Thursday, November 6, 2014

Reifikasi Manusia dan Alam

Terbit di Suara Merdeka
20 September 2010



ADA sebuah kisah yang perlu kita teladani, sebut saja namanya Fatimah. Kini ia tinggal di kota bersama suaminya. Kehidupan rumah tangganya sangat harmonis, wanita cekatan dan suka silatuhrahmi dengan keluargannya di desa apa lagi saat lebaran tiba. Tapi kehidupan Fatimah berubah drastis, saat dia mengenal teknologi. Dulu ia tidak pernah menggunakan Hp, internet maupun gadget. Lain dulu lain sekarang, ia bebas menikmati perkembagan teknologi tersebut, karena mudah mendapatkannya di kota.

Gadis desa yang sangat polos sekarang ini menikmati perkembagan peradaban umat manusia. Kesibukannya sekarang tidak lagi hanya mengurusi rumah tangga namun juga berselancar di dunia maya, update status facebook dan menjawab sms atau  telpon. Begitu juga dengan anak-anaknya yang asyik dengan permainan play station. Kesibukannya membuat ia stres, depresi dan hubungan dengan familly di desa tidak lagi seperti dulu. Ia cukup menelepon atau sekedar sms saja.

Sungguh di era globalisasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa manusia dalam kemudahan. Ilmu pengetahuan dan teknologi dipersiapkan sesuai dengan fitrah manusia artinya memenuhi dorongan asasi manusia yaitu keingintahuan (curiosity) terhadap segala sesuatu (realitas). Namun hal tersebut menjadi berbalik, kini manusia telah dikuasai kemajuan teknologi. Mereka sekarang menjadi budak teknologi dengan berbagai gadget tanpa daya.

Banyak karyawan di PHK sebab malamnya ia sibuk dengan meng-update status facebook dan twitter, sehingga saat kerja sering datang terlambat. Begitu juga dengan peredaran video mesum yang mudah diunduh di internet, sehingga menyebabkan banyak kasus seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, perdagangan anak dan lain sebagainya.

Perilaku kehidupan pada era informasi ini juga telah merambah kehidupan personal umat manusia. Sehingga memunculkan gejala-gejala seperti maraknya kasus-kasus perceraian, pengunaan obat-obat terlarang, depresi, psikopat, skizofrenia dan bunuh diri. Dalam pandangan Frijof Capra hal tersebut sebagai bentuk “penyakit-penyakit peradaban”. Ternyata perkembangan sains dan teknologi yang spektakuler pada abad ke-20 tidak selalu berkorelasi positif dengan kesejahteraan umat manusia.
Problem mendasar yang dialami manusia di zaman modern saat sini biasa disebut dengan alienasi dan reifikasi. Menurut Erich Fromm alienasi adalah sebuah penyakit mental yang ditandai oleh perasaan keterasingan dan segala sesuatu; sesama manusia, alam, Tuhan, dan jati dirinya sendiri.

Hal ini terkait dengan gejala reifikasi (pembendaan objektivikasi) bahwa manusia modern menghayati dirinya sendiri sebagai benda, obyek; yang pada gilirannya, duniapun hanya dianggap sebagai kumpulan fakta-fakta kosong (tanpa makna dan nilai). Dunia yang direifikasi telah menjadi dunia yang tidak manusiawi. Praktik-praktik konsumerisme, hedonisme sebagai sebab alienasi manusia atas bahaya laten globalisasi atas mudahnya mendapat informasi dan teknologi.

Persoalan krisis global semakin kompleks dan multidimensional tidak saja dialami manusia namun berimbas pada salah satu masalah serius yakni kerusakan ekologi atau lingkungan hidup. Menjadi isu global yang melibatkan cara pandang manusia modern terhadap alam. Alam telah dipandang sebagai sesuatu yang harus digunakan dan dinikmati semaksimal mungkin. Memang dominasi terhadap alamlah yang menyebabkan masalah bencana, lahan semakin sempit, kurangnya ruang bernafas, kemacetan kehidupan kota, pengurasan jenis sumber alam, hancurnya keindahan alam.

Paradigma yang membebaskan
Perilaku umat manusia dengan perkembangan gadget dan eksploitasi terhadap alam ini disebabkan oleh konsepsi materialistik tentang dirinya dan alam yang didukung dengan nafsu dan ketamakan yang semakin banyak menuntut kebutuhan hidup. Semua ini dalam pandangan filosofis akibat dari cara pandang yang dualistik-mekanistik dan materialistik. Cara pandang ini menyebabkan terjadinya dikotomik atau diversitas (pembedaan) seperti; subyek-obyek, manusia-alam, manusia-Tuhan, suci-sekuler, timur-barat.

