Friday, June 7, 2013

Ingin Menikah



SEORANG laki-laki kurus lulusan salah satu kampus negeri di Semarang berkeinginan untuk menikah. Namun ia barusan lulus, belum memiliki pekerjaan tetap alias penganguran berijasah. Ia pun pergi ke rumah gurunya. Lalu ia ceritakan keinginannya, ia ingin menikah dalam kondisi penganguran. Ia berharap gurunya bisa memberikan siraman yang bisa menyejukan jiwanya.

“Guru, aku ingin menikah dalam kondisi jadi penganguran,” kesedihan nampak padanya.

“Subhanallah!” jawab Pak Muh.

“Tapi belum ada seorang wanita yang siap untuk di nikahi,” kata pemuda itu.

“Alhamdulillah!” jawab Pak Muh.

“Tolong berikan aku amalan. Agar ada seorang wanita bisa aku nikahi dalam kondisiku yang masih penganguran,” pinta pemuda itu.

“Allahu akbar!” jawab Pak Muh.

Pak Muh memeluknya lalu berkata, “Allah akan memberikan jalan bagi mereka yang berusaha”. Lalu Pak Muh membacakan surat An-Nuur ayat 32, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”

Semarang, 12/09/12

Saturday, April 27, 2013

Celana di Bawah Lutut

AHMAD seorang pemuda kampung yang kini tinggal di kota, sudah hampir satu minggu ia menetap di rumah saudaranya. Karena bosan di rumah terus, Ahmad memutuskan untuk keluar jalan-jalan sendiri. Siapa tau bisa menghilangkan rasa penat, katanya.

Ia sangat menikmati kesendiriannya, selang berapa waktu ia tengok jam tangganya. Waktu sudah sore, ia baru ingat bahwa dirinya belum menunaikan shalat ashar. Ia putuskan untuk mencari masjid terdekat.

Selesai shalat ashar, ia melihat sisi kanan masjid yang dipenuhi para jamaah. Oh..ternyata ada kajian tematik. Ahmadpun tertarik untuk mengikutinya. Di lihatnya banyak dari para jamaah yang memakai pakaian di bawah lutut.

Selesai mengikuti kajian, Ahmad penasaran tentang mengapa para jamaah memakai pakaian celana di bawah lutut. Iapun menelepon Pak Muh, menanyakan perihal tersebut.

“Sarung (celana) yang di bawah mata kaki akan ditempatkan di neraka”.  (HR. Bukhari). Ahmad merasa ketakutan.

Sunnah memakai pakaian tidak melebihi kedua mata kaki. Haram jika mengenakan pakaian sampai di bawah mata kaki jika dimaksudkan lil khulayah atau karena faktor kesombongan.

“Allah tidak melihat orang yang merendahkan pakaiannya dengan penuh kesombongan”. (HR. Bukhari)

Kain celana atau sarung di atas mata kaki dimaksudkan supaya terbebas dari kotoran atau najis. Ahmadpun di persilahkan memakai pakaian sebatas mata kaki, asalkan mampu menjaga celana dari kotoran dan najis

“Oh..gitu, alhamdulillah. Lha saya kan ketika shalat memakai pakaian khusus shalat.” Kata Ahmad.

Pakaian merupakan produk budaya dan kita diajarkan untuk tahzin atau etika dalam berpenampilan yang sesuai dengan adat lingkungan dan pastinya menghindari tata cara yang dilarang. Sesuai dengan ketentuan yakni untuk laki-laki harus menutup bagian tubuh dari mulai pusar hingga sampai ke lutut.

Semarang, 22/09/12

Sunday, March 31, 2013

Amalan dan Jimat

Amalan dan Jimat

WAKTU sudah menunjukan untuk mata kuliah Pendidikan Agama Islam, Pak Muh segera masuk ruang kuliah. Dilihatnya para mahasiswa yang haus akan ilmu pengetahuan, ia hanya bisa tersenyum dan berharap kelak mahasiswa yang ia ajar menjadi orang yang ilmunya bermanfaat hingga mengantarkannya menjadi orang sukses.

Selang beberapa waktu, ada salah satu mahasiswa mempertanyakan tentang hukum menggunakan amalan, hizb ataupun jimat. Pak Muh sadar betul bahwa mahasiswa tersebut berkeinginan untuk memperdalam diluar kebanyakan orang modern.

