Tuesday, November 12, 2013

Pendidikan Nilai Ekologi

Suara Merdeka - 01 September 2008

PENANAMAN nilai-nilai sangat perlu dalam pendidikan untuk membangun kesadaran anak didik. Jadi, mereka mengetahui siapa diri dan lingkungan hidup mereka. Pendidikan nilai menekankan keseluruhan aspek sebagai pengajaran agar anak didik menyadari nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan, termasuk penanaman nilai lingkungan.

Pendidikan lingkungan jadi jalan pengenalan dan menumbuhkan kesadaran soal lingkungan. Aspek etika dan moral tak semata-mata untuk berinteraksi, tetapi juga menanamkan nilai lingkungan hidup.
Kini, pencemaran lingkungan banyak disorot.

Faktor utama perusakan adalah penggunaan besar-besaran produk teknologi modern. Aktivitas industrial dengan membakar hutan menghasilkan semburan miliaran ton partikel, gas karbondioksida, dan klorofluorokarbon.

Emisi karbon muncul dari pembakaran bahan bakar fosil yang tak dapat diperbarui, seperti batu bara, gas, dan minyak bumi. Kerusakan hutan, khususnya di Indonesia yang jadi paru-paru dunia, punya andil cukup besar sebagai pemicu perubahan iklim dan pemanasan global akibat penipisan lapisan ozon.

Perusakan hutan dan penyulapan lahan petanian jadi area industri dan perumahan menimbulkan dampak negarif, antara lain kekeringan. Indonesia sangat merasakan dampak kerusakan sistem cuaca.

Kerusakan sistem cuaca menimbulkan anomali iklim berupa kenaikan suhu 1-1,5 derajat Celcius di Afrika, sehingga masa udara kering dari Australia bergerak ke hutan Afrika. Terjadilah kekeringan di kawasan ekuator, termasuk Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sumatera.

Perubahan iklim mempersulit negara berkembang seperti Indonesia mencapai sasaran pembangunan berkelanjutan dan tujuan pembangunan milenium. Perubahan iklim mengancam ketersediaan sumber daya alam serta menciptakan persoalan baru dan membuat pencarian solusi makin sulit dan mahal.

Perlu rekonstruksi bidang pendidikan untuk menghadapi tantangan zaman global. Format pendidikan yang sesuai perlu strategi dengan penerapan pendidikan nilai ekologi berbasis agama sebagai sumber penanaman jiwa untuk mengenali arti kehidupan.

Pendidikan nilai lingkungan merupakan proses pembelajaran yang menghasilkan perubahan tingkah laku dan sikap untuk menghargai lingkungan hidup dari mikrokosmos hingga makrokosmos. Bukan cuma penyampaian pesan berupa pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai untuk mengenali diri sendiri dan lingkungan.

Diharapkan siswa mampu mempraktikkan, melestarikan, dan memanfaatkan lingkungan sesuai dengan kebutuhan. Siswa mampu mengetahui peran dan tanggung jawab dalam hubungan tiga dimensi antara Tuhan, alam, dan manusia. (53)

Friday, November 8, 2013

Ramadhan Bulan Pendidikan Anti Korupsi

Suara Merdeka - 13 Agustus 2013

SLOGAN ramadhanyang sering kita dengar dan lihat di reklame, spanduk maupun sponsor di media cetak maupun elektronik yakni “Bersihkan Diri dan Sucikan Hati”. Hal tersebut layaknya perlu ditamhan dengan slogan “Anti Korupsi”. Karena sebagai warga negara yang menjunjung nilai-nilai ketuhanan tentu sangat mendukung pemberantasan korupsi yang telah mengejala dan setiap tahunnya meningkat jumlah orang yang melakukan tindak pidana korupsi. Tentu perilaku seperti ini sangat ironi bagi bangsa yang menjunjung tinggi ketuhanan.

Di sini perlu kembali membincang makna dan hakikat puasa. Puasa bukanlah ekspresi tahunan yang datang setiap tahun untuk di peringati dengan beragam aktifitas kemewahan ataupun bersikap konsumtif, namun setiap umat Islam wajib melaksanakan puasa ramadhan selama sebulan penuh untuk mencapai tujuannya menjadi manusia yang bertakwa (Al-Baqarah ayat 185), tentu bagi orang-orang yang beriman.