Cara pandang dikotomik ini menyebabkan tidak harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam yang telah dihancurkan. Semua ini terkait dengan ketidakseimbangan yang disebabkan oleh hancurnya harmoni antara Tuhan dan manusia. Positivisme ilmu menempatkan paradigma Cartesian-Newtonian yang memperlakukan manusia dan sistem sosial seperti mesin besar yang diatur menurut hukum-hukum objektif, mekanis, dan materialistik.

Dari paradigma tersebut menuntut pembahasan tentang konsepsi manusia seutuhnya dan dampak krisis ekologis ke dalam pandangan dunia baru. Sebagai sebuah skenario proyek penyelamatan umat manusia dan ekosistem dengan mengajukan paradigma yang mampu memanusiakan manusia dengan teknologi dan alam.

Cara pandang yang menempatkan teknologi sebagai obyek bukan subyek, sebab manusia telah menjadi korban (obyek) dari teknologi dan pembelajaran kesadaran lingkungan yang sekarang ini telah menjadi isu internasional yakni masalah global warming. Hal ini merupakan sebuah keyakinan bahwa manusialah yang menjadi standar segala sesuatu. Kebenaran atau kesalahan ditentukan manusia, manusia adalah pusat atau pengendali alam yang dapat menentukan nasibnya sendiri.

Dengan demikian dalam cara pandang ini bahwa manusia bebas untuk menikmati berbagai macam perkembangan teknologi dan keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang bergantung kepada alam. Akan tetapi manusia terikat dengan adanya konskwensi logis berupa baik-buruknya yakni terhadap dirinya, manusia laninnya, alam semesta dan Tuhan.

Maka kita harus bijak dalam menggunakan teknologi dan memanfaatkan alam ini. Sebab manusia merupakan subyek yang harus menjaga dan memakmurkan bumi, bukannya merusak atapun menghancurkannya. Sejatinya manusia adalah khalifah atau pemimpin dibumi yang mengemban amanah untuk menjaga kesetabilan lingkungan dan tentunya hubungan dengan Tuhan. Ketika dirinya rusak maka rusak pula hunbugannya dengan sang khalik, berbuatlah bijak terhadap apa yang telah dikaruniakan kepada kita. Menggunkan dan memanfaatkan segala sesuatu sesuai dengan kebutuhan dan keperluan.

Tuesday, November 12, 2013

Pendidikan Nilai Ekologi

Suara Merdeka - 01 September 2008

PENANAMAN nilai-nilai sangat perlu dalam pendidikan untuk membangun kesadaran anak didik. Jadi, mereka mengetahui siapa diri dan lingkungan hidup mereka. Pendidikan nilai menekankan keseluruhan aspek sebagai pengajaran agar anak didik menyadari nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan, termasuk penanaman nilai lingkungan.

Pendidikan lingkungan jadi jalan pengenalan dan menumbuhkan kesadaran soal lingkungan. Aspek etika dan moral tak semata-mata untuk berinteraksi, tetapi juga menanamkan nilai lingkungan hidup.
Kini, pencemaran lingkungan banyak disorot.

Faktor utama perusakan adalah penggunaan besar-besaran produk teknologi modern. Aktivitas industrial dengan membakar hutan menghasilkan semburan miliaran ton partikel, gas karbondioksida, dan klorofluorokarbon.

Emisi karbon muncul dari pembakaran bahan bakar fosil yang tak dapat diperbarui, seperti batu bara, gas, dan minyak bumi. Kerusakan hutan, khususnya di Indonesia yang jadi paru-paru dunia, punya andil cukup besar sebagai pemicu perubahan iklim dan pemanasan global akibat penipisan lapisan ozon.

Perusakan hutan dan penyulapan lahan petanian jadi area industri dan perumahan menimbulkan dampak negarif, antara lain kekeringan. Indonesia sangat merasakan dampak kerusakan sistem cuaca.

Kerusakan sistem cuaca menimbulkan anomali iklim berupa kenaikan suhu 1-1,5 derajat Celcius di Afrika, sehingga masa udara kering dari Australia bergerak ke hutan Afrika. Terjadilah kekeringan di kawasan ekuator, termasuk Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sumatera.

Perubahan iklim mempersulit negara berkembang seperti Indonesia mencapai sasaran pembangunan berkelanjutan dan tujuan pembangunan milenium. Perubahan iklim mengancam ketersediaan sumber daya alam serta menciptakan persoalan baru dan membuat pencarian solusi makin sulit dan mahal.