Jika masyarakat Jawa, ketika memiliki anak kecil yang belum cukup umur, orang dahulu selalu memakaikan kalung yang berisikan tulisan-tulisan Al-Qur’an. Mereka meyakini dengan memakai jimat tersebut, si anak akan terhindar dari bahaya dan malapetaka. Begitu juga dengan rumah-rumah yang terkadang kita melihat tulisan-tulisan arab menempel di atas pintu masuk rumah. Hal ini juga di yakini untuk mengusir bentuk-bentuk kejahatan dan terlindung dari malapetaka.

Apakah di era modern ini masih mempercayai hal itu, bisa jadi hal itu dianggap tidak rasionalis. Sebab era modern cenderung berparadigma positivistik yang berpandangan segala sesuatu harus rasionalis dan empiris. Ataukan hal tersebut di anggap bidah, segala amalan yang tidak ada pada zaman rasul.

“Alam semesta memiliki energi dan energi menghasilakan kekuatan,” jawab Pak Muh.

Mahasiswa merasa senang mendapatkan jawaban singkat tersebut. Karena ia mendapatkan restu untuk mengamalkan apa yang ia kehendaki dan memakai jimat supaya mendapatkan keberkahan hidup.

Amalan doa, zikir, hizib maupun memakai jimat merupakan bentuk usaha ikhtiar seorang hamba, yang dilakukan dalam bentuk doa yang bertujuan untuk mendapatkan ketenangan, perlindungan maupun terhindar dari marabahaya.

Tentu bentuk amalan dan jimat itu tidak mengandung unsur kesyirikan; “Sesungguhnya hizib, azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik.” (HR Ahmad).

Alam itu memiliki energi, baik itu air, matahari maupun udara yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan kekuatan. Begitu juga dengan amalan yang datang dari pencipta alam semesta berupa wahyu yang diturunkan kepada Rasul Muhammad yakni Al-Qur’an.

“Dari Auf bin Malik al-Asja’i, ia meriwayatkan bahwa pada zaman Jahiliyah, kita selalu membuat azimat (dan semacamnya). Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu (ya Rasul) tentang hal itu. Rasul menjawab, ''Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di dalamnya tidak terkandung kesyirikan.” (HR. Muslim)

Semarang, 03/10/12

Aku Cinta Dia

Aku Cinta Dia

HATI siapa yang tidak ingin jatuh cinta kepada sesama, sebab kita di karuniai rasa suka kepada orang lain. Rasa ketertarikan tersebut menimbulkan beragam ekspresi. Ketika bertemu dengan pujaan hati jatung berdebar kencang, grogi dalam berbicara atau bahkan menghindar.

Ahmad mengalami hal tersebut, ia lagi di mabuk cinta dengan gadis bunga desa. Sekian lama ia berusaha untuk mendapatkaanya, akhirnya ia memiliki gadis bunga desa tersebut. Perasaannya begitu gembira dan bahagia. Di setiap waktu selalu selalu yang terfikir hanya pujaan hatinya.

Selang berapa waktu perjalanan cintanya, ia berkeinginan untuk menikahi gadis tersebut. Syukur Alhamdulillah gadis bunga tersebut menerima Ahmad untuk meminangnya. Akan tetapi Ahmad diberi satu syarat. Karena keinginannya yang mengebu, ia tanyakan syarat itu. Syarat tersebut, ia harus sudah bekerja dan mandiri secara financial.

Sedangkan penghasilan Ahmad hanya pas untuk kehidupan sehari-harinya, sebab ia memiliki beban tanggungan adik-adiknya. Karena kebingungan tersebut, ia selangkan waktu untuk berkonsultasi kepada Pak Muh.

“Hanya ada tiga jawaban. Putus, Cari pacar cadangan dan mempertahankannya.” Kata Pak Muh

Ahmad semakin kebingungan atas jawaban tersebut, ia di hadapkan pilihan. Sedangkan ia sangat mencintainya. Tentu saja Ahmad memilih untuk mempertahankannya. Lalu Pak Muh memberikan keterangan atas jawaban Ahmad.

“Cinta itu seperti kayu yang dipahat. Pemahat hanya memiliki sketsa gambar atas kayu tersebut, sehingga kayu terbentuk menjadi suatu barang yang bernilai”.

Ahmad mendapatkan beberapa pencerahan, dalam hatinya ia memikirkan tentang rasa cinta. Jika aku mempertahankan cinta itu, maka aku telah menjadi orang lain dan cinta itu sesuatu yang nampak baik berupa, kerja, mandiri, harta dll. Sedangkan Pak Muh menerangkan cinta itu bukan kayu tapi hasil dari kayu itu.

Sungguh cinta sejati oleh sebab cinta-Nya, dalam sebuah proses berkelanjutan seperti kayu yang ingin kita bentuk menjadi barang bernilai. Maka jalani cinta antar sesama dengan tidak melihat sesuatu yang nampak.

“Dua orang saling mencintai (karena Allah) maka yang paling baik di antara keduanya adalah yang paling kuat cintanya kepada temannya”. (HR. Bukhari)

Semarang, 23/09/12
Akan Di Lebihkan

Akan Di Lebihkan

PAK Muh di amanahi untuk menjabat takmir Masjid dikampungnya, harus memikul beban tanggung jawab pembangunan masjid. Karena tidak ada kotak amal, maka biyaya harus dari swadaya masyarakat maupun pemerintah. Sedangkan pembangunan menelan anggaran biyaya sepuluh juta lebih.

Suatu ketika Pak Muh mendapatkan dana bantuan dari pemerintah provinsi. Dana itu cair seratus persen tanpa potongan sebesar lima juta. Lalu datang salah suatu warga yang hendak meminjam uang dari dana masjid tersebut.

Pak Muh memperbolehkan uang itu di pinjam asalkan ia meminta izin ke seluruh takmir dan ketua RT. Akhirnya uang itu cair dipinjam sebesar empat juta. Ternyata uang yang akan di pinjam tak kunjung dikembalikan. Pembangunan masjidpun terbengkalai.

Walaupun begitu Pak Muh tetap santai, meskipun sebenarnya ia juga tidak punya uang sebesar itu. Ahmad menghampiri ia dan menanyakan tentang pembangunan masjid.

“Uang di pinjam, tak kunjung dikembalikan. Bagiamana ini Pak Muh?” tanya Ahmad.

“Pembangunan akan tetap berjalan,” jawab Pak Muh singkat.

“Terus dananya dari mana?” Ahmad penasaran. Barangkali Pak Muh punya uang banyak, pikir Ahmad

“Aku tidak bisa mengantinya. Jika kita memberi satu maka Allah akan mengantinya lebih,” terang Pak Muh.

Selang beberapa hari Pak Muh mendapatkan surat dari Pemerintah Provinsi. Menerangkan bahwa masjid yang ia pimpin mendapatkan dana hibah sebesar sepuluh juta rupiah. Dalam hatinya yang penuh terima kasih ia berkata, “Allah benar-benar menepati janjinya. Siapa yang mau berusaha memberi satu, maka Ia akan memberikan lebih”. Kini pembangunan masjidpun berjalan lancar dari dana swadaya dari Pemerintah dan warga.

Semarang, 14/09/12

Thursday, December 11, 2008

Training politik HMI Semarang

Training politik HMI Semarang

Dalam perjalanan dinamika bangsa Indonesia demokrasi adalah hal menarik dan tak pernah lekang untuk dijadikan icon pembaharuan dan perbaikan. Demikian juga perpolitikan selalu menjadi sumbu utama yang mempengaruhi kondisi di berbagai bidang lainnya. Sedemikian berpengaruhnya dimensi perpolitikan, hingga menuntut perhatian semua kalangan yang memiliki kepedulian pada masa depan bangsa untuk memikirkan prospek politik Indonesia di masa yang akan datang, terutama dari segi sistem dan pelaku.

Demokrasi sendiri memang bukan soal mudah untuk didefinisikan, apalagi dipraktekkan. Sering ia disandera menjadi hanya sekedar slogan, diputar balikkan sedemikian rupa untuk melegitimasi kepentingan. Di sekolah, demokrasi dipasarkan bersamaan dengan pendidikan kewarganegaraan yang isinya melulu tanggung jawab, definisi dan jargon. Nyaris beku karena sempitnya ruang berdiskusi, hampir sulit meletakkannya dalam konteks keseharian yang mudah dipahami. Sekolah dalam banyak hal seringkali malah menjadi tempat dimana demokrasi dibuat mati muda. Ranah publik dan mungkin keluarga, juga bukan tempat dimana pemahaman dan tabiat demokratik dikecambahkan atau dipraktekkan. Maka tidak mengherankan, jika pemahaman dan praktek demokrasi menjadi sesuatu yang mewah untuk ditemukan. Lihat saja media massa dan produknya, lihat pula perilaku kita di jalanan, parlemen kita, birokrat dan sebagainya. Sungguh sulit menemukan role model atau best practisses yang bisa kita banggakan.

