Sunday, April 7, 2013

Mohon Restu

Mohon Restu

MEMOHON doa restu menjadi nilai tersendiri dan memiliki keutamaan serta kekuatan, namun pada saat apa kita memohon doa restu?.

Ada beragam hal peristiwa kita memerlukan restu, salah satunya memohon doa restu orang tua. Mohon restu pada saat berpergian jauh, bekerja di luar kota, menduduki jabatan baru, pada saat menghadapi ujian maupun ketika hendak menikah.
Bahkan para politisi ketika menjadi calon presiden, gubernur, bupati maupun lurah meminta restu merupakan hal yang wajar. Sebab restu menjadi bentuk surat rekomendasi yang memiliki kekuatan legitimasi.

Meminta restu tentu ada yang di “minta”, jika seorang anak akan meminta restu kepada orang tuanya. Maka politisi akan meminta restu kepada orang yang dianggap memilki kekuatan masa atau terpandang dimasyarakat; bisa kiai, ustad, media maupun tokoh masyarakat. Sebab restu mereka dibutuhkan untuk memberikan seutas harapan untuk mendukungnya. Adanya nilai kepentingan didalamnya.

Lain lagi dengan permintaan restu anak kepada orang tuanya, sebagai sebuah simbol doa dan mencari ridho-Nya.
“Keridhoan Allah ada pada keridhoan kedua orang tua dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan kedua orang tua” (HR.Tirmidzi)

Bahkan adat Jawapun ada laku meminta restu kepada yang sudah meninggal, mengunjungi pemakamannya dengan melakukan nyekar. Hal ini dilakukan untuk menjaga kedekatan sukma yang antara dirinya dengan sukma leluhur supaya terjalin energi batin, bisikan dan keberkahan untuk harapan dan keinginannya.

Meminta atau memohon restu merupakan tradisi yang sudah mengakar, tergantung “restu” itu ingin di letakan dimana.

SKETSA KEHIDUPAN
Lukni Maulana

Thursday, April 4, 2013

Pemimpin Itu Ngemong

Pemimpin Itu Ngemong

SAAT ini apakah kita menyadari tentang diri ini yang sesungguhnya kita itu pemimpin. Maka selesaikan persoalan dirimu, urusan kepemimpinan kita mengenai diri kita sendiri; dari persolan ekonomi sehingga diharapkan kita tidak korupsi, memimpin keluarga sehingga kita mampu mengatasi konflik maupun memimpin diri untuk bisa bergaul dengan orang lain sehingga tidak mudah emosi dan anarki. Sehingga ketika kita mampu menjadi pemimpin diri sendiri, layaknya ia bisa melanjutkan menjadi pemimpin-pemimpin yang lain.

Pemimpin itu layaknya bangunan rumah tangga, suami itu pemimpin yang memiliki peran untuk mengatur tatanan rumah tangga sedangkan istri itu menteri atau lembaga-lembaga pemerintah yang berperan untuk mendidik generasi penerus dan mengatur kebutuhan rumah tangga dan anak-anak adalah rakyat yang membutuhkan perhatian dari sang ibu.

Maka pemimpin itu harus mampu memiliki sikap “ngemong” atau mendidik, memelihara, dan menjaga. Dan sikap ngemong tersebut harus dimilki juga oleh para pendamping pemimpin baik yang berada ditingkatan kementerian maupun lembaga pemerintahan.
Ingatkah engkau tentang ajaran Sunan Kalijaga dalam tembang berjudul Lir-Ilir. Dalam salah satu baitnya berbunyi, “Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi” (Anak-anak penggembala panjatkan blimbing itu). Mengapa harus Cah Angon?, “al-Imaamu ro’in” (imam adalan pemimpin atau pengembala). Oleh sebab cah angon adalah penggembala orang yang ngemong, pengembala itu memiliki sikap mendidik, memilihara dan memerawat hewan yang pastinya tidak berakal.

Jika ia mampu mengendalikannya dialah Cah Angon, jika Cah Angon memimpin manusia yang berakal diharapkan dapat diatur sesuai ketentuan, dibandingkan dengan hewan yang tidak berakal.
Mengapa yang dipanjat harus buah Blimbing?, Blimbing itu bergigir 5 (lima) yang berarti rukun Islam. Pemimpin harus mempu memegang teguh prinsip rukun Islam dan Blimbing muda berwarna hijau menandakan kesuburan dan kemakmuran, ketika semakin dewasa warna akan berubah kuning mengisyaratkan umat Islam untuk selalu menjadi lebih baik dan matang yang siap untuk disajikan dan dapat dinikmati. Bermanfaat untuk orang lain buah segar yang mengeluarkan manisnya air saripati blimbing yang berarti sumber kehidupan.