Perlu rekonstruksi bidang pendidikan untuk menghadapi tantangan zaman global. Format pendidikan yang sesuai perlu strategi dengan penerapan pendidikan nilai ekologi berbasis agama sebagai sumber penanaman jiwa untuk mengenali arti kehidupan.

Pendidikan nilai lingkungan merupakan proses pembelajaran yang menghasilkan perubahan tingkah laku dan sikap untuk menghargai lingkungan hidup dari mikrokosmos hingga makrokosmos. Bukan cuma penyampaian pesan berupa pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai untuk mengenali diri sendiri dan lingkungan.

Diharapkan siswa mampu mempraktikkan, melestarikan, dan memanfaatkan lingkungan sesuai dengan kebutuhan. Siswa mampu mengetahui peran dan tanggung jawab dalam hubungan tiga dimensi antara Tuhan, alam, dan manusia. (53)

Monday, November 11, 2013

Merdeka dari Utang dan Korupsi

Koran Barometer - 20 Agustus 2013

KEMERDEKAAN memiliki arti not subject to control by other yang mengandung makna self governing (memerintah sendiri) dalam artian bangsa Indonesia memiliki kewenangan untuk bisa berdiri sendiri dengan beragam fasilitas sumber daya alam maupun sumber daya manusia sehingga menciptakan tatanan masyarakat yang adil dan makmur sesuai dengan konstitusi kenegaraan.

Apakah kita benar-benar telah merdeka?. Memang kita memang mendapatkan pengakuan secara de jure oleh dunia internasional, bahwa kita telah memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Sehingga kita dikenal sebagai bangsa yang besar dengan beragam suku, agama dan budaya yang kemudian disatukan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bangsa ini memiliki wilayah yang besar dari Sabang sampai Merauke dari Aceh sampai Nabire dan sumber daya alam yang melimpah baik didaratan maupun lautan. Hal ini tidak terlepas dari jasa para pahlawan yang telah melakukan pengorbanan besar, tetesan air matanya, darah, barang, keluarga hingga nyawa jadi taruhannya. Perjuangan yang sangat amat melelahkan untuk mengusir para penjajah.

Saat ini kemerdekaan ini diwariskan kepada generasi penerus untuk dipertahankan. Mendapatkan kemerdekaan secara de jure adalah pekerjaan yang berat, tapi upaya untuk mempertahankan kemerdekaan justru sangat amat berat sekali. Sebab sampai saat ini kemerdekaan secara de facto masih menjadi tanda tanya besar bagi bangsa Indonesia yakni kemerdekaan dilihat dari kaca mata realitas sosial kemasyarakatan dan kenegaraan, bangsa ini masih dikekang dengan berbagai persoalan. Jika dulu dikekang dengan cara perang dan kontak senjata, tapi sekarang ini dengan beragam perang yang lebih membahayakan yakni perang ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi maupun budaya.

Sehingga mendapatkan ancaman besar dan ada tanda-tanda sebagai negara yang gagal atau bangkrut. Ancaman itu antara lain, (1)  Utang pemerintah Indonesia yang mencapai Rp. 2.036,14 triliun. Dikutip dari data Kementerian keuangan, jumlah cicilan utang yang dibayar berupa cicilan pokok atau bunganya dari Januari hingga Juni 2013 berkisar Rp. 135,485 triliun atau 45,2% dari target cicilan utang yang akan dibayar pemerintah pada tahun ini. Selain utang yang menumpuk aset negara menjadi ladang empuk negara asing yakni aset negara dan sumber daya alam banyak yang dikuasai oleh pihak swasta.

Menumpuknya utang negara dan aset negara beserta sumber daya alam yang dikuasai swasta disebabkan pengelolaan anggaran yang tidak transparan dan tidak efektifnya pengelolaan anggaran sehingga rentan di korupsi dan digunakan oleh kepentingan politik tertentu. (2) Ancaman perangkap ekonomi pendapatan menengah (middle income trap) yang dapat menggangu stabilitas perekonomian nasional, hal ini dikarenakan rendahnya ekspor akibat kalah bersaing dengan negara lain dan yang lebih parah yakni ketidakmampuan mengendalikan kekayaan bangsa ini berupa sumber daya alam yang melimpah sehingga dikuasai oleh pihak swasta.

Ancaman middle income trap ini sangat berbahaya bagi negara berkembang karena dapat dapat menyebabkan kelemahan sektor ekonomi seperti tingginya inflansi, menurunnya pertumbuhan ekonomi, naiknya angka kemiskinan dan tingginya jumlah pengganguran. (3) Sedangkan ancaman yang terbesar yakni jati diri bangsa itu sendiri, moralitas kebangsaan semakin tergerus slogan Bineka Tunggal Ika dan wawasan pancasila semakin luntur sehingga berakibat pada perilaku dan sikap sumber daya manusianya.

Kita meyakini dan percaya diri sebagai negara yang besar, hal ini perlu diupayakan untuk bisa memaknai kemerdekaannya secara de facto untuk bisa memaksimalkan sumber daya alam untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya dan saatnya kita kembali kepada konstitusi negara yang memiliki tujuan kebersamaan dan turut serta mewujudkan perdamaian. Diperlukan upaya pemecahan bersama untuk Indonesia benar-benar merdeka. Pertama, memaknai diri sebagai negara kesejahteraan yakni sebenar-benar merdeka yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 45 bahwa bangsa Indonesia terbentuk memilki tujuan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, ikut memajukan kesejahteraan umum, mencerdasakan kehidupan bangsa dan turut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasar pada kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Negara kesejahteraan selalu berusaha untuk melakukan pembangunan sektor-sektro penting seperti pembangunan ekonomi secara adil dan merata. Karena kita negara kepulauan, sehingga pusat-pusat pembangunan tidak hanya tersentral di pulau Jawa atau Batam melainkan pulau-pulau lain sebagai bentuk terciptanya keadilan dalam pembangunan. Begitu juga sektor sumber daya manusia perlu didorong untuk dapat bersaing di era pasar bebas.

Kedua, negara kemandirian artinya di era otonomi daerah memilki kewenangan untuk mengatur dan mengurusi rumah tangganya. Melalui kewenangan desentralisasi keuangan, daerah dituntut untuk mampu memberikan peningkatan Pendapatan Anggaran Daerah (PAD). Sehingga daerah maupun pemerintah pusat untuk selektif dalam memanfaatkan sumber-sumber penerimaan daerah yang produktif, penerimaan tersebut didukung dengan perundang-undangan daerah yang terkontrol. Sehingga diharapakan usaha produktif daerah tidak terjadi penyelewengan dan bahkan dikuasai oleh pihak-pihak asing atau swasta.

Negara kemandirian mengupayakan terwujudnya kemadirian lokal melalui pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Meski Badan Pusat Statistik merilis data pada tahun 2013 ini Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami kenaikan berada pada angka 6,02% dari pada tahun lalu. Namun struktur perekonomian triwulan I tahun 2013 masih didominasi oleh Wilayah Jawa dan Sumatera. Bahkan pertumbuhan PDB tersebut hanya terbatas pada sektor pengangkutan dan komunikasi, yaitu sebesar 9,98% yang disusul oleh sektor keuangan, sektor real estate, dan sektor jasa perusahaan besar pada angka 8,35%. Hal ini perlu menjadi PR besar bagi bangsa ini, perkembangan sektor ekonomi masih terbatas pada sektor non-tradeable atau hanya sektor-sektor seperti jasa keuangan, asuransi, pengangkutan, restoran, hotel maupun real estate. Maka sektor treadeable harus menjadi perhatian serius yakni perindustrian dan pertanian. Jangan sampai industri dikuasai asing dan lahan-lahan pertanian maupun lahan lain seperti hutan dan laut menjadi komoditas yang terabaikan.

Ketiga, negara kebudayaan dalam artian kita harus mampu memahami diri sebagai sebuah negara, negara dibentuk oleh rakyat tanpa rakyat negara pastinya tidak ada. Terbentuknya negara karena kebudayaan kita yang menginginkan rasa persatuan dan kesatuan, sehingga banyaknya suku, ras, agama dan berbagai elemen organisasi menjadi bagian kekayaan kebudayaan yang tidak ada bandingannya di dunia. Maka bangsa ini harus menyadari dirinya, bahwa perbedaan itu adalah untuk kebersamaan bukan perpecahan.

Melalui negara kebudayaan, diharapkan program seperti pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan menjadi tongak untuk bisa bersikap dan berperilaku baik sehingga tidak mementingkan diri sendiri ataupun golongan tertentu. Masalah seperti korupsi, segera diberantas dan praktek-praktek ilegal serta pungutan-pungutan liar selayaknya tidak ada di negara kebudayaan.

Friday, November 8, 2013

Ramadhan Bulan Pendidikan Anti Korupsi

Suara Merdeka - 13 Agustus 2013

SLOGAN ramadhanyang sering kita dengar dan lihat di reklame, spanduk maupun sponsor di media cetak maupun elektronik yakni “Bersihkan Diri dan Sucikan Hati”. Hal tersebut layaknya perlu ditamhan dengan slogan “Anti Korupsi”. Karena sebagai warga negara yang menjunjung nilai-nilai ketuhanan tentu sangat mendukung pemberantasan korupsi yang telah mengejala dan setiap tahunnya meningkat jumlah orang yang melakukan tindak pidana korupsi. Tentu perilaku seperti ini sangat ironi bagi bangsa yang menjunjung tinggi ketuhanan.

Di sini perlu kembali membincang makna dan hakikat puasa. Puasa bukanlah ekspresi tahunan yang datang setiap tahun untuk di peringati dengan beragam aktifitas kemewahan ataupun bersikap konsumtif, namun setiap umat Islam wajib melaksanakan puasa ramadhan selama sebulan penuh untuk mencapai tujuannya menjadi manusia yang bertakwa (Al-Baqarah ayat 185), tentu bagi orang-orang yang beriman.

Manusia dan Kekuasaan
Manusia hidup tidak terlepas pada etika, norma dan hukum yang berlaku, begitu juga seseorang yang memeluk agama ada garis pembatas untuk melakukan sesuatu hal. Terlepas dari teori etika Karl Marx berpendapat bahwa moral manusia ditentukan oleh kondisi ekonomi berupa materi yaitu moral manusia ditentukan oleh lingkungan yang mempengaruhinya. Sifat manusia sama sekali tidak memiliki daya dan upaya terhadap kondisi lingkungan. Kondisi sekarang menunjukan bahwa kapitalisme telah menjajah manusia yang cenderung bekerja pada wilayah material.

Faham Karl Marx sampai sekarang tetap masih hidup walaupun komunisme telah hancur teriring hancurnya Negara Uni Soviet, namun faham tersebut tetap bertahan sampai sekarang yaitu mereka yang disebut dengan “wetensdhappelijke socialism” atau sosialisme ilmu.

Di Indonesia dulu aliran Marx atau biasa disebut dengan Marxisme sangat berkembang pesat, terutama kelompok politik sebut saja Partai Sosialis Indonesia (PSI), Marxisme-Trozkist dalam Partai Murba dan Marxisme-Leninist dalam Partai Komunis Indonesia (PKI).

Faham yang kedua datang dari Sigmund Freud seorang ahli “psikoanalisis”, yang menyatakan bahwa manusia sama sekali tidak berdaya terhadap kekuatan yang ada dalam dirinya yaitu berupa kekuatan libido atau kekuatan seksualitas. Semua aktifitas dan pikiran serta perilaku sesorang bersumber pada dorongan kekuatan libido atau seksual, dalam artian bahwa manusia adalah budak sek.

Pertanyaan yang kemudia muncul adalah apa hubungan teori Marx dan Freud terhadap puasa dan pendidikan anti korupsi?. Karl Marx dan Sigmund Freud merupakan seorang keturunan Jerman dan Yahudi. Pada teori ini dapat di tarik kesimpulan dua pemikiran yaitu manusia sebagai budak material berupa masyarakat yang cenderung kapital dan budak kekuatan seksualitas berupa perbutan kekuasaan.

Di sebutkan dalam al Qur’an surat Adz Dzariat ayat 56 menyatakan bahwa “tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepadaKu”. Manusia adalah seorang budak “abdun” atau seseorang yang menyembah. Namun realitas menunjukan lain sekarang manusia telah menjadi budak ajaran Marx dan Freud dan menginkari nikmat mereka saling berebut materi di pemerintahan. Mereka cenderung melakukan tindakan korupsi dan istri-istri mereka seakan di umbar di media masa, sehingga seolah korupsi selalu bergandeng mesra dengan sensualitas para wanita.

Mentalitas koruptor yang menggejala ini sangat merisaukan jika masih mengikuti ajaran kapitalis berupa penindasan atas nama kesejahteraan dan kemakmuran. Kita ketahui bahwa kekuatan modal sangat berpengaruh dalam dunia ketiga atau era pasar bebas sebut saja Transnational Corporation (TNC) dan Multinational Corporation (MNC) dan bangsa Indonesia telah terjajah dengan faham kapitalisme global. Mengapa mentalitas pemimpin negeri tidak cenderung keluar dari sarang material dan seksualitas, sedangkan Negara tercinta ini masih saja menjadi budak oleh kekuatan asing.

Semua jawabannya yaitu pada kekuatan diri berupa “nafsu”. Rasulullah telah mengajarkan kepada kita bahwa jihad paling besar yaitu “jihad an nafs”, jihad melawan hawa nafsu atau melawan diri sendiri. Kekuatan nafsu menjadi pendorng mentalitas seseorang sebab jika al hawa atau nafsu al amarah menyerang diri seorang maka sifat jasmani dan ruhani manusia akan lemah dan memiliki mentalitas korup.

Kekuatan pengendali manusia berupa nafsu inilah yang menjadi senjata ampuh untuk mengikat keinginannya tehadap sifat meteri dan seksualitas. Sebab dalam pandangan Marx dan Freud pengendali manusia berkerja pada wilayah lingkungan yang cenderung kapital dan seksualitas atau libido terhadap kekuasaan ataupun selingkuhannya.

Maka saatnya seorang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah kembali menata nafsunya. Sesegera mungkin kembali kepada nafsu mutmainah (jiwa yang tenang). Stop tindakan korupsi sekarang juga, atau akan menyesal di kemudian hari.

Puasa dan Korupsi
Puasa adalah ibadah maghdhoh rukun Islam ke empat. Di dalam ajaran puasa sangat berbeda dengan rukun Isalm lainnya seperti syahadat, shalat, zakat dan haji. Puasa lebih berorintasi teosentris berupa semua hal yang dilakukan dan dikerjakan semua hanya Allah yang menilainya. Derajat takwa tidak mudah untuk diraih sebab tingkatan inilah yang menjadi dasar seseorang mengetahui diri dan perannya sebagai hamba atau budak.

Puasa hanya di syari’atkan kepada dirinya yang mengaku beriman sebab puasa merupakan pengendalian dirinya dengan Tuhannya. Karena puasa tidak dapat dilakukan atas dasar penampilan, kekuasaan materi dan kekuatan libido. Puasa menurut bahasa adalah “menahan dari segala sesuatu”. Sedangkan menurut syari’at yaitu menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri dan semua hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari

Dari ibadah puasa ini seyogyanya manusia megetahui jati dirnya, maka tidak cenderung terikat penuh dengan teori faham Marx dan Freud: Pertama, kekuatan manusia memang terikat dengan materi namun juga terikat dengan immaterial berupa kekuatan qalb (hati), puasa mengajarkan menahan nafsu materi. Dalam hal inilah sepatutnya untuk menjaga sikap dan perilaku untuk tidak melakukan tindakan korupsi. Kedua, kekuatan manusia tidak hanya libido namun juga an-natiq (pikiran). Nasfu seksualitas pada kekuasaan dan sek, tidak semua hal terpenuhi dengan menguasai tapi lihatlah siapa yang hidup di sekeliling kita, karena puasa mengilhami untuk menjaga nafsu libido dan memulyakan manusia lainnya,

Ketiga, nafsu mutmainah bahwa manusia memiliki kekuatan selain kekuatan materi, material, libido dan pikiran. Manusia juga diberi kekuatan berupa kekuatan jiwa yang selalu dalam ketakwaan berupa nafsu mutmainah. Puasa merupakan intisari upaya membentuk jiwa seseorang dan pengemblengan mental tangguh.

Sangat jelas sekali bahwa syari’at Islam mengajarkan untuk menahan diri dari segala hal yang dilarang dan bertujuan untuk meraih tingkatan takwa. Orang yang mencapai derajat pada tingkatan takwa yaitu seseorang yang terpelihara dari segala yang menjerumuskan atau segala hal yang dilarang oleh agama. Ibarat seseorang yang dalam perjalanan ia harus membawa bekal dan tahu tujuan yang diharapkan, jadi agama menjadi bekal untuk mengarungi kehidupan didunia sebagai hamba guna meraih tujuan hidup yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Takwa berasal dari kalimat fi’il atau kata kerja “tattaquwn, yattaquwn”, yang berarti melaksanakan seluruh hal yang diperintahkan dan menjahui segala hal yang dilarang.

Saatnyalah manusia kembali mengkoreksi dirnya, siapa yang mengendalikan dirinya kekuatan material kah atau kekuatan libido kah. Semua bentuk penindasan datang karena kekuatan material dan seksualitas, sehingga perlu dicegah sebagai upaya untuk tidak melakukan tindak korupsi.

Tuesday, July 20, 2010

Dekonstruksi Perempuan dalam Keluarga


PEREMPUANLAH, yang di keluarga biasa dipanggil dengan sebutan ibu, yang memberikan ketenangan dan kasih dan sayang pada anak-anak. Mereka, dan bukan lelaki, yang jadi pemimpin rumah tangga. Namun justru merekalah yang sering menerima kekerasan dalam rumah tangga. Peran serta derajat dan martabat mereka dilecehkan.

Di rumah tangga, peran dan kedudukan perempuan acap terpinggirkan. Perempuan mengalami tragedi yang muram dan memprihatinkan.

Pada zaman Yunani dan Romawi, perempuan dianggap pembantu atau budak yang tak memiliki hak apa pun. Di Arab sebelum masa kerasulan Muhammad, posisi perempuan sangat dibenci.
Perempuan yang melahirkan anak perempuan dianggap menimbulkan beban berat dan pembawa malapetaka.

Maka, orang tua boleh membunuh anak perempuan.
Kini, perempuan rumah tangga sering terjebak arus globalisasi. Perempuan-perempuan itu cenderung hedonistis karena selama berkutat di rumah tangga sering menerima informasi dari televisi atau media masa yang mengonstruksi cara pandang mereka. Mereka terjebak iklan karena media lebih banyak menampilkan produk bagi perempuan.Perempuan menjadi lebih sibuk belanja dan konsumtif. Itu mengembalikan mereka ke wujud penindasan lain, yakni hedonisme yang berujung ke kekerasan dalam rumah tangga.
Merusak Citra Hedonisme dalam berumah tangga merusak citra perempuan. Mereka tersihir untuk tampil indah, seksi, atau feminin. Akibatnya, mereka lebih fokus pada bentuk dan penampilan. Bukan pada peran dan status.

Padahal, rumah tangga semestinya menjadi wahana membangun peradaban baru. Namun, kini, rumah tangga telah meminggirkan peran dan kedudukan perempuan. Studi etika rumah tangga memunculkan sosok perempuan sebagai korban media dan konstruksi sosial yang menempatkan mereka ke wilayah domestik.

Itu memunculkan gerakan feminisme baru dalam skala rumah tangga. Feminisme dipengaruhi filsafat eksistensialisme yang dikembangkan pemikir Prancis, Jean-Paul Sartre. Dalam pandangan Sartre, manusia tak punya sifat alami. Esensi manusia dibentuk oleh kreasi sosial atau dipengaruhi lingkungan.

Pada dasarnya eksistensialisme menolak eksistensi berdasar stereotipe gender lelaki dan perempuan.Eksistensialisme mengajarkan pada perempuan untuk melepaskan diri dari norma patriarki agar dapat menemukan eksistensi, termasuk dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Perempuan pun melawan. Mereka meruntuhkan adat-istiadat dan hukum yang secara tak adil membatasi kebebasan untuk menentukan diri: bekerja di rumah atau berkarier. Karena itu perlawanan feminisme terarah ke peran, status, dan kedudukan lelaki. Perempuan melawan budaya ciptaan kaum lelaki.

Di negeri ini, Kartini adalah salah satu pioner yang tergugah melawan budaya patriarki. Di Eropa era 1917-1970, para feminis, antara lain Clara Zetkin, pun mempropagandakan pada perempuan yang selalu terintimidasi untuk melakukan aksi mogok atau demonstrasi.

Kini, mengapa perempuan terjebak arus hedonisme saat menjalankan status dan peran di rumah tangga? Padahal, perempuan di keluarga memiliki peran vital. Mereka bukan hanya membesarkan anak-anak, melainkan juga terkait dengan pembentukan peradaban baru.

Eksistensialisme memosisikan perempuan ke wilayah eksistensial; perempuan menjadi orang nomor satu di keluarga untuk mendidik generasi penerus dan tak terjebak budaya praktis kapitalis. Karena itu, kini, adakah feminis yang seberani Kartini dan Clara Zetkin? Ibu rumah tangga yang mampu melakukan perubahan sosial dan melontarkan pandangan baru untuk Indonesia yang lebih bermartabat?

Tak semestinya perempuan rumah tangga terjebak propaganda kapitalis yang menawarkan hedonisme, pragmatisme, konsumtivisme dalam berumah tangga. Perempuan harus bisa menempatkan diri sesuai dengan peran dan status di rumah tangga. Selain, tentu saja, harus mendapatkan hak dalam berumah tangga sehingga mampu menempatkan mereka ke wilayah eksistensial. (51)

- Lukni Maulana, alumnus IAIN Walisongo Semarang, peneliti pada Scientific and Affection (Sciena) College

Thursday, June 4, 2009

Memberdaykan Ekonomi Mikro Sentra Tanah Liat

Suara Merdeka - Rubrik BlogPrint

KENDAL - Masyarakat Indonesia banyak mengantungkan hidupnya dikawasan pertanian atau agraria. Pada sisi lain ada potensi disekitar kawasan pertanian yaitu sentra industri tanah liat, yang sangat potensial untuk dikembangkan, diataranya yaitu pembuatan bata merah, genteng dan gerabah. Namun banyak pokok permasalahan yang dialami disentra industri tersebut diantaranya yaitu ketersedian sumber daya manusia, alat yang masih tradisonal dan aspek profesionalitas industri terkait dengan pola manajemen dan marketing.