Reformasi, Demokrasi dan Kepemimpinan Politik
Bergulirnya reformasi menandai terjadi terjadinya liberalisasi dalam pasar politik di Indonesia. Dimana telah terjadi perubahan yang signifikan dalam struktur, relasi maupun pengelolaan politik di negeri ini. Sentralisasi kekuasaan tinggal menjadi mimpi karena pusat-pusat kekuasaan menjadi sedemikian terdesentralisasi. Para pemimpin di pusat dan di daerah dipilih secara langsung yang secara idealistik berarti kembalinya kedaulatan kepada rakyat secara penuh. Akan tetapi, sungguh ironis ketika realitas yang terjadi adalah justru semakin jauhnya rakyat dan kepentingannya dari orientasi dan keberpihakan politik.

Banyak faktor yang menyebabkan itu semua, tetapi bisa dikatakan bahwa kepemimpinan (dalam artian luas) adalah salah satu faktor yang determinan. Sejarah dibanyak peradaban menunjukkan bahwa, transisi dari suatu rezim otoriter ke arah yang lebih demokratis seringkali melahirkan suasana chaotic. Ini terjadi bersamaan dengan melemahnya kewibawaan institusi dan aktor-aktor kekuasaan, baik yang lama maupun yang baru. Di lain sisi, tumbuh pula kelompok-kelompok dan figur-figur baru yang mencoba mengambil peran dan akses kepada kekuasaan.

Di tingkat masyarakat muncul euforia, dalam bentuk pengabaian maupun pembangkangan sebagai respon terhadap kebebasan yang baru dinikmati. Sedangkan pada sisi lain, para pengelola negara dan pemerintahan kehilangan kepercayaan diri dan gamang menyikapi perubahan. Situasi seperti inilah yang sedang kita hadapi, sebuah kompleksitas yang tidak mudah disiasati. Tanpa kepemimpinan sosial dan politik yang mencerahkan, maka akan sangat mudah bagi agen-agen sosial dan politik untuk terjebak dalam mengurus bangsa secara transaksional, pragmatis dan miskin visi.

Dalam 'Leadership' (1970), John McGregor Burns mencoba merumuskan kepemimpinan yang efektif. Menurut Burns, seorang pemimpin yang transformatif adalah pemimpin yang mampu menyatukan para pendukungnya dalam suatu shared vision yang dapat memperbaiki dan mengembangkan organisasi dan masyarakatnya secara luas. 

Kepemimpinan transformatif ini dikatakan memiliki kemampuan untuk mendeliver nilai-nilai (true values), integritas dan trust. Kepemimpinan transformatif ini adalah kebalikan dari pemimpin transaksional yang melakukan apapun untuk memperbesar kekuasaannya
Kita bersama memerlukan pemimpin sebagai sumber inspirasi dan mobilisasi sosial. 

Pemimpin yang mampu memberikan arah dan prioritas yang jelas, bukan sekedar pemimpin yang kuat dan berwibawa atau populer semata. Kita sangat membutuhkan pemimpin yang mampu melahirkan terobosan, mengambil resiko-resiko politik demi membawa bangsa ini keluar dari bayang-bayang krisis. Kita sangat mengharapkan munculnya pemimpin yang mampu melakukan re-framing dan mengajak kita semua melihat bayangan masa depan secara holistik, sehingga mempunyai character building meliputi loyalitas kepada nilai, visi, dan program kepemimpinan yang sesuai dengan aturan dan mekanisme yang demokratis.