Manusia dan Kekuasaan
Manusia hidup tidak terlepas pada etika, norma dan hukum yang berlaku, begitu juga seseorang yang memeluk agama ada garis pembatas untuk melakukan sesuatu hal. Terlepas dari teori etika Karl Marx berpendapat bahwa moral manusia ditentukan oleh kondisi ekonomi berupa materi yaitu moral manusia ditentukan oleh lingkungan yang mempengaruhinya. Sifat manusia sama sekali tidak memiliki daya dan upaya terhadap kondisi lingkungan. Kondisi sekarang menunjukan bahwa kapitalisme telah menjajah manusia yang cenderung bekerja pada wilayah material.

Faham Karl Marx sampai sekarang tetap masih hidup walaupun komunisme telah hancur teriring hancurnya Negara Uni Soviet, namun faham tersebut tetap bertahan sampai sekarang yaitu mereka yang disebut dengan “wetensdhappelijke socialism” atau sosialisme ilmu.

Di Indonesia dulu aliran Marx atau biasa disebut dengan Marxisme sangat berkembang pesat, terutama kelompok politik sebut saja Partai Sosialis Indonesia (PSI), Marxisme-Trozkist dalam Partai Murba dan Marxisme-Leninist dalam Partai Komunis Indonesia (PKI).

Faham yang kedua datang dari Sigmund Freud seorang ahli “psikoanalisis”, yang menyatakan bahwa manusia sama sekali tidak berdaya terhadap kekuatan yang ada dalam dirinya yaitu berupa kekuatan libido atau kekuatan seksualitas. Semua aktifitas dan pikiran serta perilaku sesorang bersumber pada dorongan kekuatan libido atau seksual, dalam artian bahwa manusia adalah budak sek.

Pertanyaan yang kemudia muncul adalah apa hubungan teori Marx dan Freud terhadap puasa dan pendidikan anti korupsi?. Karl Marx dan Sigmund Freud merupakan seorang keturunan Jerman dan Yahudi. Pada teori ini dapat di tarik kesimpulan dua pemikiran yaitu manusia sebagai budak material berupa masyarakat yang cenderung kapital dan budak kekuatan seksualitas berupa perbutan kekuasaan.

Di sebutkan dalam al Qur’an surat Adz Dzariat ayat 56 menyatakan bahwa “tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepadaKu”. Manusia adalah seorang budak “abdun” atau seseorang yang menyembah. Namun realitas menunjukan lain sekarang manusia telah menjadi budak ajaran Marx dan Freud dan menginkari nikmat mereka saling berebut materi di pemerintahan. Mereka cenderung melakukan tindakan korupsi dan istri-istri mereka seakan di umbar di media masa, sehingga seolah korupsi selalu bergandeng mesra dengan sensualitas para wanita.

Mentalitas koruptor yang menggejala ini sangat merisaukan jika masih mengikuti ajaran kapitalis berupa penindasan atas nama kesejahteraan dan kemakmuran. Kita ketahui bahwa kekuatan modal sangat berpengaruh dalam dunia ketiga atau era pasar bebas sebut saja Transnational Corporation (TNC) dan Multinational Corporation (MNC) dan bangsa Indonesia telah terjajah dengan faham kapitalisme global. Mengapa mentalitas pemimpin negeri tidak cenderung keluar dari sarang material dan seksualitas, sedangkan Negara tercinta ini masih saja menjadi budak oleh kekuatan asing.

Semua jawabannya yaitu pada kekuatan diri berupa “nafsu”. Rasulullah telah mengajarkan kepada kita bahwa jihad paling besar yaitu “jihad an nafs”, jihad melawan hawa nafsu atau melawan diri sendiri. Kekuatan nafsu menjadi pendorng mentalitas seseorang sebab jika al hawa atau nafsu al amarah menyerang diri seorang maka sifat jasmani dan ruhani manusia akan lemah dan memiliki mentalitas korup.

Kekuatan pengendali manusia berupa nafsu inilah yang menjadi senjata ampuh untuk mengikat keinginannya tehadap sifat meteri dan seksualitas. Sebab dalam pandangan Marx dan Freud pengendali manusia berkerja pada wilayah lingkungan yang cenderung kapital dan seksualitas atau libido terhadap kekuasaan ataupun selingkuhannya.

