Sunday, November 1, 2015

Parade Bulan Bahasa Tangan Kuasa di Kampus Undip Pleburan


Pada acara parade bulan bahasa yang diselenggarakan oleh Fakultas Budaya Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Sabtu, 31/10/2015). Mengingatkanku pada acara baca puisi memperingati tujuh hari pakar hukum progresif yakni Prof. Satjipto Rahajo beberapa tahun silam.

Aku membaca puisi karya sendiri dibantu sedulur dari Jepara Kang Mas Muhadz Ali Jidzar. Puisi bertema tentang hukum di Indonesia. Ada empat lembar naskah puisi. Pada waktu itu dihadiri oleh Prof. Eko Budiharjo dan Pak Mahfud Ali yang pada saat itu mencalon diri maju diajak pemilihan walikota Semarang.

Namun pada kali ini berbeda, aku tidak membaca dengan teks yang tersedia meski sebenarnya aku mempersiapkan teks yang telah aku sediakan di dalam saku jaket yang aku kenakan. Karena tubuhku yang lagi tidak merasakan kenikmatan oleh karena flu dan batuk. Kalimat deklamasi puisi yang aku hafalpun keluar.

Aku bercerita bahwa awal kali kembali dari pondok pesantren di Tambakberas Jombang, untuk mendaftar di kampus pilihan jatuh di kampus Universitas Diponegoro rencana ingin mengambil jurusan sosial politik. Namun ketika sampai di depan gerbang kampus UNDIP, niat untuk mendaftarkan diri menjadi mahasiswa sirna. Disitu aku hanya berkunjung saja, tidak jadi mendaftar untuk ikut bersaing agar dapat diterima menjadi mahasiswa Universitas Diponegoro jurusan sosial politik.

Wednesday, October 14, 2015

Dari Rumah Sastra Sragen Membaca Indonesia

10 Oktober 2015 - Perjalanan dari kota Semarang menuju Kota Sragen terasa memikat oleh sebab kemacetan yang membuat diri ini lelah.

Namun rasa itupun tiba-tiba tidak berasa karena kita dapat menjalin tali silaturahmi sastra yang dilaksanakan di Rumah Sastra Hardjono Sragen yang dikelola oleh Mbak Sus Hardjono Setyawati.




Wednesday, January 21, 2015

Puisi Musim Rambutan dan Nabi Tidak Korupsi

Foto - Arieyoko: Membaca Biji Kehidupan di Rumah Budaya Kalimasada Blitar
Foto - Endang Kalimasada: Wajahku Gosong
DIANTAR ISTRI pagi-pagi menuju Stasiun Tawang, alhamdulillah dapat tiket ke Bojonegoro. Pergi kali ini untuk menghadiri kegiatan, "Pesta Puisi Musim Rambutan di Rumah Budaya Kalimasada Blitar" dan Road Show Puisi Menolak Korupsi (PMK) yang bertajuk "Nabi Tidak Korupsi" di Museum NU Surabaya Jawa Timur.

Dari Bojonegoro, di Stasiun dijemput Kang Arieyoko lalu naik bus menuju kota Blitar. Berselancar ke luar kota selama tiga hari Jum'at 16 Januari - Minggu, 18 Januari 2015.

Kegiatan pertama di Rumah Budaya Kalimasada Blitar yang diasuh dan pemilik oleh Kang Bagus Putu Parto dan Mbak Endang Kalimasada. Seorang pengusaha Kalimasada Cookies yang membuat produk kue kering. Kedua orang suami istri tersebut sangat aspiratif sekali didunia kebudayaan, kesenian dan kesusastraan. Orangnya baik sekali, apa lagi seorang Pengusaha yang turut andil pada wilayah kebudayaan, tentu sangat jarang-jarang kita temui. Lain dari yang lain kedua orang ini, mengundang berbagai penyair, yang tentunya menghabiskan waktu, pikiran, tenaga dan tentunya materi yang tidak sedikit. Semoga apa yang dikeluarkan, apa yang menjadi amanah kebudayaan pada dirinya menjadi teladan bagi kita.
Foto - Agus R Subagyo: Road Show PMK "Sema'an Puisi - Nabi Tidak Korupsi"

Aku membacakan satu puisi dari buku antologiku yang berjudul Biji Kehidupan. Ada hal yang menarik ini untuk pertama kalinya wajahku mengalami luka bakar oleh api dari tissu itu. Ya...Rumah Budaya Kalimasada, menjadi saksi awal wajahku mengalami luka bakar. Padahal sebelumnya belum pernah mengalami hal ini. Padahal aku mulai memainkan tissu, api dan puisi sejak masih kuliah tepatnya sekitar akhir masa kuliah tahun 2008.
Foto - Agus R Subagyo: Museum NU Surabaya


Perjalanan ini berlanjut atas kebaikan pemilik Rumah Budaya Kalimasada Kang Bagus Putu Parto dan Mbak Endang Kalimasada. Kami rombongan penyari diatar menuju Museum NU Surabaya untuk melaksanakan Road Show PMK. Dalam perjalanan sempat mampir dirumahnya Akademisi dan Penyair Kang Tengsoe Tjahjono (Saat ini menjadi Dosen di Korea Selatan). Eh...ya juga mampir makan Bakso di Malang, Bakso Kota Cak Man. Semua ini berkat kebaikan pemilik Rumah Budaya Kalimasada Blitar.

Meski hujan menguyur penyari berbagai kota memeriahkan gelar Road Show PMK di Museum NU Surabaya. Aku bacakan puisi yang berjudul Cahaya Bermata Pedang. Masih memaikan api dan katanya pecikan api sempat membakar karpet panggung, untung penyair dan Dosen Auttar Abdillah singgap mengambil percikan tissu berapi tersebut.

Sampai disini dulu aja, jika diceritakan panjang banget. Salam

Wednesday, November 5, 2014

Oh My Darling, Road Show PMK di PP Darul Ulum Pasuruan

Jagongan Budaya - Road Show Puisi Menolak Korupsi di PP. Darul Ulum Pasuruan
KEMBALI HADIR dalam perjalanan pendidikan nilai anti korupsi di Gerakan Puisi Menolak Korupsi ke-26 di Pondok Pesantren Darul Ulum Pasuruan. Dengan munggusung tagline, "Jagonan Budaya" dengna tema Dengan Puisi kutolak Korupsi.

Meski ada yang mengatakan ciri khasku ilang, yakni ciri menggunakan "Api", namun kali ini penampilanku justru membuat para santriwan dan santriwati hilang kantuknya. Ya..sebelum pembacaan puisi, aku menyanyian lagi Film Bollywood yang berjudul Mujhe Doste Karoge. Sebuah cuplikan yang kemudian dijawab oleh para santri.


Dan aku membacakan puisi paling pendek diantara para penyair yang membacakan puisinya, aku membacakan karya Andreas Edinso dari Blitar.