Signifikansi organisasi atas perubahan
Dari rentetan teori yang berjibun dan pencandraan atas realitas yang complicated tentunya kita dapat menebak dengan analisis dan hipotesis atas permasalahan itu semua. Kemudian dari manakah kita akan mendapatkan pemimpin seperti itu? Tentu dari organisasi-organisasi yang mempunyai visi dan karakter yang jelas dan atau dari partai politik yang benar-benar mempunyai alat produksi (proses perkaderan) yang benar-benar sesuai bentuk riil dari proses demokrastisasi yang mencetak kader-kadernya. Disisi lain saat ini kita perlu melihat parpol saat ini yang menjamur bak musim hujan mengguyur kemudian parpol bermunculan entah dengan tujuan ikut meramaikan panggung demokrasi atau hanya karena tujuan pragmatis atau memang benar-benar ingin ikut memperjuangkan perbaikan sistem kepemimpinan bangsa ini.

Melihat relitas semua yang terjadi lalu mengapa dari partai politik yang di bidik? Sebab disitulah parpol yang melahirkan dan merekrut pemimpin secara terlembaga. Dalam peradaban demokrasi dimanapun, partai politik adalah entitas yang paling logis dalam melahirkan kepemimpinan politik. Lewat partai politik,lebih dimungkinkan mendapatkan pemimpin yang berinteraksi dengan persoalan-persoalan dan dinamika masyarakat. Tentu dengan catatan, partai-partai politik itu memang mempraktekkan budaya demokratis secara internal, bukan sekedar milik elit oligarkis. Partai-partai itu tentunya harus melembagakan sistem dan prosedur demokratis dalam setiap aspek kehidupan partai. Juga mesti memiliki mekanisme pengelolaan konflik yang terlembaga dan rekrutmen serta kaderisasi yang ajeg. Di sisi lain, partai-partai politik tersebut juga memelihara konstituennya dan relevan dengan kebutuhan kongkrit atau ideologis rakyat.

Persoalannya tentu, apakah partai-partai politik kita sudah seperti itu. Saat ini mungkin bisa dikatakan belum, sebab partai-partai kita masih sibuk dengan diri dan kepentingannya sendiri. Tetapi tentu kita tidak boleh kehilangan harapan dan tergoda untuk mengambil jalan pintas, yang justru akan merusak konsolidasi demokrasi dalam jangka panjang.

Solusi Alternatif ke-Ummatan dan kebangsaan
63 tahun sudah bangsa kita telah merdeka. Jika dilihat dari usia, Indonesia telah sepuh, seharusnya lebih matang dan dewasa. Namun apa boleh dikata, bukti masih menunjukan lain dari harapan kita. Siapa yang salah, yang jelas tugas para founding fathers telah selesai mengantarkan kemerdekaan kita, tinggal kita sebagai generasi harapan bangsa sebagai pemuda.

Pemuda kita sekarang, seperti juga pemuda di zaman dan peradaban manapun memang cenderung mengedepankan emosional, dangkal dan mau serba instant walaupun itu tidak semua menjadi karakter pemuda tetapi itu setidaknya menjadi benang simpul dimana setiap pemuda dan isi kepalanya mempunyai maninstream berpijak untuk beraktualisasi. Tetapi ada yang berbeda, zaman sekarang para generasi muda dibombardir oleh tekhnologi informasi global yang intens. Ini sesuatu yang tidak dialami oleh generasi muda zaman dulu. Trend setter masa kini begitu banyak, bisa dari mana saja, terjadi kapan saja dan oleh siapa saja. Berbeda dengan zaman dulu yang serba terbatas dan lambat. Kebudayaan popular yang ada sekarang berkembang dari gempuran terus menerus, konstan dan dari berbagai arah terhadap alam sadar dan bawah sadar anak muda. Yang menjadi soal adalah defisit contoh baik yang ada di masyarakat kita saat ini.

Lalu apakah tanggung jawab atas itu semua ? Himpunan Mahasiswa Islam sebagai bagian dari organisasi yang ada di level gerakan mahasiswa dengan usianya 61 tahun sudah banyak kader-kadernya yang menjadi alumni dan masuk dalam lingkar sistem di indonesia ini. Tidak sebatas itu HMI dari zaman kezaman dengan melihat realitas selalu menangkap permasalahan dengan berbagai cara, termasuk hingga detik ini terus melakukan pembaharuan dan inovasi gagasan untuk memberikan sumbangsih pemecahan masalah. Tentunya HMI harus mampu menjadi bagian yang menggagas jalan alternatif, minimal untuk bisa menyelesaikan dan meminimalisir permasalahan bangsa kedepan. Dengan mengetahui atas peta konstelasi demokrasi politik baik dalam skala nasional maupun lokal maka secara tidak langsung HMI sebagai kawah condrodimuko untuk kader-kadernya secara sistematis menghadirkan analisis dalam mencandra permasalahan yang ummat dan bangsa.

