Sunday, November 1, 2015

Parade Bulan Bahasa Tangan Kuasa di Kampus Undip Pleburan


Pada acara parade bulan bahasa yang diselenggarakan oleh Fakultas Budaya Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Sabtu, 31/10/2015). Mengingatkanku pada acara baca puisi memperingati tujuh hari pakar hukum progresif yakni Prof. Satjipto Rahajo beberapa tahun silam.

Aku membaca puisi karya sendiri dibantu sedulur dari Jepara Kang Mas Muhadz Ali Jidzar. Puisi bertema tentang hukum di Indonesia. Ada empat lembar naskah puisi. Pada waktu itu dihadiri oleh Prof. Eko Budiharjo dan Pak Mahfud Ali yang pada saat itu mencalon diri maju diajak pemilihan walikota Semarang.

Namun pada kali ini berbeda, aku tidak membaca dengan teks yang tersedia meski sebenarnya aku mempersiapkan teks yang telah aku sediakan di dalam saku jaket yang aku kenakan. Karena tubuhku yang lagi tidak merasakan kenikmatan oleh karena flu dan batuk. Kalimat deklamasi puisi yang aku hafalpun keluar.

Aku bercerita bahwa awal kali kembali dari pondok pesantren di Tambakberas Jombang, untuk mendaftar di kampus pilihan jatuh di kampus Universitas Diponegoro rencana ingin mengambil jurusan sosial politik. Namun ketika sampai di depan gerbang kampus UNDIP, niat untuk mendaftarkan diri menjadi mahasiswa sirna. Disitu aku hanya berkunjung saja, tidak jadi mendaftar untuk ikut bersaing agar dapat diterima menjadi mahasiswa Universitas Diponegoro jurusan sosial politik.

Wednesday, October 14, 2015

Dari Rumah Sastra Sragen Membaca Indonesia

10 Oktober 2015 - Perjalanan dari kota Semarang menuju Kota Sragen terasa memikat oleh sebab kemacetan yang membuat diri ini lelah.

Namun rasa itupun tiba-tiba tidak berasa karena kita dapat menjalin tali silaturahmi sastra yang dilaksanakan di Rumah Sastra Hardjono Sragen yang dikelola oleh Mbak Sus Hardjono Setyawati.




Monday, May 25, 2015

Malam Progo 3 di Pendopo Kota Temanggung

SULIT RASA ini memutuskan hendak kemana malam minggu, menghadiri acara Konfrensi di Mranggen Demak atau peluncuran antologi puisi Progo 3 di Temanggung.

Namun sore itu pikiranku langsung menuju Temanggung, tepat pukul 15.30 Wib setelah jamaah shalat ashar akupun melaju dengan Mbak Vega, Sabtu (23 Mei 2015)

Sudah terlihat Kota Temanggung, sebelum sampai kota aku sempatkan menikmati kuliner pinggiran kota. Dan tentunya yang dibutuhkan tubuh adalah kehangatan, jeruk hangat itu merasuki tubuhku.

Aku datang ke Temanggung bukan ingin membacca puisi, tapi membagi cinta dan menjaga tali silaturahmi. Namun pembaca acara menyebut namaku, dan sebagai bentuk cinta akupun membacakan satu puisi di pendopo bupati Temanggung.

Sebelumnya pada siang hari buku antologi puisi progo 3 dibedah oleh Mbak Nia Samsihono dan Kang Gunoto Saparie. Gantian malam harinya ada pidato kebudayaan oleh Bambang Sadono, dan acara tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Temanggung Bapak Bambang Karno. Eh..sama-sama Bambang, kalau di singkat jadi BB hehhe.

Tuesday, May 12, 2015

Jejak Pasar Peterongan Orart-Oret

SEBELUMNYA MENGIKUTI pendokumentasian Pasar Peterongan Kota Semarang yang direncanakan akan dibangun pasar modern. Aku mendokumentasikan melalui foto HP dan puisi.

Orart-Oret mengaspresiasi dengan mengusung tema, "Jejak-Jejak Peterongan." Di sanggarnya daerah Kelud - Sampangan Kota Semarang. Beragam penampilan ditunjukan disana, selain hasil karya jejak peterongan didokumtasikan dan dipamerkan serta intalasi mengenang pasar peterongan.

Aku mendapatkan kesempatan untuk membacakan puisi tepat pada hari Senin, 11 Mei 2015 di Kelud - Sampangan Kota Semarang. Meski tidak begitu maksimal, yang pastinya bagaimana kita bisa mewujudkan suatu prespektif baru bahwa kita ini adalah masyarakat berbudaya dan berkewajiban menjaga tradisi dan warisan budaya yang adiluhung tersebut.