Maka saatnya seorang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah kembali menata nafsunya. Sesegera mungkin kembali kepada nafsu mutmainah (jiwa yang tenang). Stop tindakan korupsi sekarang juga, atau akan menyesal di kemudian hari.

Puasa dan Korupsi
Puasa adalah ibadah maghdhoh rukun Islam ke empat. Di dalam ajaran puasa sangat berbeda dengan rukun Isalm lainnya seperti syahadat, shalat, zakat dan haji. Puasa lebih berorintasi teosentris berupa semua hal yang dilakukan dan dikerjakan semua hanya Allah yang menilainya. Derajat takwa tidak mudah untuk diraih sebab tingkatan inilah yang menjadi dasar seseorang mengetahui diri dan perannya sebagai hamba atau budak.

Puasa hanya di syari’atkan kepada dirinya yang mengaku beriman sebab puasa merupakan pengendalian dirinya dengan Tuhannya. Karena puasa tidak dapat dilakukan atas dasar penampilan, kekuasaan materi dan kekuatan libido. Puasa menurut bahasa adalah “menahan dari segala sesuatu”. Sedangkan menurut syari’at yaitu menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri dan semua hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari

Dari ibadah puasa ini seyogyanya manusia megetahui jati dirnya, maka tidak cenderung terikat penuh dengan teori faham Marx dan Freud: Pertama, kekuatan manusia memang terikat dengan materi namun juga terikat dengan immaterial berupa kekuatan qalb (hati), puasa mengajarkan menahan nafsu materi. Dalam hal inilah sepatutnya untuk menjaga sikap dan perilaku untuk tidak melakukan tindakan korupsi. Kedua, kekuatan manusia tidak hanya libido namun juga an-natiq (pikiran). Nasfu seksualitas pada kekuasaan dan sek, tidak semua hal terpenuhi dengan menguasai tapi lihatlah siapa yang hidup di sekeliling kita, karena puasa mengilhami untuk menjaga nafsu libido dan memulyakan manusia lainnya,

Ketiga, nafsu mutmainah bahwa manusia memiliki kekuatan selain kekuatan materi, material, libido dan pikiran. Manusia juga diberi kekuatan berupa kekuatan jiwa yang selalu dalam ketakwaan berupa nafsu mutmainah. Puasa merupakan intisari upaya membentuk jiwa seseorang dan pengemblengan mental tangguh.

Sangat jelas sekali bahwa syari’at Islam mengajarkan untuk menahan diri dari segala hal yang dilarang dan bertujuan untuk meraih tingkatan takwa. Orang yang mencapai derajat pada tingkatan takwa yaitu seseorang yang terpelihara dari segala yang menjerumuskan atau segala hal yang dilarang oleh agama. Ibarat seseorang yang dalam perjalanan ia harus membawa bekal dan tahu tujuan yang diharapkan, jadi agama menjadi bekal untuk mengarungi kehidupan didunia sebagai hamba guna meraih tujuan hidup yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Takwa berasal dari kalimat fi’il atau kata kerja “tattaquwn, yattaquwn”, yang berarti melaksanakan seluruh hal yang diperintahkan dan menjahui segala hal yang dilarang.

Saatnyalah manusia kembali mengkoreksi dirnya, siapa yang mengendalikan dirinya kekuatan material kah atau kekuatan libido kah. Semua bentuk penindasan datang karena kekuatan material dan seksualitas, sehingga perlu dicegah sebagai upaya untuk tidak melakukan tindak korupsi.

Monday, March 7, 2011

Rumah Pendidikan Alternatif

Suara Merdeka - 24 Februari 2011

Semarang Setara itulah harapan besar Bapak Soemarmo. Dimana Semarang merupakan kota yang berbasis perdagangan dan jasa. Pada sektor ekonomi, tentunya masyarakat dituntut lebih dalam memenuhi kebutuhannya, sehingga memunculkan pandangan profesionalitas, karena dengan pandangan tersebut ia mampu eksis dan bertahan hidup.

Hingga kini Semarang menjadi kota yang penuh dengan corak pandangan ekonomis, sehingga keseluruhan wilayah pasti ada area basis perdagangan. Namun menyimpan kasus buruk, khususnya daerah pesisir pantai seperti Mangkang, Tugu, maupun Genuk.



Ketiga, mereka adalah masyarakat buruh dengan penghasilan di bawah standar UMK. Keempat, letak geografis yang berdekatan dengan industri menjadikan masyarakat tidak sadar lingkungan. Kelima, antara penghasilan menjadi buruh dengan kebutuhan berbanding terbalik. Tidak mampu memenuhi kebutuhan, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Bahkan mereka menelan pil pait, dengan hadirnya air yang mengisi rumah-rumahnya dan bahkan menghanyutkan manusia hingga mati. Akibat bila permasalahan tersebut tidak segera dapat diatasi, akan memicu munculnya penganguran baru karena out put lulusan lebih besar dari kebutuhkan kerja. Memunculkan masalah-masalah sosial seperti pencurian, pemalakan di sekitar pabrik, penjambretan di jalan padat dan kejahatan-kejahatan berbasis motif ekonomi. Masyarakat tidak percaya sekolah dan memicu lahirnya anak jalanan baru di kota. Akhirya ada andigum masyarakat ‘’lebih baik kerja daripada sekolah. Sekolah kamu mau jadi apa, pastinya juga masuk pabrik’’.

Lahan-lahan perkebunan masyarakat tergerus habis karena dampak pembangunan properti. Dengan pembangunan perumahan tersebut, dampak lain yang tak terkirakan yakni banjir akan menjadi rutinitas musiman. Gemar baca yang diusahakan oleh pemerintah menjadi terganjal karena kesibukan masyarakat pada ranah kebutuhan ekonominya.

Hal ini karena dampak dari globalisasi seperti pandangan Dharam Ghai: Konskwensi penting lainnya dari globalisasi adalah usaha globalisasi itu untuk menciptakan atau menguatkan hubungan antarkelompok di dunia yang mempunyai kepentingan-kepentingan dan gaya hidup sama. Jadi sebuah golongan minoritas di negara-negara miskin dapat dihubungkan dengan golongan kelas menengah atas di negara-negara industri’’.

Sedangkan dampak dari pokok permasalahan tersebut adalah kemiskinan masyarakat dari aspek ekonomi, dalam pandagan Ellis ialah kemiskinan ekonomi sebab kekurangan sumber daya, kemiskinan politik rendahnya akses terhadap kekuasaan dan kemiskinan sosial kekurangan jaringan sosial dan struktus yang menghambat kesempatan.

Maka melalui surat pembaca ini, saya mengajak para insan dengan penuh kesadaran untuk saling berbagi kebaikan, menciptakan pandangan kebenaran dan berusaha selalu menegakan keadilan. Salah satunya dengan mendirikan Rumah Pendidikan, dimana kita mendidik dari keluarga yang paling utama. Mendidik generasi penerus kita untuk menyadari akan pentingnya kesadaran lingkungan. Ada andigum mengatakan, ‘’bumi ini bukan warisan nenek moyang kita, akan tetapi justru kita meminjam dari anak cucu kita’’.

Kami atas nama pengelola Rumah Pendidikan Sciena Madani yang terletak di alamat Banjardowo RT 2 RW VI Genuk Semarang, email: scienamadani@yahoo.com dan weblog: www.scienamadani.co.cc. Mengajak untuk saling berbagi dengan menyisikan sedikit hasil keringatnya untuk pengembangan Rumah Pendidikan. Baik berupa buku, rak , meja, kursi, media pembelajaran maupun alat permainan edukatif.

Untuk saat ini kami sudah memiliki dua rak yang sudah dipenuhi buku, sentra bermain anak, sentra phisic and reality dan media informasi. Maka kami berharap keikhlasan untuk saling berbagi, untuk mendidik generasi penerus bangsa yang lebih beradab. Karena orientasi kami bukan orientasi profit. Dengan pembangunan Rumah Pendidikan Sciena Madani tersebut kami berharap dapat ikut serta mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih baik dan beradab.

Lukni Maulana, S.Pd
Banjardowo RT 2 RW VI
Genuk Semarang 50117
081225761827

Tuesday, July 20, 2010

Dekonstruksi Perempuan dalam Keluarga


PEREMPUANLAH, yang di keluarga biasa dipanggil dengan sebutan ibu, yang memberikan ketenangan dan kasih dan sayang pada anak-anak. Mereka, dan bukan lelaki, yang jadi pemimpin rumah tangga. Namun justru merekalah yang sering menerima kekerasan dalam rumah tangga. Peran serta derajat dan martabat mereka dilecehkan.

Di rumah tangga, peran dan kedudukan perempuan acap terpinggirkan. Perempuan mengalami tragedi yang muram dan memprihatinkan.

Pada zaman Yunani dan Romawi, perempuan dianggap pembantu atau budak yang tak memiliki hak apa pun. Di Arab sebelum masa kerasulan Muhammad, posisi perempuan sangat dibenci.
Perempuan yang melahirkan anak perempuan dianggap menimbulkan beban berat dan pembawa malapetaka.

Maka, orang tua boleh membunuh anak perempuan.
Kini, perempuan rumah tangga sering terjebak arus globalisasi. Perempuan-perempuan itu cenderung hedonistis karena selama berkutat di rumah tangga sering menerima informasi dari televisi atau media masa yang mengonstruksi cara pandang mereka. Mereka terjebak iklan karena media lebih banyak menampilkan produk bagi perempuan.Perempuan menjadi lebih sibuk belanja dan konsumtif. Itu mengembalikan mereka ke wujud penindasan lain, yakni hedonisme yang berujung ke kekerasan dalam rumah tangga.
Merusak Citra Hedonisme dalam berumah tangga merusak citra perempuan. Mereka tersihir untuk tampil indah, seksi, atau feminin. Akibatnya, mereka lebih fokus pada bentuk dan penampilan. Bukan pada peran dan status.

Padahal, rumah tangga semestinya menjadi wahana membangun peradaban baru. Namun, kini, rumah tangga telah meminggirkan peran dan kedudukan perempuan. Studi etika rumah tangga memunculkan sosok perempuan sebagai korban media dan konstruksi sosial yang menempatkan mereka ke wilayah domestik.

Itu memunculkan gerakan feminisme baru dalam skala rumah tangga. Feminisme dipengaruhi filsafat eksistensialisme yang dikembangkan pemikir Prancis, Jean-Paul Sartre. Dalam pandangan Sartre, manusia tak punya sifat alami. Esensi manusia dibentuk oleh kreasi sosial atau dipengaruhi lingkungan.

Pada dasarnya eksistensialisme menolak eksistensi berdasar stereotipe gender lelaki dan perempuan.Eksistensialisme mengajarkan pada perempuan untuk melepaskan diri dari norma patriarki agar dapat menemukan eksistensi, termasuk dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Perempuan pun melawan. Mereka meruntuhkan adat-istiadat dan hukum yang secara tak adil membatasi kebebasan untuk menentukan diri: bekerja di rumah atau berkarier. Karena itu perlawanan feminisme terarah ke peran, status, dan kedudukan lelaki. Perempuan melawan budaya ciptaan kaum lelaki.

Di negeri ini, Kartini adalah salah satu pioner yang tergugah melawan budaya patriarki. Di Eropa era 1917-1970, para feminis, antara lain Clara Zetkin, pun mempropagandakan pada perempuan yang selalu terintimidasi untuk melakukan aksi mogok atau demonstrasi.

Kini, mengapa perempuan terjebak arus hedonisme saat menjalankan status dan peran di rumah tangga? Padahal, perempuan di keluarga memiliki peran vital. Mereka bukan hanya membesarkan anak-anak, melainkan juga terkait dengan pembentukan peradaban baru.

Eksistensialisme memosisikan perempuan ke wilayah eksistensial; perempuan menjadi orang nomor satu di keluarga untuk mendidik generasi penerus dan tak terjebak budaya praktis kapitalis. Karena itu, kini, adakah feminis yang seberani Kartini dan Clara Zetkin? Ibu rumah tangga yang mampu melakukan perubahan sosial dan melontarkan pandangan baru untuk Indonesia yang lebih bermartabat?

Tak semestinya perempuan rumah tangga terjebak propaganda kapitalis yang menawarkan hedonisme, pragmatisme, konsumtivisme dalam berumah tangga. Perempuan harus bisa menempatkan diri sesuai dengan peran dan status di rumah tangga. Selain, tentu saja, harus mendapatkan hak dalam berumah tangga sehingga mampu menempatkan mereka ke wilayah eksistensial. (51)

- Lukni Maulana, alumnus IAIN Walisongo Semarang, peneliti pada Scientific and Affection (Sciena) College

Sunday, February 14, 2010

Kewirausahaan Untuk Siswa

Tulisan ini pernah di muat di Jawa Pos

PADA ERA sekarang ini dunia pendidikan di tuntut untuk mengembangkan kompetensi atau basic skill. Orientasi pendidikan tidak hanya pembelajaran formal dengan berbagai macam mata pelajaran, akan tetapi terkait dan terikat dengan tuntutan zaman. Sekolah terkadang hanya menuntut orientasi kelulusan dan lupa akan potensi, skill, dan bakat anak.

Di akui atau tidak sekolah adalah tempat mencetak manusia-manusia unggul, namun tidak dipungkiri pula bahwa sekolah terkadang melakukan dehumanisasi dalam artian potensi anak didik tidak dikembangkan. Memang benar sekolah adalah kewajiban, namun kesuksesan belajar tidak hanya lewat jalur sekolah. Lihat saja seorang ilmuwan Issac Newton menemukan berbagai macam penelitian tanpa harus sekolah, William Bill Gates orang terkaya di dunia selama 14 tahun saja keluar dari sekolah yang kemudian mendirikan Microshoft bersama temannya dan melakukan eksperimen hasilnyapun dapat kita nikmati sekarang ini..
 
Menyadari tantangan yang dihadapi dan kompleksitas permasalahan global, dimana technologiy competation yang ujungnya pada industrialistik, materalistik, sekolah atau dunia pendidikan harus melakukan orintasi baru melalui pembelajaran kompetensi untuk peserta didik.
 
Tidak heran jika pendidikan sekarang mengarah pada pengembangan berbasis kompetensi. Selain sebagai bekal potensi dapat pula sebagai sarana pengembangan sekolah berbasis keilmuan yang mengajarkan berbagai mata pelajaran.
 
Maka dalam menyosong era industri dan teknologi ini sekolah atau madrasah diharuskan melakukan orientasi baru dibidang pembelajaran salah satu caranya yaitu dengan memberikan pelatihan entrepreneurship untuk peserta didik.

Ekstrakurikuler Sekolah
Kewirausahaan merupakan ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan, dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup. Dalam hal ini seseorang dituntut untuk melakukan proses sistematis penerapan kreatifitas dan inovasi dalam memenuhi kebutuhan konsumen dan peluang pasar.
 
Peserta didik merupakan sesosok generasi penerus bangsa yang akan menjadi pewaris negeri. Pertumbuhan fisik yang cenderung lebih cepat, sifat emosional dan ego yang masih labil. Mindset (pola pikir) kewirausahaan inilah yang harus ditanamkan pada peserta didik karena dipundaknyalah menjadi generasi maju dengan bekal inovasi dan kreatifitas.
 
Maka alternatif itu bisa dikembangkan yaitu melalui program ekstrakurikuler yang merupakan bentuk pembelajaran di luar jam sekolah. Kegiatan ini dilakukan pihak sekolah untuk membekali anak didiknya dengan berbagai pertimbangan di antaranya untuk mengoptimalkan potensi, melatih kedisiplinan dan menciptakan kreasi, inovasi dan kreatifitas anak didik. Kegiatan ekstrakurikuler ada yang secara sepihak diwajibkan dan ada yang tidak diwajibakan ini terkait dengan kemauan dan kebutuhan siswa.
 
Melaui ekstrakurikuler melalui program entrepreneurship siswa diharapkan mendapatkan skill individu untuk dapat dipraktekan dan dikemabangkan. Semisal siswa memiliki potensi pada dunia masak atau makanan maka ekstra tata boga harus mengajarkan sesuai dengan keinginan. Dari sini siswa akan bisa berlatih entrepreneurship dengan membuat inovasi produk makanan, pelatihan market (pemasaran) atau juga bisa dititipkan ke kantin sekolah serta manajemen industri.
 
Bahkan sekolah dapat melakukan inovasi baru berupa pengembagan lembaga kewirausahaan dengan berbagai program pelatihan kecakapan hidup untuk peserta didik pada program ekstrakurikulernya. Dalam hal ini sekolah dapat memberikan The Learning Experience (Pengalaman Belajar) untuk peserta didiknya.
 
Sungguh sangat berarti sekali jika dunia sekolah dapat menyentuh sisi-sisi keinginan anak didik. Jika ekstrakurikuler sekolah dapat berjalan dengan baik maka akan mendidik siswa untuk disiplin dan nilai kepuasan pada diri siswa. Bahkan kepuasan orang tua siswa yang menyekolahkan anaknya dan pandangan masyarakat akan berfikir positif bahwa sekolah tidak hanya orientasi ijasah. Sebab melalui ekstrakurikuler ini anak didik memiliki bekal individu untuk bisa di kembangkan di kemudin hari.

Jika anak didik sesuai dengan potensi tentu saja akan mendidik mental mereka untuk bisa mandiri. Dengan rasa kemandirian ini siswa akan memiliki mental yang kuat dan tidak bergantung untuk menjadi pegawai atau bahkan sampai hanya menjadi buruh.

Inilah pola pembelajaran yang menyenangkan karena potensi skill mereka dapat diasah di sekolah tanpa harus mengeluarkan uang banyak untuk mengkuti kursus di luar program sekolah. Dengan demikian kesimpulan pembelajaran ekstrkurikuler sekolah ini, bahwa sekolah atau madrasah yang tidak pada program kejuruan dapat megembangkannya pada program ekstarakurikuler.
 
Inilah sekolah yang sangat menghargai potensi dan kreasi manusia. Termasuk potensi yang di bawa sejak lahir serta kreasi untuk mengembangkan, menghasilkan, menciptakan inovasi baru dalam berkreatifitas dan kemandirian.

Wednesday, May 20, 2009

Membangun Rumah Pintar Buta Aksara "KKN Tamang Gede Gemuh Kendal"

Suara Merdeka - 7 Juni 2009


Tulisan ini di muat di Suara Merdeka, Minggu tanggal 7 Juni 2009
JIKA MEMBINCANG propinsi terpadat penduduknya tentu semua akan menjawab pulau jawa. Ternyata dibalik itu semua ada fenomena yang sangat ironi sekali yakni banyaknya penduduk yang menyandang buta aksara. Menurut sumber pulau Jawa menyumbang angka penduduk yang mengalami buta aksara dengan peringkat teratas. Di peringkat pertama adalah Jawa Timur dengan 10,47 persen, sementara Jawa Tengah di tempat kedua dengan 9,42 persen.

Buta aksara merupakan nama populer dari mereka yang tidak bisa membaca, menulis dan berhitung. Sekalipun mereka bisa menjalani kehidupan ini dengan layaknya orang lain. Namun sangat tidak logis, sebab mereka cenderung mengalami kekurangan, keterbelakangan, dan bahkan merendahkan derajat bagi kaum penyandang buta aksara.

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Pemberantasan Buta Aksara (PBA) pada tahun 2009 ini merupakan tingkat lanjutan dengan diterjunkan untuk melanjutkan program sebelumnya yaitu Sukma 1 dan Sukma 2 yang berada di Kabupaten Kendal. Bahkan pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah memberikan program Keaksaraan Fungsional (KF) setelah dari Tim KKN tematik PBA.

Pada KKN Tematik PBA kali ini sebagai program lanjutan tentu memiliki tujuan khusus yaitu memberikan layanan pendidikan bagi masyarakat yang masih rendah kemampuan keaksaraan, meningkatkan kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dan mengembangkan kemampuan berfikir praktis, analitis dan rasional sehingga dapat memanfaatkan potensi diri dan sumber-sumber kehidupan yang ada di lingkungannya.

Sehingga diharapkan pada tahun 2009 penduduk yang mengalami buta aksara dapat dituntaskan secara penuh. Namun lain lagi dilapangan, semenjak terjun hampir tiga minggu ternyata mereka masih kesulitan dalam belajar baca, tulis dan hitung. Walaupun sudah ada beberapa yang sanggup tertuntaskan. Padahal mereka sudah diberikan program sampai tiga kali namun tetap masih mengalami kesulitan dalam pembelajaran.

Saat ini jumlah warga yang menyandang buta huruf di Kendal sebanyak 8.700 orang, yang sebelumnya tahun 2008 sebanyak 13.900 (sumber pendataan team KKN). Sebagian besar dari mereka bermukim pada sejumlah desa di pesisir pantai utara, seperti Kecamatan Rowosari, Kangkung, Kendal Kota, Weleri, Cepiring, Gemuh dan Kaliwungu. Serta pada wilayah pegunungan seperti Boja, Patean, Pageruyung dan Sukorejo.
 

Dari sisi sosiologis kaum penyandang buta aksara akan mengalami keterkucilan diri pada ranah sosial (split personality). Sebenarnya secara filosofis penyandang buta aksara memiliki kemampuan dan potensi yang sama dengan mereka yang tidak menyandang buta aksara. Hal ini dilandasai dengan banyaknya masyarakat kendal yang bekerja diluar negeri atau menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dan mereka lebih suka dengan berwirausaha sendiri.
 

Oleh karena itu Program KKN Tematik PBA tingkat lanjut dapat memberikan yang terbaik dalam penuntasan buta aksara dan program keterampilan untuk peningkatan nilai ekonomi. Bukan sekedar program yang kemudian selesai sudah pokok permasalahan.
 

Untuk mensukseskan pemberantasan buta aksara di Kendal dan kota-kota lainnya diperlukan sebuah alternatif dan dukungan dari semua pihak. Pemberantasan buta aksara juga merupakan tujuan dari program Millenium Development Goals (MDG’s), disini peran pemerintah sangat vital. Maka diperlukan sarana dan prasarana sebagai bekal untuk penunjang bagi kaum buta aksara, hal ini sebagai salah satu memperbaiki mutu pendidikan.
 

Rumah Pintar
Keadaan dan kondisi banyaknya penyandang buta aksara, memang perlu kerja keras dalam pemberantasannya. Tapi upaya rekonstruksi tetap harus berjalan sebagai target tahun 2009 kaum buta aksara dapat dituntaskan. Menurut Frijof Capra masyarakat sekarang ini telah mengalami ”penyakit-penyakit peradaban” hal ini dapat dilihat dari maraknya perceraian, stress, depresi dan kejahatan. Kesemua hal tersebut berawal dari keterbelakangan dan ketidakmampuan menjalani kehidupan ini dengan nilai-nilai pendidikan.
 

Maka diperlukan alternatif baru yaitu dengan prosesi kerja sama antara masyarakat, pemerintah dan mahasiswa untuk bisa memberikan yang terbaik. Salah satunya dengan memberikan rumah pintar di setiap desa.
 

Melalui rumah pintar mereka akan termotivasi untuk selalu datang dan memeberikan ruang gerak supaya terjalain komunikasi disatu tempat yaitu rumah pintar. Bahkan anak-anakpun akan tertarik dengan fasilitas di rumah pintar seperti buku, alat bermain dan media pembelajaran. Tentu tidak hanya buku-buku (perpustakaan) yang tersedia, akan tetapi memberikan pegawai ditempat rumah pintar untuk menjadi tutor. Maka peran pemerintah disini sangat diharapkan sekali dalam menyukseskan rumah pintar untuk penyandang buta aksara. Jadi tidak hanya penerjunan para guru (tutor) untuk memberikan pembelajaran dan keterampilan.
 

Dengan hadirnya rumah pintar aneka kegiatan dapat berlangsung sebagai mana mestinya seperti ruang belajar, sumber bacaan, dan pembelajaran keterampilan. Melalui rumah pintar semua kegiatan pembelajaran dapat dilaksanakan, yang merupakan ruang terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar. Masyarakat bisa secara langsung memantau, menyaksikan dan memberikan pelayanan sesuai dengan kemampuan di rumah pintar.
 

Selain memberikan rumah pintar bagi penyandang buta aksara, pemerintah dan masyarakat juga perlu memikirkan ruang baru bagi masyarakat yang bisa dijadikan pusat pembelajaran. Sehingga kegiatan belajar mengajar di rumah pintar dapat berfungsi optimal. Melalui rumah pintar diharapkan masyarakat menyadari akan pentingnya pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan.
 

Warga masyarakat baik di Kendal maupun masyarakat di kota lainnya sangat merindukan hadirnya rumah pintar sebagai ruang publik upaya untuk penuntasan buta aksara selain sebagai kegiatan pembelajaran keterampilan.
 

Jadi sangat ironi pemberantasan buta aksara dengan hanya menerjunkan KKN Tematik PBA maupun para tutor Keaksaraan Fungsional (KF), setelah diberikan pembelajaran mereka akan lupa. Tak pelak rumah pintar sangat dirindukan bagi penyandang buta aksara setelah mereka di tingal para tutornya.

Tragisnya, dunia yang serba dipenuhi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masih menyajikan PR yang "wajib" disantap kaum pendidik dan pemerintah akibat banyaknya penyandang buta aksara. Maka dari itu rumah pintar menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.