Inilah petikan lirik yang aku nyanyikan. Penyair luar biasa itu bisa nyanyi India heheh..
OH MY DARLING 
Aaj ki ladki I tell you nakhre waali sun le tu
Na mein poocho how are you na main bolu how do you do
Abhi yahin main kehta hoon Oh my darling i love you
Oh my darling i love you
Oh my darling i love you
Gadis jaman sekarang kau tahu, sangat sombong dengarkan kau…
Aku tidak akan bertanya apa kabarmu? Aku tidak akan bertanya bagaimana keadaanmu?
Saat ini akan kukatakan. Oh sayang aku mencintaimu
Oh sayangku aku mencintaimu…
Pasuruan, 2 November 2014

Membaca Istanaku, Memo untuk Presiden di Rumah Budaya Kalimasada Blitar

Antologi Puisi Memo untuk Presiden di Rumah Budaya Kalimasada Blitar
BERUNTUNG AKU memiliki istri yang selalu siap dan dapat segera menyelesaikan masalahku. Apa coba masalah yang aku hadapi, bukan masalah lantaran tidak diperbolahkan datang ke acara launching buku puisi Memo Untuk Presiden. Pastilah istriku (Ninik Ambarwati) akan selalu memberikan pintunya untuku.

Masalah itu adalah tiket kereta api Matarmaja habis. Waktu menuju keberangkatan tinggal sebentar waktu, malam, pagi hingga siang belum ada kepastiaan. Padahal berharap pagi sudah sampai di Rumah Budaya Kalimasada Blitar.

Alhamdulillah siang menuju sore hari, sudah mendapatkan kabar bahwa aku sudah mendapatkan tiket kereta api Matarmaja dan akan berangkat jam 10 malam di Stasiun Poncol Semarang. Terima kasih sayang.

Menuju stasiun Poncol, aku diantar adikku (Saiful Mujab). Keretapun meluncur, kebetulan aku sudah kontak-kontakan dengan sang jenderal puisi yakni Sosiawan Leak. Bahwa kita satu kereta, namun Leak akan naik di Stasiun Surakarta. Ia membawa 4 kardus buku Puisi Memo untuk Presiden yang akan dibagikan kepada para penulisnya.

Akupun bertemu dengan Leak Sosiawan, digerbong 1 kereta api Matarmaja.

Di Rumah Budaya Kalimasada Blitar aku membacakan 1 puisi singkat di buku Antologi Puisi Memo untuk Presiden yang berjudul, "Istanaku."

Monday, October 20, 2014

Penghargaan untuk Kota Semarang, Peringkat 2 IGI Oleh Kemitraan Jakarta

Pemkab Kota Yogya, Lukni Maulana, Direktur Kemitraan Wicaksono, Sarosa, Ph.D, Bupati Gunung Kidul Hj. Badingah, S.Sos, Pemkab, Bupati Siak Drs. H. Syamsuar, M.Si
INDONESIA GOVERNANCE Index (IGI) sebuah penelitian tentang tata kelola pemerintahan. Pada tahun 2014 ini ini menitikberatkan penelitian pada kota dan kabupaten di 33 provinsi dan mengambil tempat penelitian di 34 Kabupaten/Kota.

IGI ini berusaha mengukur kualitas tata kinerja dan tata kelola pemerintahan yang meliputi 4 arena yakni Pemerintahan, Birokrasi, Masyarakat Ekonomi dan Masyarakat Sipil.

Alhamdulillah Kota Semarang mendaptkan peringkat ke-2 dari 34 Kota/Kabupaten. Kota Semarang menjadi sampel untuk provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan oleh peneliti yakni saya sendiri (Lukni Maulana) dan Dr. Lukman Hakim Hasan, M.Si.

Mendapatkan penghargaan dari Kemitraan Partnership Jakarta pada hari Selasa, 14 Oktober 2014 di Hotel Indonesia Kapenski.

Monday, March 7, 2011

Saat Memberikan Belajar Gratis kepada Masyarakat



Beginilah saat diriku menggabdikan diri memberikan pengajarkan komputer anak-anak di Rumah Pendidikan Sciena Madani.

Suasana belajar komputer di rumah pendidikan sciena madani. Sebab kita kurang komputer dan peralatan lainnya, maka kami harap siapa tau ada yang mau menyumbangkan seperangkat komputer. Terima kasih atas perhatiannya.

Semoga bermanfaat.
Ini adalah kegiatan gratis lho...

Tuesday, November 2, 2010

Saturday, October 30, 2010

Tuesday, April 20, 2010

ADELIO PEMUDA

Waktu sudah hampir sore. Banyak lalu-lalang manusia pulang dari kerja. Seperti burung di pagi hari mencari makan, sore pulang dengan rasa kenyang dan malampun dia istirahat.
Aku melihat mereka. “Pasti Kelelahan”, kataku. Jalan ini sudah dipenuhi produk globalisasi. Seperti keteranganku sebelumnya. Diriku tetap enjoy berjalan diatas aspal yang tidak panas. Memandangi mereka para penghuni jalan.
Sambil berjalan menuju persingahan, aku akan bercerita sedikit kepadamu. Melanjutkan cerita di pagi hari. Namun aku hanya mengambarkan suatu yang menjadi visi besar agama Islam. Menjadi mayarakat yang baldatun thoyibatun wa robbun ghofur.

DANADYAKSA POSTMODERN


Aku mencoba untuk bangun dipagi hari buta, dengan rasa gelap yang masih menyelimuti. Walau tampak mataku tidak tahan, enggan untuk terbuka. Rasanya ingin memandang indah dunia di saat para manusia masih terlelap dalam tidurnya. Tapi aku tetap berusaha meskipun mata tidak menghendakinya. Mencoba merasakan kenikmatan bangun diwaktu pagi hari dan akupun akhirnya terbangun.
Rasakkan udara terasa dingin sekali, sampai menusuk tubuh mungilku. Aku tetap ingin tegap berdiri menantang sang mentari yang belum juga keluar. Gula, teh dan air hangat yang kemudian bersatu merdu menjadi suatu keindahan berupa teh manis, aku membuatnya untuk menemaniku menikmati pagi buta ini.

Enak sekali rasanya, cobalah engkau membuat teh manis di pagi buta dan rasakkan kenikmatannya. Dengan begitu engkau memiliki teman meskipun itu hanya segelas teh manis. Itu adalah buatanmu sendiri, maka sungguh mulyanya dirimu karena mampu membuat, mencipta, dan berkreasi atas hasilmu sendiri.
Musik malam berimanjinasi sendiri nada-nadanya mendesah mengeluarkan satu demi satu ketukan melodi yang dapat menghasilkan irama kehidupan. Aku begitu merasakannya. Duhai pagi yang membawa keanggunan, aku merasakan musik alam.
Ternyata aku sudah di luar rumah, pohon-pohon berdiri menantang daun-daun mendayu-dayu merasakan musik alam dan bahkan mereka melakukan tarian semesta. Aku memandang mereka, apakah engkau mendengar bisik hatiku; tanyaku pada pohon mangga. Pohon mangga itu hanya menjawab dengan menjatuhkan beberapa lembar daun.
Aku adalah anak zaman, di era postmoedern ini kekuatan global membelenggu. Dimana ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi kekuatan besar yang sewaktu-waktu bisa menghabisimu. Aku masih saja bicara pada pohon mangga, meskipun engkau tidak merasakannya.
Ya..sudah ini semua tidak dapat tidak terelakan lagi. Hal ini merupakan konskewensi langsung dari zaman globalisasi dengan paradigma berfikir yang positivistik. Suatu pandangan yang mengagungkan rasionalitas dan pandangan empirisme atau sesuatu yang dapat di ukur dengan ilmu pengetahuan modern. Semua ada ketentuanya, desah batinku.
Apa kau tau apa itu globalisasi, pertanyaan itu muncul seketika aku memyaksikan peralihan zaman modern ini. Aku tahu bahwa istilah globalisasi diambil dari kata “global”. Kata ini melibatkan kesadaran baru bahwa dunia adalah sebuah kontinuitas lingkungan yang terkonstruksi sebagai kesatuan utuh.
Globalisasi menurut Malcolm Waters “Globalization”, dalam Gordon Marshall (ed.). Oxford Dictionary of Sociology adalah :
A social process in which the constraints of geography on social and cultural arrangements recede and in which people are becoming increasingly aware that they are receding.
(Sebagai proses sosial yang di dalamnya terdapat desakan geografi atas penataan sosial dan budaya mulai menyusut dan masyarakat menjadi semakin sadar bahwa mereka akan mengalami penyusutan).
Marshall Mc Luhans menyebut dunia yang diliputi kesadaran globalisasi ini global village (desa buatan). Dunia menjadi sangat transparan sehingga seolah tanpa batas administratasi suatu negara. Batas-batas geografis suatu negara menjadi kabur.
Bukan hanya desa buatan tapi dunia yang dibuat-buat, seolah dunia di kelilinggi berbagai macam kepentingan untuk tetap survive. Ya..ya..istilah globalisasi dipopulerkan oleh Theodore Lavitte pada tahun 1985, menjadi slogan magis di dalam setiap topik pembahasan.
Globalisasi menggambarkan proses multilapis dan multidimensi dalam realitas kehidupan yang sebagian besar dikonstruksi oleh kepentingan. Substansi dari globalisasi yaitu ideologi yang menggambarkan proses interaksi yang sangat luas dalam berbagai bidang: ekonomi, politik, sosial, teknologi dan budaya.
Dengan globalisasi karakteristik hubungan antara penduduk bumi mengalami perubahan drastis yang melampaui batas-batas konvensional, seperti bangsa dan negara. Keadaan demikian ini menunjukkan bahwa relasi antara kekuatan bangsa-bangsa di dunia akan mewarnai berbagai macam bidang.
Aku seakan ingin tertawa sendiri, bahkan alampun ingin tertawa tapi ia menahannya dengan nafasnya. Globalisasi sudah semestinya harus terjadi atas kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kita merasakan itu semua. Kau lihat di gengaman tanganku ada apa. Jawabanmu tepat sekali, di gengaman tanganku ada Handphone. Ya..inilah yang aku sebut globalisasi dengan sistem satelit informasi. Dimana aku dan engkau dapat menikmatinya, untuk membaca dunia cukup mengakses layar yang hanya berukuran berapa sentimeter ini.
Tapi apakah engkau sadar ternyata kita sudah hidup di dunia buatan tersebut. Dan akupun tertawa kecil, angin malam semakin menusuk tulang-tulangku. Aku menyeduh teh hangat, supaya dapat merasakan nikmatnya berjalan di desa buatan.
Kita semua telah mengkonsumsi budaya global, dengan gaya hidup kosmopolitan kita bersenandung mesra. Begitu indahnya dunia buatan itu.
Aku tidak sadar behwa dunia buatan memunculkan mundurnya kedaulatan suatu negara kesatuan dan tumbuhnya kesadaran global bahwa dunia adalah sebuah lingkungan yang terbentuk secara berkesinambungan dan muncul kebudayaan global yang membawa pengaruh terhadap perkembangan sosial dan budaya yang beraneka ragam ini.
Aduh berat sekali rasanya jika hanya berfikir. Otakku terasa panas sehingga seluruh tubuhku tidak merasa kedinginan lagi.
Di balik arus globalisasi aku berdiri tegap memandang, aku hanya bisa memandang. Ketika gaya hidup global ini memunculkan perubahan nilai dan mempengaruhi masyarakat lain, maka akan terjadi pergeseran nilai dalam masyarakat penerima pengaruh. Kecenderungan tersebut dapat dilihat dalam produk-produk global yang dikemas sedemikian rupa, sehingga kita hanya menjadi konsumennya.
Konsekuensi yang tidak bisa dielakkan lagi adalah munculnya kemungkinan konflik nilai-nilai sosial dan budaya. Negaraku rentan dengan hal tersebut, dengan burung garuda yang kokoh mengepakan sayapnya. Berbagai suku, agama, ras dan golongan menyebar di seluruh negeri katulistiwa.
Alam semesta ini akhirnya menjadi perkampungan global, hanya sebagian kecil saja penghuninya yang mampu memelihara nilai, tradisi, kebudayaan, kelembagaan, ritual dan simbol-simbol mereka. Semoga antara aku dan engkau, dapat menjaga nilai-nilai tradisi kita.
Namun kita tedak perlu mencemaskan hal tersebut. Kita hanya cukup menyadari saja. Bahwa apa yang di sebut denga globalisasi itu hanya sebuah proses zaman dan bukan sebuah produk akhir (end product). Globalisasi hanya semu, itu hanya istilah pengambaran dunia saja. Ha..ha..ha, aku tertawa sendiri seperti orang gila.
Kita hanya perlu menyadari saja bahwa globalisasi adalah proses dengan kekuatan sarana informasi dan komunikasi yang semua serba modern. Bahkan banyak orang bilang, kuno kalau kita tidak membawa Handphone yang bisa mengakses internet. Apa lagi tidak membawa handphone, malahan bisa di bilang tidak berperadaban.
Marilah merasakan proses globalisasi ini, handphone, internet, televisi, antena para bola, komputer dan pembayaran online yang dapat membuat pesan dalam waktu singkat. Sungguh antara kau dan aku berdiri diatas kebutuhan tersebut.
Aku masih merasakan nikmatnya udara pagi. Embun pagi sudah membasahi temanku para pepohonan dan rumput. Mereka sungguh menikmati embun itu, sebaliknya aku juga menikmatinya. Melebihi nikmatnya arus globalisasi yang sudah kita rasakan bersama.
Kita harus menerimanya karena globalisasi merupakan sunatullah. Kita mempercayai itu karena aku juga manusia yang beragama Islam. Agama yang bersifat universal, agama yang di turunkan Allah untuk pangeranku Nabi Agung Muhammad sebagi rahmat bagi semesta (rahmahtal lil alamin). Mari kita buka lembaran kitab suci kita, al-Qur’an dalam surat al-Anbiya ayat 107.
     
(Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam).
Aku beragama Islam, betul-betul menyadarinya karena orang tuaku juga beragama Islam. Dan aku yakin betul bahwa Islam merupakan agama bagi Allah. Walau terkadang aku masih bertanya tentang agamaku.
Dan sekali lagi globalisasi merupakan sunatullah. Marilah kita tersenyum sejenak, dan akupun tersenyum dan sesekali menyeduh teh hangat yang sepertinya sudah mulai agak dingin. Mungkin karena lamunanku yang terlalu panjang dan lama.
Meskipun ketika membincang globalisasi tidak akan ada habisnya, wacana diatas hanya sekelumit istilah dan pengertian globalisasi saja. Semoga engkau memhaminya. Dan akupun semakin hanyut dengan embun pagi, aku begitu merasakannya. Ya...Allah sungguh agung anugerah pagi yang kau berikan kepada semesta.
Mari kita bersama-sama merasakan anugerah pagi ini yang di berikan Allah kepada kita. Meskipun aku dan engkau belum tentu teligius. Tapi kekuatan spiritualitaslah yang membagkitkan semangat itu. Jika kita terobsesi dengan dogma dan doktrin, sejatinya akan menjauhkan sifat sejati. Maka diri inilah yang menggerakan untuk tetap bersanding indah dengan kekuatan batin Illahi.
Globalisasi hanya banyangan, sejatinya aku adalah diriku. Dengan visi besar yang bersifat inklusif, bukan eksklusif. Karena semua ada pada apa yang di sebut “diri “ atau “aku”.
Sejatinya diri adalah “aku”. Maka carilah dirimu, karena dengan mencari tahu siapa dirimu maka engkau akan memahami kehidupan ini. Seiring embun pagi yang sudah membasahi kulitku.
Ternyata aku adalah bagian semesta yang memiliki visi untuk memakmurkan dunia. Apakah kau mendengarnya, itu adalah suara adzan subuh. Marilah sejenak kita tingalkan lamunan globalisasi. Menuju suatu kedirian dengan visi yang baru.
Aku masih menikmati indahnya pagi menunggu hadirnya terik mentari. nampaknya sang mentari sudah mulai mengeluarkan wajahnya dari balik awan hitam pekat. Aku ucapkan selamat datang wahai simbol kehidupan, “Assalamualaikum Wr Wb”, di balik jendela kamar aku memandang.
Maaf mentari aku yang duluan bangun. Karena aku ingin jadi “danadyaksa”, dalam bahasa Sangsekerta yang berarti “penjaga kejayaan”. Menjadi orang yang memiliki jati diri dan berguna demi kejayaan yang memakmurkan semesta ini, wahai mentariku.

Tuesday, April 6, 2010

DARRELL ADARA

DARRELL ADARA

ehabis menikmati makan malam, tepat setelah shalat maghrib di daerah yang tidak begitu dingin di desa Susukan-Banjarnegara. Kumandang adzan isak’ terdengar lirih dan sujud sesembah kepada Tuhan semesta alam. Perjalanan telah mengantarkan diri ke tempat yang tidak begitu jauh tempatnya di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Tubuh ini berdiri seperti ingin menantang, akan tetapi ini bukanlah tantangan. Siapa juga yang ingin menantang Tuhan, aneh-aneh saja. Tapi bolehlah kalau ingin menantag Tuhan. Karena Tuhan sudah lari dan sekarang bersembunyi, malu melihat dirimu. Dengan menantang-Nya, siapa tahu semua akan berubah menjadi yang terbaik. Selanjutnya pertanyaannya, sudahkah kau mempersiapkan bekal tantangan itu..?.
Ah...ternyata parah, tidak ada bekal yang dibawa. He...kenapa engkau tidak membawa bekal, padahal sudah dibilangin untuk mempersiapkan bekal tantangan. “Tidak perlu bekal materi”, jawabnya dengan tegap dan penuh kepastian. Pandangannya sudah terarah dengan keyakinan dan alisnya bergerak-bergerak penuh isyarat.
Dirinya telah mantap untuk tidak membawa bekal materi. Tapi bagaimana bisa percaya, jika menantang Tuhan hanya berbekal diri. Pasti dia membawa bekal kanuragan atau ilmu sihir. Pertanyaan itu mengarah kepadanya, “ilmu apa yang kau bawa”. Dia hanya bisa menjawab, “Aku tidak memiliki ilmu kanuragan dan bahkan ilmu pengetahaun sekalipun”.
Waduh..lebih parah lagi nih..! Bagaimana dia bisa mengalahkan Tuhan, ilmu pengetahuan saja ia tidak punya. Gimana sih nih orang, jelas-jelas dia itu orang bukan Tuhan. Apa ia lupa bahwa dirinya itu di ciptakan dari sari pati tanah yang dibentuk Tuhan dengan kun fayaku. Semakin bingung nih.
Pertanyaan itu kembali untuk yang ketiga kalinya. “Apa engkau sudah datang dengan ketaatan”. Engkau saja meningalkan keluargamu, hanya untuk pertualangan pembelajaran yang belum tentu sangat bermanfaat. Ya..aku sangat paham bahwa kemanfaatan tidak dapat dihitung dengan cepatnya waktu atau hanya satu sampai lima tahun kesuksesan dapat di raih. Dia hanya tersenyum dan wajahnya sangat berseri-seri dengan kepercayaan diri. Dia tetap kokoh pada pendiriannya untuk tetap menantang Tuhan.
Di sini tidak akan membincangkan tentang tiga hal amal manusia. Pertama, tentang materi yaitu amal shalihah. Kedua, ilmu pengetahuan dengan nilai kebermanfaatan dan ketiga, kebaktian kepada kedua orang tua.
Namun tetap pada konskwensi awal yaitu menantang Tuhan. Terus apa bekal yang dibawa olehnya. Semakin penasaran aja, biarlah. Kalau tidak tiga hal tersebut, apakah dengan kata-kata ”cinta”. Menantang Tuhan dengan modal cinta ha ha ha, kayak Rabiah al-Adawiyah aja dengan mahabahnya. Buktinya Rabiah al-Adawiah memakai dua bekal yaitu materi dan non materi. Secara non materi dia membawa konsepnya tentang mahabah. Sedangkan untuk materi dia membawa air dan api ditangan kanan kanan dan tangan kirinya. Api untuk memadamkan panasnya api neraka dan api untuk membakar kenikmatan surga.
Menantang Tuhan dengan ketaatan untuk dekat dengan dirinya, dengan tidak adanya realitas fisik antara surga dan neraka. Hasan al-Basri sampai takjub kepada Rabiah al-Adawaiyah, karena cintanya tidak diterima. Karena dia hanya pada tingkatan raja’ dan khauf atau bermodalkan rasa takut kepada neraka dan harapan untuk menikmati surga. Rabiah pun menolak cinta Hasan, ini bukan kisah Laila Majnun kisah cinta Laila dan Qais yang berujung maut karena tidak menemukan pujaan hatinya. Oh..my god.
Di sini juga tidak akan membincang rasa cinta Rabiah dan Hasan. Tapi masih pada seseorang yang ingin menantang Tuhan yang belum diketahui modal dan bekal apa yang dibawa.
Ternyata dibalik tekad orang tersebut, munculah cahaya diseluruh tubuhnya. Begitu terangnya sehingga, ketiga pertanyaan yang dilontarkan kepadanya tidak berarti. Atau salah mengartikan tentang tantanganya kepada Tuhan antara Rabih dan Hasan..
Manusia berdiri pada hukum yang bersifat ”civil law” dan ”common law”. Civil law yng berarti suatu hukum yang tetap mengikat dan berbentuk suatu yang baku. Seperti syariat Islam, contohnya perintah tentang shalat, zakat, puasa dll. Sehingga keadaan tersebut seseorang harus taat mengikuti. Sedangkan common law, suatu hukum yang dapat di interprestasikan atau dapat dijelaskan sesuai dengan keadaan dan tempatnya. Ya..seperti ilmu fiqh yang dapat memberikan keleluasaan dan keringanan kepada pemeluk agama Islam.
Begitulah tantangannya kepada Tuhan. Ia hanya membawa bekal civil law dan common law. Yakni bekal yang dapat diartikan, “kepastian dan ketidak pastian”.
Kepastian bahwa dirinya diciptakan oleh Tuhan untuk mengemban amanah menjadi seorang khalifah dan abdillah. Kepastian bahwa diciptakan dirinya tidak ada kesia-siaan. Makanya dengan kepastian pula ia menantang Tuhannya.
Ketidak pastian bahwa ketika fungsi kepastian sudah dijalankan sesuai kadar kemampuan maka Tuhan akan memberikan tempat yang layak berupa kebahagiaan dunia dan akhirat. Ketidak pastian itu berupa jodoh, rizki, umur dan segala sesuatu yang tidak dapat di rasionalkan seperti surga dan neraka.
Kepastian adalah sejatinya ia menantang Tuhan dan ketidak pastian adalah sejatinya permintaan pertanggung jawaban kepada Tuhan.
Sudahkah engkau menantang Tuhan hari ini..?
Jangan mengartikan tantangan dengan hal yang negatif lho..!
Pasti belum pahamkan tentang apa itu tantangan kepada Tuhan.
Maka belajarlah terus dan ambil nilai-nilai hikmah dan ilham kehidupan. Karena seiring perputaran waktu siang dan malam ada tanda-tanda bagi mereka yang berfikir. Karena sejatinya tantangan bukanlah secara fisik kita bertarung. Sejatinya tantangan bukanlah pertarungan batin. Sejatinya tantangan adalah eksistensi kita di hadapan-Nya, sudahkan shalat hari ini. Maka segeralah shalat dan tantang Tuhanmu.
Kita akan tahu apa itu, ”darrel”, dari bahasa Perancis yang berarti kekasih, dirimu adalah kekasih. Sedangkan ”adara”, berarti cantik, karena sesungguhnya dirimu adalah kecantikan. Sebab dirimu dibalut dengan sifat ketuhanan berupa sifat ”jamaliyah” dan ”jalalliah”.
Tantanglah Tuhanmu..!

14 Maret 2010
Pasar Wage Purwokerto

Tuesday, February 23, 2010

Memotret Revolusi Islam Iran Dalam Percaturan Kebudayaan Global

Memotret Revolusi Islam Iran Dalam Percaturan Kebudayaan Global

BERBAGAI wacana “revolusi” yang telah ada dan pernah menjadi diskursus kita bersama—baik sebagai sebuah konsep teoritik dan praktek pada gerakan masa yang terorganisir dan bertumpu pada gerakan pemikiran maupun gerakan budaya—tentunya telah menghadirkan demikian banyak perbedaan dalam cara pandang untuk merancang sebuah revolusi, apalagi yang benar-benar Islami. Bahkan, tidak jarang perbedaan konsep-konsep tersebut justru meruntuhkan totalitas, kesatuan nilai dan kepercayaan, dalam semua dimensi kehidupan masyarakat Islami.
DOWNLOAD

Wednesday, December 23, 2009

MILAGROS; HIDUP INI INDAH


Hidup merupakan hal yang kita jalani sekarang ini. Namun banyak dari kita mempermasalahkan tentang kehidupan. Semisal mengeluh, iri hati, tidak segera diberi kesuksesan dan masih banyak permasalahan lagi yang kiranya di hitung dengan jari-jari ini, maka jari ini tidak akan mampu menampungnya. Ini adalah kehidupan yang harus kita jalani, kawan ! Sadarkah engkau, maka nikmati kehidupan ini dengan seindah mungkin.
Kita terlahir menjadi khalifah atau pemimpin di dunia ini. Bahkan malaikat, jin dan syetan tidak bisa memangku jabatan tertinggi ini yaitu sebagai pemimpin yang bertugas memakmurkan alam semesta.
Sungguh terhormatnya kita kawan, maka sendari engkau merenung segera berfikirlah positif dan perasaan yang positif pula. Karena dengan keduanya kita dapat menjalani kehidupan ini dengan nuansa yang harmonis.
Kita tidak akan percaya, mengapa kita diberi amanah yang besar. Namun kita memiliki iman atau keyakinan kepada Allah sehingga dengan ke-Mahaan-Nya kita dianugerahi akal pikiran. Akal pikiran inilah yang tidak dimiliki mahluk lain. Maka bangunkan dirimu dengan kesegaran tubuh yang dapat membelai dirimu melalui semangat baru.
Akal pikiran itulah yang akan membimbing kita untuk mengarungi bahtera kehidupan ini. Bukanya mengeluh, kurang semangat, pesimis dan risau dengan segala masalah-masalah kehidupan.
Semua itu memang masalah, tapi apakah masalah hanya di diamkan begitu saja. Berfikirlah ulang, engkau di karunia akal untuk berfikir. Dengan modal itulah kita dapat mejalani persoalan masalah ini dengan ketabahan dan kegigihan untuk segera memecahkannya.
Mau marah, silahkan saja. Lampiaskan kemarahanmu pada tuhan, batu maupun sang matahari. Pasti mereka akan mendengar keluh kesahmu, namun mereka tidak akan bisa menselesaikan masalahmu. Tapi mereka akan memberikan tanda-tanda, tentu bagi mereka yang berfikir.
Di sini aku hanya ingin berperan menjadi cerminmu saja. Coba pandangi aku, aku adalah bayanganmu. Lihat...lihat..wajahmu begitu pucat, kerut wajahmu mulai nampak, sepertinya engkau segera tua. Padahal engkau masih muda kawan. Engkau mau memegangku, segera pegang aku ataupun engkau mau mencium aku. Aku ini dirimu kawan, itulah dirimu sesungguhnya.
Cerimin ini adalah dirimu. Basuh mukamu dengan air suci supaya tampak cerah. Berwudhulah supaya marahmu lenyap.
Cermin ini adalah hidupmu. Jika engkau memecahnya maka hancur pula hidupmu.
Cermin ini adalah harapanmu. Matamu hanya bisa menatap tajam, tapi itu tidak akan berarti jika engkau hanya terdiam. Segeralah bangkit.
Cermin ini adalah pemimpin. Bagi engkau yang menyadari posisi dirmu, tunduklah dengan sujud syukur dan mintalah petunjuk kepada-Nya.
Aku adalah cermin yang mematikan
Namun aku juga menghidupkan
Aku adalah cermin yang beracun
Namun aku juga memberikan penawar
Kita memiliki dua tabungan di bank. Dimana bank tersebut selalu menyimpan harta kita, jika kita mau mengambilnya tidak akan habis harta kita. Sebab bank itu memberikan bunga yang tinggi, jika kita mau menabungkan harta yang kita miliki dengan semangat hidup baru.
Apa kau tahu bank itu...? BI, BRI atau BNI
Ya itulah jawabanya:
BI : Beryukur dan Ikhlas
BRI : BrRsyukur dan Ikhlas
BNI : Bersyukur Dan Ikhlas
Maka aku sebagai cermin hanya bisa menyarankanmu, untuk semagat dan tersenyumlah kembali dalam menjalani hidup ini. Nikmati hidup ini dengan butiran-butiran keindahan.
Dan aku hanya bisa memberimu modal : (Bersyukur dan Ikhlas) selain (akal pikiran).

Hari Ibu (Semarang, 22 Desember 2009)

Sunday, December 20, 2009

RHETORIKA DAN OVER AKTING


Setiap manusia wajib menghargai hasil ciptaan harus bersyukur apa yang ada pada dirinya termasuk karunia mulut yang dapat berbicara dan tubuh dengan alat pengerak; tangan, kaki, mata, kuping dll. Seorang yang bergerak dibidang sebagai pekerja sosial, trainer maupun guru harus memiliki kompetensi yaitu rhetorika dan gaya bertutur (bicara) sebagai alat transfer komunikasi antara komunikator kepada komunikan. Hal ini mengisyaratkan hubungan antara sesama mahluk hidup, mengutarakan pendapat, menyampaikan pesan dan menjawab pertanyaan serta lain sebagainya.
Namun terkadang penguasaan rhetorika dan penguasaan panggung (Bloking) kurang diperhatikan dan menjadi masalah krusial sehingga mereka yang terjun dibidang bertutur kata menjadi minder, lemah dan beban pikiran. Sebab dunia tersebut bukan dunia yang serta merta hadir begitu saja, akan tetapi perlu pembelajaran dan proses yang berkelanjutan. Maka perlu disiasati segera dengan melakukan evaluasi dan perbaikan diri.
Hal tersebut itulah yang banyak dialami seseorang termasuk (aku). Secara ijasah dan lulusan perguruan tinggi sebagai tenaga pendidik, kreatifitas rhetorika dan komunikasi aktif sebagai kompetensi yang harus dimiliki, selain mentalitas dan tingkat percaya diri (PD). Walaupun pada kenyataan banyak seseorang tidak PD dan Mentalitas panggungnya belum terdidik.
Sebelum menjelaskan rhetorika dan komunikasi aktif. Disini akan dijelaskan bagaimana seseorang tidak mengalami demam panggung dan terbangun mentalitas panggung serta bernai mengutarakan pendapat di forum-forum diskusi. Kopetensi inilah yang pertama kali harus dimiliki, maka diperlukan alternatif yaitu pertama, saatnya disiasati dengan banyak berdiskusi dan berani mengutarakan pendapat, komentar, maupun menjawab. Kedua, beranikan dirimu berbicara dengan lawan bicara, kalau tidak berusahalah bicara dan dialog dengan cermin. Ketiga, dalam seni panggung, tentu banyak penonton hal inilah yang memicu kelemahan mental kita maka kita berimanjinasi bahwa penonton tidak tahu apa-apa dan anggap saja engkau guru bagi mereka. Keempat, persiapkan dirimu baik materi diskusi dan kompetensi bidang maka banyak-banyaklah belajar dan menbaca buku karena dengan kemampuan yang lebih dapat meningkatkan gairah mentalitas.
Saya pernah mengalami itu semua dan semua adalah proses, ternyata dibalik mentalitas yang kuat tidak cukup menjadi jaminan. Masih banyak kompetensi yang harus dikuasai termasuk yang saya sebutkan diatas rhetorika dan komunikasi aktif. Ternyata kemampuan tersebut sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu internal yang berbentuk fisik berupa kesempurnaan organ tubuh dan non fisik berupa kewibawaan atau kharisma, karakter, bakat, cara berfikir dan tingkat intelektual. Perlu disadari bahwa kemampuan keterampilan terbut walau ia sudah memiliki faktor penunjang utama baik internla maupun eksternal yang baik. Kemampuan yang baik dapat dimiliki dengan jalan mengasah dan mengolah serta melatih seluruh potensi.
Seorang yang bergerak dibidang kemampuan berbicara lisan (presenter, juru dakwah, penceramah, guru dll) harus memiliki daya tarik rhetoris (mempesona) dengan isi pembicaraan yan gefektif, sisitematis, akurasi dan singkat serta jelas.

Over Exsploitation
Itulah kiranya judul yang pantas. Aku sering mengalami hal tersebut yaitu saat menjalani PPL (Praktek Pengalaman Lanpangan), muridku bilang; ”Bapak orangnya banyak gerak”. Pada saat sidang munaqasah (ujian skripsi) penguji juga bilang kepadaku; ”Lukni sudah bagus secara mentalitas namun terlalu over akting, belum ada sebelumnya mahasiswa yang seperti kamu yang biasanya duduk menghadap pertanyaan dosen dengan perasaan grogi dan takut”. Begitu juga saat saya mengisi training/Latihan Kader baik di UNDIP, IKIP dan IAIN, ada beberapa evaluasi yang saya terima yaitu banyak gerak/over akting dan gaya bicara yang terlalu cepat.
Pada dataran kesimpulanya bahwa saya harus memperbaiki itu semua, namun ada yang beranggapan itu adalah sebuah kelebihan. Ternyata hal tersebut merupakan jenis keterampilan yang penting untuk dimiliki yaitu keterampilan berbicara atau seni mengutarakan bahsa lidah, yang bisa disebut (rhetorika).
Rhetorika secara etimologi dari bahasa latin (Yunani), ”Rhetorica”, yang berarti seni berbicara. Dalam bahasa inggris “rhetoric”, yang berarti kepandaian berpidato atau berbicara (The Art of Speaking). Secara triminologi (Istilah) adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari atau mempersoalkan tentang bagaimana caranya berbicara yang mempunyai daya tarik empesona, sehingga yang mendengarnya dapt mengerti dan tergugah perasaanya.

Jenis-Jenis Rhetorika
Dari segi kepentingannya atau tujuan yang ingin dicapai, rhetorika dapat dibagi dalam dua bahagian, yaitu :
1. Rhetorika Persuasif
Rhetorika persuasif adalah rhetorika yang bertujuan mempengaruhi orang dengan tidak begitu memperhatikan/mempertimbangkan nilai-nilai kebenaran dan moralitas. Rhetorika yang seperti ini dapat kita jumpai dimana-mana, contohnya adalah rhetorika yang digunakan oleh sebagian besar penjual obat kaki lima dalam menawarkan dagangannya, dll.
2. Rhetorika Dialektika
Rhetorika dialektika yang sering juga disebut dengan rhetorika psikologi, adalah rhetorika yang muncul sebagai kebalikan dari rhetorika persuasif, dimana rhetorika ini sangat memperhatikan nilai-nilai kebenaran, kebajikan, moralitas dan sifatnya dapat menenangkan jiwa manusia. Tujuan utama rhetorika ini mengarah kepada pembinaan spiritual. Rhetorika yang seperti ini umumnya digunakan didalam ceramah-ceramah agama.

Tujuan Rhetorika
Tujuan rhetorika adalah berusaha untuk membentuk opini publik atau menggiring pendapat umum ke arah pendapat pembicara, atau minimal pendengar (audience) tidak membantah terhadap apa yang dikemukakan oleh si pembicara (komunikator).

Langgam-Langgam Dalam Rhetorika
Dalam rhetorika langgam diartikan sebagai cara, ragam, atau gaya suatu bahasa (pembicaraan). Langgam-langgam rhetorika dapat dibagi atas :
1. Langgam Agitasi
Langgam agitasi adalah langgam yang kebanyakan dipakai dalam rhetorika persuasif. Langgam ini biasanya digunakan untuk membakar semangat, misalnya oleh demonstran.
2. Langgam Teater
Langgam teater adalah langgam yang digunakan oleh para pemain teater dalam berdialog.
3. Langgam Agama
Langgam agama adalah langam yang biasa digunakan oleh para muballigh atau para pendeta dalam penyampaian ceramahnya.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Rhetorika
Keberhasilan suatu rhetorika didalam berbicara sangat ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Situasi
Situasi yang dimaksudkan adalah hal-hal yang menyangkut keadaan atau kondisi saat pembicaraan/ceramah sedang berlangsung. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
a. Tingkat pengetahuan pendengar. Yaitu menyangkut latar belakang level pengetahuan dari pendengar (audience).
b. Formal atau informal. Hal ini menyangkut apakah kita berbicara dalam suatu situasi yang formal (forum resmi) atau dalam situasi biasa atau kekeluargaan (informal)
c. Sedih atau gembira. Berbicara di depan orang yang berada dalam situasi sedih tentunya sangat berbeda dibandingkan dengan ketika kita tampil berbicara di depan orang yang sedang dalam keadaan gembira. Untuk itu seorang pembicara harus mengetahui betul situasi dan kondisi pendengarnya.
2. Ruang
Hal ini adalah tentang tempat dimana kita sedang berbicara, misalnya di dalam ruangan gedung ataukah di lapangan.
3. Waktu
Yang dimaksudkan dengan waktu disini adalah, disamping waktu yang sebenarnya yaitu apakah pagi, siang, sore atau malam, juga tentang isi materi yang akan dibicarakan, apakah hal tersebut masih aktual ataukah sudah usang atau basi.
4. Tema
Sebuah tema sangat penting artinya dalam suatu pembicaraan, sehingga didalam pembicaraan seorang pembicara ia dapat fokus atau terarah. Sangat disarankan seorang pembicara hanya menggunakan satu tema pembicaraan sehing didalam pembicaraannya ia tidak ngawur atau mengambang yang dapat mengakibatkan isi pembicaraan susah dipahami oleh pendengar. Namun jika terpaksa harus lebih dari satu, maka selesaikanlah satu tema pembicaraan kemudian pindah ke tema yang lainnya.
5. Isi atau Materi
Isi pembicaraan hendaknya sesuai dengan tema yang telah dipersiapkan dengan mantap sebelumnya dan menarik minat pendengar. Daya tarik suatu materi juga akan sangat menentukan keberhasilan suatu pembicaraan. Adapun yang dapat menjadi pemicu rasa ketertarikan pendengar diantaranya adalah :
 Up to date, masalah yang dibicarakan adalah masalah yang sedang hangat-hangatnya di dalam masyarakat.
 Merupakan suatu yang menyangkut kepentingan pendengar.
 Masalah yang mengandung pertentangan publik, benar-salah, baik-buruk.
 Sesuai dengan kemampuan logika pendengar, dll.
6. Teknik Penyajian
Teknik yang dimaksudkan disini adalah cara-cara yang digunakan didalam berbicara, meliputi :
a. Kemampuan menggunakan bahasa lisan dengan baik. Dalam hal ini seorang pembicara hendaknya memiliki kemampuan tata bahasa yang baik, artikulasi yang jelas dan tidak cadel, intonasi yang menarik (tidak monoton), aksen yang tepat, dan tidak terlalu banyak menggunakan istilah yang tidak perlu.
b. Ekspresi (air muka) yang menarik, misalnya: tidak cemberut, tidak pucat, tidak merah, dan sebagainya. Ekspresi dalam berbicara sangat penting untuk memikat minat dengar atau rasa ingin tahu dari pendengar.
c. Stressing (redance), yaitu kemampuan seorang pembicara untuk memberikan penekanan pada masalah-masalah inti atau penting didalam pembicaraannya, misalnya dengan pengulangan-pengulangan yang seperlunya, atau dengan penekanan-penekanan tertentu dalam nada pembicaraan.
d. Kemampuan memberikan refreshing (penyegaran) dengan menyelipkan intermezzo, yaitu dengan menyelingi pembicaraan dengan hal-hal lain yang berhubungan yang mengandung kelucuan, baik itu pengalaman sendiri atau sebuah anekdot, dengan tidak mengurangi nilai pembicaraan. Hal ini dimaksudkan agar pendengar tidak terlalu stress yang bisa menimbulkan kejenuhan atau kebosanan dalam mengikuti pembicaraan kita.
e. Kepribadian atau personality. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah disamping daya pesona atau kharismatik seseorang, juga meliputi nilai-nilai pribadi seorang pembicara, diantaranya: jujur, cerdik, berani, bijaksana, berpandangan baik, percaya diri, tegas, tahu diri, tenang dan tenggang rasa.
Maka jangan menjadi pesimis, tetaplah berusaha melatih diri kita supaya memiliki jenis keterampilan tersebut. Walaupun banyak sisi kelemahan yang saya alami (over akitng). Semua dapat dirubah dengan usaha dan proses yang berkelanutan. Selamat berlatih.

Semarang, 19/12/09

Tuesday, June 23, 2009

The Light of Ken Dedes


Sejarah akan terulang dengan subyek, obyek dan motif yang serupa tetapi tak sama. Banyak sejarah telah membuktikan”.

Sebuah naskah teater yang dikarang oleh M. Jalidu, berkisah tentang ketakutan seorang wanita yang membantu penemuan di sebuah situs kuno. Isi situs tersebut mengkisahkan kilasan-kilasan bayangan masa lalu. Seperti “de javu”, wanita tersebut juga mempunyai keistimewaan seperti Ken Dedes berupa alat kelaminya (vagina) bercahaya. Bahkan wanita tersebut dianggap sebagai titisan Ken Dedes.

Kelebihanya tersebut membuat ia takut jika nanti ia juga akan menjadi penyebab pertumpahan darah. Ia takut jika masa depannya cuma perulangan dari sejarah “sunguh menyakitkan…”.

Itulah sebuah prolog kisah naskah teater yang berjudul “The Light og Ken Dedes”. Sebuah kisah tentang masa yang kelam karena sebuah keistimewaan atau kelebihan dari wanita lainnya. Sesosok wanita dengan berbagai kelebihan sebut saja kecantikan dan tubuh yang molek tentu akan membuat para lalaki mabuk kepayang, apalagi ditambah dengan akhlak yang terpuji tentu akan membuat semuanya terpana kepadanya.


Kecantikan itulah harapan bahkan dambaan bagi kaum wanita, sebab dengan kecantikan akan membuat mereka mejadi percaya diri dan lebih bisa untuk dihargai. Terkadang jika ia merasa ada kurang pada dirinya ia akan melakukan segalanya untuk merubah. Dari berbagai macam alat kecantikan seperti pergi ke salon, diet, rebonding yang terpenting yaitu berhubungan dengan fasion. Sebab pada diri wanita diciptakan berupa keindahan.


Akan tetapi jika keindahan tersebut di salah gunakan akan berakibat fatal seperti kisah teater tersebut yaitu membuat para lelaki menjadi budak untuk merebutkannya bahkan sampai terjadi pembunuhan. Bahkan keindahan tersebut ditambah dengan harta dan tahta tentu akan menjadi lain, sebab segala bencana terjadi akibat harta, tahta dan jenis kelamin.


Kaum wanita adalah sesosok ibu yang dapat membuahi janin untuk dapat menghasilkan keturunan yang mulia. Wanita adalah mahluk yang mulia maka berbahagialah wahai kaum wanita sebab pada dirimu ada kemulyaan yang sungguh hebatnya, bukannya menjadikan dirimu sebagai mahluk kedua. Setiap manusia di sisi tuhannya tetap sama yang membedakan hanyalah ketakwaannya. (18/06/09)

Thursday, June 4, 2009

Desa Tamangede Gemuh Kendal Sebuah Jejak





HIDUP merupakan sebuah perjalanan yang harus dilewati, begitulah Desa Tamangende. Disitu banyak pelajaran yang dapat dipetik, selain menjadi tempat KKN Tematik PBA IAIN Walisongo Semarang ke 52 tahun 2009 untuk menuntaskan penyandang buta aksara. Namun pada sisi lain kemasyarakatan banyak pelajaran yang dapat dipetik. Diantaranya pola interkasi masyarakat, model pembelajaran untuk warga dan pelatihan keterampilan. Tapi ada satu yang tidak bisa dilupakan, yaitu hubungan kekeluargaan di tempat base came yang ditempati.