Friday, March 27, 2015

Road Show Memo Untuk Presiden di Rumah Betawi Bekasi Wajahku Terbakar

Foto: Sulis Bambang
Pulang dari Road Show MUP, dijemput istri di Stasiun Tawang.
Pertama kali kata yang diucapkan, "KOBONG MANEH (Terbakar lagi)."
Lain lagi dengan putriku, "Yah, belikan Mie Ayam ya."

2 kali WAJAH tekena jilatan api, Blitar dan Bekasi. Dan itu terjadi pasti saat aksi SIANG HARI. Bisa jadi itu LARANGAN, jangan melakukan usapan tisu terbakar pada siang hari di WAJAH.
------------
Pertama kali melakukan bermain dengan Api, era zaman mahasiswa pada hari Selasa, 6 Januari 2009 saat melakukan aksi teaterical bakar diri dibundaran Tugu Muda. Melilitakan koran dan kardus ke seluruh tubuh kecuali WAJAH.

Aksi itu masuk koran lho heheh seperti (Suara Merdeka, Wawasan, Jawa Pos dan Seputar Indonesia), karena aku punya dokumentasinya. Tapi dokumentasi itu lenyap terbawa teman yakni Agus Thohir.

Sedangkan untuk baca puisi, TISU dan API pertama kali aku lakukan pada tanggal 14 Januari 2010 saat memperingati 7 hari wafatnya Prof. DR Satjipto Rahardjo SH, duet bersama Kakak Muhaz dihadiri Alm. Prof. Eko Budihardjo dan Wakil Walikota Semarang Mahfud Ali. Yang terbakar cuman RAMBUTnya aja.

Dan puisiku yg aku baca diminta bule dari Belanda dan Jepang. Lha..masuk koran Jawa Pos, fotonya gambar aksi baca puisiku.

Wednesday, January 21, 2015

Puisi Musim Rambutan dan Nabi Tidak Korupsi

Foto - Arieyoko: Membaca Biji Kehidupan di Rumah Budaya Kalimasada Blitar
Foto - Endang Kalimasada: Wajahku Gosong
DIANTAR ISTRI pagi-pagi menuju Stasiun Tawang, alhamdulillah dapat tiket ke Bojonegoro. Pergi kali ini untuk menghadiri kegiatan, "Pesta Puisi Musim Rambutan di Rumah Budaya Kalimasada Blitar" dan Road Show Puisi Menolak Korupsi (PMK) yang bertajuk "Nabi Tidak Korupsi" di Museum NU Surabaya Jawa Timur.

Dari Bojonegoro, di Stasiun dijemput Kang Arieyoko lalu naik bus menuju kota Blitar. Berselancar ke luar kota selama tiga hari Jum'at 16 Januari - Minggu, 18 Januari 2015.

Kegiatan pertama di Rumah Budaya Kalimasada Blitar yang diasuh dan pemilik oleh Kang Bagus Putu Parto dan Mbak Endang Kalimasada. Seorang pengusaha Kalimasada Cookies yang membuat produk kue kering. Kedua orang suami istri tersebut sangat aspiratif sekali didunia kebudayaan, kesenian dan kesusastraan. Orangnya baik sekali, apa lagi seorang Pengusaha yang turut andil pada wilayah kebudayaan, tentu sangat jarang-jarang kita temui. Lain dari yang lain kedua orang ini, mengundang berbagai penyair, yang tentunya menghabiskan waktu, pikiran, tenaga dan tentunya materi yang tidak sedikit. Semoga apa yang dikeluarkan, apa yang menjadi amanah kebudayaan pada dirinya menjadi teladan bagi kita.
Foto - Agus R Subagyo: Road Show PMK "Sema'an Puisi - Nabi Tidak Korupsi"

Aku membacakan satu puisi dari buku antologiku yang berjudul Biji Kehidupan. Ada hal yang menarik ini untuk pertama kalinya wajahku mengalami luka bakar oleh api dari tissu itu. Ya...Rumah Budaya Kalimasada, menjadi saksi awal wajahku mengalami luka bakar. Padahal sebelumnya belum pernah mengalami hal ini. Padahal aku mulai memainkan tissu, api dan puisi sejak masih kuliah tepatnya sekitar akhir masa kuliah tahun 2008.
Foto - Agus R Subagyo: Museum NU Surabaya


Perjalanan ini berlanjut atas kebaikan pemilik Rumah Budaya Kalimasada Kang Bagus Putu Parto dan Mbak Endang Kalimasada. Kami rombongan penyari diatar menuju Museum NU Surabaya untuk melaksanakan Road Show PMK. Dalam perjalanan sempat mampir dirumahnya Akademisi dan Penyair Kang Tengsoe Tjahjono (Saat ini menjadi Dosen di Korea Selatan). Eh...ya juga mampir makan Bakso di Malang, Bakso Kota Cak Man. Semua ini berkat kebaikan pemilik Rumah Budaya Kalimasada Blitar.

Meski hujan menguyur penyari berbagai kota memeriahkan gelar Road Show PMK di Museum NU Surabaya. Aku bacakan puisi yang berjudul Cahaya Bermata Pedang. Masih memaikan api dan katanya pecikan api sempat membakar karpet panggung, untung penyair dan Dosen Auttar Abdillah singgap mengambil percikan tissu berapi tersebut.

Sampai disini dulu aja, jika diceritakan panjang banget. Salam

Sunday, January 4, 2015

Penyair Api di Pengajian Budaya Tuban


KH. Budi Harjono, Ammar Abdillah dan Lukni Maulana (Penyair Api)

PENYAIR API itulah sebuatan untuk diriku yang memiliki nama lengkap Lukni Maulana, aku tidak tahu siapa pertama kali menyematkan julukan, "Penyair Api" terhadap diriku.

Pastinya aku mendapat julukan terkait paut dengan api yakni pada 6 Januari 2009 pada masa kuliah di IAIN Walisongo Semarang yang kini berganti nama menjadi Universitas Islam Neeri (UIN) Walisongo, mendapatkan julukan, "Manusia Api", tentu ada peristiwa yang meyelimutinya yakni ketika  teaterical bakar diri yang aku lakukan.

Penyair Api tampil membacakan puisinya diacara selapanan pengajian budaya yang diadakan oleh Caping Gunung Tuban. Bertempat diarea Terminal Lama Kota Tuban. Pengajian budaya Caping Gunung ini diasuh oleh KH. Budi Harjono.

Tuesday, December 30, 2014

Gundul Pacul di Mranggen Demak bersama KH. Budi Harjono





BACA PUISI diacara pengajian dalam rangka Hual ke-3 Ibu Lastri di Ds. Teluk Mranggen Kab. Demak, mauidhoh hasanah oleh KH. Budi Harjono.
Foto Dok: Kiai Budi II

Salam cinta Mas Ammar Abdillah.

Ketelingsut Gundul-Gundul Pacul versi Kang Agus R. Subagyo.
Ealah dadi ileng gunung Kendeng Rembang Kelana Siwi Kristyaningtyas,Kang Putu dkk)
 
Alas-alas gundul ndul gembelengan
Gunung-gunung gundul gembelengan
Banyu kali sabane tekan ratan
Banyu udan dadine ngebaki dalan

29/12/2014

Wednesday, November 5, 2014

Oh My Darling, Road Show PMK di PP Darul Ulum Pasuruan

Jagongan Budaya - Road Show Puisi Menolak Korupsi di PP. Darul Ulum Pasuruan
KEMBALI HADIR dalam perjalanan pendidikan nilai anti korupsi di Gerakan Puisi Menolak Korupsi ke-26 di Pondok Pesantren Darul Ulum Pasuruan. Dengan munggusung tagline, "Jagonan Budaya" dengna tema Dengan Puisi kutolak Korupsi.

Meski ada yang mengatakan ciri khasku ilang, yakni ciri menggunakan "Api", namun kali ini penampilanku justru membuat para santriwan dan santriwati hilang kantuknya. Ya..sebelum pembacaan puisi, aku menyanyian lagi Film Bollywood yang berjudul Mujhe Doste Karoge. Sebuah cuplikan yang kemudian dijawab oleh para santri.


Dan aku membacakan puisi paling pendek diantara para penyair yang membacakan puisinya, aku membacakan karya Andreas Edinso dari Blitar.