Jika saja pemerintah dan para investor melirik industri tersebut tentu saja akan menjadi menarik. Sebab potensi tersebut sangat menjanjikan guna menopang ekonomi mikro lebih bermartabat. Sebab ekonomi mikro merupakan salah satu faktor yang dapat mengankat laju ekonomi nasional.

Maka dari itu baik pemerintah dan para investor dapat langsung terjun ke sentra industri tersebut, guna untuk memastikan potensi yang menjanjikan. Hal in terkait dengan aspek pengembangan industri kecil untuk tetap eksis seiring dengan industi persaingan ekonomi global.


Kerja sama dari berbagai pihak sangat dibutuhkan, sebagai upaya untuk menindak lanjuti perkembagnan ekonomi menuju persaingan global. Andai saja potensi tersebut dapat dimaksimalkan, tak pelak di desa industri sentra tanah liat akan mendapati masyarakat yang makmur dan membuka akses lapangan pekerjaan. 


(Desa Tamangede Kecamatan Gemuhl Kabupaten Kendal)

Friday, April 24, 2009

Blog Bukan Sekedar Trend


Blogging sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat Indonesia, hal ini diperkuat dengan maraknya kaum muda profesional (mahasiswa) memiliki jejaring internet untuk mengaktualisasikan ide, pemikiran, gagasan, dan mencari uang di Google AdSense. Bahkan setiap tanggal 27 Oktober diperingati sebagai hari Blogger. Antusias tersebut membuktikan bahwa blog menjadi ciri dari perkembagan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Blogging adalah suatu hal dari arus perubahan zaman. Mahasiswa merupakan kaum muda intelektual yang memiliki peran sebagai agen perubahan. Pilihan untuk memiliki blog sebagai jejaring antar mahasiswa diseluruh Indonesia merupakan sebuah kebutuhan yang semestinya dapat terwujud.

Tapi akan menjadi pertanyaan, sejauh manakah mahasiswa yang ada di Indonesia memanfaatkan blog? Mengapa diperlukan media blog sebagai jejaring antar mahasiswa?


Sebagai trend yang telah mengejala. Begitulah ungkapan sederhana menilai dari perkembangan mahasiswa memanfaatkan media gratis tersebut. Blog memiliki berbagai manfaat sebagai media curhat, diary, promosi hingga mencari finansial. Fasilitas yang terdapat di blog terdiri berbagai macam selain sebagai ajang kreatifitas dan marketing. Biasanya mahasiswa memanfaatkan blog selain hal tersebut juga untuk saling tukar pendapat memberikan komentar pada tiap postingan dan jalinan persaudaraan di shout box. Namun tergantung bagaimana mahasiswa memaknai manfaat dan fungsi blog. 


Akan menjadi berguna jika blog sebagai suatu media untuk menjalin jejaring antar mahasiswa yang berada di Indonesia atau bahkan mahasiswa di luar negeri. Blog sangat penting untuk membangun rasa persaudaraan. Hal ini diperkuat dengan maraknya mahasiswa mengikuti komunitas blogger. Jika blog menjadi jejaring antar mahasiswa di Indonesia maka akan menjadi wadah komunitas intelektual yang unggul.

Seharusnya blogging tidak hanya menjadi trend untuk sekedar mencari finansial dan aktualisasi diri, namun sangat positif jika menjadi media untuk membangun jejaring antar mahasiswa. Melalui komunitas blog antar mahasiswa, maka nuansa ilmiah akan terbangun, ide dan gagasan untuk perubahan Indonesia yang lebih baik dari kaum muda akan muncul dengan sendirinya. Bahkan akan menjadi tempat untuk saling berbagi informasi atau menjadi media menyalurkan kegemaran mahasiswa di seluruh Indonesia.


Blogging sebagai media jejaring antar mahasiswa dapat terjalin erat bila ditegakan dengan pondasi yang kuat. Peran blogging sebagai pondasi dalam memupuk multikulturalisme dan pluralisme antar mahasiswa di seluruh Indonesia. Jangan hanya memanfaatkan blog sebagai hal yang kurang bermanfaat atau hanya menjadi konsumen dari perkembangan zaman. Blogging berbasis jejaring antar mahasiswa akan menjadi media untuk bangsa yang beradab.