masih ramai dipadati oleh mahasiswa yang mengambil kuliah jam malam.
Sesudah Nurul melantunkan kalam suci temannya menghampirinya.
“Nurul, sahabatku yang manis’, sapa Anisa. “pemuda tersebut tampangnya kumuh. Tapi akal pikirnya ok juga ya”.
“Itu malik temanku satu kelas”. Emang ada apa to Nis, jawab Nurul singkat.
“Kayaknya dari tadi aku lihat kamu selalu memandang ke arahnya. Bahkan kulihat temanmu itu tersipu malu”.
“Jangan pikir yang ngak-ngak lho”, bilang Nurul.
“Yang ngak-ngak juga boleh. Asal kamu suka”, Anisa mulai menyindir.
Mereka berdua keluar dari masjid. Menuju ke tempat kos yang memang dekat dari kampus, paling kalau jalan hanya lima menit. Anisa terus saja menyindir Nurul. Tapi sikap Nurul terus saja sinis dan tidak memberi tangapan terhadap tingkah Anisa. Mereka berdua adalah sahabat walau beda fakultas tapi satu organisasi di LDK.
“Kalau ketemu Malik. Ntar aku titip salam ya”, pinta Anisa
Nurul hanya diam dan menganggukan kepalanya.
* * *
Previous Post
Next Post
Related Posts

0 comments: