Friday, November 24, 2017

Kebinekaan Perkosaan Rasa Kopi

KEBINEKAAN PERKOSAAN RASA KOPI

CUNGKRING saat sedang asyik duduk dan menikmati arem-arem kesukaanya di belakang panggung. Tiba-tiba terdengar suara MC (Master Of Congor) mendaulat Cungkring untuk menyampaikan pidato politiknya dengan tema Merajut Kebinekaan. Sontak Cungkring kaget, dengan perasaan agak lemes iapun berjalan mendekati panggung. Sesampainya di podium ia berkata.

 "Wahai saudara-saudaraku. Aku ini bukan politikus, tapi karena ini diminta pidato politik maka aku akan berusaha sesuai kemampuanku."

"Wahai saudara-saudaraku. Apakah kebinekaan itu? Bagaimana bentuk seram dari kebinekaan?"

Terdengar celetukan dari depan. Wah gawat kie pakai gaya Al-Quran. "Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal" (QS. Al-Hujurat: 13)."

Lalu Cungkring berkata.
"Kebinekaan itu kita cari kopi, gula, dan air, kemudian kita masak. Kalau perlu juga bisa ditambahkan sedikit gula merah dan setetes keringat. Lalu diaduk supaya merata dan larut menjadi satu kesatuan yang utuh."

"Oaalllaaahhhh, kebinekaan itu Ngopi Mania. Lha...perlu tambahan rokok dan gorengan ngak ya," sahut jamaah politik.

Sangat perlu itu, untuk mendukung supaya semakin gayeng saat kita ngobrol nanti di belakang. Karena kebinekaan merupakan satu kesatuan untuk mencapai tujuan bersama. Karena kebinekaan ialah ruang-ruang kosong yang diisi beragam suku, agama, ras, maupun kelompok-kelompok yang memiliki beragam paradigma. Jadi gorengan dan rokok menjadi pelengkap untuk saling take and give untuk memajukan bangsa ini menjadi bangsa yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.

"Ok......siap thok kui."

Langit tampak mendung, sepertinya pertanda akan hujan. Tiba-tiba Micropon itu yang dipegang Cungkring bergetar sendiri.

"Kesetrummm......Cungkring kesetrum...mm."

Micropon tersebut terjatuh, tiba-tiba Micropon mengucapkan "Aku pancasila. Kamu khilafah."

Podium yang bersanding di sebelah kanan Micropon, tidak terima dengan dengan ucapan Micropon "Kamu komunis."

Karena merasa tersiksa Kursi-kursi juga turut menimpali, "Kalian Cina, kalian non pribumi."

Meja-mejapun ikut melempar suara, "Dasar kafir."

"NKRI harga mati," teriak Karpet berwarna hijau.

Cungkring dan para jamaah politik hanya terdiam melihat kegaduhan antara Micropon, Podium, Kursi, Meja, dan Karpet.

Lalu Cungkring berkata kepada jamaah politik.
"Kebinekaan kita saat ini, ternyata rela diperkosa."

"Lho diperkosa kok rela, diperkosa kan dengan paksaan dan berontak," ucap Jamaah Politik.

Ok aku ulangi lagi hehe, Cungkring nyengir kelihatan giginya yang nampak hitam terselip ampas kopi.

"Mau tidak mau harus rela diperkosa. Daripada berontak, akan semakin tersiksa. Maka nikmatilah pemerkosaan itu."

13/11/17 | #SulukCungkring

Thursday, November 23, 2017

Negeri Republik Monoteisme Dibakar Namrud Bin Civil War

NEGERI REPUBLIK MONOTEISME DIBAKAR NAMRUD BIN CIVIL WAR

Foto: Pembawa Acara Kebun Sastra Aktor Studio
Kesaksian Bayu Aji Anwari
PARA raja menikmati hidangan pagi hari di sebuah apartemen mewah di negeri atas angin. Secangkir kopi dan sebatang cerutu menemani para raja bermain catur, sambil mendengarkan alunan keriuhan negeri republik monoteisme. Sesekali mereka tertawa, kelihatan gigi putihnya. Permainan catur mereka sangat unik, terlihat dari papan caturnya yang bergambar lambang-lambang negara. Begitupun bidak-bidaknya, tidak ada kuda, menteri, pion, bahkan rajapun tidak ada. Mereka adalah raja, lalu dibakarlah papan catur tersebut.

Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud bin Kan'aan, ya negeri republik monoteisme mulai terbakar. Negeri republik monoteisme diguncang beragam persoalan, dari persoalan pendidikan, ekonomi, politik maupun sosial budaya. Namun bagi para raja, persoalan tersebut hanya bagian kecil. Hal ini telah dibuktikan meskipun terjadi krisis moneter, rakyat negeri monoteisme tetap bisa bertahan. Meski tidak berpendidikan, mereka bisa bekerja di sawah, lautan maupun di hutan, mereka mampu memodifikasi rongsokan menjadi barang yang lebih berguna. Bahkan jika sampai tidak ada makanan, mereka sangat hebat dalam persoalan puasa dan tirakat. Jadi ketahanan hidup rakyat negeri republik monoteisme sangatlah kuat dan kokoh.

Para raja semakin tahu hal tersebut dan para raja semakin sadar ternyata negeri republik monoteisme sangat kuat dalam memegang prinsip keyakinannya. Apa prinsip keyakinan tersebut?  Yakni agama. Ya jelas mereka tahulah, kan dulu ada Dr. Snouck Hurgronje.

Perlahan api mulai membakar negeri republik monoteisme. Negeri dengan beragam kebudayaan dan agama, beragam aliran kepercayaan beragam pula simbol keorganisasian keberagamaan. Negeri republik monoteisme tersebut melandasi falsafah Kebinekaan, untuk menopang keberagaman dan keberagamaan tersebut. Namun satu demi satu mulai dirontokan oleh jilatan api. Mari kita jaga negeri kesatuan republik monoteisme. Teriakan itu terdengar, tapi api terus saja menjilat-jilat dan semakin berkobar.

Dua kekuatan muncul yakni kelompok semut dan kelompok cicak. Kelompok semut mengambil air sedikit demi sedikit untuk memadamkan api tersebut. Namun berbeda dengan kelompok cicak, bukannya ikut membantu memadamkan api tapi malahan kelompok cicak meniup-niup api tersebut. Sehingga api terus saja berkobar dan tentunya masih terus saja membakar tubuh negeri rupublik monoteisme. Apakah yang harus kami lakukan? Apakah kami harus membunuh kelompok cicak, baru nanti kami mengambil air dan memadamkan api tersebut? Ucap kelompok semut. Kita ini saudara dan hidup bernegara di negeri rupublik monoteisme.

Karena negeri rupublik monoteisme memiliki prinsip yang kuat dalam beragama, datanglah malaikat menghampiri api tersebut yang dikelilingi kelompok semut dan cicak. Malaikat menawarkan diri untuk ikut memberikan pertolongan dalam memadamkan api. Namun, api tersebut menolak untuk dipadamkan. Api tersebut berkata, "Aku tidak membutuhkan untuk dipadamkan, aku hanya membutuhkan pertolongan dan izin Allah untuk padam."

Kemudian api tersebut berdoa, "Hasbunallah wa ni'mal Wakiil." Lalu Allah mengabulkan permohonan api untuk padam, "Qulnaa yaa naaru kunnii bardan wasalaaman."

Api tersebut adalah diri kita sendiri, kita yang bermain api dan kita pula yang akan merasakan jilatan api tersebut. Dan para raja masih tertawa di negeri atas angin sana, menyaksikan api semakin membesar membakar negeri rupublik monoteisme

Engkau adalah cicak itu
Dan akulah semut itu

#SulukAsthabil #SulukCungkring

Sunday, August 13, 2017

Merawat Kemerdekaan

Saat menjadi pembicara acara Sedekah Budaya yang diselenggarakan oleh Bengkel Sastra Taman Maluku
dan Dewan Kesenian Semarang, jumat, 11/08/2017 (Foto: Sulis Bambang) 
MERAWAT KEMERDEKAAN

Seperti aku menanam bunga. Aku berikan pupuk terpenuhi nutrisinya. Siraman air kasih bersirkulasi segar menawan.

Bungaku tidak gemar berfoto selfi. Bungaku berfotosintesis. Supaya tumbuh dan berkembang. Agar berkembangbiak dan mampu menghasilkan cadangan makanan. Kabohidrat supaya) ia kuat. Lalu ia lepaskan oksigen ke udara bebas. Berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Bungaku digangu sang hama aku menjaganya. Supaya ia tumbuh perkasa. Bungaku terserang penyakit akupun mengobatinya. Ada gulma di sekitar bungaku aku berusaha membersihkannya. Semoga ia tidak kerdil dan mampu menghasilkan generasi luar biasa.

Sabtu, 12/08/2017
#MerawatKemerdekaan

Sunday, July 9, 2017

Merah Jalan Terus


Bersama Suluk Pondokbanjar saat ngisi acara Halal bi Halal warga Jl. Kanfer Banyumanik. 08/07/2017

MERAH JALAN TERUS


toleh kanan
melongok ke kiri
memandang ke depan tajam

hijau
kuning
merah
jalan terus

tidak ada Tuhan di traffic light


Magelang, 29/09/2015

Friday, July 7, 2017

Hijab Sunyi


Opening Poem Sedekah Budaya di Hotel Candi Semarang 2017

Cinta itu ketaatan. Aku rindu dengannya, iapun akan rindu padaku. Barangsiapa ingin jumpa dengannya, ia akan berikan kesunyian untukmu.

Keagungannya tidak kuat aku pikirkan. Aku hanya mencoba menahan diri dari keinginan. Sesungguhnya kesunyianlah tempat tinggalku.

Pada kesunyian aku bersabar. Mengusir jejak luka menyeru namanya. Di pagi dan petang hari mengharap ridhonya.

Aku ingin membuka hijab kesunyian. Dengan penghancur kenikmatan yakni kematian. Dengan namamu aku hidup, kesunyian dengan namamu.

22/06/2017

Sunday, June 4, 2017

Aktivitas Kita Bukan Mencari Penghargaan Tapi untuk Perubahan

Suluk Al-Banjart
AKTIVITAS kita bukan untuk mencari penghargaan, tapi untuk perubahan. Begitupun juga ramadhan, bukan supaya kita mendapatkan penghargaan menjadi hamba yang mutaqin, penghargaan menjadi hamba yang bertakwa, menjadi ahli surga. Sehingga rentetan piagam dan sertifikat penghargaan, dari sertifikat puasa, pin penghargaan puasa hebat, sertifikat tadarus terlama, tarawih terlama dengan jamaah terpanjang, kolak pisang termegah maupun piagam penghargaan saur bersama dengan pembacaan seratus ribu puisi yang diiringi beragam grup musik religi.

Apalagi sampai menjadi manusia yang paling beriman, sehingga harus bawa pentungan. Itu semua hanyalah baju yang tidak perlu kita perlihatkan, tetaplah memakai baju kita seperti biasanya. Akan tetapi di balik baju kita ada sesuatu yang lebih berharga dari nilai baju yang kita pakai. Nilai itu adalah perubahan dari diri kita, sehingga perubahan yang ada pada diri ini cahayanya menerobos pada lubang-lubang kecil sehingga sekitarnya turut merasakan cahaya.
 

Aktivitas kita di organisasi, kemasyarakatan, maupun komunitas juga begitu, jangan jadikan penghargaan menjadi tujuan yang utama. Penghargaan hanyalah bagian kecil dari percikan cahaya dari salah satu tujuan beraktifitas yakni perubahan. Di dalamnya kita nanti akan mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari hiasan penghargaan itu sendiri. Semua adalah proses supaya kita menemukan kebenaran, keindahan, dan kebermanfatan.
 

Janganlah kita menjadi manusia yang merugi. Siapa orang yang tidak merugi itu? Illal lazina amanu wa amilus salihati wa tawasau bil haqqi wa tawasau bis sabri. Yakni orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. Dan aktivitas kita perubahan itu sendiri.
 

"Maaf bukan kultum jelang berbuka puasa"

Friday, May 12, 2017

Tentang Batu dan Daun

Membaca puisi buku Memo untuk Presiden di Rumah Budaya Kalimasada Blitar
TENTANG BATU DAN DAUN




Saat ini melukis batu dan daun adalah menyongsong keelokan baru. Tentang kecemasan dan kemerdekaan bagian tak berbentuk. Tumpahnya darah dan air mata mengulang episode tersisih dari kedaulatan.

Merasa asing satu sama lain bersembunyi di balik batu dan daun. Melucuti bahwa ini kesalahan bersama. Kini batu dan daun telah berubah warna tak mampu memelihara bacaan alam. Dari pada beradu mulut dan bersolek politik kerakyatan.

Merasa telah diperlakukan tidak adil atau memang kalah adanya. Adakah cara lain mengubah tanah tandus menjadi taman bunga dengan keindahan batu dan daun. Hal ini memanusiakan alam menyampaikan pesan kehidupan.

Kesertaan batin menepati kata-kata cerita perbudakan, hubungan sosial adalah kontrak tertanda rakyat dan sang penghianat. Jangan kau merubuhkan batu jangan kau menjahanamkan daun. Jujurlah kepada batu kepada daun.

Batu dan daun adalah dekorasi semesta tercipta untumu mudah kau rusak tetapi sulit kau kembalikan apa adanya. Jika kiranya otakmu adalah batu jika siapa tahu tubuhmu adalah daun. Ataukah kita tercerai-berai berserakan di mimbar tak mengenal tuan bahkan tuhanpun terlalai.

Bukan bagian dari sampah pengarang cerita tentang baik dan buruknya. Adalah penulis kisah cinta kasih alam raya menyandang sang khalifah. Batu kecerdasan daun berpengetahuan
penggagas ide pembebasan.

Karena batu dan daun adalah kita. Kita bersama kita berbudaya. Kita satu jiwa dan raga.

Semarang, 08/8/2015