Pada sisi ini kita melihat politik merupakan sebagai wahana, dapat bermakna ganda yang amat kontras antara satu makna dengan makna lainnya. Di satu sisi politik dapat diklaim sebagai alat perjuangan untuk mempengaruhi arah kebijakan yang akan berdampak pada masyarakat luas, sedangkan di lain sisi politik menampilkan wajah yang begitu pragmatis, korup dan merugikan kepentingan masyarakat luas akibat prilaku para aktornya.

Dalam idelitas gerakan, maka politik merupakan salah satu alat penting dalam berjuang berdasarkan-nilai kebenaran. Namun hal itu mutlak mensyaratkan hadirnya para politisi yang memahami makna politik yang demikian, yakni politik sebagai alat perjuangan, bukan politik sebagai tujuan.

Para politisi yang memiliki karakter kepejuangan sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia agar dapat memberikan arah dan kebijakan politik yang mampu menjawab kepentingan masyarakat. Para politisi yang bersikap sebagai negarawan harus ditemukan dan dihadirkan kembali ke tengah bangsa Indonesia yang sedang mengalami krisis kepemimpinan politik akibat kepercayaan masyarakat yang telah luluh terhadap perangai para politisi saat ini. Kepemimpinan muda yang digulirkan saat ini sebagai salah satu bentuk relevansi peran generasi bangsa apakah mampu dihadirkan atau memang menjadi alternatif bahkan sama dengan konsep kepemimpinan lama?

Dalam konteks lain tidak adanya pendidikan politik selama ini, kita lalu bisa memahami mengapa terjadi, tidak hanya merosotnya etika dan moralitas politik, tetapi juga mengapa loyalitas kepada pemimpin di pusat begitu kuat? Selain faktor strategi parpol demi kepentingan bangsa dan daerah tertentu, harus kita akui bahwa di tengah tidak adanya pendidikan politik yang sehat selama ini, memang budaya politik kita di Indonesia masih budaya politik tradisionalisme.Dalam budaya politik yang tradisional itu memang figur pemimpin dan karisma jauh lebih kuat dan menentukan daripada segala mekanisme dan prosedur formal yang demokratis dan profesional.

Jadi, jalan kita masih panjang. Tapi, kita akan bisa berhasil kalau kita sekarang menekuni secara serius pendidikan politik itu, pendidikan untuk membentuk character building. Melalui pendidikan politik yang sehat itulah diharapkan pula agar loyalitas tradisional kepada figur pemimpin bisa digantikan atau diimbangi oleh loyalitas kepada nilai, visi, dan program kepemimpinan yang sesuai dengan aturan dan mekanisme yang demokratis.

Oleh karena itu HMI dengan ini turut bertanggungjawab atas usaha penyiapan kader calon pemimpin politik masa depan dan harus dilakukan sejak saat ini juga. Para calon pemimpin politik itu perlu dibangun kesadaran, wawasan, strategi dan dan keterampilan teknisnya dalam memimpin dan mengelola agenda politik baik di tingkat nasional maupun lokal.
Demikian juga atas problematika yang pelik hingga saat ini, harusnya ada strategi untuk mengurai benang kusut konflik dan masalah dibangsa ini. Maka dengan ini HMI cabang semarang tergerak untuk mengadakan training kepemimpinan politik nasional. Dengan berlandaskan analisis konstruktif-siglikal dan pencandraan SWOT, merekayasa untuk bisa memformulasikan gagasan dan idelisme para kader muda yang ada saat ini supaya ada bentuk solusi, baik itu gagasan/ ide, teknis ataupun nonteksis. Selagi kita masih tergerak dengan sungguh untuk berijtihad pasti akan ada sesuatu yang terumuskan dan akan menjadi harapan baru untuk menuai kebaikan demi masa depan ummat dan bangsa.