“Seorang imam (pemimpin) adalah bagaikan penggembala, dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas gembalaannya.” (HR. Ahmad, Syaikhan, Tirmidzi, Abu Dawud, dari Ibnu Umar)

Sunday, March 31, 2013

Membeli Nikmat Tuhan

Membeli Nikmat Tuhan

KETIKA saya berbicara kenikmatan, sesungguhnya saya tidak menginginkan ada segumpal daging yang memilki sifat kesombongan. Maka dari itu saya bicara keumuman apa yang diharapkan oleh manusia untuk selalu mendapatkan kenikmatan. Oleh sebab itu banyak manusia mengejar kenikmatan, sehingga kenikmatan menjadi singasana yang harus di cari dan di duduki. Kursi singasana itu manusia bisa menjadi pegawai negeri, dokter, polisi, wirausaha maupun menjadi buruh.

Bahkan untuk menduduki kursi tersebut manusia bisa bekerja lebih keras lagi dengan melakukan kerja tambahan seperti lembur kerja maupun mengisi waktunya dengan bekerja bidang lain.  Namun yang perlu dihindari dari ketidakpuasaan jika manusia berbuat tidak sesuai dengan aturan kehidupan yakni dengan cara korupsi ataupun mencuri yang bukan haknya.

Dengan bekerja saya akan mendapatkan apa namanya “gaji atau pendapatan”.

Sedangkan dari gaji tersebut manusia bisa menikmati kenikmatan. Gaji materi tersebut ia bisa membeli apapun yang ia suka, untuk memenuhi dasar hidupnya. Sandal dan sepatu untuk kaki, kaca mata untuk mata, bedak make up untuk wajah, pakaian untuk menutupi diri dll.

Oleh sebab saya mengatakan bahwa itulah sebagian dari kenikmatan, selain kenikmatan yang ada dalam pikiranku ini. Saya tidak memandang kenikmatan alam semesta ini tanpa mata, saya tidak bisa bicara dan ngoborl tanpa adanya mulut. Saya tidak bisa mendengarkan lantunan musik tanpa adanya telinga dan lain sebagainya yang melekat pada diri kita; tangan, hidung, otak, kepada dll.

Jadi jika saya mendapatkan gaji besar di kantor, ternyata saya tidak bisa membeli apa yang melekat pada diri saya.

Sebab gaji yang saya dapatkan dari bekerja tak lain hanyalah peran dari apa yang melekat pada diriku ini; mata, telinga, tangan, kaki, pikiran dan lain sebagainya.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Sampah Pengajian

Sampah Pengajian

BANGSA Indonesia patut bersyukur melihat masyarakatnya gemar kumpul-kumpul dalam satu lingkaran jamaah hingga larut malam bahkan sampai pagi. Tidak ada bangsa di dunia ini yang bisa bertahan dan kuat membuka mata, kecuali bangsa Indonesia.

Berkumpul dalam satu jamaah menggambarkan suatu kebudayaan, salah satunya jamaah pengajian. Hal ini memiliki ciri dan keunikan tersendiri yakni lingkaran jamaah. Seperti jamaah yang bersarung, berpakaian putih-putih maupun ala kadarnya. Para jamaah bisa bertahan sampai pagi mendengarkan ceramah para kiai atau pembicara. Artinya sangat jelas, seharusnya selain para jamaah bisa membuka mata tentu bisa membuka hati.

Namun alangkah ironisnya mereka hanya bisa membuka mata, tanpa bisa membuka hati. Intinya ketika para jamaah mendapatkan siraman ruhani seharusnya melekat pada diri akan tetapi justru hanya sampai di mata saja. Hal ini dapat dilihat dari perilaku setelah meninggalkan acara pengajian atau kumpul-kumpul.

Bangsa ini memiliki nilai kesalehan pribadi yang luar biasa, dalam hal kesalehan sosial inilah yang menjadikan ilmu hanya sampai pada mata tidak tertanam pada hati. Setelah keluar dari arena jamaah; sampah plastik menyebar kemana-mana, kertas-kertas berserakan di mana-mana dan jelasnya sampah selalu ada berserakan.

Mereka berfikir bahwa ilmu sudah tertanam dalam hati, persoalan sampah hanya sebatas lahiriah yang nampak dan dapat seketika dibersihkan oleh pihak penyelenggara atau panitia.