Inilah petikan lirik yang aku nyanyikan. Penyair luar biasa itu bisa nyanyi India heheh..
OH MY DARLING 
Aaj ki ladki I tell you nakhre waali sun le tu
Na mein poocho how are you na main bolu how do you do
Abhi yahin main kehta hoon Oh my darling i love you
Oh my darling i love you
Oh my darling i love you
Gadis jaman sekarang kau tahu, sangat sombong dengarkan kau…
Aku tidak akan bertanya apa kabarmu? Aku tidak akan bertanya bagaimana keadaanmu?
Saat ini akan kukatakan. Oh sayang aku mencintaimu
Oh sayangku aku mencintaimu…
Pasuruan, 2 November 2014

Membaca Istanaku, Memo untuk Presiden di Rumah Budaya Kalimasada Blitar

Antologi Puisi Memo untuk Presiden di Rumah Budaya Kalimasada Blitar
BERUNTUNG AKU memiliki istri yang selalu siap dan dapat segera menyelesaikan masalahku. Apa coba masalah yang aku hadapi, bukan masalah lantaran tidak diperbolahkan datang ke acara launching buku puisi Memo Untuk Presiden. Pastilah istriku (Ninik Ambarwati) akan selalu memberikan pintunya untuku.

Masalah itu adalah tiket kereta api Matarmaja habis. Waktu menuju keberangkatan tinggal sebentar waktu, malam, pagi hingga siang belum ada kepastiaan. Padahal berharap pagi sudah sampai di Rumah Budaya Kalimasada Blitar.

Alhamdulillah siang menuju sore hari, sudah mendapatkan kabar bahwa aku sudah mendapatkan tiket kereta api Matarmaja dan akan berangkat jam 10 malam di Stasiun Poncol Semarang. Terima kasih sayang.

Menuju stasiun Poncol, aku diantar adikku (Saiful Mujab). Keretapun meluncur, kebetulan aku sudah kontak-kontakan dengan sang jenderal puisi yakni Sosiawan Leak. Bahwa kita satu kereta, namun Leak akan naik di Stasiun Surakarta. Ia membawa 4 kardus buku Puisi Memo untuk Presiden yang akan dibagikan kepada para penulisnya.

Akupun bertemu dengan Leak Sosiawan, digerbong 1 kereta api Matarmaja.

Di Rumah Budaya Kalimasada Blitar aku membacakan 1 puisi singkat di buku Antologi Puisi Memo untuk Presiden yang berjudul, "Istanaku."

Sunday, October 19, 2014

Perahu Begawan Sang Pelajar *

Pelajar yang akan menjadi Perahu Perdaban.
Perahu Begawan Sang Pelajar *

BENGAWAN ADALAH keindahan peradaban, bagi banyak kalangan disebut sebagai sungai yang memiliki aliran panjang. Dari adanya bengawan inilah peradaban mulai tumbuh, sehingga menjadi pusat kehidupan bermasyarakat. Sebab masa silam bengawan menjadi tempat bertumbuhnya peradaban, bukan tanpa sebab tapi karena beragam eksotika yang muncul. Seperti menjadi media transportasi, tanahnya yang subur, sumber makanan dan mata pencaharian. Baik untuk pertanian, perkebunan, peternakan maupun perikanan.

Inilah nuswantara kita yang muncul dari bantaran bengawan sebagai sebuah bangsa kepulauan yang menjadi cikal bakal negara Indonesia. Negeri Indonesia yang kaya raya ini menjadi kebanggan oleh sebab secaa geografis terletak pada jalur perdagangan internasional. Salah satunya aliran bengawan menjadi penentu bentuk transkontinental perdagangan.

Untuk menjangkau daerah kepulauan Indonesia lintasan tanskontinental bengawan menjadi satu-satunya jalur lintasan perdangangan dan munculnya peradaban. Namun kini peradaban modern telah mengkonstruksi sistem mental bangsa Indonesia. Sehingga bengawan menjadi peradaban yang terlupakan.

Sesungguhnya orang-oang Jawa yang hidup disekitar bengawan telah diajarkan bagaimana ia berhubungan dengan Tuhan, berhubungan langsung dengan manusia, berhubungan dengan alam dan berhubungan dengan makhluk halus. Namun seiring perkembangan peradaban yang telah memoles mentalitas bangsa ini, mereka lupa akan kejayaanya.
 
Indahnya Bengawan Bojonegoro
Kita adalah bangsa yang mampu mengkonstruksi mental bangsa nuswantara, sebuah bangsa penguasa peradaban didunia yang hadir diantara keindahan bengawan. Struktur mental bangsa yang hidup disekitar bengawan senantiasa mengabdikan dirinya kepad Tuhan. Merawat hubungan kemasyarakatan dan yang paling tinggi adalah berhubungan dengan makhluk halus atau bangsa Jin. Maka tidak heran jika orang yang tinggal disekitar bengawan selalu menyalami alam ini dengna bentuk perayaan dan sykuran yang kemudiaan menjadi budaya. Seperti budaya sesajen, mereka memberikan sesajen disungai sebab golongan jin tinggal di bengawan tersebut. Jika diberikan diatas meja tentu bukan lagi sesajen melaikan sugatan atau hidangan yang hanya dinikmati manusia. Namun pola semacam itu, bentuk tradisi sesajen menjadi perlawanan sehingga diantara kita yang mengatakan perbuatan bid’ah, tahayul dan khurafat. Sesungguhnya mereka tidak tahu keindahan bengawan.