PELAKSANAAN
Hari : Jum’at - Minggu
Tanggal : 12-14 Desember 2008
Tempat : Semarang

Saturday, November 1, 2008

LK I HMI MPO FPMIPA IKIP PGRI Semarang

LK I HMI MPO FPMIPA IKIP PGRI Semarang

Aku Jadi Pembicara

Hari ini tepat hari sabtu tanggal 01 bulan oktober 2008 aku untuk pertama kalinya menjadi pemateri di basic training HMI Komisariat FPMIPA IKIP PGRI Semarang. Walaupun ini bukan kali pertama aku menjadi pemateri namun ada hal lain ang perlu anda ketahui. Di HMI MPO anggota atau kader harus mengikuti tahapan-tahapan seperti untuk menjadi anggota tetap kader HMI maka ia harus ikut basic training atau latihan kader (LK I) dan kemudian berlanjut mengikuti latihan kader (LK II), setelah tercapai kemudian kita bisa mengikuti jenjang pendidikan berupa pelatihan seniour course yaitu pelatihan untuk kader supaya menjadi pengader yang mempunyai tugas untuk mempertahankan kelangsungan hidup HMI.
Menjadi pemateri di LK I tidak sekedar kita mengisi acara dan kemudian setelah selesai langsung bebas lepas. Akan tetapi ada tahap[an bagi pengader untuk sampai menjadi pemater. Pertama ia harus menjadi pemandu pasif dan kemudian menjadi pemandu aktif setelah itu baru ia bisa menjadi pembicara atau instruktur di pelatihan.
Walaupun aku sudah terbiasa menjadi pemateri, namun saat memberikan materi LK untuk pertama kalinya ini aku terlihat kuran gpercaya diri, walaupun tampak dari raut wajah maupun fisik tidak terlihat. Tapi syukur allahdulillah aku dapat menyelesaikannya dengan baik walaupun masih banyak kekurangan.
Bukannya aku kurang menguasau materi atau menguasai forum. Tapi apa kau tahu pada saat memberikan materi LK aku dalam kondisi yang tidak enak badan. Sebenarnya seluruh badanku panas, otakku mengalami penyempitan pembulu darah dan bahkan mataku terlihat agak rabun jadi saat memanandang peserta aku tidak mendapati kenikmatan.
Subhanallah mengapa engkau berikan ujian-Mu saat ini , padahal untuk pertama kalinya aku menjadi pemateri di basic training kali ini.
Apa kau tahu...materi yang kusampaikan yaitu tentang
"KEPEMIMPINAN", Sungguh berbobot


ku luangkan waktu sedetik demi cahaya pagi
embun bertamsya mencoret awan gelap
mencari inti di balik tabir nafsu
terpecah gelombang ombak muncrat
kena rangakain tangan berdarah menangis
sungguh engkau pemalang di siang bolong
adakah mimpi di pikiranmu
adakah harapan di hatimu
engkau adalah pewaris bumi
huni dan nikmati
siang dan malam ini
selamat tidur pemimpinku...
1 oktober 2008

Monday, September 8, 2008

kenduri hani





KENDURI HANI



Bertepatan tanggal 6 september 2008 delapan atau puasa baru mendapatkan perjalanannya selama 6 hari. Di rumah Saudara Handoko (Mas Koko’) tepatnya di daerah Perum Graha
Baru Kav. 426 Tlogosari Semarang. Di gelar pertemuan bulanan yang sekalian ada acara buka bersama.
Acara ini dibuka dengan tausyiah dan sedikit pengalaman spiritual dalam mengarungi kehidupan di Himpunan Islam. Sebab tentu pengalaman adalah guru yang terbaik, maka rasa kangen akan rasa persaudaraan dalam menjalin ukhuwah islamiyah.
Banyak yang menghadiri acara ini terutama dari para kader komisariat, Kom. FPMIPA menjadi pemberi peserta terbanya dan di ikuti oleh pengurus cabang hingga komisariat lainnya.
Tentu bayak yang bertanya apa sih KENDURI HANI itu!
KENDURI HANI adalah sebuah bentukan komunitas oleh para pasca struktur HMI. Mereka adalah orang-orang muda yang masih konsisten pada gerakan himpunan. Sebut saja Lukman Wobowo, Khulalul Mubarok, Iqbal Warodyo, Niam dan Nur yati, Abdil, Wawan dan masih banyak lagi.
Selain acara buka bersama dan tali sihlatuhrami. KENDURI HANI memiliki program rutin yaitu selain pertemuan rutin bulanan ada juga iuran bulanan dan yang paling digagas terbaru ini yaitu program beasiswa bagi kader gerakan yang konsisten pada amanah organisasi.