Sesungguhnya ilmu yang katanya tertanam dalam hati, hanya sebatas mata.

“Sesungguhnya Allah Swt itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu” (HR. Tirmizi)

Tuesday, November 29, 2011

Rasa Takjub

Rasa Takjub


SUNGGUH mengasyikan hidup di Negara yang entah berantah, berbagai macam kejadian selalu menyelimuti baik masalah kriminal, sosial politik hingga cemburu yang berakhir bunuh diri. Apa lagi baru-baru ini, elit politik kembali berulah salah satu pernyataanya bubarkan saja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan maafkan koruptor.
Tentunya kita dibuat takjub dan tercengang atas pernyataan tersebut, lembaga yang diharapkan mampu memberantas korupsi karena sudah tidak ada lagi yang diharapkan selain KPK. Inilah ketakjuban, seperti kita lagi diajari cara berfilsafat. Karena dalam pandangan Plato yang tertuang dalam Theaetetus, filsafat berawal dari “ketakjuban”. Tentu saja bukan takjub, terhadap suatu realitas yang terjadi dan kita hanya diam membisu tidak bisa berbuat apa-apa.

Akan tetapi takjub ini bukanlah semacam itu, melaikan sebuah perasaan terhadap sesuatu yang tidak kenal, menggiringi kita untuk mencari makna yang mendasar di balik keagungannya sehingga mendorong kita ke ruang wawasan dan puncak pengetahuan yang selalu baru.

Hal ini dapat digambarkan kita kita jalan-jalan ke mall tiba-tiba ada sesosok wanita cantik berparas manis, dibalut dengan busana muslim yang memikat. Kita lalu berkata, “sungguh wanita luar biasa”. Kata-kata tersebutlah yang menjadikan “takjub”, namun hanya sebatas kata bukan menjadi ruang pengetahuan.

Seperti kisah Zulaikha, takjub atau kagum terhadap Nabi Yusuf. Namun Zulaikha di cerca oleh sahabatnya, diundanglah sahabatnya dalam suatu perjamuan dan Nabi Yusuf yang membawakan hidangan. lalu merekapun merasa kagum;
“Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian Dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia. (QS. Yusuf: 31)

Ketika mendengar bahwa KPK akan dibubarkan, kita merasakan takjub atau bisa diistilahkan lain dengan “kagum” mendapatkan berita baru. Namun kita hanya bisa takjub, tidak bisa berbuat apa-apa. Lha..kita hanya rakyat kecil, jika mengerti masalah itu, bagaimana menyampaikannya.

Apakah KPK akan menjadi lembaga yang memiliki arti KPK (Komisi Persahabatan dan Kesetiakawanan). Komisi yang menjadi teman akrab partai penguasa ataupun sahabat sejati yang mampu memberikan kenikmatan material.

Atau DPR (Dewan Persahabatan Reformasi), karena gagal mewujudkan reformasi yang sesungguhnya atau  semua itu teman, sahabat, kawan atau bahkan paling uniknya keluarga.

Sungguh semua bentuk penghidupan yang berhubungan dengan kenikmatan berawal dari “teman”, tak heran jika Nabi Adam merasa kesepian di surga walaupun banyak kenikmatan, tapi ia membutuhkan teman yang kemudian kita kenal Siti Hawa.

Tanpa teman hidup ini merasa sepi, tapi jangan merasa takjub atau kagum dengan teman anda, siapa tahu dia menusuk atau bahkan melawan dari belakang. Ini bukan kisah Nasaruddin Joha bisa jadi ini kisah Nazaruddin dengan Anas Urbaningrum.

Namun kita tidak sedang berretorika, karena ketakjuban sangat erat dengan kekaguman kita terdapat sesuatu pengalaman yang terjadi, khususnya pengalaman yang menularkan pertanyaan yang tidak terjawab dengan penalaran logika belaka, tetapi dengan mengalami pengalaman itu sendiri.

Sungguh jenis ketakjuban filosofis yang paling dasar ialah ketakjuban tentang makna kehidupan yang sebenarnya. Pertama, jika mampu bertanya dan mencari solusi akan ketakjuban tersebut (ulul albab). Kedua, mendapatkan suatu paradigma baru (mujtahid). Ketiga, menjadi agent perubah, walau sebatas moral etik (mujadid).

Sungguh kita hanya takjub akan kebesaran dan keagungganNya. Tentu aku akan kagum orang yang berjuang (mujahidin) dan menegakan panji-panji Islam.