Perahu Pembelajaran
Bagi bangsa ini, bengawan tidak saja memiliki keindahan, namun kita perlu mengenalkan bahwa peradaban berasal dari bengawan. Kebudayaan dan sistem kemasyarakatan hadir didalamnya. Hal ini tentu harus didukung dengan stake holder baik dikalangan pemerintahan, birokrasi, masyarakat sipil maupun masyarakat ekonomi.

Oleh sebab kerusakan ekologis bengawan semakin memperihatinkan, mereka cenderung memanfaatkan nilai keuntungan dari bengawan namun lupa merawatnya seperti penambangan liar maupun membuang sampah sembarangan. Sehingga terjadi kerusakan lingkungan dan akan butuh waktu lama untuk memperbaikinya.
Generasi Penerus Pembelajar Bengawan Bojonegoo

Marilah kita menjadi perahu sang pelajar, diatas kehidupan ini ada hubungan yang salin menguntungkan. Ketika kita berbuat baik kepada alam, makan alampun akan berbuat baik kepada kita.

Cara yang terbaik hanya berbuat baik kepada alam salah satunya diantara aliran bengawan.

Indahnya bengawan Bojonegoro yang diberikan kekayaan alam baik berupa ladang minyak maupun keindahan sungai bengawan solo yang meilintas di Kabupaten Bojonegoro. Kini kota Bojonegoro dengan anugerah minyak seharusnya belajar pada kota Miri di Brunai Darussalam, semenjak ditemukan ladang minyak yang memiliki nama Grand Oly Lady, kota kecil tersebut memiliki peradaban yang maju dan pesat. Semoga Bupati Bojonegoro menjadi pemimpin yang mengerti tentang Bengawan.

Saatnya bengawan Bojonegoro menjadi perahu pembelajaran, membangun peradaban Nuswantara didaerah aliran bengawan solo. Pertama, membangun sistem kebudayaan masyarakat bengawan Bojonegoro yakni tidak melupkan tradisi yang telah berkembang pada zaman bengawan nuswantara seperti tradisi sesajen menjaga hubungan baik dengan alam. Kedua, jika peradaban telah beralih ke darat, bengawan Bojonegoro bisa dijadikan obyek wisata. Tentu dengan beragam fasilitas keindahan wisata, dengan menjadikannya obyek wisata tentu kita memiliki tanggung jawab menjaga lingkungan.

Ketiga, festival Bengawan Bojonegoro menjadi agendan rutin tahunan untuk memberikan efek dan branding pariwisata Bojonegoro dan tentunya mengenalkan Kabupaten Bojonegoro.

Keempat, menciptakan kantong-kantong institusi disekitar Bengawan Bojonegoro yakni seperti institusi pendidikan, institusi kesusastraan maupun institusi pertanian dan perikanan.

Kelima, bengawan Bojonegoro menjadi tempat hiburan dan pembelajaran bagi masyarakat. Bahwa sesungguhnya apa yang diberikan alam bukan untuk dieksploitasi melainkan untuk dapat dimengerti. Bukan semata menjadi tempat tinggal namun menjadi surga bagi kehidupan ini.

Tata kelola Bengawan Bojonegoro dari pandangan ini memberikan kepada kita semacam amanat kosmologi untuk menjaga, mengelola, dan merawat bengawan menjadi bagian hubungan timbal balik antara Tuhan, alam dan manusia.

Semarang, 19 Oktober 2014

* Indahnya Bengawan Bojonegoro diikutkan pada lomba blog yang diadakan Pemkab Bojonegoro dan Dewan Kebudayaan Bojonegoro.
* Pengalaman waktu membaca puisi di Sastra Bengawan Bojonegoro. Melihat para pelajar yang menyeberangi Bengawan Bojonegoro.

Monday, September 29, 2014

Badai Puisi di Dusun Candi Pekunden Magelang

Badai Puisi di Dusun Candi Magelang - 28 September 2014
MBAK VEGA ZR menemaniku dalam perjalanan menuju kota Magelang untuk menghadiri acara yang digagas oleh sastrawan Daladi Ahmad dan Dedet Setiadi. Acara yang bertajuk Badai Puisi di Dusun Candi.

Tepat pukul 06.30 Wib mulai meluncur dari rumah, dalam benakku perjalanan kira-kira menghabiskan waktu 2,5 jam. Namun ternyata sampai disana jam 09.45 Wib, jadi hampir 3,5 jam..oh tidak sesuai dengan perkiraan ternyata tempat acara yang terletak di Dusun Candi Pekunden Ngeluwar ini dekat dengan Kota Yogyakarta.

Ditempat acara banyak bertemu para penyari, sastrawan dan budayawan luar kota baik dari Yogyakarta, Purworejo, Wonosobo, Tegal, Brebes, Tulungagung, Kudus. Sebet saja diantaranya yakni Nung Bonham, Dimas Indiana Senja, Slamet Riyadi Sabrawi, Ons Untoro, Umi Kulsum, Bontot Sukandar, Bambang Eka Prasetya, Sri Kanti Kupu Hitam, Inty Ruqoyyah Basyuni, Tosa Santosa, Syam Chandra, Ardi usasnti, Dwiery Santoso, Jhosua Igho, Deha Abidar, Bethoven Bayu Belantara dll.


Semarang, 28 September 2014

Thursday, January 30, 2014

Pelatihan Peneliti di Alam Sutera Serpong Tanggerang

SENIN sore berangkat dari bandara Ahmad Yani Semarang menuju bandara Internasional Soekarno - Hatta untuk mengikuti pelatihan peneliti IGI Kabupaten/kota yang diselenggarakan oleh Kemitraan Jakarta. Tiket pesawat Garuda ada ditangan, diantar adikku perempuan.

Acara berlangsung dari hari selasa-kamis, 28-30 Januari 2014 di Hotel Mercure. Pelatihan ini membekali para peneliti yang dihadiri dari berbagai daerah 34 kabupaten/kota se-Indonesia, pembekalan itu berbagai hal tentang tata kelola pemerintahan provinsi.

Banyak bertemu muka baru, kegembiraan bercampur mesra didalamnya karena ini bukan peneliti yang terlalu serius memikirkan beban kerja yang dibebankan. Tapi sebagai bentuk bermain dan belajar, kayak anak Taman kanak-kanak.

Aku kembali bertemu Mbak Indah Loekman, Amela Furbani, Arif dan Mas Hery dan penelitnyanya dulu yang pernah menjadi pembicara waktu di Hotel Novotel Semarang yakni Pak A. Gimsyar.

Yang paling mengesankan namun hanya beberapa detik bertemu dan disapa Mbak Ramot Aritonang yang masih mengenalku.

Foto ini adalah kembiraan para peneliti dengan baju berseragam IGI (indonesia Governance Index)

Monday, January 27, 2014

Puisi Menolak Korupsi di Purwokerto dan Air Mata Kemanusiaan

SEHARI sebelum Acara Road Show Puisi Menolak Korupsi mendapatkan kabar bahwa Shinta ArDjahrie meninggal duniat di Larangan Brebes saat hendak mengirim obat-obatan dan bantuan untuk Korban Banjir di Subang.

Sontak diriku kaget oleh kabar itu, dia adalah sahabatku yang rencananya akan Duet denganku membaca Puisi Menolak Korupsi di Purwokerto. Segala persiapan sudah aku aku kemasi dengan baik. Namun teriringi keberangkatanku yang menumpang Pak Wardjito Soeharso, persiapan itu tidaklah yang paling utama. Yang aku bawa hanya namamu bahwa kita tetap akan duet meski duet diatara kasih Tuhan.

Aku cuplikan dari akun twitermu, "Suruh milih brngkt ke lokasi banjir atau ikut acra baca puisi?! Doanya semoga dapet acara dua2nya. Aamiin."

Sungguh luar biasa dirimu sahabat engkau meninggal dengan khusnul khotomah menjadi RELAWAN KEMANUSIAAN.

Diacara Road Show PMK pada tanggal 25-26 Januari 2014 ini yang bertempat di Gedung LPPM Unsoed Purwokerto, akunpun tidak jadi baca puisi. Aku hanya memberikan sedikit ucapan:

- Akupun TIDAK BACA PUISI sahabat - Engkau meninggalkan dunia ini dengan bentuk PENGABDIAN
Aku hanya bilang: Hidup ini ada 3 hal yang aku suka; 1. PENGABDIAN, 2. PENELTIAN/PEMIKIRAN dan 3. PERGERAKAN.

"BENCANA yang paling berbahaya BUKAN BENCANA ALAM maupun BENCANA KORUPSI, tapi BENCANA yang paling BERBAHAYA adalah ketika orang-orang BAIK hanya BERDIAM DIRI"

Terima kasih untuk Pak Bambang Wadoro yang memimpin Doa untuk Shinta, sehingga acara sempat terhenti sebentar untuk mengheningkan cipta dan doa. Semoga Allah memberikan tempat terindah untukmu sahabatku Shinta, dibelakang aku sempat beberapa titik air mata membasahi.

Salam Hangat Doa Kuat

Sunday, January 5, 2014

Musik Etnik dan Sastra KSMB (Komunitas Sastra Muda Bojonegoro)

MEMBACA puisi di acara Musik Etnik dan Sastra yang diadakan oleh Komunitas Sastra Muda Bojonegoro (KSMB) yang di ketuai oleh Arieyoko.

Bertempat di Aula Kementerian Agama Bojonegoro yang diikuti oleh banyak grup musik maupun sastra. Acara berlangsung tepat dimalam tahun baru 31 Desember 2013.

Wednesday, December 18, 2013

Selamat Ulang Tahun ke 28 teater BETA IAIN Walisongo Semarang

SELAMAT ULANG TAHUN KE 28 TEATER BETA IAIN WALISONGO
- 16 Desember 2013 -


MEMBACA puisi di sela-sela lomba baca puisi dalam rangkaian kegiatan kebudayaan kampus oleh Teater Beta IAIN Walisongo Semarang.

Teater BETA menjadi tempat berlabuhku pertama kali ketika masuk dikampus hijau IAIN Walisongo Semarang. Saat itu terjun dalam tim inagurasi angkatan 2003.

Selamat ulang tahun TEATER BETA - Mengolah Rasa Menebar Kreasi -


Salam Ilmu dan Cinta - Lukni Maulana

Sunday, November 24, 2013

Kebersamaan Road Show Puisi Menolak Korupsi di Bojonegoro

PERJALANAN yang melelahkan, dari Semarang bersama Istri dan anak yang baru berumur 2,4 tahun berangkat jam 4 sore menuju kampung halaman ke rumah mertua di Tuban dengan memakain kendaraan bermontor. Pulang kampung ini bertujuan untuk ikut road show puisi menolak korupsi di Bojonegoro, kebetulan rumah berdekatan dengan Bojonegoro. Diperbatasan Tuban - Bojonegor tepatnya di Jembatan Glendeng Simo Soko Tuban.

Samapai rumah jam 11 Malam, dengan tempuh perjalanan 7 jam. Diiringi rasa getir dan menakutkan oleh sebab malam, hawa dingin, hujan dan berbagai halangan melewati hutan-hutan lebat.

Samapi di Road Show begitu nikmatnya. Sukses untuk ROad Show Puisi Menolak Korupsi di Terminal Rajekwesi Bojonegoro.

Lukni Maulana - 23/11/13



Saturday, November 16, 2013

Guru Menolak Korupsi di Ngaji NgAllah Suluk Maleman Pati

PUKUL 4 sore berangkat dari rumah menuju acara NgajiNgaAllah Suluk Maleman di Pati. Sebelumnya segala persiapan masuk ke dalam Tas Ransel, beli rokok dan permen tolak angin. Sebagai persediaan perjalanan supaya terhindar dari masuk angin, meski sebenarnya lagi pilek dan sariawan.

Pukul 4 sore lebih 5 menit sampat diperbatasan Semarang – Demak, tepat di Pintu masuk Perum Pondok Raden Fatah menghapiri sahabat yang ingin berboncengan, Artvelo Sugiarto orang tua dengna rambut gondrongnya. Kitapun meluncur.

Perjalanan sore hari memang padat, banyak lalu lalang kendaraan dan khususnya para pekerja yang kembali keperaduan.

Tepat pukul 6 kurang 5 menit sampai ditempat acara di Rumah Adab Indonesia Jl. Diponegooro No. 94 Pati Jawa Tengah. Aku lihat tim Creator sibuk dengan tata panggung dan tempat acara. Alhamdulillah ada sahabat yang bersedia mengatarkan kami menuju kediaman Anis Sholeh Ba’asyim, karena sahabat PMK ada disana duluan; Leak, Eri, dan Abah Arsyad. Beragam suguhan sudah ada didepan mata, menikmati secangkir kopi dan makan malam.

Meluncur ke acara, “Guru Menolak Korupsi”. (15/11/13)

Monday, November 11, 2013

Anies Baswedan; Inspirasi untuk Pendidikan dan Keluarga


Turun Tangan Menjawab Janji Kemerdekaan

PERTAMA KALI mengetahui sosok Anies Baswedan ketika ada acara Syawalan Nasional di Jakarta. Dia merupakan tokoh muda di bidang Pendidikan yang kebetulan juga saya pernah menikmati bangku kuliah fakultas Tarbiyah jurusan pendidikan agama islam. Pastinya ada hubungan erat, kalau ingin bicara pendidikan maka harus bertanya kepada siapa sosok atau tokoh pendidikan khususnya untuk negara ini.

Tokoh itu jatuh kepada nama Anies Baswedan seorang yang mampu membuat gerakan perubahan melalui Gerakan Indonesia Mengajar. Sebuah inspirasi pendidikan, sebab negara ini perlu ada perubahan dan salah satu bidang yang mempu merubah indonesia lebih baik adalah wilayah pendidikan.
Turun Tangan Harus Saling Membantu

Karena suka dengan dunia pendidikan, aku mendirikan Rumah Pendidikan Sciena Madani di tahun 2008, nama Sciena Madani diambil waktu mengikuti Jamiyah Maiyah yang waktu itu terjadi pertanyaan, “Duluan mana antara Ilmu dan Cinta”. Jamaah Maiyah waktu itu dialog antara cak Nun, Kiai Budi dan Gus Nuril. Sciena yang berarti ilmu dan cinta. Nama komunitas itu lahir sewaktu aku jadi mahasiswa sebelumnya namanya adalah Komunitas Valex yang didirikan pada tahun 2005 yang membawahi bidang sastra dan budaya.

Di bawah bendera Rumah Pendidikan Sciena Madani, aku mulai mengabdikan diri kepada masyarakat. Aku sempat menelepon Anies Baswedan untuk menjadi Majelis Pembimbing Rumah Pendidikan Sciena Madani di tahun 2013, sebelum Anies mengikuti Konvensi Partai Demokrat.

TurunTangan di Semarang
Inilah awal bisa dekat dengan Anies Baswedan ketika ia tiba di semarang tepat pukul 10 malam, dikamar hotel itu sosoknya semakin membuatku selalu ingin mengikuti jejaknya menjadi inspirasi bagi bangsa ini.
Mendengarkan Anies Orasi

Lalu aku minta kaos Turun Tangan yang berwarna Merah dan bertuliskan, “Mau turun tangan? Tanya saya”. Aku mengambil 2 kaos untukku dan istri.

Pada pagi harinya ikut kegiatan Car Free Day dengan Anies Baswedan bersama Komunitas Pejalan Kaki (KAKI) Semarang. Berjalan bersama mengkampanyekan Hak-Hak Pejalan Kaki di Jl. Pahlawan Semarang. Aku, Istri dan anak menikmati pagi itu hingga berlanjut ke road show perjalanan Anies Baswedan di Semarang.

Setelah itu berlanjut ke Seminar Kepemudaan yang diseleggarakan oleh HMI Cabang Semarang. Sayapun Turun Tangan dengan memegang Handycame aku merekam jejek seminar tersebut. Akupun Turun Tangan membacakan satu puisi karyaku di Antologi Puisi Menolak Korupsi (PMK), karena aku ingin berpesan bagi kaum pemuda dan calon presiden Anies Baswedan untuk tetap teguh memerangi perilaku korupsi.
Saatnya Turun Tangan

Acara itupun selesai hinga aku dengan keluarga mengikutinya dalam acara yang diadakan oleh Yayasan Hidayatullah Semarang. Yayasan ini memangku wilayah pendidikan, pantas Jika Anies Baswedan memberikan inspirasi pendidikannya untuk para pemangku pendidikan.

Turun Tangan Membaca Puisi Menolak Korupsi
Keluarga Turun Tangan
Semoga perjalanan ini aku beserta keluargaku mampu Turun Tangan, berbagi bersama Rumah Pendidikan Sciena Madani di wilayah pendidikan dan keluarga serta sosial dan budaya di masyarakat dan umumnya untuk kemajuan bangsa ini.

Bersama Keluarga Turun Tangan
Karena sekarang ini pendidikan mengarah pada ranah urban, seperti kata Anies Baswedan;
“Urbanisasi yang saat ini terjadi salah satunya disebabkan karena orientasi sekolah sangat urban”. Menurutnya orientasi pendidikan harus membentuk kualitas manusia. Pendidikan yang urban cenderung membuat manusia hanya menjadi salah satu faktor produksi dalam logika industri. Yang dibutuhkan untuk menggapai masa depan adalah kualitas manusia Indonesia yang utuh.