Rumah Bapak H. Yanto dan Ibu Hj. Nur Sikoh dan kedua anaknya Elsa dan Aya dan tidak terlupakan keluarga lainya temen-temen tratak dan sound. Tidak lupa Selamet dan Avit serta Geng Venuz CS 7...Ok (kibarkan kreativitasmu menjadi lebih berarti). Disitu awal mata ini memandang dari hubungan kekeluargaan yang harmonis, banyak hikmah yang dapat dipetik.

Diantaranya yaitu; pertama, keharmoisan untuk selalu berfikir jernih sebagai upaya untuk menumbuhkan keakraban. Kedua, keceraian rumah tangga. Ketiga, tidak ada sekat status derajat dan martabat. Keempat, tidak adanya status sosial dan kedermawanan serta kedewasaan. Dengan ini saya mengucapkan:.


Terima kasih untuk semuanya pada khususnya keluarga bu lurah (Hj. Nur Sikoh).


Tamangede, 28 Mei 2009

Monday, May 11, 2009

MY FAMILLY

MY FAMILLY

KEBERSAMAAN YANG PENUH DENGAN KEBAHAGIAAN
TIADA YANG PALING INDAH SELAIN KELUARGA

DAN ITU SEMUA MEMBUTUHKAN KETULUSAN DAN CINTA YANG DALAM.
MUGKINKAH SEMUA AKAN BERAKHIR.
TENTU TIDAK

AKU TKI KAMU PETANI


Sudah hampir satu bulan aku menjalani KKN Tematik PBA IAIN Walisongo Semarang. Namun yang aku temui di desa Tamangede kecamatan Gemuh jauh dari perkiraan, tidak kusangka tempat yang aku diami tidak terlalu desa walaupun masih disebut desa. Sebab banyak lalu lalang kendaraan dan kegiatan ekonomi di depan posko 9 (sembilan) yang aku tempati.
Tapi disini aku ingin sedikit bercerita tentang judul diatas. Aku TKI atau Tenaga Kerja Indonesia merupakan sebuah fenomena di desa ini. Sebab ternyata desa yang aku tempati dan beberapa sering aku keliling disekitar penduduk kecamatan Gemuh banyak penduduk pribumi yang bekerja diluar negeri. Ya…mereka menjadi buruh di negeri orang, namun mereka sangat bangga sebab bekerja diluar negeri penghasilannya lebih menjanjikan ketimbang di desa.
Kebanyakan orang yang menjadi TKI yaitu mereka pemudi yang menginjak umur dewasa. Aku melihatnya sendiri sekitar 50 meter dari posko ada kantor jasa TKI bahkan tempat mess yang ditempati para calon tenaga kerja. Kantor tersebut melayani dari berbagai Negara tujuan dari Singapura, Malaysia, Hongkong, Korea, Jepang hingga kawasan Timur Tengah.
Ternyata sekarang mereka telah menjadi bagian dari arus globalisasi. Mereka tidak ingin lagi terjun kesawah dengan hanya membawa cangkul dan sabit. Tapi sekarang mereka telah memegang alat-alat produk teknologi.
Sungguh memilukan mereka sudah terjajah dan bahkan tidak betah hidup di negaranya sendiri. Apakah mereka tidak merindukan keluarga yang ada di kampung ?. Bagaimana rasanya ditingal orang yang dicintai ?.
Tapi aku tetap bangga padamu dan kepadamu petani. Ya...sungguh asyik ternyata sawah yang ditinggal kini telah dimanfaatkan oleh penduduk lain. Walaupun sebenarnya mereka bukan asli penduduk setempat, mereka para pengelola sawah berasal dari Brebes untuk menanam bawang merah disawah.
Kini kawasanmu telah dikuasai oleh masyarakat lain, tapi kau rela melepasnya dengan rasa keikhlasan. Melalui perjanjian penyewaan semuanya menjadi damai. Inilah simbiosis mutualisme yaitu saling menguntungkan dari berbagai pihak.
Tamangede, 09/05/2009

Friday, May 8, 2009

KKN Tematik PBA dan Ibu PKK Pelatihan Hidroponik



Di desa Tamangede Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal

KENDAL
- Tepat hari Rabu tanggal 6 Mei pukul 16.00 WIB di desa Tamangede mengadakan pelatihan hidroponik. Acara ini terselengara atas kerjasama Tim KKN Tematik PBA IAIN Walisongo Semarang dengan ibu-ibu PKK. Sekitar enam puluh warga masyarakat Tamangede memadati kursi yang telah disediakan di balai desa. Acara PKK ini merupakan hal rutinitas yang mereka lakukan setiap bulannya. Namun pada pertemuan PKK bulan ini mereka sedikit disuguhi dengan pelatihan hidropnoik dengan menghadirkan Nur Khasanah, S.Pd, M.Kes Dosen Tadris Biologi IAIN Walisongo Semarang. Tidak hanya dihadiri oleh warga setempat namun ikut hadir pula Kepala Desa Tamangede Ibu Nur Sikoh, S.Ag, M.Pd beserta staf-stafnya.


Hidroponik merupakan penanaman tanaman atau tumbuhan dengan media selain tanah. Dengan media hidroponik, seseorang yang tidak memiliki lahan yang cukup untuk menanam tumbuhan bisa menanam dengan sistem ini. Jadi pada dasarnya hidroponik merupakan sebuah alternatif penanaman, karena medianya bisa berasal dari air, krikil, batu, pupuk dan ziloit.

Manfaat hidroponik sendiri berbagai macam selain untuk mengurangi beban karena tidak memiliki perkarangan. Sistem hidroponik dapat juga sebagai penghias ruang kamar, ruang tamu dan teras rumah. Bahkan bagi mereka yang memiliki bakat bertani atau bercocok tanam juga dapat memanfaatkan untuk menambah penghasilan.

Menurut Nur Khasanah, hidroponik merupakan alternatif karena keterbatasan lahan dan juga dapat menghasilkan uang. Bahkan tanaman yang sebenarnya tidak laku dijual ketika sanggup mengelolonya dengan baik akan menjadi tanaman yang berharga.

Sebagai seorang ibu rumah tangga dituntut untuk lebih kreatif, walaupun hidup di desa tidak ada salahnya mengembangkan hidroponik. Di kota hal tersebut menjadi suatu yang berharga, maka sebagai warga masyarakat yang baik harus mampu mengikuti perkembangan bercocok tanam, kata Nur Sikoh kepala desa Tamangede.

Sebagai seorang mahasiswa yang terjun dimasyarakat, tidak hanya bertumpu pada kegiatan yang telah di programkan oleh pemerintah. Walaupun sebenarnya KKN Tematik ini bertujuan untuk penuntasan buta aksara. Departeman pendidikan dan kebudayaan menargetkan Jawa Tengah pada tahun 2009 harus sudah terbebas dari buta aksara.
Selain program yang telah ditargetkan, tim KKN mengadakan pelatihan hidroponik ini untuk membekali para ibu rumah tangga untuk bisa menghargai tanaman dan mampu mengembangkannya menjadi hal yang bernilai.

Sebenarnya masih ada program keterampilan yang diadakan oleh tim KKN. Namun pelatihan hidroponik kali ini sebagai tambahan pembekalan keterampilan untuk masyarakat Tamangede. Walaupun masih banyak kekurangan dan hambatan dalam acara pelatihan hidroponik kali ini.

Tamangede, 7 Mei 2009
Lukni Maulana